Billy dan Erina sedang menikmati suasana malam di pantai
“Aku bahagia karena bisa menghabiskan waktu bersamamu,”
“Aku juga, tapi ada satu ketakutanku, aku takut jika ibu tahu,” Ucap Erina dengan nada sendu, pandangan Erina pun tertunduk.
Billy pun mengangkat dagu Erina,
"Jika ibu tahu, Aku akan mengatakan yang sebenarnya, aku tidak akan membuat kesalahan yang sama lagi seperti saat itu!"
Erina pun menenggelamkan wajahnya di pelukan Billy, dan buliran bening itu pun lolos begitu saja.
****
Dilain sisi,
Amanda terlihat gelisah, karena kesulitan menghubungi Billy, ia berencana untuk mengajak Billy liburan.
"Kenapa ponsel Billy tidak aktif?" Gumam Amanda.
Amanda pun mencoba untuk menghubungi Diana,
In Call,
"Hallo bu?"
"Iya, Ada apa?"
"Apa Billy ada di rumah, Aku sudah mencoba menghubunginya beberapa kali, tapi ponselnya tidak aktif."
"Billy sedang mengurus bisnisnya di luar kota, dia di sana untuk tiga hari kedepan."
"Oh, begitu ya! Yasudah tidak apa apa, terima kasih bu."
End Call
Amanda hanya menarik nafas panjang,
"Kenapa tidak memberitahuku?" Gumam Amanda.
Amanda yang terdiam sesaat, tiba tiba ia merasa penasaran dengan liburan Erina dan Ryan, Ia kemudian membuka media sosial milik Ryan.
Amanda pun tersenyum melihat foto foto yang diposting oleh Ryan.
"Semoga mereka selalu bahagia seperti ini,"
Amanda pun menutup ponselnya, dan pergi ke kamarnya untuk beristirahat.
****
Sementara itu,
Ryan yang tengah berbaring di atas kasurnya sambil memainkan ponsel,
"Amanda sudah melihat foto foto ini, dengan begini ia tidak akan mencurigai Erina,"
Ryan pun terlihat mengukir senyuman di ujung bibirnya.
****
Erina yang sedang tertidur pulas terbangun oleh cahaya matahari yang menembus celah celah gorden kamarnya.
"Sudah pagi rupanya, tidurku nyenyak sekali,"
Erina pun menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, sedang asik asiknya mandi, ia dikejutkan dengan suara pintu yang akan terbuka, ia ingat jika ia lupa mengunci kamar mandinya, ia pun bergegas menuju pintu, saat pintu itu sudah sedikit terbuka, Erina mendorongnya dengan cukup keras agar pintu itu menutup kembali, dan langsung menguncinya.
"Hey! Kenapa kau menutup pintunya!" Teriak Billy sambil menggedor gedor pintu.
"Kau tidak boleh kemari! Aku sedang mandi!"
Billy pun memperlihatkan senyuman nakalnya dari balik pintu,
"Oh, begitu ya? Ayolah sayang, buka pintunya! Aku kan suamimu, Jadi tidak usah malu padaku!" Ucap Billy sambil tersenyum dan mengangkat kedua alisnya
Erina terlihat kesal dan menggerutu,
"Apa apaan dia itu! Aku tetap tidak mau meski dia suamiku!"
Billy terus saja berteriak meminta agar Erina membuka pintunya.
"Cepat buka!!"
Erina pun melanjutkan mandi nya, dan tidak menghiraukan Billy yang masih berteriak dari luar.
Tidak lama kemudian, pintu pun terbuka.
"Kau benar benar berisik!" Ujar Erina sambil melangkah pergi melewati Billy.
"Kenapa kau sudah memakai baju?"
"Apa maksudmu? Kau mengharapkan aku tidak memakai baju?"
Billy pun mendekat ke arah Erina, dan mendekatkan wajahnya,
"Aku adalah suamimu, jadi bukankah wajar jika aku menginginkan mu!" Ucap Billy dengan nada menggoda.
Erina yang merasa merinding pun mendorong Billy untuk menjauh,
"Jangan macam macam! Pergi sana!"
Erina pun berjalan menuju dapur, terlihat banyak sekali menu sarapan pagi ini, Erina terlihat senang dan langsung duduk menikmati berbagai menu tersebut, Sedangkan Billy hanya menatap dari arah muka pintu.
"Kau tidak makan?" Tanya Erina tanpa menatap ke arah Billy.
Karena tidak ada jawaban, Erina pun menatap ke arah Billy, dan nampak Billy yang sedang memanyunkan bibirnya karena merasa kesal pada Erina.
Erina pun menghampiri Billy,
"Apa kau marah?"
Billy pun memalingkan pandangannya ke arah lain, Erina pun memegang wajah Billy.
"Maafkan aku, Tapi.. Aku hanya ingin menyerahkan semuanya, saat ibu sudah bisa menerimaku,"
Billy tetap terdiam, Erina pun berbisik.
"Aku akan pastikan, hanya suami ku satu satunya yang akan mendapatkan diriku seutuhnya!"
Billy pun tersenyum mendengar perkataan dari Erina, Tiba tiba
"Cupp"
Erina mencium bibir Billy sekilas, hingga senyuman Billy pun semakin berkembang.
"Apa kau sedang menggodaku, Hmm?" Tanya Billy.
Erina pun menggelengkan kepalanya,
"Kemari kau! Aku akan menghukummu!"
Erina pun langsung berlari untuk menghindari Billy,
Billy mengejar Erina hingga ke pantai, dan tertawa bersama, Ia pun berhasil menangkap Erina, mereka pun terguling guling di pasir, Hingga Billy berada di atas Erina, mereka saling menatap dalam, Pandangan Billy pun tertuju pada bibir berwarna merah muda milik Erina, dan Mereka pun berciuman.
****
Ryan yang tengah berada di restorannya untuk memeriksa pekerjaan para pegawainya tanpa sengaja melihat Diana yang hendak masuk bersama Amanda.
Ia langsung bersembunyi di bawah meja, dan membuat para karyawannya menatapnya heran.
Salah seorang pegawainya menghampiri Ryan, dan duduk berjongkok bertanya pada Ryan
"Tuan, Ada apa?"
"Psst, Kau lihat wanita paruh baya yang akan masuk bersama wanita seumuranku?"
Pegawai itu pun melihat ke arah yang dimaksud, Namun Ryan menarik tangan pegawai tersebut.
"Eh, jangan dilihat seperti itu!"
"Oh, M-maaf Tuan!"
"Layani mereka dengan baik, halangi pandangan mereka, agar aku bisa kabur, dan katakan pada semua pegawai jika mereka mencariku katakan aku sedang berlibur bersama Erina, dan akan pulang nanti malam!"
"Tapi Tuan?"
"Sudah, Turuti saja!"
"Baik Tuan!"
Pegawai itu pun membisikkan pesan Ryan pada rekan rekannya, dan Ia pun menghampiri diana, dan mencoba menghalangi pandangan mereka, agar Ryan bisa melarikan diri.
"Silahkan Nyonya, Nona, Ada yang bisa kami bantu?"
Diana dan Amanda pun memesan beberapa menu makanan,
"Kau tau, ini adalah restoran milik Ryan,"
"Benarkah? Aku tidak tau dia memiliki restoran besar seperti ini,"
"Dia merintis usaha restoran ini sejak di bangku SMU,"
"Oh, begitu ya."
Makanan pun tiba, para pelayan menata makanan tersebut di meja,
"Oh ya, Dimana Ryan?" Tanya Diana pada pelayan tersebut.
"Tuan sedang berlibur dengan nona Erina."
Amanda pun ikut bersuara,
"Iya, itu benar bu! Aku sendiri yang memberi izin pada Erina, karena Erina sudah terlalu banyak bekerja keras selama ini."
Diana pun terdiam.
****
Ryan yang berhasil lolos, dengan nafas yang masih terengah engah, ia pun menghubungi Billy, namun ponselnya tidak aktif, ia kemudian menghubungi Erina,
In Call,
"Hallo, Erina! Cepat lah kalian kembali, aku takut jika ibu dan Amanda curiga,"
"Aku tidak akan pulang hari ini,"
Ryan membulatkan matanya syok, karena suara yang ia dengar bukan lah suara Erina, tetapi suara Billy.
"Billy! Jangan membuatku kesulitan!"
"Bukankah kau sendiri yang membawa kesulitan ini?"
"Kau?!"
"Tut tut tut"
Panggilan pun ditutup sepihak.
Erina yang berada disamping Billy pun merasa kesal karena sikap Billy pada Ryan.
"Kau tidak seharusnya berkata seperti itu kepada kakak! Kau seharusnya berterima kasih karena kakak, Kita bisa disini sekarang!" Ungkap Erina kesal
Billy pun memeluk Erina dan meminta maaf.
"Maafkan aku,"
"Lebih baik kita bersiap untuk pulang!"
Erina pun melangkah pergi menuju ke kamarnya.
****
Billy dan Erina dalam perjalanan pulang, Erina masih terdiam dan hanya menatap keluar jendela.
Billy yang merasa tidak enak pada Erina kembali untuk meminta maaf padanya,
"Sayang, Maafkan aku! Aku tadi hanya bercanda pada Ryan."
Erina pun menatap ke arah Billy,
"Kakak adalah seseorang yang berharga untukku, dia selalu membantu dan melindungiku, jadi tolong jangan sekasar itu padanya."
Billy pun menunjukkan raut wajah merasa bersalah, ia kemudian mengusap lembut kepala Erina dan tersenyum
"Aku berjanji tidak akan bersikap seperti itu lagi!"
Erina pun tersenyum mendengarnya,
"Terima kasih,"
"Oh ya, Aku sudah menyiapkan sebuah rumah untukmu,"
"Apa?"
Erina terkejut mendengar ucapan Billy
"Kau boleh menempati nya hari ini,"
"Eh, Tapi aku bisa mencarinya sendiri."
Billy pun tersenyum,
"Setidaknya, terima lah rumah itu! Aku adalah suamimu dan itu sudah menjadi kewajiban ku, dan soal ibu dan amanda, itu akan menjadi urusanku!"
"Tetapi…"
"Aku mohon! Terima lah!"
Erina pun hanya pasrah mengikuti permintaan Billy.
****
Mereka pun tiba di sebuah rumah yang cukup sederhana dengan halaman yang cukup luas, Billy tau betul jika ia memberikan rumah yang besar dan mewah, Erina tidak akan menyetujuinya.
"Bagaimana, Kau suka?"
Erina pun mengangguk,
"Sejak kecil, aku ingin sekali rumah seperti ini, rumah yang sederhana dengan halaman yang luas untuk anak anak bermain."
Billy pun menatap ke arah Erina,
"Kau ingin kita memiliki anak berapa?"
Erina pun tersipu malu mendengarnya, dan berjalan mendahului Billy.
Billy mengikuti langkah Erina, mereka pun masuk ke dalam rumah dan melihat isi rumah yang sudah lengkap dengan perabotannya.
"Kamar tidurnya luas," Ucap Erina
Billy pun memeluk Erina dari belakang,
"Disini lah nanti kita akan menciptakan anak anak yang lucu,"
Erina hanya tersenyum malu malu,
"Jangan berkata yang tidak tidak!"
Billy pun membalikkan tubuh Erina, dan menghadap ke arah nya.
"Aku ingin memiliki tiga orang anak dari mu," Ucap Billy sambil tersenyum.
"Sudahlah! Kau sudah harus pergi bukan?"
"Beri aku satu ciuman dulu, baru aku akan pergi."
"Emm, Tidak!"
"Ya sudah, Aku tidak akan pergi dari sini!"
Billy pun duduk di birai kasur, dengan wajah cemberutnya.
Erina pun menghampirinya, dan mengalungkan kedua tangannya di leher Billy, Erina pun mencium Billy dalam.
Terlihat raut wajah bahagia Billy, Ia kemudian berpamitan untuk pergi.
'Aku harap, kebahagiaan ini tidak akan pernah berakhir.' Batin Erina
****
Billy yang baru tiba di rumah, dikejutkan dengan kehadiran Amanda yang sedang mengobrol bersama sang ibu Diana.
"Billy, kau sudah pulang nak?"
Billy hanya mengangguk pelan, dengan raut wajah datar nya ia melangkah menuju ke kamarnya, Billy pun merebahkan tubuhnya, ingatannya saat bersama Erina terus berputar dalam bayangan nya dan membuat Billy senyum senyum sendiri.
Lamunannya pun buyar, ketika mendengar suara sang ibu memanggil nya,
"Billy?"
Billy duduk dan menatap ke arah Diana,
"Ada apa bu?"
Diana pun menghampiri Billy, dan duduk disampingnya.
"Ibu dan kedua orang tua Amanda sudah sepakat akan memajukan tanggal pernikahan kalian."
"Apa?" Syok Billy.
"Ibu ingin kamu bahagia, setelah menikah nanti kamu akan ada yang mengurus, dan ibu akan merasa tenang, ibu juga tidak mungkin disini terus menerus, ayahmu juga tidak ada yang menemani disana."
Billy pun berdiri dari duduknya,
"Billy tidak mau menikah dengan Amanda!"
"Billy!" Bentak sang ibu.
"Bu, Billy masih berstatus suami Erina, kenapa ibu malah menyuruh Billy untuk menikah dengan wanita lain dengan status Billy yang masih seperti itu?!"
"Ibu akan mengurus surat perceraiannya, jadi saat kau menikah dengan Amanda statusmu sudah bukan suami dari gadis murahan itu!"
"Bu! Erina tidak seburuk seperti yang ibu pikirkan!"
"Lalu wanita seperti apa yang rela menjual dirinya untuk berpura pura mencintaimu menikah denganmu dan menipu ibu dengan sikapnya yang pura pura polos itu?"
"Erina tidak bersalah dalam hal ini! Billy yang memaksanya untuk menyetujui surat perjanjian itu bu! Lagipula ini karena ibu dan ayah yang memberikan persyaratan konyol itu!" Bentak Billy,
Diana tiba tiba merasakan sakit di d**a kirinya, kesulitan bernafas dan kehilangan keseimbangan, Diana pun jatuh pingsan.
"Bu? Ibu?" Panggil Billy.
Billy pun bergegas membawa Diana ke rumah sakit,
****
Billy terlihat sangat cemas dan ketakutan, saat menunggu dokter keluar dari ruangan sang ibu.
Erina yang mengetahui tentang keadaan Diana dari Billy pun langsung bergegas menuju ke rumah sakit, Sesampainya di rumah sakit, Billy langsung menangis di pelukan Erina.
"Ini semua salahku, Aku sudah membentak ibu!" Ucap Billy dengan bibir yang bergetar karena menangis.
"Katakan, Apa yang terjadi?" Tanya Erina.
Billy pun menceritakan tentang apa yang terjadi, Erina pun memejamkan mata sesaat dan meneteskan air mata.
Tak lama kemudian, Dokter pun menghampiri mereka.
"Bagaimana dokter?"
Dokter menghela nafas kasar,
"Ibu anda terkena serangan jantung ringan, karena diakibatkan syok, saya harap anda bisa menjaga kestabilan emosi beliau, jangan membuat beliau terlampau marah ataupun sedih,"
"Baik dok,"
Setelah kepergian dokter, Billy dan Erina pun masuk ke dalam ruangan sang ibu, terlihat tubuh sang ibu yang terbaring lemah diatas kasur, dengan selang oksigen yang menempel di hidungnya.
Billy pun duduk di samping sang ibu,
"Maafkan aku bu!" Ucap Billy seraya menggenggam erat tangan sang ibu.
Erina pun ikut menangis melihat sang ibu yang terbaring tak berdaya, ia mengusap lembut punggung Billy berusaha untuk menenangkan nya.
"Aku takut, jika sesuatu yang buruk menimpa ibu." Ujar Billy menatap Erina.
"Kau tidak boleh berkata begitu, Ibu pasti baik baik saja."
Erina pun memeluk Billy, dan menghapus air mata Billy.
Mereka menjaga Diana hingga semalaman.
****
Keesokan harinya,
Amanda mengunjungi Diana di rumah sakit, ia baru mengetahui jika diana jatuh pingsan dari para pelayan yang bekerja di rumah Billy.
Amanda pun membeli buket bunga mawar merah untuk diana, Saat ia memasuki ruangan diana, Matanya pun membulat sempurna, ia dikejutkan dengan keberadaan Erina yang tengah tertidur di sofa panjang bersama Billy, dengan Billy yang memeluk nya erat.
"Apa ini?"
Terlihat wajah Amanda yang memerah karena marah,
Amanda pun meletakkan buket bunga di meja dan menarik tangan Erina kasar hingga Erina terjatuh dan terbangun dari tidurnya, Billy pun ikut terbangun dari tidurnya dan melihat Erina yang terjatuh.
Billy bergegas membantu Erina untuk berdiri, Tiba tiba..
"Plakk!"
Satu tamparan keras mendarat di pipi Erina, yang meninggalkan bekas merah.
Billy merasa tidak terima dengan perlakuan Amanda yang telah menampar Erina, Ia langsung mendorong Amanda hingga terjatuh.
"Billy! Kenapa kau mendorongku!" Bentak Amanda.
"Kau tidak apa apa?" Tanya Billy sambil mengelus pipi Erina yang memerah.
"Aku tidak apa apa,"
Amanda yang merasa sangat marah pun menarik kembali tangan Erina,
"Berani berani nya kau bersikap seperti itu pada tunanganku? Dasar wanita jalang!" Bentak Amanda.
Billy pun melepas pegangan Amanda dari tangan Erina,
"Jaga bicara mu! Kau tidak berhak berkata seperti itu pada Erina!" Bentak Billy.
"Kenapa kamu membela w************n ini, daripada aku calon istrimu? Dia bukan siapa siapa mu! Seharusnya aku yang kau bela!" Teriak Amanda.
"Kau salah! Kau yang bukan siapa siapa ku! Erina adalah istri sahku sejak lebih dari dua tahun yang lalu!!" Teriak Billy.
Seraya tersambar petir, Amanda tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.
Amanda pun melangkah mundur seraya menggelengkan kepalanya pelan,
"A-apa? Tidak mungkin!"