4. Mengingat Pengkhianatan

1535 Words
Seketika Raya mematung. Dadanya terasa sesak, seperti terimpit beban berat yang tak kasat mata. Dia gelagapan, bingung harus menjawab apa. Bayangan masa lalu kembali menghantamnya, memaksa kenangan yang telah ia kubur dalam-dalam muncul ke permukaan. Bayangan seorang Sebastian Danu, pria yang pernah ia percaya sepenuh hati, kini hanya meninggalkan luka mendalam. Kata-kata tajam Mili, musuh bebuyutannya, kembali menggema dalam benaknya, seperti belati yang menusuk tanpa ampun. “Soraya Barata tidak lebih dari seorang gadis polos yang mudah diperdaya!” Ucapan itu dilontarkan dengan kejam saat pertandingan basket antar fakultas sebulan yang lalu. Sebastian Danu, pria yang seharusnya menjadi pelipur laranya, justru menjadi sumber sakit hatinya. Bukan hanya mengembalikan cincin tunangan mereka, Tian juga telah mencabik-cabik harapan yang selama ini ia genggam erat. Bahkan percakapan pahit itu, percakapan yang mengubah segalanya, masih terngiang jelas di telinganya. “Ray, aku ngga mau menyakiti kamu,” Tian pernah berkata dengan nada lembut yang justru semakin membuat darah Raya mendidih. “Kita hanya menundanya.” Hari itu, suasana kafe begitu sendu, alunan musik lirih terasa seperti melodi patah hati. Tian, dengan wajah bersalah, mencoba meraih jemari Raya, tapi Raya menarik tangannya dengan tegas. “Stop! Cukup, Tian! Lepas!” tegas Raya yang masih menundukkan pandangan sembari menahan getir perasaannya yang kalut. Suaranya gemetar, tapi tekadnya bulat. Air mata yang menggenang di sudut matanya menuntut kekuatan besar untuk tidak jatuh. “Ray—Raya, tolong dengerin aku dulu! Maksud aku bukan ingin mengakhiri semuanya. Tapi lebih baik kita menunda pernikahan ini, sampai Om Barata kembali pulih,” jelas Tian yang masih terus berkelit tentang maksud dari pengembalian cincin itu. Kala itu, Raya yang merasa sulit untuk bernapas dan jengah menatap Tian, berusaha untuk mempertegas segalanya. “Menunda pernikahan itu ngga harus dengan mengembalikan cincin pertunangan kita, Tian!” nada Raya meninggi sembari menegaskan pandangannya ke arah Tian. Pria berkulit bersih dengan aroma parfum Woody yang begitu menyengat terlihat gelagapan. “A—aku cuma ngga mau kamu salah paham. Menganggap aku hanya bisa memberi harapan palsu.” “Aku tngerti kok! Kamu ngga benar-benar cinta sama aku, Mas!” ucap Raya saat itu berusaha terlihat tegar di depan pria yang baru saja melukai hatinya. “Ngga gitu, Ray! Aku cuma ngga mau kita berbahagia di atas sakitnya Om Barata.” “Jangan pernah menjadikan kondisi Ayahku sebagai alasannya, Mas! Banyak di luaran sana pernikahan dilakukan di depan ayah mereka yang terbaring sakit. Karena semua sudah direncanakan, bahkan semuanya sudah dipersiapkan! Pasti Ayah juga mengerti dan bahagia, karena apa yang sudah Ayah rencanakan itu berjalan dengan semestinya,” tegas Raya sekali lagi. Mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Raya, Tian menundukkan pandangan. Lantaran bingung untuk menanggapinya. Karena apa yang semua Raya katakan tidak bisa terbantahkan. “Harusnya sejak awal ngga usah kasih harapan, kalau pada akhirnya putus di tengah jalan!” ucap Raya yang saat itu berusaha untuk menahan bulir bening yang terus mendesak dibalik pelupuk matanya. “Aku mencintaimu, Ray!” “Pret! b******k tahu ga? Muak sama kamu, Mas! Aku benar-benar kecewa! Kalau memang Mas Tian itu sayang sama aku, ngga bakal ninggalin aku di saat terpuruk kayak gini!” tegas Raya. “Orang yang tulus mencintai itu ngga akan sanggup melihat kekecewaan sekecil apa pun di mata orang yang dicintainya, kok Mas malah tega sama aku?” tegasnya lagi. Raya tidak mau kembali dibodohi oleh seorang Sebastian Danu. “Maaf! Kalau aku udah bikin kamu kecewa, tapi aku harap kamu ngerti alasanku. Aku yakin kalau kita berjodoh, Tuhan akan kembali menyatukan kita. Aku juga ngga melarang kamu menjalin hubungan sama siapa pun. Begitu juga sama aku, ngga akan menikah sebelum semua mimpi-mimpi aku jadi kenyataan. Aku harap kamu mengerti!” Tian kembali untuk menjelaskan apa yang sebenarnya ingin dia sampaikan. “Aku pegang ucapanmu, Mas! Kalau kenyataannya berbeda, lihat saja apa yang bakal aku lakuin!” Raya berusaha menghidu napas untuk menenangkan hatinya yang bergemuruh. ‘Kayaknya si Raya cinta mati sama gue?’ batin Tian dengan percaya diri. ‘Sayangnya gue ngga cinta beneran sama lo Raya! Gue bakal ninggalin lo kalau kekuasaan Barata Group udah ada dalam genggaman gue!’ batinnya lagi. Raya menggelengkan kepalanya. “Mencintai kamu adalah sebuah kesalahan terbesar, Tian! Sekarang rasa itu udah hilang sejak kamu mengembalikan cincin ini,” ucap Raya begitu datar sembari menggenggam cincin tunangan yang dikembalikan oleh Tian. Hal itu membuat Tian tercekat dengan napasnya sendiri. Bahkan Tian tidak lagi melihat kepedihan di raut wajah Raya. Karena ekspresinya berubah dingin, berbeda dari sikap Raya yang biasanya ramah dan hangat. Raya pun masih ingat bagaimana ia melepas cincin dari jari manisnya. Kemudian meninggalkan dua cincin di atas meja sebelum pergi meninggalkan Tian. “Aku permisi! Ada hal yang lebih penting dari ini semua! Aku ngga mau membuang waktuku lagi!” “Satu hal lagi yang perlu kamu ingat, Tian! Aku yakin suatu hari nanti kamu pasti mendapatkan balasan!” Gadis polos itu berubah dingin seketika kekecewaan datang dari orang yang ia impikan selama ini. *** “Raya?” “Sayang?” ucap Barata membuat putrinya terkesiap dari lamunan yang menyesakkan d**a. “Oh, iya ... Ayah. Maaf!” Raya terkesiap setelah kembali mengingat pengkhianatan Tian. “Kok malah ngelamun, sih? Gimana persiapan pernikahan kalian?” Barata kembali mengulas senyum penuh harapan akan kebahagiaan putri semata wayangnya. “Hmmm ... aman kok, Yah.” Raya berusaha mengulas senyuman palsu di balik rasa sakit hatinya. “Syukurlah! Ayah berharap bisa lekas pulih. Karena Ayah ingin melihat senyuman putri Ayah di hari yang paling bahagia,” ucap Barata yang belum mengetahui permasalahan yang tengah Raya hadapi. Melihat senyuman tulus dari pria paruh baya itu membuat Raya tak kuasa menahan air matanya. ‘Maafkan Raya, ngga bermaksud membohongi Ayah. Tapi ... Raya harus memendam semua ini demi kesehatan Ayah,’ ucap gadis berambut ikal sebahu itu dalam hatinya yang teriris. “Ray, kok jadi nangis sih?” Barata mulai mengernyitkan dahinya. “Maaf, Yah! Raya hanya terlalu bahagia membayangkan hari itu. Ja—jadi ....” Raya tak kuasa melanjutkan sandiwaranya. Dia mengusap air mata di pipinya beberapa kali. “Ayah tahu, kamu sangat bahagia, karena sebentar lagi menikah dengan pria yang selama ini kamu idamkan, iya, kan?” ucapan Barata mengingatkan kembali ingatan Raya tentang Sebastian Danu. Raya tidak menjawab apa pun. Dia hanya mengangguk dan berusaha tersenyum demi menjaga kondisi sang ayah tetap stabil. Tidak dipungkiri lagi, bahwa Sebastian Danu adalah pria yang selama ini Raya idamkan. Raya mengenal pemuda itu saat menginjak masa remaja. Tian adalah impian masa depan Raya yang hampir menjadi kenyataan. Namun, kehidupan di dunia tidaklah sempurna. Begitu juga dengan kisah cinta Raya dengan Tian. Tanpa diduga sebelumnya, Tian mengkhianati Raya. Terlebih lagi, di saat terpuruk itu. Tian justru menyalahgunakan kekuasaan yang sudah Barata berikan kepadanya. Apalagi saat Raya hendak menemuinya untuk meminjam uang. Setelah semua rekening Barata dan Raya diblokir. Bukannya membantu, Tian justru menghindar, dan sulit untuk ditemui. *** Raya keluar dari ruang rawat inap ayahnya. Dia menangis sembari duduk bersandar ke tembok. Raya menenggelamkan wajahnya di antara kedua lututnya. Dia bingung bagaimana caranya untuk menjelaskan semua itu kepada sang ayah. “Nona Raya!” panggil seseorang yang saat itu berdiri di hadapannya. Raya mengusap air matanya dengan cepat. “Om Seno?” Raya gelagapan karena dia tidak bisa menyembunyikan kesedihannya itu. “Nona Raya, kenapa? Atau Bapak drop lagi?” tanya Seno dengan nada khawatir. “Bukan, Om!” Raya bingung menjelaskan kepada Suseno—pria matang yang menjadi tangan kanan Barata. “Lalu ... Nona Raya kenapa?” tanya pria berusia 35 tahun itu. “Ngga apa-apa, Om!” Raya masih menutupi kenyataan pahit itu. “Atau masalah yang berhubungan dengan berita pagi ini?” “Om Seno tolong rahasiakan semuanya! Termasuk filter semua berita tentang saya dan Tian! Saya ngga mau, Ayah drop lagi, Om! Saya mohon rahasiakan ruang perawatan Ayah dari siapa pun juga kecuali saya!” “Baik, Nona!” “Tapi kenapa Om Seno datang lebih awal? Atau ada sesuatu yang ingin Om ceritakan?” Raya memang mempercayakan Seno untuk menjaga ayahnya. Terlebih saat ini Raya masih bersembunyi dari Om Sugeng. “Ini berhubungan dengan bukti-bukti kecurangan Tuan Tian.” Deg! “Om Seno sudah mendapatkannya?” Raya berharap kalau orang kepercayaannya itu mendapatkan bukti pengkhianatan Tian di Perusahaan Barata. “Bukti itu sudah saya dapatkan, tapi ... mereka sangat licik! File yang sudah saya sembunyikan berhasil mereka retas!” Raya semakin lemas dengan informasi yang dia dapatkan malam itu. “Apa ngga ada cara lain, Om?” Raya masih berharap. Walau kondisinya lemas tak berdaya. “Akan saya coba lagi, Non! Tapi ... semua butuh waktu. Mereka selalu siaga setiap kali ada saya.” “Om, rasanya saya ingin marah dan memaki Tian!” “Saya harap Non Raya bersabar, karena ada satu lagi berita buruk yang harus saya sampaikan sebelum Nona mengetahuinya dari orang lain.” Raya tercekat. Dia tidak menyangka, harus kembali menelan pil pahit. “Ma—maksud, Om? Berita buruk apa?” ucap gadis itu terbata-bata. Suseno mengeluarkan secarik surat undangan berwarna ivory berbalut pita berwarna emas. Tatapan mata Raya menajam. Dengan cepat tangannya menyambar undangan itu sebelum Seno menyerahkannya. Pandangan mata Raya membulat seakan-akan menyimpan bara dendam jauh di lubuk hatinya yang terdalam. Sekujur tubuhnya gemetaran mendapati nama mempelai yang tertera dalam surat undangan itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD