Irma berkali meremat sprei dengan kedua tangannya, tubuhnya bergetar hebat berkali-kali karena Davka terus mengocok kuat rudal dalam lorong kenikmatan oase miliknya. Dia merasa d***nya sesak karena pria ini seolah tiada lelah mengobrak-abrik oasenya.
Sejak mereka berhubungan pertama kali, sang kakak ipar terus mengulangnya setiap saat, entah dilakukan di dalam mobil, kamar hotel, atau pun di kamar Irma. Sang nona sama sekali tidak kuasa menghentikan hasrat ganas kakak iparnya tersebut.
Namun Davka saat mereka di depan Dior, Bik Darmi, dan Mbok Atin, bersikap biasa ke Irma. Sang nona pun demikian. Mereka menjaga hubungan rahasia tersebut.
“Akh!” terdengar lenguhan dia yang kesekian kali, “Mas!” rintihnya kini memegang erat kedua sisi lengan kekar Davka, “Akh! Astaga! Enak banget ini!” rintihnya sebab yang dirasakan saat ini benar-benar satu kenkmatan.
Apalagi mereka melakukan di dalam kamar mewah di vila milik Davka yang berada di Anyer. Sang kakak ipar sengaja menjemputnya dari rumah sakit lantas langsung membawa ke vila ini untuk melewatkan weekend indah sebelum sang pria berangkat ke Malaysia untuk menghadiri pembukaan pameran otomotif yang diikuti perusahaannya.
“Mas!” Irma merintih lagi, “Aku mau lepas ini,” diberitahu bahwa segera mendapat kenikmatan nirwana saat ini.
Davka tidak menanggapi, semakin kuat mengocok rudalnya, karena dia ingin kembali mendapat kenikmatan tersebut bersama Irma. Selepas mereka dinner romantis di pantai, mereka tiada henti bermain di ranjang panas. Kalau pun berhenti hanya untuk meredakan golakan hasrat sejenak.
Saat ini sprei sudah tidak karuan, dan dibasahi percintaan pasangan terlarang ini. Mereka melakukan semua kemesraan tanpa pengaman sedikit pun. Bahkan saat Davka menemukan pil KB dalam tas Irma, pria ini memarahi sang gadis. Dia tidak mau Irma mengkonsumsi pil itu karena membuat hasrat si nona bisa berkurang.
Irma tersenyum geli merasa itu alasan saja, padahal Davka ingin mereka memberikan adik untuk Dior. Meski sang kakak ipar tidak pernah mengatakan mereka segera menikah, tapi dia yakin akan menjadi istri tercinta pria itu.
“Argh!!!”
Terdengar erangan Davka lebih dulu karena sang pria sampai ke puncak asmara mereka untuk kesekian kali,
“Irma!” serunya sambil memandang Irma yang megap-megap setelah sampai ke puncak cinta semu itu, “Kamu membuatku gila, sayang!” ujarnya mengakui sangat nikmat bermain panas di ranjang dengan nona ini, “Aku kecanduan, darlin!” imbuhnya dengan wajah sangat puas.
Irma tersenyum, dibelai sayang wajah Davka, “Kusuka hasratmu, Mas,” ujarnya mengakui betapa menyukai hasrat sang kakak ipar, “Bisa kah kita melakukan ini hingga akhir hayat kita?” dia mengajukan pertanyaan yang mengandung harapan ingin dinikahi pria itu secepatnya.
“Kamu sabar ya,” Davka tahu makna dibalik pertanyaan si nona, “Selesai pameran di Malaysia, aku urus semuanya agar kita selalu bersama tanpa diganggu Yana,” ujarnya kembali menjanjikan surga ke Irma, “Aku tidak mau berpisah lagi darimu, sayang.” Dia meraih tangan si nona yang masih membelai wajahnya yang berpeluh akibat permainan panas tadi.
“Aku juga tidak mau pisah dari kamu. Aku mencintaimu, Mas.”
Davka tercenung mendengar ini. Meski dia tahu Irma ada hati ke dia, tapi saat ini sang nona mengatakan mencintainya.
“Mas cinta aku kan?” tanya si nona di mana menatap sang kakak ipar dengan penuh pengharapan.
Davka menghela napas, dia memang ada hati ke Irma, tapi merasa sulit mengatakan. Dia punya misi menguasai Nusa Media Company, dapatkah itu terwujud jika dia mengatakan mencintai Irma, lantas menjadikan gadis itu istri simpanan? Karena Reno asisten pria ini memberi peringatan bahwa Iryana selalu mengawasi dia dan Irma, cepat atau lambat Iryana akan mengetahui perselingkuhan ini.
“Aku selalu ingin bersamamu, sayang,” hanya itu dia katakan untuk menjawab pertanyaan Irma, “Sudah jangan bicara hal sepele itu, karena akan merusak kebersamaan kita ini,” diminta si nona tidak membicarakan cinta.
Irma menghela napas pelan, membatin, ‘Baik, Mas. Kuyakin kamu kelak mengatakan mencintaiku, dan melepas Mbak Yana untukku,’
***
Irma bergegas jalan menuju poli kandungan karena dia datang terlambat dari jam prakteknya saat ini. Dia tadi mengantar Davka ke Bandara, ingin memastikan kekasihnya berangkat dengan aman memakai pesawat jet pribadi sang kekasih. Ternyata perjalanan dari Bandara ke rumah sakit Harapan mengalami hambatan yaitu lalu lintas tengah padat, jadilah dia sampai ke rumah sakit lewat satu jam dari jadwal prakteknya.
Saat hampir mencapai ke depan poli kandungan, Bisma mencegatnya, lantas meraih tangannya, dan membawa dia menjauh dari poli tersebut. Irma terheran-heran karena sangat jarang terjadi sang dokter yang pendiam, kaku, dan tegas ini mencegatnya, lantas membawanya pergi.
Biasanya kalau si dokter membutuhkannya, akan menyuruh Suster Ajeng menelpon dia, lantas dia ke ruangan pria itu yang ada di lantai 4.
Bisma membawa Irma ke jalur evakuasi, lantas memepet perempuan itu hingga tersandar ke dinding dekat tangga evakuasi. Kedua tangan kekarnya mengurung tubuh nona ini, di mana telapak tangan menempel erat ke dinding.
Irma semakin terheran karena baru pertama kali Bisma seperti ini. Perasaan dia menjadi tidak enak, berpikir apakah pria ini akan melecehkan kehormatannya?
“Irma,” terdengar suara bariton sang dokter, “Sampai kapan kamu berhubungan sama Davka Hutama?” lantas memberi pertanyaan diluar dugaan Irma.
Sang nona terkaget mendengar pertanyaan ini, bagaimana bisa dokter Bisma Satria mengetahui dia berhubungan asmara dengan Davka? Diamati wajah dokter ini yang terlihat thunder cloud dan cemas. Kembali dia merasa aneh karena wajah ini tidak pernah dilihat dia selama mengenal sang dokter.
“Irma,” kembali terdengar suara Bisma, “Apa kamu sadar siapa Iryana kakakmu?” dia memberi pertanyaan lain sambil memandang Irma yang bertambah keheranan, “Selama ini apa dia memperlakukanmu seperti adiknya sendiri?”
Irma semakin terheran mengapa semua pertanyaan ini menyiratkan Bisma mengetahui keadaan dia sebenarnya dalam keluarga Darian Kertanegara.
“Iryana tidak memperlakukanmu sebagai adik, Irma,” kembali terdengar suara Bisma, “Lantas jika dia tahu kamu bermain api dengan Davka suaminya, apakah dia akan menerimanya? Dia akan membakarmu, Irma.”
Irma tersentak kaget mendengar semua ini, lantas menatap tajam Bisma,
“Maaf dokter Bisma,” dia bicara tegas, “Anda hanya mengenal saya sebagai dokter yang bekerja di rumah sakit milik Anda,” ujarnya, “Semua yang Anda katakan tidak benar adanya,” dia menolak membenarkan semua yang diutarakan Bisma, “Karena Anda tidak hidup bersama saya,” imbuhnya.
“Apa pun katamu,” terdengar hardikan Bisma, “Aku minta kamu akhiri hubungan terlarang itu, Irma! Jangan kamu pikir Iryana tidak mengetahui itu!” diminta dengan tegas Irma mengakhiri hubungan dengan Davka, “Lantas, segera bersihkan rahimmu, Irma,” imbuhnya lagi, “Karena,”
“Cukup dokter!” sela Irma cepat, “Anda keterlaluan saat ini!” dia mendorong tubuh Bisma agar menjauh darinya, lantas dipandang sengit dokter itu, “Anda itu siapa, hmm? Mengapa mengatakan semua hal yang kacau?”
Bisma menghela napas, bagaimana dia mengatakan bahwa mengetahui yang terjadi, dan segera terjadi ke Irma?
Tidak lama, Irma menutup mulutnya, lantas tampak wajahnya pucat,
“Irma?!” Bisma terkejut melihat ini, “Kamu merasa mual kah?” entah kenapa dia mengajukan pertanyaan tersebut, karena melihat wajah pucat si nona roman perempuan ingin muntah.
Irma tidak menjawab, dari bibirnya lepas cairan yang berasal dari dalam perutnya.
“Astaga!” Bisma terkejut melihat ini, “Muntahkan semua, Irma,” segera dia ke belakang si nona yang kembali membuang isi perutnya ke lantai jalur evakuasi ini, lantas mengurut-urut pelan tekuk sang gadis, “Tuhanku,” dia menyebut nama Tuhan, “Tuhanku! Tuhanku!” terus menyebut nama Tuhan dengan raut wajah cemas merasa dalam rahim Irma ada benih Davka.
***
Irma memandangi alat test kehamilan dengan wajah bahagia, karena di sana terlihat jelas dia positif mengandung benih Davka, sebab Bisma segera membawanya ke ruangan pria itu, lantas memanggil dokter Alensky rekan Irma di poli kandungan untuk mengecek mengapa si nona muntah-muntah. Hasilnya Irma mengandung dua minggu benih Davka.
‘Ternyata,’ terdengar suara batin Irma yang masih memandangi alat test kehamilan tersebut, ‘Aku berhubungan dengan Mas Davka sudah dua minggu lebih.’ Dia menghitung hari indahnya berhubungan asmara dengan sang kakak ipar, “Ish, Mas Davka tokcer banget. Aku bisa dibikinnya hamil anak kami,’ dia merasa pria itu tokcer sebab bisa membuatnya mengandung saat ini. ‘Aku tidak sabar menunggu dia pulang untuk memberitahu kabar gembira ini,’ dia menjadi tidak sabar ingin segera memberitahu berita gembira kehamilannya ke Davka.
***
Irma terbelalak tidak percaya karena Davka ada di depan pintu kamarnya. Bukan kah pria ini baru besok pulang dari Malaysia?
“Sayang, aku pulang cepat,” sang kakak ipar menyapa dia dengan suara mesra sambil memandangnya terheran-heran, “Hais, bukannya aku dipeluk, kamu pelototin aja,” dia menukas karena si nona masih memandangnya tidak percaya.
“Bukannya, bukannya,” Irma terbata bicara, “Mas baru pulang besok? Kan Mas minta kujemput di Bandara besok itu,” ujarnya menjelaskan mengapa terus memandang sang kakak ipar tidak percaya.
Davka segera membawa mereka masuk ke dalam kamar, dan anehnya kali ini pintu tidak dikuncinya, lantas langsung membuat mereka bertindihan di atas ranjang. Ditatap mesra gadisnya ini,
“Aku tidak tahan pergi lama-lama darimu, sayang,” suaranya begitu mesra saat ini, “Jadi aku bergegas pulang ke Jakarta, ingin memelukmu, sayang,” dijelaskan mengapa pulang cepat.
Irma tersenyum bahagia mendengar perkataan itu, “Ah ya,” dia teringat sesuatu, “Aku ada berita baik untukmu,” dia ingin menyampaikan mengenai kehamilannya ke Davka.
“Nanti saja itu, sayang,” kekeh sang kakak ipar, “Sekarang yang terpenting, kamu penuhi kerinduanku,” ujarnya sambil merobek kasar bagian depan daster ditubuh Irma, lantas dikeluarkan melon-melon nikmat sang gadis, dan mulai menikmatinya.
“Mas!” darah Irma bergelesir, “Ish kamu ini,” dia berusaha menghentikan hasrat Davka yang menggebu, “Ish, Mas!” tapi yang ada merasa tersengat karena salah satu melonnya diraup ke dalam mulut kekasihnya, “Astaga!” lenguhnya karena bibir sang kekasih begitu pandai merasai melonnya.
Sementara di luar kamar, tampak seorang wanita ditemani sepasang pasutri berusia senja berdiri di depan pintu yang tidak terkunci. Tampak wajah wanita itu geram bukan main mendengar suara-suara kemesraan Irma dan Davka. Langsung saja dia membuka pintu dengan kasar, lantas kedua matanya terbelalak tidak percaya karena melihat Irma berada di atas badan Davka, tengah menggeliat karena bibir sang pria masih memainkan salah satu melonnya.
“Perempuan sialan!” terdengar jeritan perempuan itu yang adalah Iryana, dan pasutri itu adalah Darian dan Sinta sang istri.
Jeritan lantang itu membuat Davka cepat melepas melon Irma, lantas mendorong si nona hingga terpelanting ke lantai, lalu berkacak pinggang dihadapan gadis ini yang berusaha bangun,
“Hei kamu!” serunya di mana mengacungkan jari telunjuk tangan kanan ke Irma yang terduduk di lantai, “Dasar perempuan j*****!” dimaki gadis ini yang tampak terkaget mendengar hardikan suaranya, “Beraninya menjebakku ke kamarmu!”
Irma hendak bersuara tapi tangan Iryana menjenggut rambut di kepalanya, bahkan perempuan itu menariknya berdiri, lantas diberi hadiah tamparan keras di wajah, membuat dia terpelanting ke tempat tidur. Bukan hanya itu saja yang di dapat si nona, tapi serbuan pukulan dan makian dari Iryana yang naik pitam melihat semua kemesraan itu.
Iryana mendapat laporan dari Mbok Atin bahwa selama dia di Singapura, Irma menjalin hubungan terlarang dengan Davka. Hal ini ternyata diketahui pria itu dari Bik Asih, sehingga memutuskan bergegas pulang karena dikabarkan Iryana langsung meninggalkan Singapura bersama Darian dan Sinta.
Darian segera menghentikan kegilaan Iryana memukuli Irma, dijauhkan putri kandungnya ini yang menjerit-jerit memaki sang anak adopsi.
Wajah Irma tampak memar merah, lantas bersimbah air mata. Dia memandang Davka, meminta pertolongan pria itu, tapi sang pria diam di tempat dengan wajah pilu melihatnya dihajar Iryana.