Aku yang Malang

1093 Words
Aku menatap nanar bayanganku. Memang apa yang aku harapkan dari pesta ini. Aku juga tidak mengetahui bagaimana kepribadianku sebelum kehilangan ingatan. Tapi tetap saja tidak wajar rasanya mendapat pelecahan seperti ini. Ditambah Tama juga hanya diam. Membuatku bertambah kesal. Setelah sedikit merasa tenang aku kembali memasuki ballroom hotel. Tidak seperti sebelumnya ketika aku dan Tama berdiri di tengah ruangan. Kini aku memilih untuk menyembunyikan diri di bagian paling ujung. Mataku menelisik ruangan mencoba menemukan Tama di tengah lautan manusia. Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan sekarang dan Tama merupakan satu-satunya manusia yang bisa kupercaya. Saat ingin berbalik tiba-tiba seseorang menabrakku. "Aduh. Maaf-maaf. Gue nggak sengaja. Maaf banget gue tadi emang lagi kurang fokus." Wanita yang menabrakku meminta maaf sambil menundukkan kepalanya dalam. Padahal bukan masalah besar jika hanya menyengol. Toh, aku juga dalam kondisi yang tidak fokus. Aku tersenyum padanya dan tanpa sengaja memperhatikan pipinya yang tampak memerah dengan ekspresi menggemaskan. Dia cantik. Rambut hitamnya diikat ala pony tail, make-upnya pun tidak berlebihan. Menonjolkan kesan feminim yang kuat. Sosoknya yang mungil terbalut dress sifon model sabrina memberi kesan polos tapi menawan. Tapi yang paling menonjol dari wanita itu adalah perutnya yang tampak menonjol. "Loe hamil," kataku. Entah kenapa rasanya sangat antusias bisa menemukan orang yang tengah berada dalam kondisi yang sama sepertiku. Aku juga ingin membicarakan soal perkembangan janinku tapi aku tidak punya keberanian. Apalagi wanita ini adalah wanita asing yang baru pertama kali aku temui. Matanya bertatapan dengan meniakku. Dia mengerjap kaget. "Lo- loe. Ayuna Irfandi!" Apa aku mengenalnya? Jika memang benar aku harus bagaimana untuk memulai percakapan. Aku sama sekali tidak mengingat siapa wanita ini. Aku tersenyum mencoba menghilangkan kekhawatiran yang berlebih. Lagi pula jika hanya berbincang hal apa saja dapat dijadikan topik kan? Dia terlihat sedikit tenang dan membalas senyumanku. "Maaf tadi gue udah nggak sopan." "Iya nggak apa-apa." Setelah mengucapkan kalimat itu kami berdua sama-sama diam. Keheningan yang terjadi membuatku sangat canggung. Wanita itu juga pasti merasakan hal yang sama melihat dia beberapakali melirikku dan memalingkan wajahnya ke arah lain. Sampai ada satu sosok membuat matanya tidak lagi melirikku dia fokus menatap sosok tersebut. Agak di tengah ballroom seorang wanita dan pria tengah berbincang asyik berdua. Obrolan mereka sepertinya cukup seru karena mereka terlihat sering mengeluarkan tawa. Aku tidak bisa melihat jelas bagaimana rupa mereka tapi melihat dari ekspresi wanita di sampingku yang terlihat sedih mungkin mereka bertiga memang saling kenal. "Loe kenal?" Aku tidak berniat mencampuri urusan mereka. Tapi melihat cincin yang terpasang di jari manis wanita itu membuatku teringat akan diriku sendiri. "Ah. Ehmm itu ... dia suami gue." Matanya tidak bisa berbohong. Dia terluka melihat suaminya yang akrab dengan wanita lain. "Gue kelihatan menyedihkan ya? Gue mohon-mohon sama dia supaya diajak ke sini. Tapi dia sama sekali nggak ada niatan buat nemanin gue. Gue malah ngerasa jadi orang ketiga diantara mereka. Apa gue emang nggak pantas ada di sini?" Aku menggigit bibirku menghalau sumpah serapah yang akan keluar. Ternyata bukan cuma suamiku yang bodoh karena membiarkan sekertarisnya hidup berkeliaran di sekitarnya. Wanita ini juga bernasib sama sepertiku. Kehadiran benalu seperti Sheila juga membuatku menjadi orang ketiga di rumah tanggaku. "Terus cewek yang sama suami loe siapa?" "Sekertarisnya." "Ah ... " Apa kerjaan sekertaris memang bertujuan untuk mendekati bosnya? Kenapa sekertaris dari orang-orang kaya selalu menempel erat bagai lintah disekitaran bosnya. Wanita itu hampir menangis dan aku tahu dia akan menyesali tindakan bodohnya jika benar-benar menangis di tempat ini. "Ayo kita duduk dulu." Aku menariknya menuju meja kosong. Dan dia mengangguk seraya mengucapkan terimakasih. "Apa kita pernah ketemu sebelumnya?" Aku mulai bertanya karena tidak tahan dengan kesunyian yang menghampiri kami. Aku juga tidak ingin wanita itu terus-terusan menunjukkan wajah sedih karena melihat sang suami dengan wanita lain. Berhasil. Fokusnya sudah beralih padaku. Dia tersenyum malu. "Nggak pernah. Karena gue bukan tipe teman yang bisa bergaul sama loe. Gue cuma cewek biasa. Sedangkan semua teman loe itu orang-orang hebat. Ah sorry-sorry gue jadi ngelantur. Lyana Hartanto, senang ketemu sama loe," katanya. Saat dia berbicara sepanjang ini dapat kunilai jika dia wanita hangat. "Aluna Irfandi," ucapku. Sambil meraih tangannya yang terulur. Lyan masih menatapku. Pandangannya penuh kekaguman yang aku sendiri tidak tahu apa arti dari tatapannya. "Ternyata loe lebih cantik kalau dilihat lebih dekat. Kepribadianmu juga hangat. Ah juga soal dress yang loe pakai hari ini sangat cantik. Gue harap gue juga bisa pakei pakaian kayak gini." "Kita bisa bertukar pakaian kalau loe mau." Dia tertawa suaranya terdengar ringan. Aku menyukainya. "Loe lucu," katanya. Padahal aku tidak berniat untuk melucu. "Lagipula dress punya loe nggak bakal cocok buat gue yang lagi hamil besar," ucapnya sambil mengusap pelan perutnya yang membesar. "Sudah berapa minggu?" Aku bertanya karena benar-benar penasaran soal ini. Hal yang pertama kali terlintas diotakku saat bertemu dengan wanita ini ada adalah menanyakan tentang kehamilannya. Lyan mengusap pelan perutnya. Senyumnya merekah. "Dua puluh delapan minggu." Apa yang dia lakukan membuatku ingin melakukan hal yang sama. Aku menatapnya sesaat sebelum meminta izin. "Gue boleh pegang?" Lyan mengangguk dia menarik tanganku untuk ikut mengusap perut buncitnya. Aku merasakan sesuatu bergerak didalam sana membuatku takjub seketika. "Bayinya gerak," kataku tanpa sadar. Apa aku juga akan merasakan hal seperti ini? Tidak sabar rasanya berinteraksi dengan makhluk mungil yang bersemayam dalam perutku. "Iya. Dia say hello." Aku teringat pada bayiku meski hubunganku dengan Tama tidak terlihat hasilnya tapi aku tetap ingin anak ini hadir ditengah-tengah kehidupan kami. Dia yang sangat mungil dan lucu akan memanggilku mama. Anak yang sikapnya dingin seperti ayahnya dan berubah menjadi hangat saat bersamaku. Aku tidak berhenti tersenyum membayangkan hal-hal indah yang ingin kulalui dengan buah hatiku. "Loe sesuka itu sama anak bayi, ya?" suara tanya Lyan membuatku menoleh padanya. Aku mengangguk masih dengan mengusap pelan perutnya. Bayi dalan kandungan Lyan masih aktif bergerak seakan tahu jika aku kagum dengannya. "Ternyata loe beda nggak kayak yang lain." "Beda gimana?" "Kebanyakan dari mereka sering mencibir gue karena gue lebih milih buat mempertahankan bayi gue. Menurut mereka apa yang gue lakuin itu nggak lazim. Tabu gitu, lah. Soalnya hamil itu kan membuat bentuk tubuh jadi nggak proposional. Tapi ngelihat loe yang antusias sama kehamilan gue ngebuat gue sadar. Kalau apa yang gue pilih itu keputusan yang baik." Aku mengernyit heran. Ada apa dengan para kaum wanita yang berada di level atas? Hamil bukan sebuah kesalahan lagipula sensasi mengandung tidak bisa digantikan. Apalagi jika hanya mendengar cerita dari orang lain. Mereka benar-benar perkumpulan makhluk aneh. Tapi kenapa aku bisa masuk ke dalamnya? Meski aku tidak tahu kehidupan seperti apa yang pernah kujalani sebelumnya. Untuk saat ini aku hanya ingin bertindak dengan pasti dan mengambil keputusan yang tidak akan merugikanku nanti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD