Terakhir, ketika Dion menemui kedua orangtua Riana dan memberi tahu perihal tentang rencana pernikahan antara mereka. Dua hari kemudian, dia datang kembali ke rumah Riana bersama ayah dan ibunya.
Pembicaraan serius terjadi di antara kedua keluarga ini. Dicapailah kesepakatan mencari hari baik untuk melangsungkan pernikahan. Walau terkesannya buru-buru, upacara dari pernikahan mereka berlangsung dengan sakral dipimpin oleh seorang pendeta.
Dalam waktu kurang dari sebulan. Riana dan Dion telah resmi dan sah menjadi sepasang suami-istri, baik secara agama maupun hukum. Semua berlangsung begitu cepat. Namun, syukurnya tidak ada hambatan yang menghalangi.
Dan Riana tetap meminta satu hal pada keluarga Dion. Wanita itu masih tak ingin kedua orangtuanya tahu mengenai peristiwa yang terjadi sesungguhnya. Meski harus berbohong, Riana menganggap ini adalah jalan terbaik. Dengan berat hati keluarga Dion pun menyetujui permintaan Riana.
..................
Cantik. Puji Dion di dalam hati saat memerhatikan istrinya yang sedang berias.
Ya, hari ini merupakan acara resepsi pernikahan Riana dan Dion, digelar secara khusus. Hanya diperuntukan untuk teman dekat mereka berdua saja, diadakan di sebuah vila yang sengaja disewa selama dua hari. Tak terlalu dibuat mewah memang. Tapi, konsepnya cukup elegan.
"Mbak Sani, make up-nya jangan dibuat terlalu tebal ya," pinta Riana kepada wanita penata rias.
Apa dia akan datang hari ini? Riana harap-harap cemas di dalam hati. Ia masih terus memikirkan seseorang.
"Ada apa, Riana?" tanya Dion sembari mengambil posisi berdiri di samping meja rias, tepat di sebelah istrinya itu.
Dion bisa menangkap kejanggalan hanya dengan memerhatikan ekspresi serta sorot mata Riana yang menurut pemuda itu meredup. Bahkan, seperti mengawang jauh. Dan hal tersebut membuat Dion cemas. Mungkin saja istrinya tengah sakit atau dirundung beban tertentu. Jadi, ia ingin tahu.
"Tidak," jawab Riana singkat dengan mood-nya yang tengah kacau.
"Selesai," ujar Mbak Sani seraya sedikit memberi sentuhan terakhir pada riasan make up natural di wajah kliennya.
"Terima kasih, Mbak." Ucapan sopan tersebut Dion tujukan pada penata rias disertai senyuman ramahnya. Akan tetapi, tatapan Dion senantiasa terarah ke Riana. Ia pun mengagumi dandanan istrinya. Wanita itu kian terlihat cantik. Dion terpesona.
.....................
Riana segera meraih handphone-nya saat nada pemberitahuan ada pesan masuk berbunyi. Jantung wanita itu menjadi berdebar tidak karuan ketika membaca pesan yang dikirim oleh seseorang tersebut.
From : Best
Riana, apa kabar?
Surat undangan pernikahanmu sampai 4 hari yang lalu, aku baru membacanya kemarin pagi.
Tenang, aku akan tetap datang.
Dandanlah yang cantik.
Riana tak mampu membendung air matanya untuk keluar, perlahan-lahan turun membanjiri pipi. Bahkan, berdampak akan make up yang rusak. Sementara d**a wanita itu mendadak sesak membaca pesan dari pria yang begitu berarti dan juga sampai kini masih dicintainya.
"Riana, kenapa menangis?" tanya Dion dengan raut wajah yang kian tak mengerti akan perubahan sikap sang istri sejak tadi.
Dion tak menampik jika diriya kaget tiba-tiba saja Riana menangis. Make up yang menghiasi wajah istrinya tampak semakin luntur oleh air mata yang terus mengalir. Sedangkan dua jam lagi acara resepsi pernikahan mereka akan dimulai.
"Aku baik-baik saja." Riana menjawab acuh tak acuh. Kemudian, Wanita itu ingin beranjak bangun dari kursi di depan meja rias, namun ia tidak sadar jika tengah menggunakan high heels. Akibatnya pun hampir terjatuh.
"Riana!" seru Dion menangkap tubuh sang istri secara gesit.
Riana lalu terlihat meringis kesakitan selepas didudukkan kembali di kursi oleh suaminya, mungkin tak sengaja kaki kanan wanita itu keseleo karena peristiwa barusan. Riana benar-benar kehilangan konsentrasknya.
"Bagian mana yang sakit?"
"Kaki kananku," jawab Riana masih mengeluarkan ringisan. Tangis dari wanita itu belum berhenti, malah kian deras.
Sebenarnya, bukan sakit pada kaki yang Riana rasakan. Namun, sesak di dalam dadalah yang membuat tangis wanita itu tak terbendung. Ada rasa bersalah bercampur rindu yang Riana peruntukan untuk orang itu, mantan kekasihnya.
"Biar aku lihat dulu. Apa rasanya sakit sekali?" tanya Dion sambil melepas high heels Riana. Tetapi, wanita itu tak menjawab pertanyaannya. Dion berupaya untuk tetap sabar.
"Kamu kenapa bisa menangis, Riana? Ada masalah? Dan apakah kamu bisa melanjutkan acara kita?" tanya Dion bertubi-tubi kali ini.
Riana menoleh ke arahnya dengan air mata yang masih menggenang. "Iya, tentu. Kita harus melanjutkan acara ini," jawab Riana dengan nada tegas disela tangisnya.
"Kamu yakin akan bisa? Kalau tidak jangan dipaksa." Dion menatap wajah sang istri penuh kecemasan.
"Iya. Aku baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir berlebihan," balas Riana dengan nada dinginnya. Sifat yang ditunjukkan wanita itu berubah secara cepat. "Rasa sakitnya sudah berkurang," ujar Riana dan menarik kaki kanannya dari pangkuan sang suami.
Riana pun mencoba untuk berdiri, walau rasa sakit di kakinya masih terasa, tetapi Riana bisa menahannya. Lebih tepat, sedang berupaya. Wanita itu tidak ingin terlihat lemah. Riana juga semakin tak suka akan perhatian yang ditunjukkan suaminya.
"Hati-hati," ingat Dion sembari masih memegang lengan sang istri.
"Bisakah kamu panggilkan Mbak Sani untuk meriasku kembali, Dion?" pinta Riana dalam nada yang sudah dapat sedikit lembut.
Dan setelah memperoleh balasan berupa anggukan kepala, Riana lalu mencoba melangkahkan kaki secara perlahan. Ia hendak ke kamar mandi. Namun, karena tangannya dipegang oleh sang suami. Riana pun sejenak menunda keinginannya.
.
"Kamu kenapa sebenarnya, Riana? Ada apa denganmu? Tolong beri tahu aku!" Dion sudah tak tahan lagi dan menatap istrinya cukup tajam.
"Itu bukan urusanmu!" sahut Riana sinis. Matanya juga menatap Dion dengan tak kalah tajam.
Memori wanita itu kembali mengingat tentang bagaimana laki-laki itu telah menghancurkan masa depannya. Riana menghempaskan pegangan tangan Dion dengan kasar. Rasa sakit di kakinya seakan hilang oleh emosi yang mendominasi.
"Arghh!!" Dion mengerang frustrasi ketika Riana telah masuk ke dalam kamar mandi.
Sampai kapan kamu akan bersikap seperti ini padaku, Riana? Ini sungguh menyiksaku! batin Dion. Tangannya terkepal.
Seingat Dion terakhir Riana bersikap lunak padanya ketika wanita itu memijat kepalanya yang tengah sakit. Dan saat itu pula, Dion setidaknya menaruh harapan lebih pada sosok wanita yang sudah resmi menjadi istrinya, Riana.