Bab 7 Dokter Irma Siuman

1569 Words
Irma mengerjap-kerjapkan kedua matanya, berusaha membuka kedua mata itu yang masih terasa berat. Dia sudah terbangun dari tidur panjang, karena kejadian tragis itu beberapa hari lalu. Saat ini di ICU ada Alensky yang giliran mengecek kondisi si nona yang terkait dengan janin di dalam perut gadis itu. Tuhan maha kuasa karena janin yang masih sangat muda usianya tetap hidup padahal sang ibu terkena penganiayaan lahir batin, bahkan direncanakan ke alam abadi. “Irma,” Alensky melihat gerakan kedua mata Irma, pelan menepuk-nepuk kedua pipi gadis ini bergantian, “Irma! Irma, ayo kamu bisa membuka kedua matamu,” dia menyemangati si nona agar bisa membuka kedua mata yang terasa berat karena sedari tadi hanya dikerjap-kerjapkan saja, “Ayo Irma, kamu perempuan yang kuat mentalnya,” Bersama sang dokter ada Suster Eka asisten pria itu, segera mengecek denyut nadi di pergelangan tangan dalam Irma. Tidak lama kedua mata si nona berhasil terbuka, tapi penglihatan kedua mata itu masih berbayang. “Irma,” kembali terdengar suara Alensky, “Kamu melihatku kah? Aku dokter Alensky rekanmu di Poli Ginekolog,” dia mengajak si nona berkomunikasi, ingin mengetahui apakah gadis ini melihat dan mengenali dia. Lantas dia sambil menganalisa mengapa penglihatan kedua mata gadis malang itu berbayang, karena tampak si nona kembali mengerjap-kerjapkan kedua mata agar bisa melihat jelas. “Dokter,” terdengar suara Suster Eka menegur Alensky, “Apa mungkin penglihatan dokter Irma terganggu akibat,” dia tidak tega meneruskan perkataannya karena mengetahui mengapa Irma dilarikan ke ICU. Alensky tidak bisa menjawab, hanya mengurut pelan permukaan di atas kelopak kedua mata si nona, berusaha memperbaiki syaraf penglihatan yang dirasa terganggu akibat penganiayaan dan rencana mengirim ke alam abadi, lantas tekanan batin yang kuat. “Irma,” terdengar suaranya, “Kamu tetap tenang ya,” diminta si nona tenang, “Dengan begitu syaraf penglihatanmu bisa rileks, dan membuatmu melihat lebih jelas.” “Dokter,” kini Irma bersuara, “Apa saya akan buta?” dia feeling tidak bisa melihat sebab menyadari terkena penganiayaan berat. “Kamu tetap tenang ya,” Alensky tidak memberi jawaban karena berusaha memperbaiki syaraf penglihatan si nona yang terganggu, “Please patuh, Irma.” “dokter, Aku tidak mau menjadi buta, tidak mau!” Irma menjadi panik, lupa bertanya mengapa bisa ada Alensky bersamanya, padahal dia kan masih disekap dalam gudang pembekuan. “dokter,” sela Suster Eka sebelum Alensky menanggapi kepanikan Irma, “Saya hubungi dokter Bisma ya, biar beliau menenangkan dokter Irma,” “Kita tidak bisa menghubungi dia, karena dia masih mengerjakan sesuatu yang penting saat ini,” tukas Alensky, “Kamu oplos obat penenang dosis kecil agar Irma tenang, jadi saya bisa memperbaiki syaraf penglihatannya.” *** Bisma memandang Darian dan Iryana yang sedang berhadapan dengannya di ruang pengaduan kasus di kantor Kepolisian DKI Jakarta. Ayah adopsi Irma tersebut menolak mentah-mentah tuduhannya yang melakukan serangkaian penganiayaan dan merencanakan mengirim sang nona ke alam abadi, karena tidak ada bukti dan saksi yang kuat. Lantas mengapa Bisma yang mengajukan tuntutan ke Darian, apa hubungan antara sang dokter dengan Irma. Setahu Darian, Bisma hanya atasan Irma di Rumah Sakit Harapan, mengapa melaporkan kejadian tersebut yang dikatakan pula adalah tidak benar. Saat ini Bisma didampingi Mikael dan Gustav dua pengacara handalnya di dunia hukum dunia, sedangkan Darian didampingi Axel pengacaranya yang adalah mantan pengacara Viktor. Darian bukan hanya mengatakan semua itu, tapi juga berkata Bisma mencampuri urusan keluarganya. Irma adalah putri pria itu, jadi apa yang terjadi atas perempuan tersebut berada dalam wilayah keluarga Darian. Kemudian saat ini Irma dibilang melarikan diri karena malu ketangkap basah menjerat Davka suami Iryana dalam hubungan terlarang, Darian berusaha menemukan putrinya itu, agar masalah yang sang anak perbuat diselesaikan secara kekeluargaan. “Tuan muda,” terdengar suara bisikan Mikael di telinga Bisma, “Kita mundur dulu untuk sementara ini sambil menyembuhkan Nona Irma.” “Setuju, Tuan Muda,” timpal Gustav mitra baik Mikael, “Karena saat ini semua yang dikatakan Tuan Darian masuk akal meski begitu busuknya.” Bisma menghela napas, terpaksa mengikuti saran kedua pengacaranya, lantas dia membisiki sesuatu kepada keduanya. *** Bisma berlari-lari menuju ICU karena Alensky mengabarkan bahwa Irma menghilang dari ICU, sementara kedua mata gadis itu mengalami gangguan serius sehingga berbayang, terancam tidak bisa melihat nantinya. Bagaimana bisa gadis itu menghilang dari ICU yang saat ini dijaga sangat ketat oleh para ajudannya. Lantas tidak mungkin Darian tahu kalau Irma tengah dirawat di Rumah Sakit Harapan. “Bi!” terdengar suara Alensky yang melihat kedatangan sang dokter ditemani Vian, segera menyongsong sahabatnya ini, lantas hendak bicara, tapi, “Len,” terdengar lebih dulu suara Bisma, “Bagaimana bisa Irma hilang dari ICU? Bukannya dia masih lemah karena baru siuman, lantas kata loe, penglihatannya mengalami gangguan serius,” dicecer sahabatnya ini yang diminta merawat Irma dan janin sang nona. Dia tidak bisa melakukan itu karena kode etik kedokteran di mana dia adalah keluarga Irma, maka meski dokter sekali pun, dilarang melakukan tindakan medis ke gadis itu. Alensky menghela napas, mengajak sahabatnya ini ke ruang tindakan yang berada di sebelah ICU, lantas duduk bersama dengan sang dokter dan Vian. Tidak lama dia menyuruh Dika kepala programmer di Rumah Sakit ini untuk mengakses rekaman CCTV yang terpasang diseluruh rumah sakit ini, terutama di sekitar Irma di rawat. “Bi,” terdengar suara Alensky, “Saat Ajeng hendak memberi obat karena sudah jadwalnya,” dia ceritakan awal menghilangnya Irma, “Ajeng tidak menemukan Irma di bed.” “Bagaimana bisa?” Bisma menjadi heran, “Kemana para Suster jaga dan ajudan, hmm?” ditatap sahabatnya ini karena ICU ada Suster jaga dan ajudan selain Irma dan pasien lainnya. “Mereka semua ada di sini, Bi,” “Lantas mengapa bisa Irma hilang dari sini? Memangnya Irma punya ilmu menghilangkan raga, jadi bisa keluar dari ICU tanpa terlihat mereka semua, hmm?” “Tuan Bisma,” sela Dika cepat, “Baiknya Anda langsung melihat hasil pelacakan saya di semua CCTV bagaimana cara dokter Irma menghilang dari ICU,” dia mengusulkan agar Bisma melihat hasil pelacakannya di layar komputer di depan dia saat ini. *** Reno terkaget saat Irma datang dipapah Memet dan Rika. Rika adalah asisten sang nona di Poli Kandungan, sedangkan Memet adalah petugas londri. Tadi Rika datang ke ICU disuruh Alensky untuk menemani Irma, karena sang asisten selama ini teman yang sangat baik untuk si nona. Ternyata Irma merengek minta Rika mengantarnya ke kantor Davka. Gadis itu masih yakin kekasihnya akan menolong dia dari kesulitan saat ini. Rika menjadi tidak tega, lantas menemui Memet, minta membawa troli yang biasa untuk menyimpan sprei, selimut dan lainnya yang sudah dicuci dan strika. Lantas dengan troli itu, Memet membawa Irma keluar dari ICU hingga ke mobil Rika yang berada di halaman belakang ruangan londri. Lantas kedua orang itu mengantar Irma ke kantor Davka, di mana si nona saat ini menggenakan dress semi longgar milik Rika, lantas rambut disisir rapih membentuk konde cepol di belakang kepala di nona. Reno saat itu sedang berada di depan desk resepsionis untuk menanti barang yang dipesan si boss. Dia bergegas menyongsong gadis malang itu, “Nona Irma,” disapa si nona dengan sopan. Irma yang kedua penglihatannya masih kabur mencoba mengenali suara yang menyapanya ini, “Reno?” dia pun mulai mengenali penyapanya. “Iya saya Reno, Nona, asisten Tuan Davka.” Sahut Reno belum menyadari kedua penglihatan Irma ada gangguan. “Mari Nona, Anda ikut saya, “ dia segera menggusur Memet dari sisi si nona, dipegang lengan gadis ini, “Di sini tidak aman bagi Anda,” imbuhnya menjelaskan mengapa hendak membawa nona malang tersebut dari ground gedung perusahaan milik Davka. Dia merasa lega karena Irma masih hidup, padahal dari cerita sang atasan, si nona hanya diselamatkan dari gudang itu, apakah masih hidup atau tidak belum diketahui pastinya. Lantas si boss minta dia mencaritahu kepastian apa Irma masih hidup atau tidak. Lantas mana Davka? Tuan Muda ini sedang miting dengan Direksi Pemasaran di ruangannya sendiri. “Kita kemana, Reno?” terdengar suara Irma, “Bisa kamu bawa saya menemui Mas Davka?” Reno menghela napas, sudah feeling mengapa si nona kemari, pasti ingin bertemu Davka. Tapi ini sama artinya si nona mengumumkan ke dunia bahwa masih hidup. Lantas jika ini diketahui mata-mata Darian atau Iryana yang ada di antara para pegawai atau tamu di perusahaan ini bagaimana? *** Bisma memacu jipnya dengan raut wajah dipenuhi kecemasan. Setelah melihat hasil pelacakan Dika, dia segera melesat meninggalkan Rumah Sakit Harapan, tidak perduli belum mengetahui kemana Rika dan Memet membawa Irma pergi. Pokoknya dia harus menemukan gadis itu sebelum ditemukan Darian atau Iryana. Tidak lama ponsel yang diletakan di dasbor tengah masuk panggilan video call dari Alensky. Sang dokter cepat menekan tombol answer, lantas mengaktifkan headset di telinga kanannya agar bisa bercakap-capak dengan sahabatnya ini yang pasti hendak memberinya kabar terbaru di mana Irma saat ini. “Langsung aja, Len,” terdengar suara sang dokter di mana tetap konsentrasi menyetir, “Apa loe menemukan jejak Rika?” “Bi, loe sebenarnya juga tau dia kemana kan?” “Ngga, karena gue langsung pergi dari ICU setelah melihat CCTV itu.” “Lain kali loe jangan main pergi, Bi!” “Sudah, lekas katakan ke gue, dia di mana sekarang?” “Dari percakapannya dengan Rika, dia menemui Davka.” Bisma terkaget mendengar ini sampai menginjak rem kaki, membuat mobilnya berhenti mendadak. Beruntung berhentinya di tepi trotoar jalan, kalau tidak mobil dibelakangnya pasti menabrak mobilnya. Kedua matanya tampak dipenuhi bayangan Irma yang dikabarkan menemui Davka. Untuk apa gadis ini masih menemui pria sialan itu?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD