Dipta mencengkram kerah kemeja Dion. Menarik pria itu mendekat ke arahnya. Dion menerima semua tindakan kasar dari sahabat istrinya. Dipta pun hendak menghantamkan pukulan kembali. Tetapi, diurungkan niatannya tersebut. Dipta kemudian menghempaskan tubuh Dion di atas bangku yang mereka duduki tadi.
"Gue memang salah. Gue egois," kata Dion sambil mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah.
"Ya, lo pria terberengsek yang pernah gue kenal!" seru Dipta masih tersulut emosi.
"Tidak seharusnya lo melakukan ini pada Riana! Sebagai sahabatnya gue enggak terima dia diperlakukan seperti ini oleh pria berengsek kayak lo!" Pria itu kembali mengumpat marah.
Gue pun tidak ingin menyakiti Riana. pekik Dion dalam hati.
"Mungkin saat itu gue terbawa hawa nafsu," bohong Dion. Ya, setidaknya dia harus berpura-pura menjadi 'pria berengsek'.
"Ckck. Gampang banget mulut lo bilang kata-kata itu," komentar Dipta sinis.
"Gue sadar, gue salah. Sampai sekarang pun Riana masih benci dan belum bisa memaafkan gue," kata Dion seakan mencurahkan isi hatinya.
"Pria berengsek kayak lo memang tidak pantas dimaafkan!" seru Dipta sarkasme.
"Iya, gue memang tidak pantas menerima maaf dari Riana." Dion menyugesti dirinya sesuai dengan ucapan Dipta.
"Asal lo tahu, Dion. Saat mengetahui Riana hamil, Pradana begitu frustasi. Dia ngajak gue minum di bar. Padahal hal tersebut tidak pernah Pradana lakukan," beri tahu Dipta dengan suara meninggi.
"Enam bulan lagi, Pradana berniat mengajak Riana untuk masuk ke jenjang pernikahan. Dia telah menyiapkan rencananya itu dengan matang, walau mereka tengah putus sekarang," lanjutnya. Dion pun jadi tercengang seketika.
"Gue penghancur hubungan di antara mereka," gumam Dion pelan.
"Bagus jika lo sadar," sindir Dipta keras.
"Gue benar-benar tidak tahu jika hubungan mereka seserius itu." Ada sesal yang Dion rasakan.
"Seandainya gue tahu masalah ini dari awal. Gue bakal minta Pradana menikahi Riana. Dia pasti menerima kehamilan itu," kata Dipta tetap dengan nada sinisnya.
Perkataan Dipta kali ini pun sukses membuat Dion lalu mengepalkan tangannya. Kini giliran dirinya yang menarik kerah baju pria itu.
"Seberengsek apa pun gue, gue bakal berusaha bertanggung jawab atas apa yang gue perbuat. Ingat, janin di kandungan Riana itu anak gue! Gue yang akan jadi bapaknya! Bukan orang lain!" perjelas Dion dengan emosi dan juga tatapan mematikan.
Dion melepas cengkraman tangannya dari kerah baju Dipta dengan kasar. Ia mulai hendak melangkah pergi.
"Tunggu!"
Dion membalikkan badan sambil memandang sahabat istrinya itu tajam. Sementara, Dipta kemudian menghampiri Dion.
"Gue ingin berpesan pada lo yang sekarang sudah berstatus menjadi suami dari sahabat gue. Tolong lo jaga Riana dan kandungannya. Gue sebagai sahabat cuma ingin melihat dia bahagia," pesan Dipta sungguhan.
"Astungkara. Gue akan selalu coba untuk membahagiakan istri gue."
.................
"I'm fine, Pradana. Dont worry," jawab Riana lantas. Pradana tersenyum.
"Hahaha. I know you're strong woman." Pradana tak dapat menahan diri untuk membelai rambut Riana.
Untung saja keadaan di dalam vila sepi, hanya ada mereka berdua. Jadi, Pradana cukup aman melakukan tindakan yang bisa dikategorikan 'romantis' tersebut, karena dulu saat mereka berpacaran Pradana sering memperlakukan Riana seperti itu.
Namun, kini status di antara mereka sungguh berbeda, Pradana tak bisa berbuat apa untuk memiliki orang yang paling dicintainya kembali.
"Ayo kita duduk di sana," ajak Riana menunjuk ke tempat duduk dekat balkon.
"Siap, Tuan Putri," jawab Pradana mengiyakan. Mereka berjalan dengan hati-hati menuju tempat duduk yang jaraknya beberapa meter.
"Hati-hati" peringat Pradana ketika Riana hendak duduk di atas kursi tersebut.
"Kakimu masih sakit? Coba aku lihat ya," ucapnya kemudian sembari melepas flat shoes pada kaki kanan Riana.
"Tidak usah, Pradana," tolak wanita itu. Namun, Pradana tetap fokus pada kegiatan memeriksa cedera di kaki kanannya. Wanita itu jadi canggung dan tak enak.
"Kakimu bengkak, Riana."
"Bagaimana kalau kita ke dokter saja sekarang?" tawar Pradana karena merasa cemas.