Hari sudah hampir gelap saat aku kembali. Aku memeluk perlengkapan bayi yang sudah ku beli tadi sambil menunggu lift berhenti di lantai penthouse. Setelah sampai di tempat tujuan, dengan segera aku melangkahkan kakiku keluar lalu menekan password ke keypad. Pintu besi itu mengeluarkan bunyi bip beberapa kali tanda jika sudah terbuka. Aku dengan segera mendorongnya hingga terbuka lebih lebar dan langsung terkejut melihat apa yang terjadi di dalam. Tiga manusia yang berada di dalam ruangan tampak dalam kondisi yang tidak baik. Bahkan mereka juga sampai tidak menyadari kedatanganku. Ada Bi Susan, Rendi, dan Tama. Tama ... Pria itu berteriak ke ponselnya dengan ekspresi mengerikan. Itu adalah ekspresi yang belum pernah aku lihat sebelumnya. "Saya nggak perduli soal itu! Dia nggak mungki

