Pesta Pertama

1193 Words
Aku tersenyum senang entah kenapa rasanya seperti memenangkan jackpot. Mataku memindai seluruh isi wardrobe. Memilih pakaian mana yang pantas digunakan untuk mendampingi Tama. Aku masih menggunakan jubah mandiku dengan rambut yang juga di balut handuk. Padahal aku tadi baru saja selesai mandi tapi melihat Tama bersama Sheila membuat keringat-keringat dalam tubuhku ikut tercecer keluar dan memaksaku untuk kembali membersihkan diri. Sebenarnya kenapa aku sangat marah? Padahal sebelumnya aku sangat menolak tentang adanya hubungan special diantara kami. Tapi tadi saat membayangkan Tama pergi keluar dengan Sheila membuatku naik darah seketika. Aku berusaha fokus kembali mengenyahkan pikiran-pikiran negatif yang malah akan memperlama diriku. Aku mengeluarkan gaun navy yang berkilauan karena adanya gliter di bagian d**a. Dan dengan sembarangan mencobanya. Aku tertarik dengan model gaun berhalter-top ini tapi sayangnya bagian dadanya terlalu terbuka. Bukan tipe v line yang masih membungkus dadaku tapi tipe v line besar yang terbuka sampai pusarku dan lebih parahnya lagi tidak ada pelindung apapun untuk bagian punggung. Sangat berbahaya jika saja aku tersangkut sesuatu. Sudah pasti dress ini akan langsung terjun jatuh bebas saat itu juga. Tapi setidaknya bagian bawahnya terlihat normal. Harusnya aku gunakan saja dress itu mengingat Sheila yang juga mengenakan dress terbuka sudah pasti dia ingin menarik perhatian suamiku, kan? Aku masih mencoba memilih kembali sampai satu dress menarik perhatianku. Black velvet lace dress, tidak ada yang aneh semuanya terlihat normal meski tidak se-sexy yang digunakan Sheila tapi aku terlanjur suka dengan dress ini. Selesai berganti aku segera melangkah menuju meja rias, untung saja pallet warna untuk eyeshadow di sini sangat lengkap. Aku mulai merias wajahku dengan tampilan make up bold, rambutku kubiarkan tergerai dan aku hanya menambahkan anting kecil untuk aksesoris serta memoles bibirku dengan lipstik merah. Aku merasa kagum dengan keahlian yang kumiliki. Meski amnesia ternyata aku cukup pintar merias wajah. Dengan segera aku beranjak mengambil heels lima centi bewarna senada dengan dressku. Dengan senyum yang masih tersungging di bibirku aku mulai melangkah keluar. Bi Susan di sana berdiri di dekat tangga. Mata tuanya menatap tidak percaya kearahku. "Sayang ... ini," suara lembutnya membuatku terdiam dia masih menatapku dengan pandangan takjub. "Kenapa Bi? Ada yang aneh sama penampilan aku?" tanyaku sambil mengangkat sebelah alisku. Beliau mengedipkan mata berkali-kali kemudian tersenyum hangat. "Kamu cantik," katanya. Aku tersenyum senang dan melanjutkan langkahku mendekat ke Tama. Pria itu menatapku tajam. Dia tidak mengatakan apa-apa, dan tidak melakukan apa-apa hanya menatapku dalam diamnya. Ekspresinya tidak terbaca, kenapa? Apa dress yang aku gunakan bermasalah? Padahal tadi aku berharap pria itu memberi sedikit senyuman meski itu mustahil tapi melihat sendiri bagaimana ekspresinya membuat rasa percaya diriku hilang seketika. Tama menoleh ke arah lain. Dan itu benar-benar membuatku sedih. Jangan tanya kenapa karena aku tidak tahu alasan yang pasti. Aku tetap menyunggingkan senyumku dan melangkah mendekat ke arahnya. "Mau berangkat kapan?" Aku bertanya acuh tak acuh, jika tidak ingat tentang Sheila aku pasti lebih memilih untuk berdiam di rumah, toh aku tidak mengenal para rekan kerja Tama. Tama hanya menatapku sebentar. "Rendi udah nunggu di bawah." "Tama." Bi Susan memprotes kelakuannya tapi tetap saja pria itu tidak perduli. "Kita bakal pulang malam jadi bibi nggak usah nunggu." Tama berjalan duluan menuju pintu, dia tidak bersusah payah untuk menungguku. Aku menatap bi Susan yang menatapku dengan rasa bersalah, aku membalasnya dengan senyum agar dia merasa baikan. Padahal sebelumnya dia menatapku seakan aku hanya kenalannya tapi sekarang tatapannya berubah lebih menjadi lebih ramah. "Semua rekan kerjaku tahu kalau kamu kecelakaan tapi mereka nggak tahu kalau kamu amnesia." Tama membuka mulutnya saat kami mulai memasuki mobil. "Kenapa bisa?" Aku menoleh ke arah Tama, dilihat dari dinginnya interaksi kami tidak mungkin pria itu sendiri yang memberitahu rekan kerjanya. Dia duduk di sampingku di bagian belakang bantley yang sama yang kami gunakan saat keluar dari rumah sakit. Setelah siap dengan seatbelt Rendi mulai menjalankan mobil. Dia menatap ke depan. "Aku pengusaha terkenal," katanya. Terdengar pamer tapi melihat suite room di rumah sakit yang aku tinggali kemarin sudah dapat dipastikan berapa uang yang keluar dalam semalam. Tidak mungkin pengusaha biasa rela merogoh kocek sedalam itu hanya untuk menginap di sana dalam jangka waktu lama. "Dan aku nggak suka orang-orang sampai tahu kalau kamu amnesia." "Karena kamu malu aku yang nemanin kamu." Aku tidak bermaksud protes itu hanya respon otomatis yang terlintas di otakku. Dia memijat pelipisnya. "Kamu pasti tahu sainganku banyak, mereka bakal nyari kelemahan kamu, Tia. Dan aku nggak bakal biarin mereka eksploitasi kelemahan kamu." Aku tidak tahu sepelik apa persaingan dalam dunia bisnis kelas atas yang bisa kulakukan hanya diam. Tama mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya, sebuah kotak kecil berwarna biru. Tanpa banyak kata dia mengulurkan kotak itu ke hadapanku. "Ini apa?" kataku sambil membuka kotak penutupnya. Sepasang cincin platinum yang salah satunya berbentuk pita kecil dihiasi berlian-berlian mini untuk mempercantik tampilan pita dan satu lagi platinum polos dengan satu berlian di bagian tengah. Tama mengambil cepat kotak cincin itu. "Cincin tunangan sama cincin nikah kita," katanya sambil menyelipkan cincin di salah satu jariku dan jarinya. Saat cincin itu berhasil masuk ke jari, aku merasa kepalaku pusing, seperti dipukul dengan keras disertai ingatan-ingatan random. Tidak seperti sebelumnya kali ini aku mengetahui jelas siapa sosok yang tergambar dalam ingatanku. Sheila memegang tangan kiriku, menahanku untuk pergi, cengkraman dia sangat kencang, menyakitkan tapi aku tetap mencoba tenang. "Lo ngapain? Lepasin nggak." Aku mencoba melepaskan tanganku dari cengkramannya tapi dia malah dengan sengaja menancapkan kuku-kuku panjangnya di kulitku. Tidak sepertiku yang masih dalam kondisi tenang, Sheila sudah berubah, wajahnya mulai memerah karena emosi. "Jangan kepedean. Lo emang udah berhasil nikah sama Tama. Tapi sampai kapan sebutan nyonya Irfandi nempel di nama lo?" Aku membalasnya dengan senyuman. Tidak terpengaruh dengan amukan Sheila karena untuk saat ini aku berada di posisi yang unggul. "Terus kenapa? Lo masih nunggu buat jadi the next nyonya Irfandi?" ekspresi wajahku berubah datar saat menatap dia yang hanya menggunakan bathrobe dan tidak menggunakan apapun di baliknya. "Mau sampai kapan nunggunya? Emang yakin Tama bakal cerain gue?" Dia mengangkat tangannya yang bebas hampir saja tamparan panas mendarat di pipiku tapi untungnya rencananya tidak berhasil karena aku bisa menahan serangannya. Tapi ternyata sikapku malah membuatnya semakin marah. "Lo pikir lo hebat, huh?" Dia semakin menancapkan kukunya karena reaksiku tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan. Aku tersentak karena kukunya menancap cukup dalam sampai membuat kulitku mengeluarkan darah. Matanya memincing tajam karena melihat cincin berlian yang terpatri manis di jariku. "Lo pikir dia benar-benar cinta sama lo?" Darahku mulai merembes diantara jari-jarinya dan untuk pertama kalinya aku mulai panik. Wanita ini benar-benar gila. "Lo ngapain sih? Lepasin nggak?" Sheila beralih menatapku tajam. "Apa Tama bilang kalau dia cinta sama lo?" "Lepasin gue. Lo beneran gila?" Aku menggerakan tanganku agar terlepas dari cengkraman Sheila, dia sudah bukan manusia lagi. Sheila. Wanita itu memutar pergelangan tanganku dan mendorongku kencang sampai aku jatuh tersungkur. Aku terdiam karena kaget dengan tindakan nekat Sheila, untuk sesaat yang kurasakan hanya rasa sakit. Wanita itu tersenyum ekspresi menakutkan dari wajahnya sudah hilang. "Luna?" nada khawatir Tama menyadarkanku dari ingatan yang sempat singgah. Aku menatap lekat pria itu, Tama berbohong soal kami. Aku tidak mengenal baik pria itu. Satu hal yang sempat kulupakan saat aku tersadar aku mengalami patah tulang di pergelangan tanganku, apa itu karena kecelakaan yang sama?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD