Acara resepsi telah dimulai sejak sekitar 30 menit lalu. Para undangan juga telah banyak yang hadir. Dion menyapa satu per satu tamu mereka sendirian karena Riana yang harus ulang berdandan. Polesan make up sebelumnya luntur. Terlebih, Riana juga mesti menutupi matanya yang sembab selepas menangis tadi.
Dan akibat rasa cemas yang tidak bisa Dion redam, pria itu pun memilih untuk pergi ke kamar yang terletak di lantai dua vila guna memastikan jika kondisi istrinya tak memburuk. Saat masuk, Dion disambut oleh suasana yang hening.
"Sudah selesai?" tanya Dion kepada Mbak Sani yang kemudian dibalas dengan anggukan kepala dan senyum.
"Kamu terlihat cantik, Riana. Tapi, sebenarnya saya lebih menyukai gaya riasan yang tadi," kata Mbak Sani memuji. Tugasnya mendandani klien sudah selesai.
Riana hanya tersenyum tipis. "Aku lebih menyukai yang ini, Mbak. Kelihatan Sederhana," balas wanita itu berusaha lagi mengembangkan senyumnya.
"Baiklah. Semoga acara kalian hari ini berjalan dengan lancar."
"Terima kasih, Mbak," balas Dion sopan.
"Saya tinggal dulu," ujar Mbak Sani seraya berjalan menuju pintu kamar dengan langkah yang cukup cepat.
Untuk beberapa sesaat perhatian Dion pun tertuju ke arah Mbak Sani hingga wanita itu benar-benar keluar. Setelah lima menit berlalu, Dion lalu memusatkan fokus penglihatan pada Riana dan memandangi istrinya yang sedang memakai flat shoes.
"Kakimu masih sakit?"
Riana menggeleng. Wanita itu lantas berdiri selepas selesai dengan kegiatan memakai sepatu. Rasa sakit di kaki kanan memang belum hilang sepenuhnya, Riana bahkan sedikit mengeluarkan ringisan. Tentu hal tersebut sangat disadari oleh Dion.
"Kakimu masih sakit, 'kan? Jangan dipaksa, Riana." Dia berusaha untuk sabar.
"Tidak terlalu," jawab Riana dengan nada datar. Pikirannya kini hanya dipenuhi oleh seseorang. Riana berharap orang itu akan menepati janji untuk datang ke acara resepsi pernikahannya.
Dan baru saja Riana berjalan ke depan beberapa langkah, rasa nyeri pun langsung menghinggapinya. Tubuh wanita itu langsung menjadi oleng dan keseimbangannya tidak terjaga. Untung Dion dapat segera menangkap tubuh Riana. Peristiwa 'hampir jatuh' tersebut tak harus kembali.
"Sudah aku katakan untuk tidak memaksakan kakimu berjalan, Riana. Lihat, sekarang kamu hampir jatuh lagi." Dion meninggikan suaranya saat mengucapkan kata-kata tersebut tanpa sadar.
"Lepaskan tanganmu!" seru Riana mencoba menepis tangan suaminya. Emosi wanita itu benar-benar sedang tak stabil.
"Tidak! Nanti kamu bisa jatuh lagi, Riana," tolak Dion tegas. Ia tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk dengan istri dan calon anak mereka.
"Aku bisa menjaga diriku sendiri. Jadi, hentikan sikap cemas berlebihanmu itu, Dion!" peringat Riana disertai tatapan tajamnya.
"Ya, aku tahu kamu bisa menjaga dirimu sendiri, Riana. Tapi, saat ini kakimu masih sakit. Tolong pikirkan juga kandunganmu jika kamu sampai terjatuh!" Nada bicara Dion semakin meninggi.
Riana seketika diam dan mencoba meresapi semua perkataan pemuda yang kini menjadi suaminya itu. Kata-kata Dion memang benar. "Maafkan Ibu karena hampir membuatmu bahaya, Nak," gumam Riana pelan. Ia merasa sangat bersalah.
Astaga, aku membentaknya. Dion sadar akan tindakan membentak Riana karena terlalu khawatir.
"Maaf, Riana."
"Tidak, Dion. Perkataanmu benar. Aku hampir membahayakan anak ini cuma dikarenakan kecerobohan dan keegoisanku," akui Riana. Ia menatap suaminya dengan pandangan yang bersalah.
"Sudahlah. Aku tahu kamu sedang dalam keadaan mood yang buruk ditambah dengan rasa sakit di kakimu. Maaf jika aku membuatmu tidak nyaman." Hati Dion luluh oleh tatapan Riana. Ia membelai rambut wanita itu lembut dan penuh kasih.
"Lebih baik kita segera turun ke bawah. Para staff dan tamu menunggu di sana. Aku akan membantumu berjalan," lanjutnya. Dion kemudian tersenyum serta mengeratkan pegangan tangannya di bahu Riana.
....................
Riana hanya mampu menyambut para sahabat dan teman-temannya dari tempat duduk. Tak bisa berdiri lama-lama. Cukup menyedihkan memang. Akan tetapi, ini lebih baik daripada harus menanggung risiko. Apalagi berkaitan dengan kesehatan dan keselamatan kandungannya.
Kini tiba sesi bincang-bincang dengan para tamu yang hadir. Banyak pertanyaan mengalir untuk mereka berdua dari para tamu. Tentu, Riana dan Dion hampir menjawab seluruh pertanyaan dengan kebohongan, seolah-olah mereka tengah menjadi 'pasangan berbahagia'
"Apa lo sungguh mencintai istri lo, Dion?" Pertanyaan tersebut rupanya diluncurkan oleh salah satu sahabat Dion yang bernama Dwika.
"Yes, of course. I love her so much, My wife, " jawab Dion tanpa ragu-ragu. Tak tampak ada kebohongan dalam sorot matanya.
"Oh ya, Riana. Aku ingin mengetahui alasanmu memilih Dion sebagai pendamping hidupmu?" tanya teman dekat Riana kali ini.
"Perhaps, cause of fate," jawab wanita secara asal, sebab karena takdirlah kini yang mengharuskannya terikat dengan Dion, entah sampai kapan. Jika sesuai kesepakatan. Mungkin saja anak mereka lahir dan berumur 2 tahun.
"Oke, Dion. I want ask you to do something to show your love for her." Tantang salah sahabat Dion bernama Arwin dan juga Bayu.
"Ok, I'll show you!" Dion menerima tantangan dari sababatnya itu.
Dion meraih tangan kanan Riana, menggenggamnya erat. Dan.....
Cup...
Dion mencium punggung tangan sang istri. Wanita itu bersikap biasa saja mengingat apa yang dilakukan oleh Dion hanya akting belaka.
"Thanks for always beside me. I love you my wife," ucap Dion penuh penghayatan. Jantungnya berdebar. Dia menatap Riana sangat intens.
"But, its not enough for us." Teriak para tamu secara serempak.
"What should I do, then?" tanya Dion spontan.
"KISS HER!!" seru para tamu bersemangat. Riana yang mendengar hal tersebut membelalakan kedua matanya.
Jangan lakukan itu, Dion! peringat Riana melalui sorot matanya yang tajam.
Maafkan aku, Riana. Izinkan aku bersikap egois untuk hari ini saja.
Dion kemudian menarik tengkuk Riana, mempersempit jarak di antara mereka berdua. Riana dapat merasakan deru nafas Dion dengan jelas. Ia menatap Riana dalam. Dion memiringkan wajahnya. Tak butuh waktu lama, bibir mereka menyatu. Riana terlihat membelalakan mata tak percaya akan ciuman yang dirinya terima. Sedangkan Dion memejamkan kedua matanya menikmati sensasi aneh yang menjalar dengan liar ke seluruh tubuhnya. Jantung pria itu berpacu tak menentu.
Deg....
Pandangan Riana tak sengaja bertemu dengan mata seseorang yang bergabung dengan deretan para tamu yang hadir. Mereka saling beradu pandang. Dan kemudian, Riana hanya bisa menutup kelopak mata ketika seseorang itu tersenyum ke arahnya.
Kamu datang? hati Riana terasa perih detik itu juga.