Pertunangan

2141 Words
Hari pertunangan Billy dan Amanda pun tiba, mereka melakukan perayaan di restoran milik Amanda, Karena Amanda dan Billy pun tidak terlalu mengundang banyak orang untuk acara mereka. Restoran Amanda diatur sedemikian rupa agar sesuai dengan yang Amanda inginkan, Dipenuhi dengan bunga mawar putih kesukaan Amanda, dan Beberapa hiasan lainnya. Erina ikut andil dalam melayani para tamu, Ia mengenakan seragam seorang pelayan yaitu kemeja berwarna putih dan rok kain berwarna hitam dengan ujung lengannya yang diberi kancing, dengan rambutnya yang diikat. Para tamu pun mulai berdatangan, Billy yang terlihat sangat tampan dengan setelan jas berwarna abu abu hanya menatap sendu Erina yang terlihat menyedihkan, Sedangkan Amanda mengenakan dress panjang berwarna putih tanpa lengan, ia terlihat sangat cantik dan menawan hingga para tamu pun memuji mereka sebagai pasangan yang serasi. Acara pun dimulai, Amanda pun diminta untuk naik ke panggung bersama Billy, Sedangkan Erina hanya menatap dengan mata yang berkaca kaca dibalik kerumunan para tamu. “Malam ini, kita akan menyaksikan persatuan diantara dua insan yang saling mencintai, semoga hubungan mereka lancar sampai nanti hari pernikahan! Tepuk tangan semuanya!” Ujar seorang pembawa acara. para tamu pun bertepuk tangan untuk mereka, sedangkan Erina hanya menatap sendu dan terlihat menahan tangis, Diana yang melihat Erina pun hanya terdiam memperhatikan. Billy hanya memasang wajah datar tidak ada raut bahagia yang terpancar di wajahnya, berbeda dengan Amanda yang terus saja tersenyum sedari tadi.   Acara pertukaran cincin pun dimulai, Billy terlihat malas saat menyematkan cincin di jari manis Amanda. Namun, pada saat Amanda akan menyematkan cincin di jari kiri Billy, Terlihat jari Billy memakai perban, membuat orang tua Billy dan semua orang yang berada di pesta terkejut, Diana pun menghampiri Billy, “Apa yang terjadi denganmu?” Tanya Diana khawatir. Diana pun mencoba memeriksa tangan Billy dan berbisik, “Apa kau sedang menipu ibu?” Diana menatap tajam Billy, Diana pun membuka perban yang berada di jarinya dengan paksa, hingga Billy pun meringis kesakitan, “Aww, Sakit!” Melihat darah yang keluar dari balik perban membuat diana terkejut, karena  ia mengira jika Billy sedang membohonginya, Diana menjadi tambah panik karena darah yang tidak mau berhenti keluar. Melihat kejadian itu, para tamu, dan yang lainnya pun ikut panik, Lalu tiba tiba Erina pun naik ke atas panggung, ia menyobek baju miliknya di bagian lengan dan menutupi luka itu dengan kain tersebut, Hingga lukanya berhenti mengucur, Diana hanya terdiam melihat apa yang Erina lakukan. “‘Terima kasih,” Ucap Billy menatap Erina dalam. Erina hanya tersenyum tipis dan mengangguk pelan, ia pun kembali turun dari panggung, Diana terlihat hanya terus menatap ke arah Erina yang menundukkan pandangannya. Acara pun kembali dilanjutkan, dan Amanda menyematkan cincin tersebut di jari sebelah kanan Billy. Di tengah acara, Billy diam diam mengikuti Erina yang hendak mengganti pakaiannya, tanpa sepengetahuan siapapun. Disaat Erina melewati kamar mandi, Billy pun menariknya, dan mengunci kamar mandi tersebut. “Apa yang kau lakukan? Apa kau sudah gila?” Ucap pelan Erina “Aku merindukanmu!” Bisik Billy di telinga Erina yang membuat Erina merinding, Erina mulai mengomel pada Billy karena takut ketahuan. Billy tidak memperdulikan omelan Erina, Ia hanya tersenyum dan memeluk erina dari belakang. Hingga Erina tersadar dengan luka yang dialami oleh Billy, “oh ya, kenapa jarimu bisa terluka seperti ini?” Tanya Erina sambil memegang tangan kiri Billy. Billy pun tersenyum, “Aku sengaja melakukannya, Aku menggunakan serpihan kaca untuk melukai jariku!” Ucap santai Billy Erina membulatkan matanya karena terkejut mendengar perkataan Billy. “A-Apa?” Billy semakin erat memeluk Erina, “Sudahlah! Lagipula, aku tidak akan membiarkan perempuan lain menyematkan cincin di jari ini, karena ia sudah ada pemiliknya,” Erina pun hanya tersenyum tipis, Tiba tiba, terdengar suara ketukan dari luar, “Hey, Apa toiletnya rusak? kenapa terkunci?” Billy pun meletakkan jari telunjuknya di bibir Erina, dan menatapnya dalam, “psst,” Erina pun mengangguk paham, Setelah tidak lagi terdengar suara dari luar, “Lebih baik kita kembali lagi ke dalam, Aku tidak ingin jika ada yang menyadari kita menghilang,” Erina yang melangkah keluar lebih dulu, dikejutkan oleh sosok Ryan yang ternyata sudah berada di muka pintu sedari tadi, “K-Kakak?” Ryan pun tersenyum ke arah Erina, Billy yang berada di belakang Erina pun memasang raut wajah tidak suka. “Untuk Apa kau kemari?” Tanya Billy, Belum sempat Ryan menjawab pertanyaan Billy terdengar suara Amanda yang memanggil manggil nama Billy. “Billy!!” Teriaknya,  Ryan yang mengetahui posisi Amanda yang semakin dekat pun menarik Erina dan mendorong Billy masuk kedalam toilet kembali lalu menutupnya, Sehingga Amanda hanya melihat Ryan yang tengah bersama Erina. “Maaf, Jika aku mengganggu kalian, Apa kalian melihat Billy?” Tanya Amanda “Tidak,” jawab singkat Ryan “Baiklah, Jika begitu kalian teruskan saja, aku akan mencari Billy, dan Erina terima kasih untuk pertolonganmu tadi, jika bukan karena kau, mungkin acara ku sudah hancur.” Erina pun hanya mengangguk pelan dan tersenyum tipis. Amanda pun melangkah pergi meninggalkan Ryan dan Erina, Billy yang mendengar percakapan mereka dari balik pintu pun langsung membuka pintu setelah yakin jika Amanda sudah pergi. Billy menatap ke arah Ryan, "Kau benar benar keterlaluan mendorongku seperti itu!" “Anggap saja, ini sebagai permintaan maafku pada kalian.” Ucap Ryan sambil tersenyum Erina pun menatap ke arah Billy, “Lebih baik, Kau kembali,” Billy pun mengangguk pelan, Ia mencium kening Erina dan melangkah pergi meninggalkan Erina dan Ryan. **** Keesokan harinya, Erina sepagi ini sudah bangun tidur, dengan wajah yang masih mengantuk ia berjalan kaki menuju ke sebuah tempat. Rupanya hari ini, Erina berniat untuk mencari pekerjaan sampingan untuk diisi selama masa liburnya di restoran, ia juga berniat untuk segera pindah dan menyewa sebuah rumah yang lebih layak untuknya. Erina pun memulai dengan melamar pekerjaan ke sebuah restoran lain, namun ditolak begitupun dengan beberapa tempat yang lain, Hingga ia melamar pekerjaan sebagai seorang cleaning service di sebuah klinik. Erina pun mendapatkan pekerjaan tersebut. Setelah mendapatkan pekerjaan Erina pun mulai mencari tempat kos yang nyaman dan layak untuk ditinggali. Hingga menjelang malam ia belum menemukan tempat kos yang sesuai untuknya, Erina pun memutuskan untuk kembali ke restoran milik Amanda. “Ah, Lelahnya..” Ucap Erina sesaat setelah ia membaringkan tubuhnya dan  memejamkan matanya. “Kau darimana saja?” Tanya seseorang yang tanpa Erina sadari sedang duduk diatas sebuah meja yang sudah usang di hadapannya sambil menyilangkan kedua kakinya. Erina pun membuka matanya dan langsung terbangun. “Bagaimana bisa kau ada disini?” Tanya heran Erina. Billy pun tersenyum, “Itu hal yang mudah, cukup menduplikat semua kunci di restoran ini, dan aku bisa kesini kapanpun aku mau!” “H-Hah?” Erina terkejut mendengar pengakuan dari Billy. “Dasar suka seenaknya saja!” Gumam Erina, “Apa kau mengatakan sesuatu?” “T-Tidak!” “Kau masih belum menjawab pertanyaanku, Kamu dari mana saja?”  “Apa aku harus selalu memberitahu mu, kemana pun aku pergi?” “Tentu saja! Aku ini suamimu! Jadi, aku berhak tahu,” “Iya, baiklah! Aku pergi untuk mencari pekerjaan sampingan dan juga tempat kos,” Billy pun menghampiri Erina, dan memegang bahunya. “Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri Erina! Bahkan robot pun perlu waktu istirahat!” Erina pun terdiam sesaat, “Aku suamimu, yang memiliki kewajiban untuk memenuhi kebutuhanmu, tapi kenapa kau selalu menolak pemberian dariku?” Erina menatap lekat ke arah Billy, “Aku hanya tidak ingin apa yang ibu pikirkan tentangku itu menjadi benar adanya, Aku mungkin pernah dibeli olehmu, tapi aku bukan w************n, Aku akan membuktikan jika aku mencintaimu tulus bukan karena hartamu!” Billy pun menarik Erina ke dalam pelukannya, “Aku ingin membuktikan pada Ibu, Jika aku juga pantas untukmu.” Billy pun meneteskan air matanya mendengar ucapan Erina, Ia sangat mengerti dengan semua hal pahit yang sudah Erina lalui, termasuk menerima kenyataan jika ia telah dijual oleh saudaranya saat itu pada Billy. **** Hari pun berganti, Erina giat bekerja setiap hari, Hingga ia melupakan satu hal yang istimewa di hari ini. Ryan terlihat sedang bersama Amanda di salah satu sudut kursi, “Jadi, hari ini adalah hari ulang tahun Erina?” Tanya Amanda. “Hmm, Karena itu aku ingin meminta izin padamu untuk memberi cuti pada Erina untuk hari ini saja.” Amanda tersenyum, “Tentu saja, Aku akan memberikan Erina cuti untuk dua hari hingga besok, ajaklah Erina untuk pergi, Karena selama ini waktunya hanya ia gunakan untuk bekerja.” “Hm, Terima kasih!” Amanda pun mendatangi Erina yang tengah sibuk di dapur seperti biasa, “Erina?” Erina pun berbalik dan menghadap ke arah Amanda. “Kau akan cuti untuk dua hari ini, pergilah bersama Ryan, dan bersenang senanglah!” “Tidak usah, Aku masih memiliki banyak pekerjaan, lain kali saja.”’ Amanda pun menghampiri Erina, dan mendorong pelan tubuh Erina, “Sudah sana! Ambil barang barang yang kau perlukan, Ryan sudah menunggumu di depan,” “T-tapi Aku..” “Tidak ada penolakan!” Erina pun terdiam dan menuruti perintah Amanda. **** Ryan membawa Erina ke tempat yang cukup jauh, dengan memakan waktu hampir tiga jam, Mereka pun telah sampai di tempat tujuan. ketika Erina turun dari mobilnya, ia melihat ada sebuah pondok penginapan dan pemandangan pantai di hadapannya. Sangat menenangkan, Sepi tidak ada siapapun disini, "Kenapa disini sepi sekali?"  "Karena ini adalah milik pribadi, jadi tidak sembarang orang bisa masuk kesini," Ryan mengulurkan tangannya, Awalnya Erina ragu untuk meraih tangan Ryan, Hingga Ia akhirnya menyambut uluran tangan tersebut, Erina dan Ryan melangkah masuk ke dalam penginapan, Saat mereka memasuki ruangan di dalam penginapan tersebut, Erina dikejutkan dengan Isi di dalam penginapan tersebut yang terlihat mewah dan sangat cantik. "Duduklah!" Erina pun duduk di salah satu kursi, Ryan pun mengambilkan segelas minuman untuk Erina. "Minumlah," Erina pun mengangguk, dan meminum air tersebut. "Oh ya, kenapa kakak mengajakku kemari?" Ryan pun tersenyum, "Tidak apa apa, Aku hanya ingin menebus kesalahan ku pada mu," Erina pun terdiam, "Ayo, ada beberapa hal yang harus kita lakukan!" "Apa?" "Sudahlah! Ikuti saja,"   Erina pun mengikuti langkah Ryan, Ryan mengambil beberapa foto bersama Erina di dalam penginapan tersebut, Lalu Ryan meminta Erina untuk mengganti pakaiannya, dan kembali melakukan pemotretan beberapa kali bersama nya di luar dengan latar pemandangan laut. "Untuk apa kita melakukan ini?" Tanya Erina heran. "Kau akan tahu nanti, sekarang lebih baik mandi lah, nanti sore aku akan mengajakmu ke suatu tempat," "Kemana?" "Jika kau merasa penasaran, cepat lah!" Erina pun tersenyum dan menuruti perkataan Ryan. **** Selesai membersihkan diri dan mengganti pakaiannya, Erina pun bergegas turun dan mencari Ryan, Namun ia tidak mendapati siapapun, Erina mencoba mencari di halaman penginapan namun tidak ada siapapun yang ia lihat, Erina mulai panik, Ia kembali mencari di sekitar kawasan penginapan, Dan ia tetap belum menemukan siapapun, hingga matanya tertuju pada sebuah meja dan dua kursi berwarna putih, dengan sinar oranye dari matahari yang akan terbenam, dan banyak sinar lilin yang menghiasi. Erina pun mendekat ke arah meja itu berada, ia melihat ada dua gelas dan dua piring kosong dengan beberapa menu di atas meja tersebut, Namun Erina hanya memperhatikan sebuah kue tart bertuliskan 'happy birthday sayang' yang berada di meja, Ia pun berpikir dan tiba tiba seseorang mengagetkannya. "Aku senang, Kita akhirnya bisa memiliki waktu berdua seperti ini," Erina pun menatap ke arah asal suara, "B-billy? Bagaimana kau bisa ada disini?" Billy pun tersenyum, "Ini semua adalah rencana Ryan, Dia ingin kita menikmati waktu bersama." 'Kakak?' Batin Erina. "Lalu, Dimana dia sekarang?" "Tentu saja sudah pergi, tugasnya hanya membawamu kemari itu saja!" Namun bukan nya senang, Erina justru memarahi Billy, "Kenapa kau nekad melakukan semua ini? Apa kau tidak berpikir, bagaimana jika Amanda curiga kita berdua tidak ada di waktu yang bersamaan?!" "Hey, kenapa kau malah marah marah? Ini semua rencana Ryan, Aku tidak tau apa apa!" "Oh, Jadi kau tidak pernah berpikir sekalipun bagaimana caranya agar bisa bertemu?" "Ya Ampun!! Salah lagi!" Gumam Billy. Karena Erina yang terus saja bicara, membuat Billy gemas dan tiba tiba.. "Cupp" Satu kecupan manis mendarat di bibir Erina, yang membuat Erina langsung terdiam. Sedangkan Billy hanya tersenyum menatap Erina, "Ayo, kita tiup lilinnya." Erina dan Billy pun duduk berhadapan, Billy mulai menyanyikan lagu ulang tahun untuk Erina. "Selamat ulang tahun! selamat ulang tahun! Bahagia, sejahtera, selamat ulang tahun." Erina pun meniup lilinnya, dan tiba tiba pandangannya pun tertunduk dan menangis, Billy meraih tangan Erina "Ada apa? Apa aku melakukan kesalahan lagi?" Erina pun menggelengkan kepalanya, "Kau tau? Aku sangat membenci hari ulang tahunku, karena tepat di hari ini, aku dibuang oleh orang tua kandungku sendiri, dan Ibu Ariana lah yang memungut ku dan merawatku dengan baik, dan tepat di hari ini juga, Aku kehilangan kedua orang tua angkat ku karena kecelakaan pesawat, Aku selalu merasa menjadi pembawa sial untuk orang orang yang aku sayang." Erina pun menangis tersedu sedu, Billy yang tidak pernah tau jika Erina mengalami semua itu tidak bisa berkata apa apa, ia pun menghampiri Erina dan memeluknya erat, Dan Tangisan Erina pun pecah sejadi jadinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD