Kini di hadapan Riana, duduk seorang pria yang berusia sama dengannya. Riana dan pria itu saling menatap dalam satu sama lain. Seperti tengah tersimpan kerinduan teramat besar di antara mereka.
Dion yang melihat aksi tatap-menatap antara Riana dan pria itu merasakan dadanya sesak. Untung saja sebagian besar tamu undangan telah pulang. Jadi, Dion bisa duduk dengan santai menemani istrinya. Walau, hati Dion merasa tak tenang.
"Selamat atas pernikahan kalian."
"Terima kasih, Dipta," ucap Riana membalas sang sahabat. Tampak ada senyum tulus di wajahnya.
"Ini untukmu Riana," kata pria itu sambil memberikan bucket bunga pada Riana dengan tatapan yang masih sangat intens terjadi di antara mereka berdua.
"Terima kasih, Pradana," ucap Riana mengulum senyumnya yang lebih lebar.
"Your favorite flowers," tambah pria bernama Pradana itu. Ia merupakan seseorang yang begitu berarti untuk Riana. Tentu wanita itu merasa cukup bahagia menerima hadiah pemberian dari Pradana, mantan kekasihnya.
"Thanks for remember it," balas Riana terlihat senang.
"Yeah, just for you," sahut Pradana tersenyum ke arah Riana. Tanpa, ia sadari jika dirinya sudah membuat jantung wanita itu berdetak cepat.
Sementara, Dion menyaksikan adegan yang tersaji di depannya dengan saksama. Dan baru kali ini, ia melihat istrinya tampak bahagia. Tampak jelas di wajah wanita itu.
Apa kamu sebegitu bahagianya 'kah karena bertemu dengan laki-laki ini, Riana? gumam Dion sedikit kecewa dan marah. Namun, dia tak memiliki hak untuk itu.
Dipta menyadari jika Dion tengah diselimuti oleh kecemburuan. Tetapi, di sisi lain, ia juga sangat mengerti serta tahu bagaimana hubungan dan perasaan dua sahabatnya itu.
"Eh Dion, anterin gue keliling vila ini dong," pinta Dipta sok mengakrabkan diri. Padahal dirinya baru pertama kali bertemu dengan Dion hari ini.
"Eh gue?" kaget Dion karena dari tadi fokus memperhatikan ekspresi Riana dan Pradana.
"Ya lah. Lo 'kan tuan rumahnya di sini," jawab Dipta berupaya bersikap santai.
Dipta ingin mengajak Dion pergi merupakan taktiknya untuk membiarkan Riana dan Pradana berdua beberapa saat. Sekaligus juga ingin berbicara empat mata dengan Dion. Ada hal penting yang mesti ia katakan dan tentu ketahui.
"Tapi..." Terbesit keraguan Dion untuk meninggalkan Riana dengan pria itu di sini. Benar, hanya mereka berdua.
"Ayolah. Gue pengin jalan-jalan di vila ini sekalian biar kita tambah akrab begitu, Bro," ajak Dipta. Pria itu pun sudah mengambil ancang-ancang untuk pergi.
"Oke. Ikut gue." Dion beranjak bangun dari kursinya. Kemudian, menepuk bahu Riana pelan.
"Aku tinggal dulu," ucapnya kemudian seraya tersenyum lembut.
Wanita itu cepat membalas dengan senyuman juga. Ya, sebuah senyum kebahagiaan. Namun, bukan Dion yang berhasil membuat Riana seperti itu, melainkan Pradana.
"How are you, Pradana?" tanya wanita itu setelah Dion dan Dipta mulai menjauh dari tempat mereka duduk.
"Kalau keadaan secara fisik, sehat. Kalau perasaan, aku lagi patah hati sekarang," jawab Pradana dengan senyum khasnya yang memesona.
"Hahaha, kamu terlalu sering patah hati," komentar Riana menanggapi jawaban Pradana dengan bercanda.
"I'm seriously. Perempuan itu memang sering membuatku patah hati. Tapi, hari ini merupakan puncaknya, aku tidak bisa memiliki perempuan itu untuk ada selalu di sisiku," kata Pradana sangat serius.
Sedetik kemudian, air mata Riana sudah mengenang.
Kenapa rasanya begitu sakit mendengar ucapanmu, Pradana? batinnya.
"Dont cry, Sayang. Nanti make up di wajahmu jadi jelek," ucap Pradana pelan. Ingin sekali memeluk Riana. Tetapi, itu tidak mungkin. Beberapa pasang mata pasti akan curiga jika tetap melakukan niatannya itu.
"Aku tidak menangis," bohong Riana.
"Iya tentu saja kamu nggak boleh menangis di depanku. Kamu harus tersenyum seperti ini." Pradana memperagakan cara tersenyum pada wanita itu. Namun, air mata Riama semakin dibuat mengenang.
"Jangan menangis," ucap Pradana kembali secara lembut. Ia benar-benar ingin memeluk perempuan yang sangat dicintainya. Akan tetapi, keadaan sekali lagi tak mendukung.
"Bagaimana aku tidak menangis jika kamu terus mengucapkan kata-kata yang menusuk."
"Maaf." Pradana mencoba meraih tangan Riana.
"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Bisakah kamu mengantarku ke dalam? Kakiku sedang cedera. Tadi tidak sengaja keseleo," kata wanita itu.
"Dengan senang hati aku akan siap mengantar kamu, Tuan Putri," jawab Pradana. Lantas, membantu Riana untuk bangun. Salah satu tangannya digunakan merangkul bahu wanita itu. Sementara, tangan kanan Pradana menggenggam tangan Riana dengan erat.
Ini terakhir kalinya aku bisa menggenggam tanganmu dengan bebas, Riana. ucap Pradana dalam hati.
.........................