Bisma segera meloncat keluar dari kabin Wrecking Ball Truck setelah berhasil menjebol pintu gudang, dan para pria yang menjaga gudang tersebut sudah dilumpuhkan Alensky dan tim mereka. Setelah kedua kakinya menjejak di permukaan aspal jalan, segera saja melesat masuk ke dalam gudang.
Alensky, Vian, dan Jenderal Dasman bergegas menyusul sang dokter yang sangat panik saat ini, karena mereka semua tahu ikan saja bisa membeku, apalagi manusia? Lantas kondisi Irma saat ini sangat lemah, apa bisa bertahan hidup di dalam gudang frezeer raksasa ini?
“Irma!” terdengar suara lantang Bisma yang sudah berada di dalam gudang, kedua matanya menyisir ke sekitar mencari sosok gadis malang itu, “Irma Dewanti! Irma!” serunya kini sambil menyusuri setiap tempat di dalam gudang, “Irma! Kalau kamu masih hidup, berteriak lah!”
Alensky, Vian, dan Jenderal Dasman segera menyebar untuk menemukan Irma. Yang menemukan gadis itu tergelatak di lantai di los bersuhu paling rendah adalah Vian.
“Nona dokter!” pekiknya kaget luar biasa melihat si nona tergeletak di mana tubuhnya setengah membeku.
Bagaimana tidak, Irma hanya menggenakan daster koyak tersebut, lantas tubuh babak belur. Si nona pun tidak makan apa pun sedari kemarin.
“Tuan Bisma!” Vian segera berteriak lantang memanggil Bisma, setelah mengecek apakah Irma masih bernapas atau tidak saat ini, “Tuan Bisma! Saya menemukan Nona dokter!” serunya lagi lebih lantang memanggil Bisma.
“Kamu di mana, Vian?” terdengar sahutan lantang Bisma saat ini.
“Los utama!” sahut sang asisten cepat melepas jaket di badan, lantas diselimuti tubuh Irma, “Lekas kemari, Tuan!”
Tidak lama datang Bisma bersama Alensky dan Jenderal Dasman. Kedua pria itu mendengar teriakan sahut menyahut antara Bisma dengan Vian.
“Irma!” jerit Bisma histeris melihat Irma tergeletak tidak sadarkan diri di lantai berselimut jaket Vian. Segera saja pria ini melesat mendekati si nona. Begitu di dekat si nona, kedua tangan kekarnya segera mengangkat tubuh gadis malang ini, disandarkan ke d***nya, “Irma! Irma!” satu tangannya menepuk-nepuk pipi sang gadis, tampak wajahnya cemas luar biasa.
“Bi!” sela Alensky cepat, “Baiknya segera bawa Irma ke Ambulans, biar gue ama Fabian bisa menolong dia dan janinnya,” diminta agar sahabatnya segera membawa Irma keluar dari kulkas raksasa ini.
Bisma langsung menggendong tubuh nona ini, lantas dengan dibantu Vian berdiri. Tidak lama para pria ini setengah berlari membawa gadis malang tersebut keluar dari frezeer raksasa.
Saat sampai di luar, Ambulans sudah terparkir tepat depan pintu yang dijebol oleh Wrecking Ball Truck, lantas ada dokter Fabian, beberapa perawat pria stand by dengan brankar, dan Suster Ajeng memegang selimut tebal.
Para perawat saat melihat Bisma membawa Irma, bergegas menyongsong atasan mereka dengan membawa brankar. Sang dokter langsung meletakan tubuh nona di brankar, lantas Vian menarik Jaket dari atas tubuh gadis tersebut, baru Suster Ajeng menyelimuti dengan selimut tebal.
Tidak lama Irma di bawa masuk ke dalam Ambulans. Bisma ikut masuk ke dalam mobil pasien darurat tersebut, harus menemani si nona yang kritis saat ini. Suster Ajeng dan dokter Fabian cepat memasang sejumlah alat medis ke tubuh si nona, termasuk masker oksigen.
“dokter Alen,” terdengar suara Suster Ajeng menegur Alensky yang mengawasi pemasangan alat tersebut, “Denyut nadi dokter Irma sangat-sangat lemah saat ini,” ujarnya memberitahu kondisi si nona sebab jari tangannya yang mendeteksi nadi di pergelangan dalam tangan gadis malang itu merasakan betapa lemahnya denyut nadi tersebut.
“Berikan inject pemacu jantung,” Alensky segera memberi instruksi, “Lekas, Ajeng!” dihardiknya si Suster yang tampak belum mengerjakan instruksinya, “Kalau denyut nadinya lemah, maka dia dan janinnya tidak akan selamat!”
Suster Ajeng terkesiap, segera mengoplos obat yang diinstruksikan Alensky, lantas dengan hati-hati menyuntikan ke lubang jarum infusan di punggung tangan kanan si nona.
Bisma melihat semua ini semakin cemas, diraih tangan kiri Irma, digosok-gosokan di antara kedua tangannya membantu menghangatkan tubuh gadis ini.
“Tuhanku!” terdengar suara lirihnya, “Tuhanku! Tolong selamatkan dia dan janinnya. Mereka harus tetap hidup untuk mengganjar keluarga sialan itu demi orangtua kandungnya,” dia memanjatkan permohonan ke Tuhan agar menyelamatkan nyawa Irma dan Janin demi membalaskan dendam orangtua kandung si nona yang dihabisi Darian.
***
Davka mengusap kasar wajahnya setelah mendapat laporan dari asistennya bahwa Irma dibawa paksa oleh orang-orang yang diupah Iryana untuk dibekukan di frezeer raksasa di Pelabuhan Ratu. Dia terperangah karena tidak menduga sang istri begitu kejam menghukum Irma. Dikiranya hanya mengusir kekasih malang itu.
Kini dia berada di ruang kerjanya, tampak dipenuhi sesal. Namun dia bisa apa karena jika mengupayakan menolong Irma, maka semua rencananya tersebut gagal. Haruskah dia mengalami kegagalan hanya demi perempuan bernama Irma.
“Tuan,” terdengar suara sang asisten menegur Davka, “Baiknya Anda kirim orang secepatnya menolong Nona Irma,”
Davka mendengar ini mendecak, “Apa masih mungkin menolong dia?” lantas memberi pertanyaan, “Dia di sana dalam keadaan babak belur, apa sanggup bertahan sampai kita menolongnya?”
Sang asisten menghela napas, “Paling tidak kita tidak membiarkan jasat Nona Irma di telan dalam lautan.”
Davka tersentak kaget mendengar ini, ditatap asistennya dengan sorot mata bertanya,
“Apa maksudmu?”
“Saya mendengar Tuan Besar akan membuang jasat Nona yang membeku ke lautan, Tuan,” sahut sang asisten, “Jika ditemukan orang, maka Kepolisian mengira Nona bunuh diri, bukan karena dihabisi Nyonya Iryana.”
Mendengar ini Davka bagai diledakan granat, terduduk lemas di kursi meja kerjanya. Pandangan kedua matanya dipenuhi penyesalan, karena Iryana begitu tega ke Irma. Sudahlah si nona malang dibekukan di frezeer, lantas jasatnya dibuang ke lautan. Dia tahu karakter sang istri memang kejam, namun tidak menyangka sangat kejam.
“Tuan,” kembali terdengar suara asisten itu, “Saya mohon Anda tolong Nona. Paling tidak Anda menyemayamkan beliau dengan terhormat, karena,” tidak diteruskan perkataannya, hanya mengeluarkan satu plastik flip top berisi alat test kehamilan, lantas menaruhnya ke meja tepat dihadapan sang atasan.
Davka melihat alat itu, segera mengambilnya, lantas terkaget, lalu merasa lemas. Dia pun teringat saat Irma hendak memberitahunya satu hal di mana wajah gadis itu begitu bahagia. Ternyata nona itu ingin memberitahu mengenai kehamilan.
“Irma,” terdengar suara lirihnya saat ini, “Maafkan Aku, maafkan Aku,” dia meminta-minta maaf ke sang kekasih, “Aku membuatmu dan janin kita celaka,” dia menyesali diri membuat celaka menimpa sang kekasih dan janin milik mereka. “Maafkan Aku, sayang,” air matanya mulai meleleh dari kedua sudut matanya, “Maafkan Aku, maafkan Aku,” ujarnya berulang-ulang.
Sementara dibalik pintu yang tertutup rapat tampak Iryana berada di sana, menguping semua pembicaraan tersebut dengan bantuan alat penyadap yang ditempel ke daun pintu, dan terhubung ke headset di telinga si nyonya.
‘Huh!’ terdengar dengusan batin si nyonya, ‘Ini harga dari pengkhianatanmu ke Aku, Davka! Wanita sialan itu dan anak kalian menjadi penghuni alam abadi,’ ujarnya merasa puas memberikan hukuman yang bukan hanya ke Irma, tapi ke Davka sang suami.
***
Di dalam satu ruang khusus di ICU, tampak Irma terbaring koma dengan banyak alat medis di tubunya. Alensky dan dokter Fabian berhasil menyelamatkan nyawa si nona dan janin. Saat ini kondisi Irma masih dalam pantauan khusus kedua dokter itu dan Bisma.
Lantas tampak Bisma dengan hati-hati mengolesi salep memar dibeberapa bagian wajah si nona. Kedua matanya mengamati gadis ini dengan raut wajah lega sekaligus sedih.
Lantas datang Alensky bersama Narnia ibunda Bisma, di dekati sang dokter,
“Bi,” terdengar suara Narnia memanggil putra tunggalnya itu, “Bi,” lantas menyentuh pula salah satu pundak si anak.
“Maafkan Bi, Ma,” Bisma mulai bersuara, “Bi gagal secepatnya mengeluarkan Irma dari keluarga gadungan itu sebelum Davka menjerat Irma dalam hubungan terlarang,” dia meminta maaf ke sang ibu karena gagal mengemban misi dari ibundanya ini.
Narnia menghela napas, lantas, “Kamu saat itu terombang-ambing karena dari Bik Asih mengetahui Dior sangat dekat dengan Irma,” ujarnya, “Ada keinginanmu agar Irma menjadi ibu bagi Dior, lantas kamu mengeluarkan keduanya dari keluarga itu,” tuturnya, “Kamu terlupa bahwa status Dior adalah putra Davka, untuk alasan apa mengeluarkannya bersama Irma.”
Alensky mendengar semua ini sedikit menyesak karena semua yang dikatakan Narnia benar. Bisma memang terombang-ambing karena berkeinginan mengeluarkan Irma sekaligus Dior dari keluarga Darian. Mengeluarkan Irma mudah karena gadis itu hanya anak adopsi yang tidak dianggap, tapi bagaimana dengan Dior? Status Dior putra sah Davka. Jika dikeluarkan dari keluarga Darian alasannya apa?
Selama Dior dalam kandungan Iryana, Davka sangat menyayangi anak itu. Meski Davka tahu anak itu bukan benihnya, tapi sudut hati terpanggil untuk mengasih si anak. Lantas saat Dior dilahirkan ke dunia, Davka semakin menyayangi anak itu.
Membuat Bisma yang mengetahui hal itu dari Bik Asih dan Karto sedikit lega karena putranya disayang sama Davka. Namun dia sebagai ayah kandung tetap inginkan Dior dalam pelukannya. Lantas dia merasa Dior tidak layak dibesarkan dalam keluarga Darian.
“Sudahlah,” terdengar kembali suara Narnia disertai hela napas berat perempuan senja ini, “Semua sudah terjadi, dan ini pelajaran bagus untukmu, juga Irma,” ujarnya, “Jatuh cinta itu baik, tapi harus dicermati dengan akal waras. Tidak main membina cinta dengan orang yang membuat kalian jatuh cinta.”
Bisma menyimak semua ini merasa sesak napasnya karena sang ibu benar. Tidak seharusnya dia move on ke Iryana yang adalah putri tunggal Darian yang menewaskan orangtua kandung Irma yang adalah keponakan kontan ibundanya.