Landai

1043 Words
" Bicarakan saja Fir, aku nggak pa pa kok ", Aida tersenyum menatap Firman. Sahabat yang dikenal begitu baik di masa lalu.Sudah tentu dia pun merasa canggung dengan situasi ini. " Maafkan aku kalau kata kataku mungkin menyakitimu. Aku menikahimu dengan tujuan untuk melindungi mu dari Bayu Da. Jadi hubungan kita kuharap berlangsung seperti biasa ya?" Firman hati hati sekali memilih kata. " Tidak usah kau ucapkan aku tahu kok Fir maksud dan tujuanmu. Dan aku sangat berterima kasih kepadamu, ibu, Yoga, mbak Dewi yang membantuku selama ini. Semoga saja setelah ini Bayu berhenti mengejarku ", tukas Aida lirih. Firman pelahan mengelus kepala Aida. Ditariknya kepala Aida dalam dekapannya. Dia tidak ingin sahabatnya itu suram kehidupannya. Aida meleleh airmatanya. Suara tangis disimpan dalam hati agar Firman tidak mengetahuinya. Betapa situasi ini adalah hal yang dia impikan sejak dahulu. Dalam dekap dan perlindungan Firman, sahabat yang dicintainya dari dulu. Tapi sayang perasaan ini bak gayung tak bersambut. " Jangan sedih lagi Da, InsyaAllah aku melindungimu selama kau jadi istriku. Kuharap setelah ini kehidupanmu jauh lebih baik ", Firman merasa dadanya basah. Dia tahu Aida menangis. Dia pikir Aida terharu atau ingat kisah sedihnya dahulu bersama Bayu. " Ganti baju dulu yuk, kita makan bareng bareng mumpung bapak ibumu belum balik ke Jogja " Firman melepas pelukannya kepada Aida. Dia segera melepas jas dan kemeja yang terasa panas di saat siang begini. dia ganti dengan kaos tanpa kerah bahan katun yang cukup nyaman. Sedangkan Aida memalingkan wajahnya ketika melihat Firman mengganti baju atasnya. Mereka pun makan siang bersama dengan suasana yang penuh keakraban. Maklum, dulu hubungan antara bapak ibu Aida dan Firman cukup dekat sebelum keluarga Aida pindah ke Jogja. Sementara itu Bayu menggeram marah di kamarnya setelah menerima foto pernikahan Aida dan Firman yang dikirim tak lama usai acara berakhir. Firman : Jangan kau ganggu lagi Aida. Dia sudah jadi istriku sekarang. Bayu hanya membaca dan tidak menjawabnya. Hatinya berdenyut sakit melihat foto itu. Usahanya sekian lama mengejar Aida akhirnya harus dia hentikan sekarang.Dia tidak rela Aida secepat itu berpaling dari dirinya. Padahal dia sudah berusaha memperbaiki dirinya. Apakah Aida tidak menyadari perubahannya? Harapannya untuk bersama lagi dan memulai hidup baru di Banyuwangi musnah sudah. Dia marah dan sakit hati kepada Aida dan Firman suaminya. Dia bertekad untuk membalas sakit hatinya suatu saat nanti. Setelah bapak ibu Aida balik Jogja sore harinya, malam hari ganti Firman yang bertolak ke Jakarta. Sudah 4 hari dia tinggalkan istri dan anak anaknya. Sebelumnya dia meminta tolong semuanya untuk menutup rapat pernikahan ini dari Shakira. Dan meminta Yoga dan keluarganya sering melihat Aida dan ibunya. Aida pun dipesan untuk sering sering mengabarinya. Untuk masalah kerja, Yoga memutuskan Aida untuk masuk seminggu lagi saja. Nanti ada mobil dari pabrik yang akan antar jemput Aida berangkat dan pulangnya. Firman bisa meninggalkan Surabaya dengan lega setelah itu. Dia merasa semua akan berjalan baik baik saja. Semoga setelah ini Aida lepas dari gangguan Bayu dan bisa menemukan jodohnya lagi. ****** Tak terasa kandungan Shakira sudah masuk usia 7 bulan. Dia terlihat semakin cantik dan berseri. Berdasar hasil USG bayi yang dikandungnya laki laki. Fathima dan Azka senang sekali dengan berita tersebut. " Ma, makannya yang banyak ya, biar adiknya cepat keluar ", kata Azka dengan polosnya. Semua yang mendengarnya tertawa terutama Firman. Dia cubit lembut pipi anak laki lakinya dengan gemas. " Adik yang di perut mama sudah ada jadwalnya Azka, keluarnya kapan. Dan itu masih 2 bulan lagi ", Firman menerangkan secara sederhana pada Azka. " Masih lama ya ma?" ganti Fathima menatap mamanya yang sedang menyantap potongan buah dengan asyiknya. " Sabar ya mbak mas cakep. Adik perlu persiapan dulu di perut mama supaya keluar nanti adik sehat dan tampan seperti mas Azka ", Shakira menirukan suara anak kecil. " Bukannya tampan kayak papanya juga?" Firman menjawab dengan nada tidak terima . Mereka sarapan dengan senang dan bahagia. Begitulah kalau di Jakarta Firman selalu fokus dengan anak istrinya. Kantornya d i Jakarta sekarang hanya perwakilan saja.Semua proses produksi dan pemasaran berpusat di Surabaya. Setelah anak anak berangkat ke sekolah, ganti Firman yang menyenangkan istrinya. Masih ada waktu 2 jam sebelum dia berangkat ke kantor sekalian mengantar Shakira ke tokonya. Dia usap lembut perut istrinya yang menonjol di balik daster putih motif bunga bunga warna merah kuning dan hijau. Shakira terlihat segar dan cerah sekali wajahnya. Bagaimana tidak, suaminya selalu membuat hatinya berbunga bunga dan berdebar seperti saat pertama dulu. " Dik, mau dikasih nama siapa adik Azka nanti ?" Firman bertanya lembut sambil memandang istrinya yang terbaring di sampingnya. " Mas saja yang kasih nama.Susah aku kalau cari nama bayi laki laki ", jawab Shakira. ," Ehm, baiklah. Pingin dipijit mas kakinya ?" Firman bangun dan duduk dekat kaki istrinya. " Nggak usah mas. Mandi saja lagi.Ini sudah jam setengah 9 lho ", ingat Aida. " Yuk..bareng ", Firman mengerling kepada istrinya. " Nggak ah mas, nanti mesti nambah lagi jadi nggak selesai selesai ", Shakira mencebikkan mulutnya membuat Firman jadi gemas dengan istrinya. Bertambah usia kehamilan istrinya membuat Firman semakin senang mendekati istrinya. Mereka menjalankan dahulu sholat Dhuha sebelum berangkat menunaikan kewajiban masing masing di luar rumah. Firman bersyukur mempunyai istri yang cantik dan Sholehah. Benar benar surga dunia Allah beri dalam rumah tangganya. Di Surabaya Aida mulai menjalani hari harinya dengan bersemangat. Bayu sudah tidak pernah muncul lagi di hadapannya. Dia sudah mulai bekerja di pabrik Firman membantu mbak Dewi mengurusi administrasi. Meski hubungan pernikahan mereka seperti itu, Firman tetap memberi nafkah kepada Aida . Meski Aida menolak tetapi Firman tetap memaksa. Dewi dan Yoga pun mengerti kalau pernikahan merekatidak seperti pernikahan orang orang lainnya. Mereka mengerti dan tahu bagaimana sikap Firman kepada Aida. Dan mereka berdua salut serta respek dengan Firman. Aida tetap tidur di kamar tamu sedangkan Firman juga tetap di kamarnya sendiri kalau pas pulang ke Surabaya. Semua kewajiban dan hak suami istri mereka berdua tunaikan kecuali nafkah batin. Aida tepatnya Firman tidak bisa melakukannya karena dia sudah menganggap Aida saudaranya dari dahulu . Bu Dyah tidak ikut mencampuri urusan mereka. Dia senang Aida tinggal di rumahnya jadi ada teman selain bi Sum. Aida pun pintar membawa diri sehingga Bu Dyah pun menyayanginya sebagaimana sayangnya kepada Shakira. Akankan situasi seperti ini bertahan lama? Disaat ada hati yang sedang terbakar dadanya dan menyimpan dendam membara ???
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD