Tempat Asing

1002 Words
"Luna." Tama mengguncang bahuku mencoba mengembalikan kesadaranku. Telingaku masih berdenging dan keringat dingin mulai membasahi pelipis. Aku masih sangat terkejut dengan ingatan yang yang datang. Wajah Tama tepat berada di depan wajahku. Dengan tangan yang masih bergetar aku melepas pelan pegangannya. Dia berbohong. Aku merasa tercekik. Jantungku berdetak kencang karenanya. "Kamu kenapa? Kamu kedinginan? Kita pulang aja. Harusnya kamu nggak maksain diri." "A-aku, aku baik-baik aja." Aku berhasil mengeluarkan suaraku kemudian mundur menjauhinya. "Kita harus pulang. Kamu pucat banget." Dia kembali mengusap pelan pundakku kemudian beralih menatap Rendi yang mengantar kami. "Aku nggak apa-apa. Lanjut aja," kataku kesal. "Nggak. Aku nggak mau ambil resiko kalau sampai terjadi sesuatu sama kamu." "Aku bisa urus diri aku sendiri Tama." "Rendi bawa kita pul-" "Aku bilang aku bisa urus diri aku sendiri!" Aku menekankan setiap kalimat. Rasa khawatir yang dia perlihatkan tidak membuatku terkesan. "Kita tetap pergi! Aku mau pergi! Kenapa kamu buat kondisi aku jadi alasan supaya kita nggak jadi pergi? Kamu nyembunyiin sesuatu dari aku?" Aku tidak sadar jika aku berteriak karena kesal sampai keadaan terasa senyap saat aku sudah menyelesaikan kalimatku. Aku bahkan terkejut karena berani berteriak di depan Tama. Sedangkan pria itu hanya diam menatapku. "P-pak?" suara Rendi yang membuat kami menoleh. Rasa takut dan gugup menghampiriku. "J-jadi kita pulang? P-pak? B-bu?" Aku terkesiap. Apa yang sudah kulakukan? Aku berbalik ke arah Tama. Membuka mulutku untuk menjelaskan tapi dia melepaskan tangannya dan mendorongku menjauh. "Lakuin apa yang menurut kamu benar," suaranya dingin saat berkata seperti itu sebelum beralih menatap Rendi, "lanjutin perjalanan kita udah terlambat." Aku tidak mengatakan apa-apa setelah itu. Mobil melaju ke tujuan semula dalam kondisi stabil. Semuanya senyap seakan aku dipaksa diam untuk merenungi kesalahanku. Tama juga masih diam dia terang-terangan mengabaikanku membuatku takut dengan reaksinya. Kenangan yang seharusnya menjadi kunci malah membuatku berada di ujung ketakutan. Bagian rasional dalam diriku meruntuki kebodohanku karena tidak pandai menguasai diri. Walau semuanya terlihat jelas tapi aku masih tidak mengerti maksud dari kenangan itu. Harus ada tambahan kenangan lagi supaya aku bisa mencerna semuanya dan tidak bertingkah bodoh. "Ayo turun." Tama tidak berusaha untuk melirikku meski hanya sekedar sopan santun. Aku melihat pintu masuk hotel dari jendela mobil. Red karpet yang terbentang dikelilingi oleh para reporter. Mereka menghujani para tamu dengan blitz kamera. Aku saja tidak tahu jika pesta malam ini berskala besar. Semua keberanian yang sebelumnya ada menguap seketika. Aku merasa tidak pantas untuk masuk. Kenapa aku ada di sini? Pastinya tidak ada seorang pun yang aku kenal di dalam sana. Siapa aku? Aku hanya wanita asing yang tiba-tiba hadir menjadi bagian dari keluarga Irfandi entah itu benar atau salah.. "A-aku nggak jadi masuk," bisikku pelan. Tama menatapku sejenak kemudian beralih menatap para reporter yang sudah menyadari kehadirannya. Mereka menunggu kami, lebih tepatnya menunggu Tama. Dia menggelengkan kepala sambil menghela nafas pelan. "Kita nggak bisa pergi sekarang. Ayo keluar mobil yang lain sudah antre di belakang." Tangannya terulur. Tanpa aku sadari dia sudah menggenggam jemariku erat-erat menyalurkan kehangatan. Aku tidak tahu bagaimana tepatnya Tama bisa mengeluarkanku dari mobil. Yang aku ingat hanya suara teriakan para reporter dan petugas keaman yang menahan mereka agar tidak mendekati Tama. Aku ingin lari dari tempat ini. Aku pikir hanya dengan kehadiranku semuanya dapat dilalui dengan mudah, tapi ini tidak sesuai dugaan. Aku salah tempat. Ekspresi Tama memang datar tapi genggaman tangannya pada jemariku menunjukkan sikap sebaliknya. Dia juga tidak nyaman dengan perhatian berlebih yang dia terima. Salah satu reporter menyerobot masuk dan memanggilku dengan kencang. "Aluna! Deftia Aluna." Aku menoleh karena merasa terpanggil, membuat pria itu tersenyum. Pria aneh. Tama sadar dengan segera menarikku mendekat. "Apa mbak benar-benar kabur sama salah satu pacar mbak saat kecelakaan mobil itu terjadi?" Tama mengumpat. Dia menarik tubuhku memasuki hotel saat mata-mata penuh rasa ingin tahu itu mengulitiku. Apa tadi? "Ayo masuk." Aku melihat Tama. Tapi dia tidak melirikku sedikit pun. Dan yang lebih buruknya lagi saat kami berdua melangkah masuk semua mata yang ada di ballroom menatap kami -khususnya kepadaku-. Pria di ujung sana dengan jas maroonya menatapku lekat. Pandangannya meneliti penampilanku dari atas ke bawah. Sedangkan di sisi lain para wanita juga sama memandangku. Tapi pandangan mereka lebih ke arah jijik dengan kehadiranku. Salah satu dari mereka berbisik pada temannya yang lain. Meski jarak kami tidak terlalu dekat tapi aku dapat mendengar apa yang dia ucapkan. Dasar p*****r. Dadaku sesak. Belum juga aku bisa menguasai diri Sheila muncul di hadapan kami. Dia menatapku dengan senyum miringnya dan mendekat ke Tama. Menempel erat pada suamiku sambil menempelkan payudaranya pada Tama di depanku. Gaunnya yang terbuka membuat semuanya dapat terlihat meski hanya sekilas. Tapi dia tidak mendapat tatapan menghakimi seperti yang aku dapatkan. Buakankah ini tidak adil? Aku merasa emosi dengan tingkahnya, bertambah emosi saat tangannya menggegam Tama dan pria itu menyambut genggaman Sheila. "Ketua Red Properti mau bertemu dengan bapak bersama rekan kerja lainnya," suaranya genit sambil menunjuk ke sekelompok pria dengan lemah gemulai. Dia kenapa sih? Mata sekelompok pria itu tidak menatap Tama, mereka menatapku. Pandangan lapar yang mengulitiku padahal yang aku kenakan bukan pakaian terbuka. Apa mereka tidak sungkan dengan Tama? Pria itu suamiku dan dia ada di sini bersamaku. "Luna. Ayo kita ke sana." Tama mengambil tanganku dan menarikku mendekat ke arah sekumpulan pria itu tadi. Tidak. Tidak lagi, aku sudah muak dipandang sebelah mata. Dengan cepat genggaman Tama kulepas paksa yang membuatnya mengernyit heran. Aku sudah kehabisan kata-kata. Jika hadirku di sini hanya untuk menjadi bahan lelucon setidaknya mereka berdua bisa mengatakan lebih awal tanpa membuatku penasaran tentang hubungan yang mereka jalin. "Ak- aku harus ke toilet." Aku beranjak menjauh tanpa menunggu jawaban dari mereka. Bodoh memang. Harusnya aku tidak meninggalkan Tama berdua dengan Sheila. Wanita itu malah mengambil kesempatan dalam kesempitan. Dia benar-benar memanfaatkan keadaan untuk semakin menempel pada Tama. Kepergianku pun sudah tidak jadi masalah karena mereka sudah mulai sibuk mengobrol. Dan ... Mereka benar-benar mengabaikanku. Bahkan, Tama tidak melirikku sama sekali. Separah apa hubungan kami sebenarnya sampai mereka bersikap biasa melihat Sheila dan Tama yang saling merangkul? Apa mereka tidak segan padaku? Sebenarnya aku ini siapa? Istrinya? Atau hanya pajangan?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD