Perceraian

1579 Words
Amanda yang syok mendengar pengakuan dari Billy, tak terasa buliran bening itu pun lolos begitu saja membasahi pipinya, ia tidak percaya jika Erina yang sudah dianggap sebagai adiknya sendiri tega membohonginya. "Aku ingin kita membatalkan pernikahan ini! Karena aku tidak mungkin menikahimu, Aku sudah memiliki Erina, Istri sahku!" Ungkap Billy yang merangkul bahu Erina. Pandangan Amanda pun tertunduk, untuk sesaat ia terdiam, Amanda menggelengkan kepalanya seraya berkata, "Tidak! Aku tidak akan membatalkan pernikahan kita! Aku akan meminta ibumu untuk mengurus perceraian kalian! Dan memajukan tanggal pernikahan kita! Aku, tidak akan menyerahkan begitu saja sesuatu yang sudah menjadi milikku!" Amanda pun mengambil tas nya yang berada di atas meja, dan pergi. Billy terlihat sangat kesal dengan perkataan dari Amanda, "Dasar gila!" Gumamnya. Erina pun hanya terdiam melihat kejadian yang berlangsung cepat di hadapannya. **** Amanda menangis sejadi jadinya di dalam mobil miliknya, Ia merasa sangat hancur saat tahu jika Erina adalah istri Billy. Amanda pun memutuskan untuk menemui seseorang, Sesampainya di sebuah restoran dia langsung menghampiri seorang pemuda yang tengah duduk menikmati secangkir teh hangat di salah satu tempat duduk. "Ryan!" Ryan pun menoleh ke arah suara, "Amanda, Ada apa? Tumben sepagi ini kau datang kesini?" "Apa kamu mengetahui bagaimana perilaku kekasihmu?" "Maksudmu, Erina?" "Ya, Apa kamu tidak tahu jika Erina sudah menikah dengan Billy?" Tidak terlihat raut wajah terkejut dari Ryan, Sehingga amanda pun mulai marah "Jadi, sejak awal kau sudah mengetahuinya?"  Ryan pun mengangguk, "Dan kau hanya diam saja?" Ryan pun menghela nafas panjang, "Dengar, mereka saling mencintai satu sama lain, biarkan mereka bahagia, kau bisa mencari seseorang yang jauh lebih baik dari Billy." Amanda pun menggelengkan kepalanya, "Tidak! Kau bodoh jika menyerahkan orang yang kau cintai begitu saja pada orang lain!" Amanda yang merasa kesal pun pergi begitu saja. Ryan pun hanya menatap kepergian Amanda. **** Kondisi Diana mulai membaik, Ia pun tersadar dari pingsannya, dan melihat sosok Erina yang sedang duduk di kursi sambil membaca sebuah buku. "K-kau? Apa yang kau lakukan disini?" Erina yang mendengar suara Diana bergegas menghampirinya, ia memegang tangan sang ibu. "Ibu sudah sadar, Apa ada yang sakit bu?" Diana melepas kasar pegangan tangan Erina, "Kenapa kau disini? Mana Billy?" "Billy sedang membeli makanan bu," Diana pun mencoba untuk duduk, Erina berniat membantunya, namun Diana menolaknya. Erina terlihat bersedih dengan perlakuan Diana terhadapnya. "Lebih baik kau pergi saja! Aku akan meminta Amanda untuk kesini," "Tapi bu, Aku.." Ucapan Erina terpotong "Aku bilang pergi!" Erina pun melangkah pergi dan meneteskan air matanya, Tanpa sengaja ia berpapasan dengan Billy di koridor "Erina, kau mau kemana?" Erina tidak menjawab pertanyaan Billy dan terus melangkah pergi, Billy yang merasa penasaran pun masuk ke dalam ruangan sang ibu, dan melihat sang ibu yang sudah sadar. "Bu, kenapa Erina pergi?" "Itu sudah seharusnya bukan? Dia bukan siapa siapa disini, Ibu akan menghubungi Amanda untuk datang kemari," Billy yang mendengar itu langsung merasa marah, "Apa ibu tau, Siapa yang menjaga ibu semalaman? Itu Erina bu! Dan Amanda, dia yang bukan siapa siapa kita! Sedangkan Erina adalah Istri sahku! Mau tidak mau, Ibu harus terima itu!" Billy pun melangkah pergi untuk menyusul Erina, Ia mencari Erina kesana kemari, Hingga ia menemukan Erina di taman dekat rumah sakit, Erina sedang duduk di salah satu bangku taman dan menangis sesenggukan sendiri, Billy pun menghampiri Erina dan berjongkok di hadapannya. "Erina?" Erina pun menatap ke arah Billy, yang terlihat tersenyum ke arah nya. "Apapun yang Ibu katakan padamu, jangan kau masukkan ke dalam hati, Ibu hanya belum tahu siapa dirimu, Aku yakin, suatu hari ibu pasti akan kembali menyayangi mu seperti dulu." Erina pun memeluk Billy erat dan kembali menangis, Billy mengusap lembut punggung Erina. **** Beberapa hari kemudian, Diana pun diperbolehkan untuk pulang ke rumah, Sesampainya di rumah, Amanda sudah menunggu dengan kejutan kecil yang ia buat untuk Diana, dan Billy hanya menampilkan wajah datar seperti biasanya. "Selamat datang kembali ke rumah bu!" "Terima kasih nak," Amanda pun memeluk Diana erat, "Aku harap, Ibu selalu sehat." "Terima kasih," Mereka bertiga pun menuju ke dapur untuk menikmati makan siang bersama, makanan yang sudah Amanda siapkan sejak pagi tadi. "Apa semua ini kau yang memasaknya?" Amanda pun mengangguk, "Kau benar benar menantu idaman, Ayo kita mulai makan," Namun Billy tidak mau menyentuh makanan yang sudah disiapkan oleh Amanda, ia memilih untuk melangkah pergi, namun baru beberapa langkah, langkahnya pun terhenti oleh panggilan sang ibu "Kau mau kemana?" Billy pun menjawab tanpa menatap ke arah sang ibu, "Ke kantor," Billy melanjutkan langkahnya menuju ke kantornya, Namun di perjalanan ia mengurungkan niatnya untuk pergi ke kantor dan memilih untuk menemui Erina di rumah. "Sayang?" Panggil Billy sesaat setelah ia tiba di rumah, Namun, Billy tidak mendengar sahutan dari dalam rumah, Billy pun mencari keberadaan Erina, ia mencari ke seluruh rumah, dan Erina tidak ada disana. Billy merasa sangat khawatir karena Erina yang tidak ada di rumah, ia mencoba menghubungi Erina, namun ponselnya tidak aktif, hingga tak lama kemudian, Billy mendengar suara pintu terbuka, ia pun bergegas ke pintu utama, dan ia melihat Erina yang membawa sebuah map berwarna coklat di tangannya. "Kau darimana? Dan apa itu?" Erina terlihat salah tingkah dan tidak menjawab pertanyaan Billy, Billy pun merampas amplop itu dan mengeluarkan isinya, ia membaca tulisan dari secarik kertas yang ia keluar kan. "Surat lamaran pekerjaan?" "A-aku, sedang mencari pekerjaan yang baru, sejak kejadian itu Amanda langsung memecat ku, aku bahkan belum sempat mengambil barang barangku disana," Billy pun menatap lekat ke arah Erina, "Jangan bekerja terlalu keras, Aku akan memenuhi semua kebutuhanmu," Erina hanya menggelengkan kepalanya, "Kenapa kau selalu saja menolak? Apa aku ini bukan suami untukmu?" Erina pun menempelkan jari telunjuknya di bibir Billy "Apa aku masih harus menjelaskan nya? Kau selalu menanyakan hal yang sama, dan aku akan menjawab pertanyaanmu dengan jawaban yang sama juga, jadi jangan menanyakan hal yang kamu sendiri sudah tahu jawaban nya." Billy pun terdiam.. Erina perlahan memeluk Billy dan menenangkan nya, "Aku mencintaimu, dan kau adalah suamiku!" Billy pun membalas pelukan Erina, Billy merasa tidak berdaya karenanya Erina harus berjuang sendiri untuk bertahan hidup. **** Billy yang baru saja pulang, langsung diminta untuk menghampiri sang ibu di ruang keluarga, Billy yang tidak mencurigai apapun langsung pergi ke ruang tersebut, Sesampainya disana, ia dikejutkan dengan padanya Amanda dan orang tua amanda yang tengah bersama kedua orang tuanya, mereka membahas tentang pernikahan Billy yang akan dilaksanakan dua minggu lagi. "Apa? Aku tidak mau!" Billy menolak dengan pernikahan ini dan memilih pergi ke kamarnya, "Maaf, mungkin Billy hanya syok karena mendengarnya," Ucap Diana. Setelah kepulangan keluarga Amanda, Diana pun menghampiri Billy yang berada di kamarnya, "Billy, Mau tidak mau kau harus tetap menikahi Amanda! Surat perceraian mu akan siap dalam tiga hari, dan kau harus menandatangani nya!" Diana pun melangkah pergi meninggalkan Billy. Billy terlihat frustasi, ia pun membanting semua barang yang berada di sekitarnya. "Aarrrgggggghhhhh!" Teriak Billy. **** Tanpa sepengetahuan Billy, sang Ibu diana mendatangi Erina sambil membawa sebuah amplop, "Ini adalah surat perceraian kalian, tanda tangani itu, dan aku akan memberikanmu cek kosong ini, isilah berapapun yang kau mau!" Erina terlihat syok melihat tindakan Diana yang sejauh ini, ia sama sekali tidak melihat sosok ibu yang dulu pernah menyayanginya. Erina mengambil pulpen dan hendak menandatangani nya, namun tiba tiba ia menyimpannya kembali "Aku tidak akan pernah bercerai dengan Billy, Dia adalah suamiku! Sampai kapanpun akan tetap seperti itu!" Rahang diana pun mengeras, dengan sorot mata tajam, diana berkata "Baik, Jika itu maumu! Jangan salahkan aku jika kau merasakan lebih sakit dari pada surat perceraian ini," Diana pun pergi, **** Billy yang sedang berada di kantornya dikejutkan dengan kedatangan sang ibu, "Ada apa ibu kemari?" Diana pun tersenyum menatap sang putra, "Surat perceraian mu sudah selesai dibuat, dan Erina sudah menandatangani nya, ibu hanya tinggal meminta tanda tanganmu saja." Seketika Billy syok mendengar ucapan dari sang ibu, "Apa? Tidak mungkin Erina mau menandatangani surat itu!" "Jika tidak percaya, kamu bisa memeriksanya sendiri!" Billy pun dengan terburu buru membacanya dan melihat tanda tangan Erina yang tertulis di sana, tangannya pun bergetar, dengan mata yang berkaca kaca Billy mencoba untuk menahan tangis, ia ingin mencoba untuk tidak mempercayai apa yang ia lihat, namun nyatanya nama dan tanda tangan Erina telah tertulis jelas. "Ibu mengeluarkan cukup banyak uang untuk mendapatkan tanda tangan gadis itu, tapi itu sepadan, sekarang bukalah matamu dan lihatlah wajah asli Istri mu itu!" Billy pun hanya menetapkan bibirnya tanpa berkata sepatah katapun "Baiklah, Ibu pergi dulu, ingat pernikahanmu akan segera dilaksanakan, ibu harap kau tidak terganggu dengan hal hal yang tidak penting seperti ini." Diana pun pergi meninggalkan Billy yang mematung. Billy mencoba untuk menemui Erina, namun Billy tidak menemukan Erina di rumahnya, Ia mencoba mencari Erina dengan berkeliling kota namun ia tetap tidak menemukan sosok Erina. Billy pun memukul mukulkan kepalanya ke stir mobil dengan air mata yang mulai mengalir "Kenapa Erina? KENAPA?!!!" Teriak Billy **** Di lain sisi, Erina yang tidak sadarkan diri selama hampir delapan jam, ia akhirnya membuka kedua matanya perlahan, ia sangat syok saat mendapati dirinya dalam keadaan terikat dan terbaring di lantai di tempat yang sudah tidak asing lagi baginya, "B-bukankah ini gudang restoran Amanda?" #Flashback Erina dalam perjalanan untuk mencari pekerjaan, namun saat ia sedang berjalan kaki menuju halte bus, ia merasa ada yang sedang mengikutinya, Saat Erina menoleh ke arah belakang, ia melihat ada dua orang pria berperawakan tinggi besar, karena ketakutan Erina pun berlari dengan cepat untuk menghindari mereka. Namun malang, Erina jatuh terpeleset ketika ia berlari dan salah seorang dari mereka membekap Erina dengan sebuah kain yang sudah dibubuhi dengan obat bius, Seketika Erina pun tidak sadarkan diri ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD