F

1090 Words
Melihat mayat yang ada di hadapannya ini, si pembunuh teringat akan waktu itu, sebuah masa di mana gelombang ejekan hampir menenggelamkannya ke lautan putus asa. Masa di mana aku nyaris menyerah adalah saat terkelamku dalam menuntut ilmu. Seisi kelas mengejekku tanpa pernah kuketahui apa alasannya. Ya, pasti karena wajahku yang selalu tampak pucat, tapi bagiku itu bukanlah alasan. Setiap orang diciptakan Tuhan dengan kekurangan masing-masing. "Eh, Sang Mayat datang!" Kata temanku. Dia kemudian mendekatiku dan mengelus-elus wajahku. Otomatis teman-temanku yang lain segera mengerumuni kami. "Ada apa dengan wajah ini, hah? Apakah sama sekali tak ada peredaran darah yang mengalir di sini?" Teman yang lain menyahut, "Iya, betul, betul. Mirip mayat, yah! Jangan-jangan dia ini sebenarnya memang mayat, mayat berjalan maksudnya" Berderai-derai tawa kemudian pecah di kalangan mereka seolah keadaan wajahku adalah komedi. Aku tak kuasa melakukan perlawanan sebab siapa yang tak kenal mereka di kampus ini, sekomplotan begundal tengik dalam versik, tapi setara dengan preman sadis dalam versi orang lain. Terkadang dari rumah mereka membawa bedak lalu sampai di kampus aku dibedaki seperti perempuan. "Nah, begini lebih cocok, 'kan!" Kata mereka seraya menghamparkan cermin di depan mataku agar aku dapat melihat rias wajahku yang menjijikkan itu. "Anggaplah ini mayat wanita, ya, yang bisa berjalan!" Samudra tawa kembali menyiramiku hingga aku basah kuyup oleh perasaan sakit hati. Sedikit pun mereka sama sekali tak memedulikan apa yang kurasakan, bagaimana seandainya mereka berada dalam posisiku, tidak ada, sama sekali tidak ada, yang ada hanya perlakuan buruk yang membuatku kian terpuruk. Apa yang mereka lakukan terhadapku sampai kapan pun akan selalu kuingat. Terutama dia, ya, dia, dia yang pernah, dia yang pernah... Dia yang pernah membedakiku sampai wajahku terlihat seperti perempuan Cina. Si pembunuh kemudian membatin, suatu saat aku akan ke sana menemuimu, membunuhmu, lalu akan kucabik-cabik seluruh isi di dalam jantungmu, tapi terlebih dahulu kukuliti seluruh tubuhmu hidup-hidup, terutama bagian wajahmu. Sabtu, menjelang maghrib. "Hey, Sandi!" seru Dokter Fajar sambil mengguncang-guncang bahu temannya itu. "Kenapa kamu malah melamun? Apa yang sedang kamu pikirkan di hadapan mayat pemuda ini?" "Ah, tidak, Jar! Aku hanya tiba-tiba terpikir bagaimana nasib keluarga yang ditinggalkan oleh mayat ini. Pasti kasihan sekali, ya!" Sahut Sandi, seorang dokter bagian laboratorium yang juga memiliki kemampuan membedah itu. "Apakah dia punya keluarga?" Sandi mengangkat bahu, "Kurasa pemuda seumuran ini pasti sudah menikah." "Dari mana kau tahu?" "Hanya tebakan." Mereka kemudian tertawa pelan. Entahlah kenapa harus pelan. Barangkali karena takut mayat di hadapannya bisa hidup kembali jika mereka bersuara keras. Tak lama setelah itu, datanglah Komisaris Heri dan Detektif Dani. Mereka menerabas pintu tanpa perlu permisi dulu kepada petugas rumah sakit yang tengah sibuk dengan urusannya masing-masing. Mereka langsung mendekati Dokter Fajar dan Sandi. "Selamat sor, Dokter Fajar!" Sapa komisaris. "Rupanya kita dipertemukan lagi." Fajar hanya tersenyum sambil mengangguk. Dani menimpali. "Huh, sebenarnya aku malas bertemu sama orang yang sama sekali tak mengenaliku sebelumnya." Lalu, seperti tersadar akan sesuatu, dia menukas lagi sambil memandangi Sandi. "Hey, hey, ini dokter siapa lagi?" "Dia dokter bagian lab, Detektif," sahut Fajar. Sandi kemudian membungkukkan kepalanya sedikit, "Salam hormat kami. Perkenalkan namaku Sandi, dokter baru di sini." Dani memalingkan wajah. "Huh, dokter baru lagi. Banyak betul, ya, orang baru yang sudah pasti takkan mengenaliku di sini. Aku tidak peduli siapa pun dia. Aku terlanjur jengkel dengan rumah sakit ini. Dan ngomong-ngomong, kenapa wajahmu pucat sekali? Kau seperti orang terserang malaria, Sadi, eh, ya, Sadi, 'kan namamu?!" "Sandi, Pak!" Dokter lab itu menyunggingkan senyum. "Aku baik-baik saja, Pak. Mungkin karena beberapa hari ini aku sering tidur terlalu larut karena begitu banyaknya sesuatu yang musti diteliti di rumah sakit ini." "Yah, itu sudah risiko pekerjaanmu!" sahut Dani ketus. Komisaris turun tangan, "Dani, bersikaplah dengan baik! Tunjukkan kredibilitasmu sebagai detektif yang berwibawa!" Kemudian ia menoleh ke arah Sandi, "maafkan kata-katanya, Dok. Jangan diambil hati!" "Tak mengapa, Pak, kami memang dokter baru di sini jadi kami amat memaklumi sikap orang-orang yang baru mengenal kami." "Ah, kau tak perlu membelanya, Pak Komisaris. Kita sudah saling mengenal selama enam bulan terkahir, sedangkan dia baru saja bertemu denganmu. Apa semudah itu kau memihak pada orang asing?" Kata Dani kesal, sebuah kekesalan yang tak masuk akal, tapi sangatlah logis menurut pemikirannya. Komisaris Heri tersenyum kecut dan tak menghiraukan kalimat Dani barusan. Dia malah melengos ke arah Sandi. "Maaf, kalau boleh tahu dokter ini lulusan dari mana?" "Oh, saya lulusan Belanda, Pak Komisaris!" Dani menyematkan, "Belanda, ya, itu negara yang paling tak kusukai. Pantas saja ketika melihatmu aku langsung tak suka." "Ah, sudahlah, Dok, jangan hiraukan dia!" Lanjut komisaris. "Kita langsung ke inti pembahasan. Benarkah kalian telah menemukan indikasi baru dari mayat pemuda ini?" Dokter Fajar menjawab sambil merogoh saku bajunya, "Benar, Pak! Ternyata waktu di laboratorium Sandi menemukan kertas ini di saku celana korban." Fajar kemudian menyodorkan lipatan kertas buram yang sudah lusuh itu. Tidak lupa dia mengenakan sarung tangan. Heri menyambutnya. Di bukanya lipatan kertas itu dengan harapan dia akan menemukan untaian kalimat-kalimat yang membentuk sebuah pesan singkat sebagai petunjuk. Ketika mengetahui apa isi di permukaan kertas buram itu, dia sedikit terkejut. "Apa-apaan ini? Huruf F? Apa maksudnya ini?" Dani segera melihatnya juga lalu beralih tatap ke para dokter itu. "Apakah kalian sudah memeriksa sidik jari di kertas itu? Seharusnya ada bekasnya." Sandi menjawab, "Kertas itu bersih dari sidik jari, Pak. Waktu pertama kali mendapatinya, saya tak langsung memegangnya, saya memakai sarung tangan dulu, sehingga seandainya ada sidik jari pelaku takkan terkontaminasi dengan sidik jari saya. Namun ternyata, kertas itu steril, Pak." "Pembunuh macam apa ini?" Komisaris terlihat kecewa. "Aku semakin bingung dengan semua ini. Huruf F itu apa maksudnya, Dan? Cepatlah selesaikan kasus ini! Aku ingin segera tidur nyenyak tanpa pikiran." Dani kemudian sedikit mengerahkan pikirannya. "Bisa jadi huruf ini adalah inisial nama depan pembunuh atau nama korbannya." "Untuk apa pembunuh itu memberitahu kita, Dan? Apakah setiap pembunuh harus melakukan hal yang sedemikian misterius?" "Hey kalian, kenapa diam saja?" Dani sedikit geram kepada para dokter baru di hadapannya. Fajar menyahut, "Detektif, ini sudah saatnya tugasmu pegang kendali. Kami sudah membantu lewat penelitian rumah sakit. Selebihnya bukan tanggung jawab kami. Lagipula, kami tentu tak mengerti dengan kasus sepelik ini." "Huh!" Dani kemudian membalikkan badan dan berjalan secepat mungkin menghampiri pintu. "Kalian para dokter yang tak bisa diandalkan! Sangat berbeda dengan dokter yang dulu pernah kutemui di rumah sakit ini. Hari ini aku benar-benar kecewa. Ayo, pak komisaris, kita kembali saja ke TKP! Kertas ini nanti aku selidiki lebih lanjut." "Baiklah!" komisaris setuju. "Dokter terima kasih bantuannya." Kemudian dia berbisik kepada mereka, "Jangan diambil hati. Dia memang sensitif karena belum menikah." Dokter-dokter itu tersenyum geli seraya mengikuti bagian belakang komisaris yang terus berjalan meninggalkan ruangan. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD