Keras kepala

2186 Words
Pagi ini Erina terbangun oleh suara notifikasi pesan dari ponselnya, dengan mata yang masih mengantuk ia meraih ponsel yang terletak di sampingnya, Erina pun mencoba untuk memfokuskan pandangannya dan melihat nama Billy tertera di  layar ponselnya. Erina pun membuka pesan tersebut ‘Selamat Pagi Istriku tersayang, temui aku di atap kedai kopi sekarang' Erina terlihat sedikit memiringkan kepalanya dan berpikir sejenak, 'Untuk apa dia menyuruhku ke sana? Dasar, ada ada saja!' Batin nya. Erina pun bergegas pergi ke tempat yang Billy maksud, Tanpa mengganti pakaian tidurnya, ia hanya mencuci wajahnya dan memakai jaket. Erina yang sudah tiba di depan kedai kopi mematung sejenak dan melihat ke sekeliling. "Bagaimana caranya aku bisa ke atas sana? Kedai ini masih tutup karena ini masih terlalu pagi," Gumam Erina Erina pun mencoba menyusuri tempat itu, hingga ia menemukan sebuah pintu terbuka yang berada di belakang kedai tersebut. "Apa lewat sini bisa?" Gumamnya. Dengan langkah ragu, Erina pun melangkah masuk. Setibanya di atap kedai, Erina melihat sosok seorang pria yang tengah melihat pemandangan di hadapannya, Erina pun tersenyum dan menghampirinya "Untuk apa kau memintaku kemari?" Tanya Erina. Pria itu pun membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Erina, ia pun mengukir senyuman saat melihat sang istri berjalan ke arahnya. "Aku senang kau kesini," Ucap Billy. Billy pun langsung memeluk erat Erina yang sudah berada di hadapannya. "Kau tidak tau, bagaimana aku sangat merindukanmu, sampai rasanya aku mau mati saja!" Imbuh Billy Erina pun melepas pelukan Billy dan menatap matanya lekat "Jangan sembarangan bicara! Kau tau kan kalau kau sebentar lagi akan bertunangan!" Billy pun kembali memeluk Erina dari belakang, "Hey, Kau tau kan itu bukan keinginanku! Bagiku, memilikimu sebagai istriku itu sudah lebih cukup untukku, di hati ini tidak ada lagi tempat untuk orang lain selain hanya untukmu!"  "Sejak kapan kamu pintar merayu? Apa kau ingat? Dulu, kau selalu bersikap seperti es kutub padaku!" Ucap Erina dengan sedikit memanyunkan bibirnya Billy tersenyum mendengar perkataan Erina "Iya, tapi es kutub itu sekarang sudah bertemu cahayanya yang membuatnya cair dan hangat seperti cahaya matahari." Erina tertawa mendengar ucapan Billy, "Apa kau sedang membuat sebuah puisi?" "Iya, Apa menurutmu itu tidak cukup romantis?" "Tidak!" Mereka pun tertawa bersama, **** Setelah Billy bertemu dengan Erina, Billy seolah mendapat baterai yang baru, ia terlihat sangat bersemangat dan terus tersenyum. "Selamat pagi Bu!" Sapa Billy. "Selamat pagi Nak! Kau darimana pagi pagi begini?" Tanya Diana menatap heran Billy. "Emm, Aku hanya menghirup udara pagi," Diana pun mengangguk pelan, Billy terlihat lahap menikmati sarapan paginya, dan membuat Diana terheran heran, Namun Diana tidak ingin ambil pusing. "Billy, Hari ini temui lah Amanda," "Untuk Apa?" Tanya Billy yang masih mengunyah makanannya "Amanda sudah membeli cincin untuk pertunangan kalian, Dan kau harus mencobanya terlebih dahulu jangan sampai di acara nanti cincin itu malah bermasalah!" "Baik," Billy pun berpamitan dan melangkah pergi menuju ke kantornya. Diana masih menatap heran ke arah Billy yang terus melangkah menjauh hingga menghilang dari hadapannya. "Anak itu, Apa dia sudah mulai jatuh hati pada amanda?" Gumam Diana. **** Di jam makan siang, Billy langsung berangkat menuju Restoran untuk menemui Amanda, meski sebenarnya yang ingin Billy lihat adalah Erina. Namun, Billy dikejutkan dengan kehadiran seseorang yang menjadi penyebab rumah tangganya hancur, Ia melihat Ryan yang tengah duduk di salah satu kursi, terlihat wajah kesal Billy, ia mengepalkan tangannya dan menghampiri Ryan, "Darimana kau tau Erina ada disini?" Tanya Billy "Itu mudah, Aku hanya tinggal melacak keberadaannya lewat ponselmu!" Billy sangat terkejut mendengar pengakuan Ryan "Kau menyadap ponselku?" Ryan pun hanya mengangkat kedua bahunya. Tiba tiba Amanda yang tidak sengaja melihat Billy yang tengah mengobrol dengan Ryan pun datang menghampiri mereka, "Hey, Apa kalian saling kenal?" Tanya Amanda. "Tentu, kami rekan kerja!" Jawab Ryan ramah. "Wah? Benarkah?" Amanda pun menggandeng lengan Billy, "Kenalkan, Aku calon tunangan Billy!" Ryan terlihat syok mendengar pengakuan Amanda, namun ia berusaha untuk tetap tenang "Tunangan? Oh, kalau begitu, selamat untuk kalian!" Ucap Ryan. "Terima kasih, Oh ya, Apa kau kesini untuk menemui Erina?" Tanya Amanda. Billy pun menatap ke arah Amanda, "Apa? Bukankah dia itu pria yang batal menikah dengan Erina?"  "Siapa yang mengatakan itu?" Tanya Billy "Tentu saja Erina sendiri yang mengatakannya," Billy yang merasa kesal pun akhirnya melepas kasar pegangan amanda dan melangkah pergi. "Kenapa dia?" Tanya Amanda heran. Ryan pun hanya mengukir senyuman di ujung bibirnya. **** Billy yang merasa kesal, mencoba untuk menghubungi Erina yang sedang mencuci piring di belakang. Beberapa kali panggilan darinya tidak diangkat, Billy pun nekad untuk menemui Erina diam diam di belakang restoran dengan memakai topi dan masker dan membalik kan jaketnya, karena ia tidak mau ada yang mengenalinya. Billy yang mengendap endap di luar, mendapati Erina yang tengah sibuk mencuci piring, ia pun mencoba untuk memanggilnya, “Psstt! Erina!” panggilnya dengan suara pelan. Namun, Erina tidak mendengar panggilan Billy. Billy pun mencari cara lain untuk membuat Erina menoleh ke arahnya, Ia mengambil sebuah kerikil kecil dan melemparkannya ke arah Erina. Kerikil itu tepat mengenai kepala Erina, “Aw!” Ringis Erina, “Siapa yang melempar kerikil ini?” Gumam Erina yang menemukan sebuah kerikil dekat kakinya. Erina melihat ke arah sekeliling dan mendapati seseorang yang terlihat celingak celinguk, Erina yang merasa curiga akhirnya memutuskan untuk menghampiri pria itu dengan membawa sebuah panci berukuran sedang untuk senjata. Tanpa sepengetahuan pria itu, Erina kini berada di belakang pria itu.  Erina memukul pria itu dengan panci, “Aww!” Ringis Pria itu sambil memegang kepalanya “Apa yang kau lakukan?” Tanya Billy “Seharusnya aku yang menanyakan itu! Eh?” Erina tiba tiba terhenti, “Suara itu seperti,” Erina pun membuka masker yang digunakan oleh pria itu. “Billy?” Billy terlihat kesal, Erina pun meminta maaf karena sudah memukulnya dengan panci. “Maafkan aku, aku tidak tau jika itu kau!” “Seharusnya kau melihat dulu siapa yang kau pukul,” Erina yang tidak mau kalah pun menjawab “Seharusnya kau juga tidak boleh melemparku dengan batu itu!” “Baiklah, kita seri!” “Ada apa kau ke sini?” Billy pun kembali memasang raut wajah kesalnya, teringat dengan perkataan Amanda “Apa benar, kau mengatakan pada Amanda jika kau batal menikah dengan Ryan?” “Iya!” “Kenapa kau berkata begitu? padahal kan kau tinggal mengatakan yang sebenarnya!” “Apa yang kau katakan? kau mau pertunanganmu batal?” “biar saja! Lagipula, aku sudah memiliki seorang istri tidak seharusnya aku bertunangan!” “Apa kau sudah tidak waras? Apa kau ingin ibu semakin membenciku? kau ingin kita tidak pernah bertemu lagi?” Billy pun terdiam.. “Maaf jika terlalu kasar, tapi bagiku seperti ini saja sudah cukup membahagiakan!” Erina pun hendak melangkah pergi namun langkahnya tertahan oleh ucapan Billy “Aku ingin hubungan kita diketahui semua orang, jika perlu meski ibu akan tidak menyukainya, aku akan tetap memberitahunya cepat atau lambat! Aku tidak ingin menikah lagi dengan siapapun, karena bagiku kau tetap istri sahku satu satunya!” Setelah erina mendengar itu, Ia kemudian melanjutkan langkahnya. **** Erina kembali mengerjakan pekerjaannya di dapur, dengan sedikit menahan air mata, “Erina?” panggil seseorang, Erina pun membalikkan tubuhnya dan mendapati Ryan di muka pintu. “Kakak?” **** Erina dan Ryan duduk di salah satu meja restoran, “darimana kakak tau aku ada disini?” Ryan pun tersenyum, “Aku tau dari Billy,” Erina pun terdiam, “Erina?” “Hm?” “Aku ingin meminta maaf atas kejadian waktu itu, aku tidak tahu jika…” Ucap Ryan terpotong “Tidak apa kak, lagipula cepat atau lambat ibu pasti tau,” Jawab Erina. Ryan pun tersenyum dan sedikit menganggukkan kepalanya. Dilain sisi, Billy yang kembali ke restoran dan duduk bersama Amanda, mereka memperhatikan Ryan dan Erina dari kejauhan. “Bukankah mereka romantis sekali? Ryan ingin meminta maaf atas kesalahannya pada Erina, Aku harap Erina mau memaafkan Ryan, dan kembali menerima Ryan.” Billy yang merasa cemburu melihat pemandangan di hadapannya itu langsung meneguk segelas air di depannya dalam satu tegukan, sedangkan Amanda hanya menatap heran ke arah Billy yang berperilaku aneh menurutnya. “Kau kenapa, Apa kau sedang haus?” tanya Amanda. Billy tidak menjawab pertanyaan dari Amanda. Billy pun mengirim pesan pada Erina ‘Disini udaranya sangat panas! Ambilkan aku segelas air!’ Erina yang melihat isi pesan dari Billy hanya membaca pesan tersebut tanpa membalasnya. ‘Dia mengabaikanku! Awas ya!’ Batin Billy. **** Malam hari, setelah restoran tutup Erina pun masuk ke dalam gudang untuk beristirahat, baru hitungan detik ia merebahkan tubuhnya diatas alas tidurnya, ia mendengar suara ketukan pintu, seketika Erina terkejut karena di restoran tidak ada siapapun selain dirinya. Dengan langkah perlahan Erina menghampiri jendela dan melihat sedikit ke arah luar, namun ia tidak melihat  siapapun disana, Erina pun mulai merinding, Dan suara ketukan pintu itu pun kembali terdengar. Erina memberanikan diri untuk membuka pintunya, Dengan sebuah sapu di tangannya yang digunakan sebagai senjata. Erina pun membuka pintu dan siap memukul siapapun disana, tiba tiba.. “‘Eh, Eh, Ini Aku!” Suara yang sudah tidak asing itu membuat Erina membuka matanya. “B-Billy? Apa yang kau lakukan disini malam malam begini? Bagaimana jika Bos tau?” Billy pun melangkah masuk ke dalam gudang dan menutup pintunya. “Biarkan saja Amanda tau, Aku bosan harus terus menyembunyikan hubungan kita di hadapannya.” Ucap Billy sambil melangkah mendekat ke arah Erina. “Jangan gila kau!” Billy tiba tiba membuka jaketnya, “Aku memang sudah gila karena mu istriku!” Namun saat Billy akan memeluk Erina, ia tiba tiba jatuh pingsan di hadapan Erina. Erina yang panik pun, membopong Billy ke alas tidurnya, dan menyentuh kening Billy karena wajah Billy yang terlihat memerah. “Badannya panas sekali, kenapa kau ke sini dalam keadaan seperti ini?” Erina pun mengambilkan air hangat dan kain untuk digunakan mengompres Billy, Erina melepas kemeja Billy, bahkan ia tidak tidur semalaman karena menjaga Billy. Hingga pagi Billy pun terbangun dan mendapati Erina yang tidur sambil terduduk di sampingnya, Ia tersenyum, dan mencoba untuk bangun. “Kasihan sekali, kamu pasti tidak tidur semalaman.” Billy mengelus lembut pipi Erina, dan membuat Erina terbangun. “Oh, Maaf sudah membangunkanmu!” “Tidak apa, bagaimana keadaanmu?”” “Sudah lebih baik,” “Kenapa kau bisa seperti semalam? Apa kau telat makan lagi?’’ Billy pun tersenyum dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal Erina menatap dalam ke arah Billy, “Aku mohon, jaga kesehatanmu! Semalam kau membuatku hampir mati karena ketakutan!” Billy pun mengelus lembut wajah Erina, “Maaf sudah membuatmu khawatir, Aku hanya merasa sangat cemburu melihatmu bersama Ryan, dan mengabaikan pesanku, Aku jadi tidak berselera untuk makan.” Jelas Billy “Jangan seperti itu! kau tau kan penyakitmu itu tidak bisa dibawa main main! lagipula, aku hanya mengobrol dengannya tidak lebih,” Billy Pun menatap  dalam Erina, “Jangan membuatku merasa cemburu lagi,” Erina tersenyum manis… **** Setelah merasa Baikan Billy pun memutuskan untuk pulang ke rumah dan melanjutkan istirahatnya, “Kenapa kau baru pulang?” Tanya Diana “Emm, Billy lembur di kantor bu.” Billy pun melangkah masuk kedalam kamarnya, Senyuman manis Erina terus saja berputar di otaknya, Hingga Billy terlihat seperti orang gila yang terus tersenyum sendiri. “Tok tok tok” Terdengar suara pintu yang diketuk dari luar, Billy pun membuka pintu, “Ibu?” “Billy, Katakan, Apa yang membuatmu terlihat sangat bahagia akhir akhir ini?” Tanya diana tiba tiba. Billy terlihat sedikit gugup menjawab pertanyaan sang ibu “Tidak apa apa bu,’’ Diana pun menghela nafas kasar, “Baiklah, Kalau kau tidak mau mengatakannya, oh ya! Pertunanganmu akan dilaksanakan minggu depan.” **** “A-Apa, Minggu depan?” Erina terlihat syok saat mendengar ucapan dari Amanda. “Iya, karena itu aku memintamu untuk menjadi salah seorang pelayan yang akan menyajikan makanannya,” “B-Baik,” Amanda pun melangkah pergi meninggalkan Erina yang mematung. **** Semenjak itu, Erina mencoba untuk menghindari Billy. "Issh, Kenapa akhir akhir ini, Erina sulit ditemui bahkan untuk sekedar di telepon saja sulit," Gerutu Billy Billy yang kesulitan untuk menghubungi Erina, Ia nekad untuk menghampiri Erina yang tengah sibuk di dapur, lalu menarik tangannya dan membawa Erina pergi ke sebuah taman. “Apa yang kau lakukan? Aku bisa kena marah Amanda!” Bentak Erina “Jika Amanda memarahimu! Aku yang akan memberitahunya jika aku membawamu!” “Apa kau sudah kehilangan akalmu? Itu akan membuat ibu tau!” “Lalu kenapa? Aku sudah tidak peduli dengan semuanya, yang aku inginkan saat ini hanyalah dirimu! Ayo, Kita temui ibu, agar ibu membatalkan semuanya,” Ketika Billy menarik tangan Erina, Erina hanya terdiam, “Tidak! Aku tidak ingin menjadi egois dengan menghancurkan hati ibu dan Amanda!” Billy pun menghela nafas kasar, “Lalu,  bagaimana denganku? Kau tega mengorbankan perasaanku dan juga cinta kita?” Erina hanya terdiam.. “Aku bisa gila, jika terus seperti ini!” Tiba tiba Erina pun berlutut menatap ke arah Billy, “Aku mohon, jangan menghancurkan hati ibu, Aku tau bagaimana rasanya tidak memiliki seorang ibu, Jangan korbankan ibu hanya untuk orang asing sepertiku!” tak terasa air mata itu pun lolos membasahi pipi Erina, Billy yang tidak sanggup melihat gadis yang ia cintai menangis itu pun, akhirnya mengalah dan menuruti permintaan Erina dengan syarat mereka akan tetap berhubungan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD