Iryana merangsek maju lagi, direnggut rambut di kepala Irma, lantas menariknya dengan kasar agar turun dari tempat tidur,
“Akh!” Irma terpekik kesakitan, “Ampun Mbak!” dia merengek minta ampun, air matanya semakin berlinang.
Namun Iryana tiada menaruh kasihan ke gadis malang ini. Perempuan itu sudah dikungkung kemarahan luar biasa. Dia menyeret Irma keluar dari kamar. Darian segera menyusul putri tunggalnya itu, meski dia marah, tapi dia yang membesarkan Irma selama ini, tidak mau Iryana mengirim Irma ke alam abadi.
Sinta hanya diam melihat semua ini, lantas menyusul suami dan putrinya, sedangkan Davka terduduk di tepi tempat tidur. Hatinya sangat sakit melihat semua hal tersebut, tapi dia tidak bisa menghentikannya. Jika dia melindungi Irma, maka semua rencananya untuk mendapatkan Nusa Media Company akan gagal.
Iryana sudah membawa Irma ke lantai satu, di mana sepanjang mereka berjalan, tampak sang nona merintih kesakitan sebab rambutnya tetap direnggut istri Davka tersebut, lantas menuruni tangga seringkali terpleset membuatnya semakin kesakitan.
Dior yang saat itu ada di ruang tengah bersama Bik Darmi terkaget melihat Irma diseret jalan sama Iryana, langsung menjerit-jerit,
“Onty! Onty!” bahkan berusaha ke Irma, tapi dipeluk Bik Darmi.
Sementara dari salah sudut dinding, tampak Bik Asih pengasuh Irma dari bayi merekam semua kejadian itu dengan ponselnya, di mana rekaman itu langsung terkirim ke ponsel seseorang. Hati Bik Asih sangat sakit melihat semua yang dialami Irma saat ini, tapi dia tidak bisa menolong.
Tadinya dia pikir dengan memberitahu Davka bahwa Iryana akan melakukan aksi pembalasan ke Irma, tuan muda itu akan melindungi Irma, tapi ternyata sang pria tidak melakukan apa pun.
Langkah Iryana dan Irma sampai di depan pintu rumah yang sudah dibuka oleh Darto kepala rumah tangga di rumah ini. Perempuan itu lantas melanjutkan langkahnya membawa mereka berdua hingga ke depan pagar rumah ini. Di sana ada Miko Satpam penjaga, di mana bergegas mendekati si nyonya arogan tersebut.
“Nyonya,” dia pun menegur si nyonya yang masih membawa kasar Irma, “Maaf, ini,” dia terbata karena melihat Irma wajahnya memar bersimbah air mata, rambut direnggut Iryana, dan tubuh menggenakan daster yang koyak bagian depan di mana terlihat kedua melon gadis itu menjuntai tanpa penutup.
“Buka pagarnya, Miko!” terdengar suara Iryana yang melengking, “Lekas buka pagarnya, biar saya campakan sampah ini keluar!” ujarnya memerintah si Satpam membuka pagar agar bisa membuang Irma keluar dari rumahnya.
Miko menelan saliva karena tidak tega melihat Irma saat ini. Dia sebenarnya tahu bahwa Davka yang duluan menyergap Irma dalam hasrat terlarang, tapi dia memilih diam. Lantas selama ini dia mengenal Irma perempuan lembut dan penurut. Si nona juga baik ke semua pekerja di keluarga Darian.
“Miko!” terdengar hardikan Iryana yang melengking, “Kamu tuli kah? Saya bilang buka pagarnya, jadi saya bisa mencampakan sampah ini keluar!”
Miko menghela napas, lantas kedua matanya melihat Darian di belakang Iryana, dan tampak sang tuan besar menganggukan kepala, isyarat agar dia mengerjakan perintah nyonya Davka ini. Dengan berat Satpam ini membuka pagar rumah lebar-lebar, dan segera saja Iryana kembali menyeret Irma berjalan, lantas saat keduanya di luar, sang nyonya menghempaskan tubuh mungil itu ke depan.
Irma tersuruk jatuh mencium aspal di depan pagar rumah, membuat rasa sakit kian bertambah di sekujur tubuhnya. Air matanya terus berlinang. Dia tidak menduga akan mendapatkan semua ini, dan Davka tiada membelanya. Pelan di angkat kepalanya, lantas mengarahkan pandangan ke Iryana. Tampak sang kakak berdiri didampingi Darian, tidak ada Davka di sana.
Davka berada di balkon depan ruang keluarga di lantai dua, melihat semua hal yang didapat Irma. Tampak pria ini mengernyit, merasakan kesakitan si nona. Namun sekali lagi dia tidak bergerak menolong sang gadis malang. Lantas di halaman dalam rumah tampak Dior berlari dikejar Bik Darmi dan Sinta. Anak itu ingin menolong Irma yang disayanginya. Suara bocah itu pun terdengar lantang memanggil-manggil Irma.
“Onty! Onty! Onty!”
Davka yang melihat Dior seperti ini memejamkan kedua matanya, dia miris karena putranya lebih berani dari dia untuk menolong Irma, padahal baru berusia tiga tahun.
Miko juga melihat si bocah berlari kencang menuju Irma yang tampak mengarahkan pandangan ke anak itu, segera menangkap putra Davka ini.
“Lepas paman!” terdengar jeritan kesal Dior karena digendong Satpam ini, “Onty! Onty!” dia meronta ingin turun dari gendongan, tangannya terjulur ke arah Irma, “Onty! Onty!”
Air mata Irma semakin berlinang karena hanya Dior yang membelanya saat ini, tapi anak itu dihentikan agar tidak kena imbas semua perbuatannya.
Iryana mengulurkan satu tangan dan mencengkram kuat wajah Irma, ditatap dengan sengit,
“Mulai saat ini, hiduplah di jalanan, perempuan sialan,” terdengar suaranya yang bernada kemarahan, “Ini pembalasan setimpal untukmu yang b****,” imbuhnya.
“Mbak,” Irma memberanikan diri bersuara, “Aku tidak seburuk itu! Mas Davka yang duluan merayuku saat Mbak di Singapura,” dia mencoba membela dirinya, berharap Iryana ada sedikit belas kasihan ke dia, tapi yang di dapat tamparan keras di wajah, membuatnya kembali terpelanting tersuruk ke aspal.
Iryana yang memberinya hadiah itu, karena tidak terima pembelaan diri tersebut. Dia tahu dari awal Irma dan Davka sudah menjalin hubungan pertemanan dekat, karena sang pria seringkali mengantar si adik pulang ke rumahnya atau rumah Darian.
Sosok ganteng Davka membuat Iryana jatuh cinta, dan bertekad mendapatkan pria itu apa pun caranya. Padahal dia sudah menjalin cinta dengan seorang dokter gagah pemilik rumah sakit swasta terkemuka di Jakarta, Singapura, dan Malaysia. Sang kekasih sebenarnya semapan Davka dalam harta, tapi Iryana merasa pesona Davka lebih besar dari kekasihnya. Lantas dia tidak terima Irma dekat dengan Davka.
Sedari Darian mengadopsi Irma, Iryana tidak menyukai Irma, selalu iri ke Irma yang dirasa lebih cantik, lebih baik hati, dan lainnya. Dengan terpaksa Darian memperlakukan Irma seperti pembantu, meski diberi kehidupan mewah seperti punya kamar yang berisi barang luxury, juga disekolahkan hingga meraih gelar dokter spesialis ginekolog. Darian juga memperkerjakan Bik Asih untuk mengasuh Irma, sebab Iryana menuntut Sinta hanya untuk Iryana.
“Kamu!” terdengar suara Iryana yang sengit, “Masih juga membela dirimu? Jelas-jelas kulihat kamu ada di atas tubuh Davka, dan tampak senang Davka mengemut melonmu itu!” dia menyemburkan semua kemarahannya untuk kesekian kali. “Lantas aku sudah melihat rekaman cctv, semuanya menunjukan kamu yang merayu Davka lebih dulu!”
Irma menggelengkan kepala, bagaimana bisa ada rekaman cctv, karena setahu dia, Davka sudah mematikan cctv di kamarnya. Memang betul kalau di kamar sudah dimatikan, tapi yang di hotel dan vila bagaimana? Lantas tangan Iryana pun banyak untuk mengawasi Irma selama dia di Singapura, sebab dia tahu selama menikah dengan Davka, suaminya ini mencari cara untuk kembali ke Irma.
“Sudah Yana,” terdengar suara Darian menyudahi kemarahan Iryana, “Cukup menyembur anak tidak tahu diri ini,” ujarnya karena sudut hatinya tidak tega melihat Irma dibikin babak belur sama putrinya, lantas dia masih mendengar jerit tangis Dior memanggil-manggil putri adopsinya.
Darian sebenarnya tahu bahwa Davka yang memulai, karena dia paham siapa Irma. Irma gadis yang tahu diri, lembut, dan pengertian. Irma sadar Davka sudah menikah sama Iryana, maka dihapus rasa cinta ke pria itu dari hati dan pikirannya.
Iryana mendengus mendengar perkataan ayahnya ini, merasa sang ayah membela Irma. Mengapa ayahnya tidak ikut menghukum Irma? Jawabannya karena Darian yang mengasuh Irma dari bayi, meski terpaksa memperlakukan si anak seperti pembantu.
“Ayo kita masuk,” kembali terdengar suara sang ayah di mana meraih tangan Iryana, “Ayo Yana,” dibujuk putrinya untuk meninggalkan Irma, “Ayo anakku,”
Kembali Iryana mendengus kesal, lantas terpaksa ikut sang ayah kembali ke dalam rumah. Sang ayah setelah itu menutup pagar, dan dikunci olehnya, lantas membawa semua orang di halaman ke dalam rumah.
Tinggal lah Irma sendirian terduduk di aspal di mana wajahnya memar dan bersimbah air mata. Dia pun mulai terisak menangis, meluapkan kesakitan hatinya karena Davka yang dicintainya sama sekali tidak menolongnya. Dia menyesali mengapa terjebak hubungan semu itu.
Tidak lama keluar Bik Asih dengan diam-diam membawa outer milik Irma, lantas segera membungkus tubuh gadis malang itu dengan outer.
“Nona,” lirihnya, “Ayo Bibik antar ke dokter untuk mengobati luka-luka Nona, juga menyelamatkan janin Nona,” kedua tangannya segera mengangkat tubuh Irma yang saat ini sangat lemah.
Setelah mereka berdiri, perlahan si bibik menuntun Irma berjalan, dibawa menuju satu tempat di mana sudah menanti seseorang yang akan menolong si nona. Tapi tiba-tiba datang beberapa pria bertubuh kekar menghadang langkah kedua perempuan itu.
“Astaga!” Bik Asih terpekik kaget.