Erina pun mulai berteriak meminta tolong, namun tidak ada satu orang pun yang mendengarnya, Erina menangis histeris sambil terus berteriak
"Aku mohon! Tolong aku! Tolong! Billy, Tolong aku!" Teriak Erina.
Erina berusaha keras untuk mendekat ke arah pintu dengan sisa tenaga yang ia miliki, dengan menyeret tubuhnya sendiri secara paksa ia akhirnya berhasil, Erina pun menjedug jedugan kepalanya ke pintu agar bisa terdengar oleh orang di luar nya, namun tidak ada satupun orang yang lewat.
Erina mencoba untuk duduk, menyandarkan tubuhnya di dinding, dengan nafas terengah dan teringat yang banyak keluar, Erina mencoba untuk melepas ikatannya.
Saat ia sedang berusaha melepaskan ikatan, tiba tiba pintu pun terbuka dan menunjukkan seorang wanita dengan kemeja putih lengan panjang, Rok selutut, dan rambut yang terurai.
Erina membelalakan matanya saat melihat sosok wanita tersebut
"A-amanda?" Gumam Erina.
Amanda pun menghampiri Erina dengan Senyuman diujung bibirnya.
"Bagaimana kabarmu Erina?"
Erina pun terdiam dan menatap tajam ke arah Amanda, Amanda tertawa puas melihat Erina yang terikat.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau lakukan ini padaku?"
"Huh, Apa yang aku lakukan sekarang, tidak sepadan dengan pengkhianatan yang sudah kau lakukan terhadapku!"
"Plakk"
Satu tamparan keras mendarat di pipi mulus Erina, menyebabkan Erina meringis kesakitan.
"Aww,"
Amanda pun memegang kasar wajah Erina dengan sorot mata tajam ia berteriak,
"Kau pantas mendapatkan perlakuan seperti ini! Dasar Jalang!"
Amanda pun menghempaskan wajah Erina kasar.
"Kau lihat Layar di depanmu?"
Erina pun menatap ke arah layar,
"Disitu kamu akan menyaksikan bagaimana aku dan Billy akan mengikat janji suci,"
"A-apa? Tidak! Tidak mungkin! Aku dan Billy belum resmi bercerai!"
Amanda pun menyeringai,
"Tapi, yang Billy tau kau sudah meninggalkannya dan sudah menandatangani surat perceraian itu!"
Erina mengerutkan dahinya seraya menggeleng kuat,
"B-bagaimana bisa?"
Amanda kembali tertawa penuh kemenangan,
"Menirukan tanda tangan seseorang itu bukanlah hal sulit, itu bisa aku lakukan hanya dengan menjentikkan jari ku saja!"
Erina mencoba untuk mencerna perkataan dari Amanda, Hingga Erina pun tersadar apa yang dimaksudkan oleh Amanda.
Amanda pun melangkah pergi,
"Selamat menikmati siaran langsung pernikahan kami, dan.. Jika kau mau menghentikanku, berusahalah lebih keras, ha ha ha ha."
Erina pun terdiam mematung, suara tawa puas amanda berputar di telinganya, ia tidak menyangka jika Amanda akan berbuat sejauh itu.
Erina menggeleng kuat,
"Tidak! Aku harus menghentikannya! Billy harus tau siapa Amanda!"
Erina mulai kembali membuka ikatan tali yang mengikat dirinya,
****
Hari pernikahan Billy dan Amanda pun tiba, Amanda sudah siap dengan gaun pernikahan berwarna putih yang mewah dan elegan, ia terlihat sangat bahagia, sedangkan Billy yang terlihat sangat tampan, namun raut wajahnya sendu tidak nampak sama sekali kebahagiaan di wajah Billy.
Upacara pernikahan pun akan segera dilaksanakan, Billy masih memikirkan mengapa Erina bisa berbuat seperti itu padanya, lamunannya pun buyar ketika Ryan menghampirinya dan memegang bahunya, Billy yang tengah berdiri melamun melihat ke arah luar pun langsung menoleh,
"Kau masih memikirkan tentang Erina?"
Billy pun mengangguk,
"Dengar, ada satu hal yang ingin aku beritahu tentang pernikahanmu ini,"
"Apa?"
Namun percakapan mereka pun terpotong oleh munculnya panitia acara yang menghampiri mereka.
"Maaf Tuan, upacara nya akan dimulai, Tuan diminta untuk segera masuk ke ruangan."
Billy pun mengangguk pelan.
Ryan yang tak sempat bicara pada Billy pun, hanya bisa melihat ke arah Billy yang berlalu pergi begitu saja.
Billy yang sudah pasrah untuk menikahi Amanda hanya tertunduk diam tanpa kata, ia berharap jika ada keajaiban datang padanya agar pernikahan ini gagal.
Namun, saat Billy akan mengucapkan janji pernikahan tiba tiba…
"Tunggu!!" Teriak seseorang,
Semua mata pun tertuju pada arah suara, mata Billy terbelalak saat melihat sosok seorang gadis, dengan penampilan acak acakan, dan baju yang terkoyak, ia melangkah mendekat tertatih tatih ke arah Billy dan Amanda.
"Erina?"
Billy syok melihat keadaan Erina,
"Hentikan pernikahan ini!" Pinta Erina.
"Billy, Aku tidak pernah menandatangani surat itu, aku tidak pernah menerima uang sepeserpun dari Ibu! Aku diculik dan disekap oleh Amanda, dia menyuruh beberapa orang untuk menculik ku dan menyekapku di gudang restorannya,"
"Jangan sembarangan bicara! Aku tidak mungkin seperti itu!"
Erina yang sudah berada di hadapan Billy, memegang lengan Billy, dengan air mata yang jatuh ia mencoba untuk meyakinkan diri Billy.
"Aku mohon percayalah padaku! Aku tidak pernah melakukan yang dituduhkan oleh Amanda!"
Namun, Amanda menarik lengan Erina kasar.
"Jangan sentuh suamiku!"
Billy pun menatap tajam Amanda,
"Aku bukan suamimu! Kita bahkan belum mengucapkan janji pernikahan, jadi jangan bersikap tidak masuk akal seperti itu."
Orang tua Billy hanya memperhatikan apa yang terjadi.