"Lyan," tiba-tiba sesosok pria datang menghampiri kami. Membuat pembicaraanku dengan Lyan spontan terhenti.Lyan sendiri tersentak. Dia segera berdiri dari kurisnya. "Damar!"
Aku menatap pria itu kesal karena sudah menganggu pembicaraan kami. Pria itu terlihat lebih tinggi dari Tama. Dia mengenakan kemeja putih dan jas silver. jika disandingkan dengan Lyan mereka tampak serasi. Wanita itu terlihat sangat mungil disamping sosok Damar.
Dia tidak tersenyum saat bertatapan dengan Lyan. "Aku udah cari kamu kemana-mana."
Harusnya dia menanyakan keadaan istrinya. Tapi ini dia malah membuat gestur yang menyebalkan. Dia menatap tajam Lyan. Memojokkan wanita itu seakan semua memang karena Lyan yang tidak langsung menemuinya setelah sempat terpisah. "A-aku dari tadi di sini," cicitnya pelan.
Aku tidak menyukai interaksi mereka yang terkesan asing. Bukan seperti pasangan pada umumnya meski pun hal itu juga terjadi padaku. Ekspresi Damar semakin berubah dingin saat melihatku.
"Kamu kenal dia?"
Lyan yang gelisah karena pertanyaan dari Damar membuat gestur mengelus perut. Hal itu sepertinya dia lakukan saat dia merasa gelisah. "Ini Aluna. Kami tadi ngobrol dan saling bertukar cerita ... " Nada suaranya sedikit bergetar hanya untuk menjelaskan kalimat itu.
Tatapan tajam Damar beralih sepenuhnya ke arahku. Dia sangat tidak menyukai jika Lyan bergaul denganku rupanya.
"Aku rasa kamu nggak perlu akrab sama dia sayang."
Apa katanya? Aku melirik ke arah Lyan yang tampak diam. Wanita itu merona hanya karena panggilan sayang yang Damar ucapkan. Seberapa renggangnya hubungan mereka sampai Lyan begitu senang hanya karena sebuah panggilan? Mereka juga terlihat anehnya sama sepertiku dan Tama.
"Ehm ... Kamu nggak biasanya manggil aku kayak gitu. Lagian Luna nggak jahat ke aku."
Damar mengernyitkan keningnya. Dia menatap Lyan tapi tidak mengatakan sesuatu.
Seseorang muncul dari samping Damar. Pemilik tatapan tajam yang sangat aku kenal. Dia menatapku dengan rahang yang mengeras.
"Damar," kata Tama. Dia menarikku mendekat. "Loe harusnya hati-hati kalau mau ngomongin hal buruk tentang istri gue."
Damar mengangkat bahunya tidak peduli. Dia melirikku sepersekian detik dan beralih menatap Tama. "Gue masih nggak ngerti apa yang loe suka dari dia."
Tama menatap tajam memperingati Damar agar tidak sembarangan berbicara.
Damar menghela nafas kasar. Seolah bosan dengan tingkah Tama lalu dia menoleh ke Lyan. "Ayo pulang."
"T-tapi ... " Lyan menoleh ke arahku. Kami masih mengobrol dan masih banyak hal lain yang ingin kutanyakan. Aku melirik Tama tapi aku tidak bisa membaca apa pun dari ekspresinya.
"Kita juga harus pulang. Aku udah muak sama pesta ini dan kamu perlu istirahat." Tama berkata sambil mengulurkan tangannya padaku. Aku ingin menolak karena aku baru memiliki teman mengobrol tapi melihat ekspresi datar yang Tama perlihatkan membuatku mau tidak mau menurutinya.
Lyan akhirnya ikut berdiri. Dengan enggan dia mendekat ke arah Damar. Fokusnya masih padaku seolah ingin menyampaikan sesuatu. Tapi Tama sudah menarikku pergi menjauh dan yang bisa aku lakukan hanya melambai padanya sebelum mengikuti Tama.
"T-tunggu!" Tama dan aku berbalik. "Kita bisa berteman kan sekarang?"
Aku mengangguk sambil tersenyum.
"Lyana!!!" Damar menegur. Tidak suka jika istrinya berteman denganku. Tapi aku tidak peduli karena yang aku butuhkan adalah Lyana bukan Damar.
"Berarti kita bisa ketemu lagi?" Dia bertanya penuh harapan. "Gue boleh minta nomer telfon loe?"
Aku mengabaikan suaminya yang melotot marah sambil tersenyum meminta maaf. "Gue harap kita bisa ketemu. Tapi gue nggak punya handphone."
"Oh," bahunya terkulai lemas. Aku merasa tidak enak. Dia pasti berpikir jika aku berbohong karena reaksi Damar pun tampak meremehkanku. Dia mengangkat alisnya dan melirik Tama puas.
Aku juga merasa aneh karena di zaman modern saat ini tidak mungkin tidak ada orang yang tidak memiliki handphone. Tapi yang terjadi padaku bukan hal yang aneh karena aku tidak memiliki kenalan yang bisa aku hubungi. Aku juga takut suami Lyan keberatan jika aku berhubungan dengannya ... Meskipun Lyan terlihat sangat kesepian.
"Handphonenya rusak karena kecelakaan mobil kemarin. Dan gue emang ngelarang dia beli baru biar kesehatannya pulih dulu. Tapi karena sekarang dia punya teman baru nanti gue bakal nyuruh asisten gue beli ponsel baru buat Luna," kata Tama.
Ekspresi senang tidak susah payah Lyan sembunyikan. Dia benar-benar lucu dan aku sangat ingin berteman baik dengannya. Lyan mungkin merasa nyaman karena ada orang yang mau mengobrol dengannya di pesta. Di mana tidak ada seorang pun yang dia kenal.
Lyan mengeluarkan selembar kertas dan pena dari handbagnya. Dengan cepat dia menuliskan angka-angka di atasnya dan setelahnya dia menyerahkannya kepadaku. "Loe harus telfon gue, ya?"
Aku mengangguk paham sambil mengambil kertas yang dia sodorkan dan menyimpannya ke dalam handbag milikku.
Ekspresi Damar sangat gelap. Sementara Tama hanya menatapku dengan rasa ingin tahu sebelum mengucapkan selamat tinggal kepada mereka.
Saat aku dan Tama berjalan menyusuri lorong, aku mulai merasa canggung. Aku tidak merasa melakukan kesalahan tapi kenapa suasananya sangat tidak nyaman. Aku menatap tangan kami yang saling bertaut.
"Kamu dekat sama Lyana?" Tama bertanya. Nada suaranya tidak terkesan memojokkanku seperti yang Damar lakukan sebelumnya.
Aku mengangguk. "Dia baik."
"Benar? Tapi dia bukan tipikal manusia kayak kamu yang..." ucapan Tama terpotong. Aku tahu ini teka-teki yang harus aku pecahkan. Tapi untuk sekarang aku tidak ingin berpikir panjang. Aku hanya mengangguk dan berjalan beriringan dengan Tama.
"Kamu kenal Damar, suami Lyana? Kalian berdua kelihatan akrab meski pun saling berdebat," kataku.
"Aku sama Damar teman kuliah dan saat ini kami adalah patner bisnis dibeberapa bidang usaha."
Aku mengangguk. "Apa aku pernah ketemu sama mereka sebelumnya? Damar sama Lyana?"
Tama terdiam sebelum menjawab. "Nggak pernah."
Tama tiba-tiba menoleh ke arahku membuatku berhenti karena terkejut. Dia melangkah lebih dekat membuatku terpojok. Mataku melebar. "Kamu ngapain?"
Aroma dari cologne yang dia gunakan menyeruak masuk ke indra penciumanku dia melepaskan jasnya dan menyampirkan ke bahuku. Tama bahkan mengusap kedua bahuku pelan.
"Padahal kamu nggak pakai pakaian yang kurang bahan. Tapi kenapa aku benci ngeliat mata laki-laki b******k yang ada di ballroom tadi waktu mandangin kamu."
Perasaan di rumah tadi dia bahkan tidak melirik penampilanku sama sekali. Dia juga tidak melarangku untuk menggunakan pakaian ini. Tapi sekarang melihatnya protes membuatku senang. Ternyata Tama peduli denganku.
"Kamu luka?" tanyanya.
"Luka? Apa maksudnya?"
Aku tersentak saat Tama tiba-tiba berlutut di depanku dan menarik gaunku ke atas. Dia meraih betisku.
"Kamu ngapain?" tanyaku. Aku tidak nyaman dengan posisi kami yang seperti ini. Dengan cepat aku mencoba menarik kakiku tapi dia menahannya. Tangannya melepaskan sepatuku membuatku tersentak.
"Aduh ... "
Tama menghela napas, "Kaki bagian belakang kamu luka," benar saja. Bagian belakang kedua tumitku lecet dan sedikit berdarah.
"Ah, aku malah nggak sadar," kataku.
Dia menghela napas marah sebelum melepas sepatuku dan melemparkannya ke belakang.
"Kamu kenapa? Heelsku kok dibuang?" bisikku kesal. "Aku nggak mungkin keluar tanpa heels-" dengan mudah Tama mengangkatku ala bridal style. Yang aku lakukan selanjutnya adalah melingkarkan tanganku di lehernya dan berdoa agar aku tidak jatuh selama dia mengangkatku.
"Tama!" Aku memukul dadanya. Dia balas menatapku dan aku terdiam. Jarak antara bibir kami hanya satu centi.
"Apa?" katanya dengan santai. Nafasnya yang segar menerpa wajahku membuatku lupa apa yang ingin aku katakan. Aku memalingkan wajahku ke dadanya menghindari kontak mata yang membuatku salah tingkah.
"Sepatuku ... "
"Udah jatuh. Tinggalin aja," katanya. Sambil masih terus berjalan.
"Jangan ditinggal itu sepatuku!"
"Kamu bisa beli yang baru. Aku heran kenapa kamu selalu nyimpan sesuatu yang ngebuat kamu nggak nyaman."
Aku menatapnya. "Maksud kamu apa?"
"Nggak apa-apa."
Aku frustasi mendengar jawabannya. "Nanti dilihatin orang-orang."
Sudut bibirnya terangkat sebelum menatapku.
"Kamu nggak pernah suka kalau kelihatan berdua sama aku."
"Apa?"
"Nggak apa-apa."
Apa dia mempermainkanku? Untuk sepersekian detik aku melihat raut wajahnya yang berubah mendung. sebelum kemudian berpaling untuk menatap jalan yang akan kami lalui dengan aku yang berada dalam gendongannya.
"Aku punya banyak pertanyaan," kataku.
"Aku tahu," jawabnya.
"Tapi kurasa kamu nggak ada niat buat ngejawab semua pertanyaanku."
Seperti biasa dia hanya diam hal yang sudah dapat aku tebak.
Tama sepertinya tidak terganggu dengan berat badanku karena dia tidak pernah menghentikan langkahnya saat berjalan. Dia berjalan cukup lambat membuatku terlena dan tanpa sadar aku merebahkan kepalaku dibahunya. Aku tidak tahu rasanya akan semelelahkan ini hanya untuk menghadiri pesta yang tidak sampai satu jam aku berada di dalamnya.
Aku tidak tahu sudah berapa lama aku terdiam menikmati moment-moment berdua dengan Tama yang entah kapan akan terulang kembali.
Ingatanku kembali melayang pada semua hal yang sudah aku temui. Penthouse, wardrobe, dan bi Susan. Tapi yang lebih membuatku penasaran adalah hubunganku dengan mamanya Tama.
"Satu per satu."
Aku mengedipkan mataku yang mulai mengatuk dan menatap Tama yang tadi berbicara. "Hah?"
"Pertanyaanmu itu ... Aku bakal jawab satu per satu."