Analisa

935 Words
Sabtu, pukul 16.35 Daerah Sepaku seketika menjadi ramai sekali meski sebenarnya daerah ini memang selalu ramai. Sirene mobil polisi meraung-raung bagaikan auman serigala mencari mangsa. Lorong sempit yang bisa dibilang sebagai salah satu penghubung antara Sepaku dan Jalan Semoi mendadak lengang karena dipasangi garis polisi di ujung-ujungnya. Warga yang ingin melihat anggota kepolisian melakukan olah TKP, berhamburan membanjiri halaman Masjid Ash-Siddiq. Bukan hanya itu, membeludaknya warga juga dikarenakan ingin melihat sang detektif profesional yang selalu mengisap cerutu dengan gaya Sherlock Holmes, siapa lagi kalau bukan Detektif Dani. Selain karena sudah kondang dalam menangani kasus-kasus kriminal membantu pihak polisi, Dani adalah sosok laki-laki yang tampan meski tubuhnya agak kurus. Tinggi badannya 175 cm, rambut lurus bermodel pompadour* dan memakai jas ala detektif, klasik single-breasted* dengan dua kancing yang lengkap dengan topi ala-ala koboi. -------- *Model rambut pompadour adalah model rambut yang mempunyai potongan rambut tipis bagian bawah samping dan tinggi di bagian atasnya. Bagi orang yang tidak tahu namanya biasa menyebutnya model rambut pria cepak samping. *Klasik single-breasted adalah jas yang dipakai Daniel dalam film 'Spectre' serial James Bond "Lihatlah mereka!" Bisik Dani pada Komisaris Heri. "Mereka yang orang kampung saja sangat mengenalku. Dokter spesialis di rumah sakit umum tadi terlalu norak sehingga sampai tak mengenalku. Aku yakin sebentar lagi mereka akan minta tangan padaku dan aku sudah siap untuk itu." Komisaris berkumis baplang itu berkomentar sambil tertawa kecil, "Dani, dia, 'kan, sudah bilang dia dokter baru di situ. Lagipula, aku percaya kamu memang terkenal di kalangan ibu-ibu kampung. Kalau untuk kalangan kota, hmm, aku tidak yakin." Saat ini mereka tengah berdiri di depan sebuah panti asuhan bernama 'Amanat Umat'. Betul kata komisaris, Dani digandrungi oleh sebagian besar ibu-ibu kampung. Buktinya banyak sekali pandangan dari ibu-ibu Sepaku yang tertuju ke arahnya. Dani agak kesal mengetahui kenyataan itu. "Di kalangan orang kota aku juga terkenal, Pak, jangan sembarangan," tukasnya membela diri. "Buktinya?" Dani langsung bingung sendiri. Hampir tak pernah dia ingat ada orang kota, terutama para wanita-wanita muda cantik, yang minta tanda tangan padanya. Dia menggaruk-garuk kepalanya. Dia tetap harus membela diri sebagai wujud perlindungan privasi. "Yah, pokoknya ada, Pak, tidak mungkin, dong, kalau harus kusebutkan satu per satu." "Ya sudahlah, mau ada atau tidak, itu urusanmu. Sekarang ayo kita ke sana!" Ajak sang komisaris yang terlebih dahulu menghabiskan batang rokoknya. Dani mengangguk. Huh, untung saja pak tua ini tidak minta aku menjelaskan siapa saja wanita muda cantik yang menjadi fans-ku. Apakah ini salah satu alasan kenapa aku sampai sekarang belum menikah, ya? Mereka berdua kemudian mendatangi para polisi yang tengah sibuk memeriksa tempat kejadian perkara. Beberapa ibu-ibu berkerudung berteriak-teriak histeris ingin berfoto dengan Detektif Dani. Bahkan ada yang sudah siap dengan kertas dan pulpen untuk ditandatangani. Detektif kurus itu kemudian menghampiri mereka, namun dicegat oleh komisaris. "Ingat, Dan, tujuan kita kemari bukan untuk berlagak seperti artis!" Singgungnya. "Kasus rumit ini meminta untuk segera dipecahkan." Ada segaris rona cemberut di wajah Dani. "Ok, fine!" "Lagipula, aku heran, kenapa bisa, sih, kamu begitu terkenal di kalangan ibu-ibu Sepaku ini? Bagaimana mungkin mereka bisa mengenalmu?" Dani teringat akan kasus pemerkosaan yang pernah ditanganinya kurang lebih setahun lalu. Kebetulan kasus itu terjadi di daerah Sepaku ini. Kejadian itu menimpa sebuah keluarga kaya sehingga Dani di sewa untuk mengungkap siapa pelaku pemerkosa anak gadisnya. Ironisnya, ketika Dani berhasil menguak kasus itu dan memenjarakan pelakunya yang tak lain tetangganya sendiri, ayah korban malah menjodohkan anaknya dengan Dani. Anak gadis itu senang-senang saja disandingkan dengan pria tampan dan berwibawa. Akan tetapi tentu Dani yang tidak sudi menerima seorang wanita korban pelecehan seksual. Namun setelah kesuksesannya menyingkap kasus pemerkosaan anak konglimerat itu, Dani mendadak terkenal, terutama di kalangan para ibu-ibu. "Hey, kenapa malah melamun!" Komisaris Heri mengagetkannya. "Ayo jawab pertanyaanku tadi!" Dani menyipitkan mata. "Ah, sudahlah kau tak perlu tahu, Pak, itu rahasia pribadiku." kemudian dia membatin, saat kasus itu mencuat ke khalayak, kamu belum ada di Kampung Baru ini, Pak Komisaris. Di tengah samudra teriakan ibu-ibu itu, Heri menarik tangan Dani untuk lebih dekat ke tempat kejadian perkara di mana mayat pemuda dengan d**a berlubang dan kehilangan jantung itu ditemukan. Komisaris lalu menyuruh para anggota kepolisian yang lain menyingkir lalu menunjukkan sesuatu kepada sang detektif. "Bekas darahnya masih ada, Dan. Kemarin aku sengaja menginstruksikan kepada masyarakat setempat agar jangan membersihkan apa pun dari bekas ditemukan mayat pemuda itu. Semua itu kulakukan supaya kamu segera meyelidiki kasus ini." Dani tertawa sambil membekapkan tangan di d**a. "Aku terharu sekali, Pak Komisaris. Kau begitu menghormatiku. Jangan-jangan kau juga mengidolakanku, ya, seperti ibu-ibu di halaman mesjid sana!" "Sudahlah, Dan, berhentilah bercanda! Ini kasus serius. Kau memang tak pernah berubah dari enam bulan yang lalu," cetus Heri. "Cepat sampaikan analisamu!" "Baiklah!" Dani kemudian memandang-mandangi bercak darah korban di gang sempit itu. Pikirannya mulai berputar menuju suatu muara yang disebutnya analisa. "Hmm ... darah yang bersumber dari jantung yang dicabut dari sarangnya seharusnya lebih banyak dari ini. Seharusnya ada sidik jari di sekitar ceceran darah yang kuduga sengaja dibersihkan sendiri oleh pelakunya. Coba tolong panggilkan salah satu polisi untuk memeriksanya, Pak!" "Tak ada sidik jari di mana pun, Dan!" pekik Heri. "Kami sudah memeriksanya kemarin, tetapi analisamu tadi menarik. Apa maksudmu dengan pelaku membersihkannya sendiri?" "Aku yakin pasti darah yang keluar dari tubuh lebih banyak dari apa yang kita lihat sekarang, Pak," Dani menjelaskan. "Sejauh yang kupelajari dari para dokter, darah yang bersumber dari jantung itu jauh lebih banyak ketimbang di organ-organ tubuh lain." Heri mengangguk-angguk seraya mengelus dagunya. "Begitu, ya, tapi kenapa sama sekali tak meninggalkan sidik jari, ya?" "Sarung tangan plastik bisa menyamarkannya, Pak, apalagi sarung tangan milik dokter." "Apakah dengan begitu kamu menyimpulkan pembunuh pemuda itu adalah seorang dokter?" "Bisa iya bisa tidak, Pak!" "Coba jelaskan!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD