Dion mengantar Dipta jalan-jalan di sekitar area vila. Namun, ia sama sekali tidak dapat fokus. Pikirannya dipenuhi oleh sosok sang istri dan pria itu. Dion semakin diselimuti rasa cemburu dan tak rela bersamaan.
Apa yang sedang mereka berdua lakukan? Pertanyaan tersebut terus menerus terngiang di benak Dion.
"Lo mau rokok?" tawar Dipta sambil menyulut sebuah rokok
"Gue nggak merokok."
"Baguslah. Setahu gue, Riana paling anti dengan pria perokok. Kalau gue ngerokok di depan dia pasti gue bakal dimarahin habis sama dia," komentar Dipta dilengkapi tawa kecil.
"Iya, dia juga pernah bilang dia tidak suka sama pria perokok," imbuh Dion. Ucapan Riana berputar kembali di kepalanya beberapa waktu yang lalu saat mereka terlibat dalam sebuah pembicaraan.
"Hahaha, sahabat paling dingin tapi ya peduli itulah Riana," ujar Dipta memberi penilaian tentang sahabat perempuannya itu.
Sementara, Dion seakan-akan tuli, tidak mendengar apa yang dikatakan Vio. Pikirannya masih melayang terus memikirkan sosok Riana tentu saja.
"Woi!!" seru Dipta dengan suara yang dibesarkan secara sengaja dan sukses mengagetkan Dion dari lamunannya.
"Kenapa lo? Melamun terus kalau gue lagi bicara," cecar pria itu.
"Gue enggak kenapa," jawab Dion mengelak. Tidak mungkin baginya membicarakan kecemburuan serta isi hatinya pada Dipta yang merupakan sahabat Riana.
"Ion, Lo lagi memikirkan Riana dan Pradana, benar 'kan?"
"Tidak," kilah Dion menepis tebakan pria itu. Tak ingin berkata jujur.
"Gue tahulah. Lo enggak usah bohong sama gue, Dion." Dipta setidaknya bisa melihat kebohongan seseorang.
"Gue pengin nanya sesuatu ke lo," ujar Dion serius kali ini.
"Apaan? Tanya aja."
"Riana dan Pradana. Mereka punya hubungan apa?" Dion mengajukan pertanyaan klise yang mudah ditebak. Walaupun bekerja di kantor wanita itu. Dion sangat jarang mendengar cerita mengenai kehidupan pribadi Riana. Apalagi, masalah asmara.
"Mereka pacaran selama lima tahun dan baru putus enam bulan yang lalu, karena masalah pekerjaan. Restu juga. Belum dapat lampu hijau dari Pak Wisnu, " beri tahu Dipta.
Pacaran? Dion mengulang kata itu di dalam hati.
"Jujur, gue sendiri kaget saat Riana bilang dia hamil. Gue kira ayah dari anaknya adalah Pradana. Tapi, saat itu Riana mengatakan dia bakal merawat anaknya sendiri. Gue pun menarik kesimpulan dia punya hubungan sama proa lain." Dipta tak ragu mengungkapkan kecurigaannya.
"Riana malah minta gue buat memberikan dia pekerjaan yang di Thailand. Padahal, dia punya usaha di sini."
"Dari situ gue mikir lagi kalau ayah biologis dari janin yang dikandung Riana adalah pria lain. Tapi, setahu gue Riana sangat mencintai Pradana, begitu juga sebaliknya. Jadi, gue ragu jika dia bisa semudah itu berpaling pada pria lain," lanjutnya.
Dipta kemudian menatap tajam ke arah Dion. Ya, Vio ingin meminta penjelasan dari laki-laki itu terkait kehamilan Riana. Terlebih Dion telah menjadi suami sahabatnya. Dipta merasa perlu tahu.
"Ya, kami berdua melakukannya. Lebih tepatnya gue maksa dia buat ngelakuin itu sama gue. Akibatnya Riana hamil. Dan gue ingin tanggung jawab. Makanya kami menikah secara cepat," akui Dion dengan sekelumit bumbu kebohongan.
BUAGHH!!
BUAGHH!!
Dua pukulan keras mengenai wajah Dion. Dipta sedang tidak mampu mengendalikan amarahnya setelah mendengar pengakuan dari suami sahabatnya itu. "Berengsek lo!" umpat Dipta seketika karena dikuasai oleh kemarahan.
BUAGHH!!
Satu hantaman mendarat di perut Dion sekarang. Dia tak melawan sama sekali. Tempat ini sepi, tidak ada seorang pun di sini selain mereka berdua dan itu memudahkan Dipta meluapkan amarah. Entah kenapa, ia tak bisa menerima perbuatan Dion.
"Berengsek lo! Tega menghancurkan hati sahabat gue!! Berengsek!!" umpat Dipta lagi. Pria itu tak kunjung dapat mengendalikan diri.