Sabtu, 16.55
Komisaris Heri adalah pihak kepolisian bersuku Jawa yang berjiwa humoris namun tegas. Ia telah menikah empat belas tahun yang lalu dan kini sudah dikarunai dua orang putra yang sama sekali tak bercita-cita menjadi polisi seperti dia. Baginya itu tak mengapa sebab dia paham tak selamanya anak-anak bisa dididik sesuai apa yang dimau orang tuanya.
Sudah enam bulan terakhir ini Komisaris Heri kenal dengan Detektif Dani. Awal mula perkenalan mereka adalah ketika ada sebuah kasus pembobolan ATM depan Bank Bukopin daerah Terminal BP (Balikpapan Permai). Sebelum melakukan aksinya, pelaku terlebih dahulu merusak kamera CCTV. Kejadian diperkirakan di mulai sekitar pukul tiga dini hari, di saat suasana sedang sangat sepi.
Adalah Detektif Dani yang memecahkan kasus ini. Anggota kepolisian dari Purwa* yang mengenalnya langsung meminta bantuannya. Ketika mendengar hal itu, Komisaris Heri tidak yakin sama sekali dengan kemampuan Dani sebab dia baru pertama kali mendengar ada seorang detektif dari Balikpapan. Akan tetapi, hasil selalu mengikuti kualitas, kualitas Dani dalam menangani kasus itu membuahkan hasil yang maksimal. Dia berhasil meringkus pelaku pembobolan mesin uang itu tanpa bantuan sidik jari sekali pun. Dari situlah kemudian sang komisaris tertarik untuk mengenal lebih dekat tentang siapa detektif yang berperangai humoris ini.
Sama seperti sekarang, Komisaris Heri percaya bahwa Dani pasti mampu mengungkap siapa pelaku pembunuhan terhadap pemuda yang dadanya berlubang dan kehilangan jantung itu tanpa bantuan sidik jari.
-----
*Purwa adalah nama kantor kepolisian di Balikpapan yang terletak di sebuah kawasan bernama Klandasan.
Sang komisaris masih menunggu penjelasan dari Dani yang sementara tengah menelaah darah yang masih berceceran di gang sempit itu. Berulang kali diperhatikannya. Dani mengusap-usap dagu yang sama sekali tak ada janggutnya itu.
Apa mungkin selalu seperti ini gayanya jika berjuang meneliti setiap kasus? Heri begumam dalam hati.
"Begini, Pak," akhirnya Dani buka suara dan Heri segera menyimaknya dengan baik. "Kemungkinan mayat ini dibunuh oleh dokter bedah memang besar, tapi kita juga tak bisa mengesampingkan kemungkinan pembunuhnya adalah orang biasa."
"Kenapa demikian?"
"Kita tak pernah menyangka ada orang biasa yang terkadang justru bisa menguasai hal-hal yang luar biasa," lanjut Dani. "Banyak masyarakat di dunia ini yang bukan anggota polisi dan tak pernah sekolah kepolisian, tapi justru menguasai bidang kepolisian dan hukum. Bagaimana?"
Komisaris itu kemudian mengangguk dan membatin, betul juga. "Ok, aku percaya kenyataan itu. Lalu, seandainya pelakunya adalah orang biasa, bagaimana analisamu, Dan?"
"Aku yakin pelakunya pasti bukan orang sekitar sini."
"Maksudmu orang jauh?"
"Yap!"
Heri tampak bingung dan menunjukkan rona wajah yang semakin penasaran. Dani paham itu sehingga dia meneruskan penjelasannya sebelum ada instruksi.
"Kurasa pelaku pembunuhan ini tentu tak ingin diketahui identitasnya. Oleh karena itu, dia berusaha membunuh serapi mungkin, termasuk tidak meninggalkan sidik jari atau pun tanda-tanda kekerasan. Kalau dia orang sini atau katakanlah salah satu warga di Kampung Baru secara universal, pasti dia bisa dengan mudah ketahuan oleh warga sebab seperti yang kau lihat sendiri, Pak Komisaris, daerah ini sangat ramai."
"Apakah ada kemungkinan pelakunya lebih dari satu orang?"
"Kurasa tidak, Pak!"
Heri mengernyit. "Apakah membunuh dengan cara sepresisi itu hanya membutuhkan keahlian satu orang saja?"
"Dokter bedah dan dokter spesialis bukankah bisa bekerja dengan sempurna nyaris tanpa bantuan orang lain?!"
"Tapi mereka punya keahlian, Dan!"
"Apa bedanya dengan orang biasa, Pak?" Dani menekankan. "Kalau mereka sungguh-sungguh pasti bisa juga bekerja seperti para dokter itu, toh, mereka sama-sama manusia, 'kan."
"Ok! Lalu bagaimana jika pembunuhnya adalah seorang dokter?"
Dani mengisap cerutunya. "Menurutku, ini menurutku, ya, Pak, bahkan kecil kemungkinannya seorang dokter yang melakukan pembunuhan ini."
Komisaris beranak dua itu semakin merasa aneh. "Bagaimana mungkin?"
"Kurasa seorang dokter bedah atau spesialis sekali pun takkan memerlukan jantung mayat pemuda ini."
"Apakah pemuda ini bermasalah?"
"Kalau bermasalah kesehatan menurutku jelas."
"Dari mana kau bisa mengambil kesimpulan demikian, Dan?"
"Pemuda ini bertato, Pak!" Dani mengungkapkan. "Kau ingat, Pak, waktu di rumah sakit tadi, terlihat tato di dekat pundak sebelah kanannya. Aku sudah survei kampung ini jauh sebelum ada kasus pembunuhan ini. Mayoritas pria bertato di Kampung Baru ini adalah seorang peminum miras yang bahkan fanatik. Sudah jelas dia pasti tidak sehat. Terutama jantungnya."
Heri mengangguk. "Jadi menurutmu dokter tidak akan membutuhkan jantung yang tidak sehat?"
"Jelaslah, Pak! Seandainya dokter membutuhkan sebuah jantung untuk transplantasi pasti dia mencari organ yang sehat dan berfungsi dengan baik."
"Lalu, apakah menurutmu jantung yang tidak sehat itu dibutuhkan oleh orang biasa seandainya pembunuhnya adalah orang biasa?"
Sebenarnya Dani agak bingung menjawab pertanyaan itu sehingga memerlukan waktu untuk berpikir.
Namun di saat dia tengah berpikir keras, tiba-tiba ada anggota polisi lain yang berlari menghampiri Komisaris Heri sambil menenteng ponsel.
"Maaf, Pak, mengganggu sebentar," kata polisi itu. "Ada telepon dari pihak rumah sakit yang ingin bicara dengan pak komisaris," polisi itu seraya menyerahkan ponselnya kepada Heri.
"Ya, Dok, ini saya Komisaris Heri," sapanya ketika meraih ponsel anak buahnya itu. "Ada informasi apa?"
"Saya Dokter Fajar, dokter spesialis jantung yang di rumah sakit umum tadi. Bisakah Bapak dan detektif tadi kembali ke sini. Kami menemukan indikasi baru dari mayat pemuda yang kehilangan jantung itu."
Dengan nada suara tergesa-gesa, Heri menjawab, "Baiklah, Dok, kami segera ke sana sekarang juga!"