4

1866 Words
Potongan 4..... Riana segera memasukkan laptop dan beberapa berkas dokumen ke dalam tasnya. Setelah semua beres, wanita itu langsung beranjak pergi dari meja kerjanya sambil menenteng tas, lalu berjalan menuju pintu ruangan kerja. Riana bukannya tidak menyadari jika Dion tengah menatap ke arah dirinya dengan sorot mata tajam. Akan tetapi, ia terlalu malas mengindahkan hal tersebut karena menurutnya sama sekali tidak penting. Dan sesuai dugaan, saat melintas tepat di depan Dion. Tangan Riana segera diraih, kemudian dicengkram cukup erat oleh pemuda itu. "Jelaskan padaku!" seru Dion dengan amarah yang memuncak. Rahang wajahnya tampak mengeras. Dion pun memerangkapkan wanita yang ada di depannya dalam tatapan tajam dan mengintimidasi. Riana pura-pura tidak mendengar sekan-akan menulikan saraf-saraf pendengarannya. Bersikap acuh tak acuh. Ia tak pedulu dengan semua sikap yang ditunjukkan pemuda itu. Lagipula, keputusannya tak dapat diubah. "Kenapa kamu tidak jujur denganku? Kenapa, Riana?" Dion masih dikuasai oleh emosi. Ia kian menatap tajam ke dalam mata Riana. Mencari celah kebohongan yang coba ditutup rapat oleh wanita itu. Dion bahkan menarik Riana mendekat ke arahnya secara spontan. "Haruskah?" Riana berkata pelan. Namun, dengan penuh penekanan di dalamnya. Dia membalas pandangan pemuda itu tak kalah tajam. Tangan kiri Dion mengepal kuat guna menyalurkan emosi dan kemarahan. Sementara, tangan kanannya semakin erat mencengkram tangan wanita yang sebulan belakangan senantiasa menghantui pikirannya itu. "Kamu hamil 'kan?" tanya Dion to the point guna meminta kepastian. "Jawab Riana!" Nada bicara Dion kian meninggi. Kesabarannya hampir habis. Dion tahu kesalahan yang diperbuat dirinya pada Riana memang tidak main-main dan fatal. Akan tetapi, haruskah wanita itu sangat sengaja menyembunyikan kehamilan? Setidaknya, Ia juga berhak tahu. Dion berjanji akan bertanggung jawab. Tak akan lari begitu saja dari masalah yang dilakukannya. Ia bukan seorang laki-laki pengecut. Tapi, Riana tidak sekalipun mau terbuka kepadanya. "Tidak!" seru Riana berbohong. Tetap kukuh pada pendiriannya. Mendadak cengkraman Dion melemah. Tentu kesempatan ini digunakan Riana untuk melepaskan tangannya. Dan tanpa diduga, Dion malah mendorong Riana ke dinding. Untungnya tubuh wanita itu tidak sampai membentur tembok yang ada di belakangnya. Baru saja Riana hendak berontak, Dion dengan segera mengunci gerakannya dengan kedua tangan hingga membuat Riana tidak bisa berkutik. "Sampai kapan kamu akan tetap berbohong!" seru Dion tepat di depan wajah Riana. Dia benar-benar marah. "Itu bukan urusanmu!" hardik wanita itu dengan nada kasar. "Kamu hamil, 'kan? Tolong jujur padaku!" Dion berupaya mendesak Riana agar mengaku. Ia harus tahu tentang kebenaran ini bagaimanapun caranya. "Iya, aku memang hamil. Lalu, apa urusannya denganmu?" tanya Riana sarkasme sambil melayangkan tatapan tajamnya seolah-olah ingin menantang. Wanita itu tidak merasa takut. "Aku berhak tahu. Dia juga anakku!" Dion semakin terbawa emosi akibat ucapan Riana yang berhasil memprovokasinya. "Anakmu? Dia bukan anakmu!" seru Riana dengan kebohongannya yang kian menjadi saja. "Apa kamu tak ingat jika kita pernah melakukannya, Riana?" "Ck, sebegitu yakinkah dirimu kalau aku hanya melakukan hal tersebut denganmu?" Mulut Riana seakan masih terus lepas kendali untuk tidak melontarkan kata-kata pedas. "Baik. Mari kita lakukan tes DNA nanti untuk membuktikan dia anakku atau bukan!" Dion tanpa ragu juga menantang Riana. Ia sudah tak tahan dibohongi lagi. Mendesak wanita itu untuk jujur pun rasanya percuma. "Tidak perlu!" tolak Riana mentah-mentah. Ia tak akan menanggapi permintaan Dion. "Kenapa? Setidaknya kita akan mengetahui siapa ayah biologisnya. Kalau dia bukan anakku, seharusnya kamu tidak perlu takut untuk melakukan tesnya, Riana." Entah sejak kapan, Dion kian lancang memanggil wanita di hadapannya dengan nama saja tanpa embel-embel panggilan apa pun, menunjukkan kesopanan atau rasa hormat sebagai staff. Sedangkan, Riana kembali diam dan bingung harus menjawab apa, atas pertanyaan yang diajukan oleh Dion. Tubuh wanita itu juga mulai menegang. "Kamu tidak akan pandai berbohong, Kak." Tatapan mata Dion tak setajam tadi, mulai sedikit bisa melembut. Baginya, Riana merupakan wanita yang polos. Meski tampak dingin dari luar. Dion agak menyesali sikap kasarnya tadi kepada wanita itu. "Aku akan bertanggung jawab, Riana. Menikahlah denganku." "Menikah? Aku tidak memerlukan pertanggungjawabanmu!" Riana tampak kesal. Ia tidak mungkin bisa menikah dengan orang yang telah membuatnya menderita seperti ini. Tidak akan! "Aku sadar kesalahan yang aku perbuat sulit untuk dimaafkan. Tapi, tolong izinkan aku bertanggung jawab," mohon Dion dengan serius. Terlihat jelas dalam sorot matanya. Namun, hati Riana masih beku. Baik semua ucapan atau permohonan dari Dion, tak ada satu pun yang berhasil menggoyahkan pendiriannya. "Kamu pikir menikah itu gampang?" ujar Riana sinis kemudian. Terlebih, ia tipe orang yang susah berkomitmen dengan mudah. Apalagi, bersama orang yang tega menghancurkan masa depannya. Ditambah lagi Dion berusia dua tahun lebih muda, mustahil bagi Riana hidup bersama dengan laki-laki seperti itu. "Kamu tidak usah repot-repot bertanggung jawab. Cukup jalani saja kehidupan kita masing-masing, tanpa sok ikut campur," lanjut Riana dengan nada dingin. Tatapan menusuk dan tajam juga melengkapi aksi penolakan wanita itu terhadap Dion. Riana pun segera ingin menyudahi pembicaraan di antara mereka dengan cara berjalan menjauhi Dion. Kedua tangan laki-laki itu sudah berpindah posisi, tak lagi mengunci tubuhnya. Jadi, Riana bebas untuk bergerak. "Apa maksudmu?" tanya Dion mengonfirmasi. Dia berhasil meraih tangan Riana kembali. "Apa kamu berniat untuk menggugurkan janin ini?" Kali ini sebuah pertanyaan menohok cukup lancang keluar dari mulut Dion. "Aku tidak mau melakukan kesalahan fatal untuk kedua kalinya. Lagipula, anak ini tidak bersalah. Mana mungkin aku dapat menggugurkan anakku sendiri!" Walau kehamilan ini tidak pernah dirinya bayangkan akan terjadi sebelum menikah, Riana tidak akan tega membunuh nyawa yang tak bersalah begitu saja. Tuhan akan semakin marah padanya. "Maaf bila perkataanku keterlaluan, Riana." Dion meminta maaf dengan tulus ketika menyadari pertanyaan menyakiti perasaan wanita itu. "Lepaskan tanganku!" Dengan sekali hentakan Riana berhasil melepaskan tangannya dari cengkraman laki-laki itu. "Aku yang akan merawat anak ini sendiri. Jadi kamu bisa melanjutkan pernikahan impianmu itu dengan perempuan lain," ucap Riana sinis kembali. Lalu dia meninggalkan Dion yang masih mematung di tempat. "Aku akan tetap bertanggung jawab. Biarpun kamu terus menolakku, Riana," balas Dion sembari berjanji pada dirinya sendiri. Ia tak akan menyerah membujuk wanita itu agar mau menikah dengannya. .................... Sekarang, jam telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Mata Riana pun sebenarnya sudah berat untuk tetap terbuka. Namun, rasa mual tak henti-hentinya menyerang, membuat wanita itu harus berlama-lama di dalam kamar mandi. "Ayolah, Sayang. Jangan menyiksa Ibu seperti ini. Ibu lelah, Sayang," Riana berbicara sambil mengelus perutnya yang masih terlihat rata dengan lembut sembari menyenderkan punggung di dinding kamar mandi yang terasa dingin. "Hoek..hoek.." Tak berselang lama Riana muntah kembali. Energinya kian terasa tak tersisa. Tetapi, Riana berjanji pada dirinya untuk tetap kuat dan menjalani fase awal kehamilan ini dengan ikhlas. Setelah merasa baikan, wanita itu berjalan menuju dapur untuk meminum segelas air putih. Belum ada asupan makanan mengisi perutnya. Bukan berniat menyiksa diri atau janin yang dikandungnya. Namun, nafsu makan Riana lenyap entah kemana. Membayangkan betapa lezatnya makanan favorit pun tak terlintas di pikiran Riana. Tak dapat dimungkiri pula kepalanya semakin terasa sakit dan berdenyut. Bahkan, dia merasakan benda di sekelilingnya berputar. "Maaf ya, Sayang. Malam ini Ibu masih belum bisa memberikanmu asupan makanan. Tapi, Ibu janji mulai besok Ibu akan makan banyak demimu, Sayang," ucap Riana penuh kasih dan memamerkan senyuman hangatnya. Kedua tangan wanita tempatkan di atas perut. Ting Tong! Ting Tong! Riana melangkah dengan pelan menuju pintu depan rumah. Ia pun berusaha keras menyeimbangkan tubuhnya disaat rasa pusing kian terasa menjadi. Dan, sesampainya di depan pintu. Riana langsung meraih knop benda tersebut lalu menariknya dengan perlahan. Tampaklah sosok yang dia benci berdiri di ambang pintu. Tanpa menunggu lama, Riana langsung jendak menutup pintu. Akan tetapi, Dion berhasil mencegahnya. Tentu, wanita itu tak suka. "Mau apa lagi?" emosi Riana muncul kembali. "Aku hanya ingin mengetahui kondisimu. Kenapa kamu tak mengangkat teleponku?" tanya Dion diselimuti rasa khawatir. Bayangkan saja, ia menghubungi Riana sampai 30 kali. Namun, tidak sekalipun wanita itu mengangkat teleponnya. Dion bahkan tidak bisa tidur dan selalu memikirkan keadaan Riana. Hingga akhirnya pemuda itu memutuskan untuk mendatangi rumah atasannya malam-malam. "Haruskah aku mengangkat telepon dari laki-laki berengsek sepertimu?" Dion mengembuskan napas berat. Ucapan wanita itu memang selalu sukses menimbulkan nyeri di dalam d**a. Sampai kapan Riana akan bersikap sinis dan dingin kepadanya? "Cepat pergi!" Baru saja Riana menyelesaikan ucapan sarkasmenya. Mendadak kepala wanita itu berdenyut hebat, sampai tak sadar kakinya melemas. Riana hampir jatuh ke lantai jika saja Dion tidak cepat-cepat menangkap tubuhnya. "Kamu tidak apa-apa? Wajahmu pucat sekali. Lebih baik kita ke dokter saja," saran Dion. Ia hanya mendapat respons berupa gelengan kepala Riana Keras kepala. Rengut Dion dalam hati. "Tidak usah," balas Riana ketus. Ia mencoba bangun dari dekapan Dion. Namun, tak berhasil. Tubuhnya kembali linglung. "Jangan dipaksa," kata Dion pelan mengingatkan. "Lebih baik kita ke dokter agar kamu mendapat perawatan, Riana." Dion mencoba membujuk wanita yang tengah berada dalam pangkuannya ini sekali lagi. "Tidak perlu. Aku hanya butuh istirahat," kata Riana dingin. Tanpa meminta persetujuan darinya, Dion mengangkat tubuh wanita itu menuju kamar. "Apa-apaan kamu!" gerutu Riana merasa marah dengan sikap yang ditunjukkan laki-laki itu secara sepihak. Tanpa persetujuannya lebih dulu. "Istirahatlah," ucap Dion ketika tubuh Riana berhasil mendarat di atas kasur. "Kamu pasti belum makan, 'kan? Tadi aku membelikanmu bubur. Tapi, tertinggal di sepeda motor. Sebentar, aku ambil dulu," cerocos Dion tanpa henti. Setelah itu, ia berjalan keluar kamar menuju halaman depan, tempat dimana sepeda motornya terparkir. Sementara, Riana terus berupaya memejamkan matanya. Namun, tak berselang lama, rasa mual kembali menyerang. Riana segera berlari ke kamar mandi. Lagi-lagi dia harus mengeluarkan isi perutnya untuk kesekian kalinya malam ini. "Hoek..hoek.." Riana berdiri di depan wastafel sambil memegangi dahinya. Satu menit kemudian, dapat Riana rasakan seseorang kini memijat tengkuknya dengan lembut. Sontak, tubuhnya menegang. "Maafkan aku. Maaf. Gara-gara perbuatanku yang berengsek kamu harus menderita seperti ini." Ada penyesalan pada setiap kata yang diucapkannya. Ia tak tahan melihat keadaan Riana yang tampak lemas dan tidak berdaya. Wanita itu bungkam. Kata-kata pedas yang ingin ia lontarkan pada Dion, seakan tercekat di tenggorokan. Tapi, tak berlangsung lama, Riana lantas berseru, "Jangan menyentuhku!" Riana merasa sensitif setiap kali tangan pemuda itu menyentuh tubuhnya. Sedangkan, Dion tidak memberi tanggapan berupa kata dan langsung menyingkirkan tangan kanannya dari tengkuk wanita itu. Dion lantas mengambil inisiatif. Tanpa meminta persetujuan dari Riana, pemuda itu mengangkat tubuh mungil wanita itu. Menggendongnya menuju tempat tempat tidur. Tentu ada pemberontakan dilakukan Riana. Tetapi, Dion tak peduli. .......................... Plak! Satu tamparan cukup keras mengenai pipi Dion manakala baru saja berhasil mendudukkan Riana di atas tempat tidur. "Sudah aku bilang, jangan menyentuhku! Tapi, kamu tidak mengindahkannya!" Riana benar-benar marah. Emosinya meledak-meledak, tidak stabil. Mungkin ini juga termasuk dari efek awal kehamilannya. "Maaf, aku lancang menyentuhmu, aku hanya tak tega melihat kondisimu seperti tadi," ujar Dion jujur. Wajah Riana yang memucat menjadi objek penglihatannya sekarang. Wanita itu berdecak kesal. "Tak tega? Ck, kamu baru bisa menyadarinya sekarang, hah!" Riana bertanya dengan sinis. "Aku ini memang laki-laki berengsek. Aku tidak pantas dimaafkan," Dion terus merasa bersalah. "Aku bahkan tak yakin jika kamu mau memaafkanku. Tapi, sama halnya denganmu. Aku tidak ingin melakukan kesalahan fatal untuk kedua kalinya," kata Dion serius. Ia akan bertanggung jawab. "Aku ingin bertanggung jawab atas apa yang aku perbuat. Aku tidak bisa membiarkan kamu sendirian dalam membesarkan anak itu kelak," ujar Dion. Matanya memandang Riana dengan serius. "Menikahlah denganku." Dion meminta Riana untuk bersedia menikah dengannya. Dia tidak akan menyerah. "Menikah dengan laki-laki berengsek sepertimu begitu? Walaupun, aku hamil akibat perbuatanmu malam itu, bukan berarti aku juga ingin meminta pertanggungjawaban darimu. Camkan kata-kataku ini!" ucapan Riana mampu menusuk hati Dion. ..................................................
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD