Bisma dan Alensky meluaskan pandangan, mereka mencari Bik Asih yang mengirim tanda bahaya ke ponsel Bisma. Mereka berdua yang menanti perempuan tua itu membawa Irma ke Bisma yang menunggu di halaman Masjid tidak jauh dari rumah Iryana. Di sana sudah stand by Ambulans milik Rumah Sakit Harapan, karena sang dokter feeling Irma akan dibikin babak belur sama Iryana.
Tuan muda itu mendatangkan Alensky dokter kandungan untuk menyelamatkan janin dalam rahim si nona.
“Astaga!” terdengar suara Alensky terlebih dulu karena kedua matanya melihat Bik Asih tergeletak di depan batu pembatas antara taman dengan jalanan kompleks, “Bisma, itu Bik Asih!” segera saja di tarik lengan sahabatnya ini, lantas mereka mendekati perempuan tua tersebut.
“Tuhanku!” kini terdengar suara Bisma di mana langsung mengangkat setengah badan si bibik, ditopang satu lengan kekarnya, jari tangan lainnya menempel ke depan lubang hidung sang pengasuh untuk merasai apakah masih ada napas atau tidak dalam raga tua itu.
Bik Asih saat ini terluka tembak, karena perempuan itu yang bisa bela diri berusaha mendapat kembali Irma dari tangan para pria tak dikenal tersebut. Namun salah satu dari mereka meletuskan peluru timah ke beberapa bagian tubuh tua itu, hingga ambruk tersuruk ke atas aspal.
Si bibik saat itu belum pingsan, merayap berusaha mengejar mobil yang melarikan Irma, dan sempat mengirim tanda bahaya ke ponsel Bisma dengan menekan salah satu bandul giwang di telinganya.
“Masih bernapas,” Bisma merasa lega karena Bik Asih hidup, segera ditepuk-tepuk bergantian kedua pipi si bibik, dibikin siuman, agar nyawa perempuan itu tidak dijemput malaikat maut, “Bik Asih! Bibik! Bik Asih.”
Sedangkan Alensky menekan kuat beberapa kali bagian atas dalam jari jempol kaki kanan Bik Asih, membantu Bisma menyadarkan si bibik malang ini.
Tidak lama Bik Asih siuman, meski pandangannya nanar, raganya sangat lemah, dan dipenuhi rasa sakit akibat peluru masih bersarang di beberapa bagian tubuhnya. Melihat ini Alensky cepat menotok beberapa syaraf di sekitar luka tembak agar mengurangi rasa sakit si bibik.
“Bik Asih!” terdengar suara Bisma kembali lega karena perempuan tua ini siuman, “Bik, mana Irma?” lantas langsung bertanya di mana Irma.
“Tu, tuan,” sahut Bik Asih dengan suara lemah dan tersendat, “Nona, Nona,” dia mengerahkan tenaganya untuk bisa menjawab pertanyaan sang dokter, “Nona dibawa lari,” ujarnya memandang pria itu dengan lirih, “Bibik tidak kenal siapa mereka, Tuan,” imbuhnya.
Jawabannya tidak lengkap karena saat ini meski bangun, masih berada di antara sadar dengan tidak.
“Bi,” sela Alensky cepat, “Kita bawa dulu Bik Asih ke IGD, diobatin di sana,” ujarnya mengusulkan mereka segera membawa Bik Asih, “Ayo lekas, jadi kita masih ada harapan menemukan Irma secepatnya,” imbuhnya sambil memandang sang sahabat.
Bisma menganggukan badan, lantas menggendong perempuan tua itu, baru mengangkat tubuh dibantu Alensky, setelah itu mereka dengan setengah berlari membawa si bibik ke mobil jip milik sang dokter.
***
Irma didorong kasar kedua pria yang membimbingnya sedari jip yang berhenti di depan pintu sebuah gudang yang berada di Pelabuhan Ratu. Dia dibawa kemari dengan paksa, dan kondisi tubuhnya semakin melemah.
Tubuh lemah sang nona tersuruk ke lantai yang sangat dingin, karena gudang ini tempat pembekuan ikan-ikan.
Setelah si nona tersuruk, para pria yang membawanya kemari segera meninggalkannya begitu saja. Tidak pula diberi makanan, minuman, dan selimut tebal. Mereka diperintah Iryana untuk mengirim Irma ke alam abadi. Tadinya Nyonya Davka ingin menyiksa Irma, tapi Darian melarangnya. Sang ayah hanya menyarankan agar Irma dikirim dengan membekukan di dalam gudang pembekuan ikan.
Setelah si nona wafat, jasatnya di buang ke laut, seolah gadis ini bunuh diri karena merasa sangat malu sudah ketahuan merusak rumah tangga Iryana. Dengan begitu Kepolisian tidak akan mengusut penyebab sebenarnya gadis malang itu meninggal.
Kembali ke Irma yang mengangkat setengah tubuhnya, lantas mengusap-usap kedua sisi lengan dengan tangannya. Hawa yang sangat dingin di sini merambah masuk ke dalam tubuhnya yang babak belur.
“Tuhanku,” terdengar pelan suaranya, “Mengapa Mbak Yana tega sekali? Bukan kah semua ini pun salah dia? Dia merebut Mas Davka dariku dengan mengatakan mengandung Dior anak Mas Davka,” dirutuki Iryana yang dirasa lebih dulu merebut Davka darinya, “Tuhanku,” dia kembali menyebut nama Tuhan, “Mengapa Aku tidak boleh mengambil kembali milikku? Mas Davka milikku.”
Pelan dikerahkan tenaganya untuk berdiri, bermaksud untuk bisa keluar dari gudang ini agar mendapatkan kembali Davka. Namun karena tubuhnya terluka, hatinya pun terluka, berkali dia jatuh saat mencoba berdiri. Dia tidak menyerah, karena bertekad harus merebut kembali Davka dari tangan Iryana, lantas membalas kekejaman si kakak.
Namun apa daya dia akhirnya terjatuh, hanya bisa merayap jalan dengan susah payah di lantai yang sangat dingin ini. Hawa di sekitar yang luar dingin terus menerpa tubuhnya. Tubuh malang berisi Janin tiada berdosa mulai gemetaran menggigil. Namun Irma keras hati, terus merayap berusaha menemukan pintu keluar dari gudang ini.
***
Bisma berjalan mondar-mandir di depan pintu ruang operasi tempat dimana saat ini Bik Asih tengah diupayakan selamat dari maut oleh dokter Suha rekannya di Rumah Sakit Harapan. Tampak wajah pria ini luar biasa cemas, dan merutuki diri. Dia tidak mampu mencegah bencana ini demi Irma dan janin itu selamat. Dia juga menyesal mengapa tidak minta Karto tukang kebun di rumah Iryana yang adalah orangnya untuk menemani Bik Asih membawa Irma ke dia setelah si nyonya Davka melempar gadis itu keluar dari rumah.
Karto lebih jago kungfu dibanding Bik Asih, dan sebenarnya diutus untuk menjaga Irma. Dari Bik Asih, dia tahu Irma kerap kali dikasari Iryana, dan tidak bisa melawan. Bahkan tidak bisa mengadu ke Darian atau Sinta. Lantas sejak ada Karto, Iryana jarang mengasari Irma, karena tukan kebun itu minta si nyonya berlaku baik karena seorang kakak. Entah kenapa Iryana mematuhi itu.
Di depan pintu ruang operasi pun ada Alensky dan Vian asisten Bisma di rumah sakit Harapan dan BI Company milik pria itu. Sang dokter sebenarnya billionaire, hanya saja tidak pernah terbuka mengenai itu. Masyarakat di Indonesia khususnya hanya tahu dia pemilik rumah sakit Harapan, dan dokter Neurologi Pediatric. Dunia pun tahu dia masih ngejomblo padahal usianya sudah tiga puluh lima tahun. Saat dia menjalin cinta dengan perempuan tersebut pun tiada yang tahu.
Bisma memang tidak mau kehidupan pribadinya diketahui siapa pun, lantas ada satu misi yang diembannya untuk mengeluarkan Irma secepatnya dari keluarga Darian.
Alensky mendekati sahabatnya ini agar berhenti berjalan mondar-mandir seperti ini, dibawanya duduk di salah satu bangku untuk keluarga pasien menanti selesainya operasi.
“Len,” terdengar suara Bisma di mana memandang wajah sang sahabat, “Kenapa gue bodoh tidak bisa mencegah semua ini terjadi?” dia merutuki dirinya, “Kenapa sebelum kejadian ini, gue tidak segera membawa Irma lari, tidak perduli dia tidak mau?”
Alensky menyimak ini lantas menghela napas, “Bi, Irma hanya mengenal loe adalah atasannya, jadi semisal loe nekat membawa dia lari, pasti akan melarikan diri, dan melaporkan loe telah menculiknya,” ujarnya memberi penjelasan bahwa beruntung Bisma tidak membawa lari Irma di hari sahabatnya meminta si nona mengakhiri hubungan dengan Davka.
“Tuan Muda!” terdengar suara Vian memanggil Bisma, “Tuan Muda Bisma!” serunya lagi bergegas mendekati sang atasan yang melihat ke dia, “Itu Karto, Tuan!” ujarnya lantas mengarahkan jari telunjuk tangan kanannya ke arah selasar jalan yang menuju ruang operasi.
Bisma dan Alensky cepat mengalihkan pandangan ke sana, lantas berbarengan berdiri, bergegas menyongsong Karto yang usianya setua Bik Asih.
Karto diam-diam meninggalkan rumah Iryana, setelah Bik Asih berhasil keluar untuk menemui Irma. Lantas di saat jip yang berisikan Irma melaju, dia cepat mengejar dengan jurus berlari cepat, lantas merayap naik ke atap jip. Saat itu pula dia sempat mengirim pesan singkat ke Ello ajudan Bisma untuk mengirim orang menjemputnya di lokasi akhir jip nantinya.
Lantas ketika dia melihat si nona dimasukan ke dalam gudang pembekuan, secepatnya dia menemui Bisma yang diyakini berada di rumah sakit milik atasannya untuk menyelamatkan nyawa Bik Asih.
“Tuan Muda,” terdengar suara Karto saat sudah berhadapan dengan Bisma, “Lekas selamatkan Nona Irma.” Ujarnya meminta sang atasan menyelamatkan Irma.
“Kamu tahu di mana Irma berada?” Bisma tampak antusias, lega karena ternyata Karto turun tangan untuk menyelamatkan Irma, padahal tidak ditugaskan untuk itu.
“Tahu, Tuan.” Sahut Karto, “Ayo lekas Tuan, Nona bisa melayang nyawanya menjadi es batu.”
***
Para pria yang menjaga di depan pintu gudang tempat Irma berada, tempurasan karena melaju cepat Wrecking Ball Truck menuju mereka. Wrecking Ball Truck salah satu alat berat yang berfungsi untuk menghancurkan bangunan dengan bola besar.
Tampak yang mengemudikan truck tersebut adalah Bisma. Pria ini begitu sampai di Pelabuhan Ratu, segera menyuruh Vian membawakan salah satu Wrecking Ball Truck milik BI Company yang ada di salah satu pryek perusahaan tersebut di Pelabuhan ini.
BI Company salah satu unit bisnisnya jual beli Buldozer dan alat berat untuk konstruksi bangunan.
Tampak saat ini wajah sang dokter penuh kemarahan karena dalam perjalanan kemari, Karto menceritakan bahwa Irma disekap di dalam gudang pembekuan ikan di Pelabuhan ini agar ke alam abadi dengan jasat membeku.
Dia beruntung mengenal baik pejabat setempat sehingga mendapat izin untuk menggunakan Wrecking Ball Truck menyerang para penjaga pintu gudang pembekuan tersebut, lantas nantinya dengan truck itu menjebol pintu gudang.
Tampak tidak jauh dari aksi sang dokter yang heroik tersebut, ada jip milik pria itu, satu ambulans, dan satu truk tentara. Semuanya dikerahkan untuk menyelamatkan Irma dan janin dalam kandungan si nona.
Bisma yang bisa mengoperasikan hampir semua kendaraan alat berat tersebut terus menyerang para pria itu yang berlarian ke sana kemari.
Alensky yang mengawasi aksi si dokter melihat berdatangan beberapa pria dari arah belakang gudang dengan membawa senjata laras panjang, segera berlari cepat untuk memberikan bantuan ke sahabatnya itu. Vian dan para tentara pun berlari menyusulnya untuk memberikan bantuan ke Bisma.
Rekan Irma di Poli Kandungan ini mulai memberondongkan senjata laras panjang ditangannya saat melihat musuh menyerang Bisma dengan peluru-peluru timah. Dia sama sekali tiada takut melakukan aksi heroik tersebut demi membantu sahabatnya ini yang harus menyelamatkan Irma dan janin dalam kandungan si nona.
Sementara di dalam gudang tampak Irma tergeletak di lantai dengan tubuh setengah membeku dan tidak sadarkan diri.