Kembalinya sang mantan

1430 Words
Jam makan siang pun tiba, Erina diantar Ryan pergi ke kantor Billy untuk mengantarkan makan siang, sepanjang perjalanan Ryan dan Erina bercerita banyak dan tertawa bersama. Erina terlihat nyaman bersama Ryan begitupun sebaliknya. "Kau mau ikut?" Ajak Erina pada Ryan. Ryan pun tersenyum dan menggeleng pelan "Tidak, Aku akan menunggu disini." "Baiklah kalau begitu," Erina pun melangkah pergi menuju ke kantor Billy. Setibanya di depan ruangan Billy, Erina pun langsung masuk. Namun, Erina tidak pernah menyangka ia akan melihat pemandangan yang sama sekali tidak ingin ia lihat. Erina melihat Billy yang sedang berpelukan dengan wanita lain di ruangannya. Paper bag yang berisi kotak makanan untuk Billy pun langsung terjatuh begitu saja dan berhamburan. Billy yang melihat kedatangan Erina pun bersikap biasa saja, dan tidak ada raut wajah bersalah. Billy melepas pelukannya dan menatap ke arah Erina, "Ada apa?" Tanya sinis Billy. Tanpa berkata apapun, Erina pergi dengan langkah yang cepat dan matanya yang memerah menahan tangis. Setibanya di parkiran, Erina pun langsung masuk ke dalam mobil milik Ryan. Ryan yang melihat raut wajah Erina berbeda mencoba untuk bertanya "Ada apa? Apa sesuatu terjadi?" Erina tidak menjawab pertanyaan Ryan, "Ayo, kita pergi sekarang!" Ryan pun menuruti permintaan Erina. **** Sementara itu, Billy terlihat sangat marah pada wanita yang kini berada di hadapannya, dengan tatapan sinis, Billy terus mencoba untuk mengusir wanita itu, namun wanita itu justru semakin menggila. "Sampai kapanpun, Aku tidak akan pernah melepaskanmu!" Teriak wanita tersebut yang nyatanya adalah mantan kekasih Billy. "Aku tidak punya waktu untuk wanita sepertimu!" "Aku bisa melihat kau sama sekali tidak mencintai gadis itu! Buktinya, kamu tidak mengejarnya saat dia melihat kita berpelukan! Dan aku tau, kau melakukan semuanya ini hanya untuk membuatku cemburu bukan?" "Apa Yang kau bicarakan?"  Lisa yang semakin diluar kendali terus saja memaksa Billy untuk kembali padanya, Billy pun meminta bantuan keamanan untuk menarik Lisa keluar dari ruangannya. Setelah Billy berhasil mengusir Lisa, Billy pun terduduk dan memijit pelipisnya pelan, ia merasa sedikit stress dengan apa yang terjadi. "Apa Erina baik baik saja?" Gumamnya. **** Sepanjang perjalanan Erina hanya diam dan terlihat melamun. Ryan pun mengajak Erina ke pantai, setibanya di pantai, Ryan mencoba untuk kembali mengajak bicara Erina. "Kau tau? Jika aku merasa sedih, Aku selalu datang kemari, disini setidaknya kau bisa berteriak sekeras mungkin tanpa khawatir ada orang lain yang mendengarnya!" Ungkap Ryan sambil tersenyum. Erina pun terdiam dan menatap ke arah Ryan. "Cobalah!" Erina pun melangkah lebih dekat di bibir pantai dan menarik nafas dalam "Aaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!" Teriak Erina, Erina pun tiba tiba terduduk lemas dan menangis, Ryan menghampiri Erina dan merangkul bahu Erina. Erina pun menatap lekat ke arah Ryan "Aku tidak tahan lagi, ini terlalu melelahkan!" Ucap Erina yang terus menangis. Ryan pun menarik Erina ke dalam pelukannya dan mencoba untuk menguatkannya. "Menangislah! Selama yang kau mau, Aku akan menemani mu!" Tangisan Erina pun semakin keras.. **** Malam hari pun tiba… Erina baru saja sampai di rumahnya, ia disambut oleh wajah datar dan dingin Billy yang sudah menunggunya di luar sedari tadi. "Kenapa baru pulang?" Tanya Billy. Erina terlihat sedikit ketakutan "M-maaf, T-tadi …" Belum selesai ucapan Erina, Billy langsung menarik kasar tangannya masuk ke dalam rumah, Ryan yang melihat perlakuan Billy pun mengikuti langkah mereka. "Bil! Billy!" Panggil Ryan Billy pun membalikkan badannya dan melihat ke arah Ryan. "Jangan pernah bersikap kasar seperti itu pada Erina!" Ucap Ryan penuh penekanan. Billy pun berdecak kesal "Huh! Kenapa? Kau sama sekali tidak punya hak disini! Dia adalah istriku, jadi aku lebih berhak atasnya dari pada kamu!" "Apa kau lupa? Kau selalu bilang jika pernikahan kalian hanyalah berpura pura, itu artinya kamu tidak punya hak apapun pada Erina!" Billy pun tertawa mendengarnya. "Sepertinya, temanku ini sudah mulai jatuh cinta pada istri sahabatnya?" Sindir Billy. "Aku…." Ucap Ryan terpotong dengan perkataan Erina. Erina yang merasa terganggu dengan pertengkaran mereka pun angkat suara "Berhenti!! Kenapa Kalian bertengkar tidak jelas seperti ini? Tuan muda, Apa yang Kak Ryan katakan itu benar! Anda tidak punya hak apapun atas diri saya!" Tegas Erina. Erina pun melangkah pergi ke kamarnya meninggalkan mereka berdua, "Kau dengar itu?" Tanya Ryan diiringi senyuman sinis nya, Ryan pun melangkah pergi meninggalkan Billy. Billy hanya menatap kesal, dan mengepalkan tangannya kuat kuat. **** Beberapa hari kemudian, Pagi sekali Diana, Ibu Billy datang untuk mengunjungi putra dan menantunya tanpa memberi tau pada mereka. Perlahan Diana pun melangkah memasuki kamar Erina, untuk membuat kejutan pada Erina dan Billy. Namun, alih alih memberi kejutan pada mereka, Diana justru dikejutkan karena  mendapati Erina yang tertidur sendirian di kamarnya. "Eh? Kenapa Erina tidur sendirian?" Diana pun mencari cari keberadaan Billy di kamar mandi, namun ia tidak mendapati Billy disana. "Apa mungkin?" Diana pun kembali melangkah menuju ke kamar Billy. Dan benar saja, Diana melihat Billy yang masih terbalut dengan selimut di atas kasurnya. Raut wajah Diana pun berubah menjadi kesal "Apa apaan ini?" Diana pun menarik selimut Billy dan membangunkan Billy. "Billy, bangun! Ibu ingin bicara denganmu!" Teriak Diana. Diana tidak pernah merasa semarah ini pada putranya sebelumnya. Billy yang menyadari kehadiran ibu nya pun langsung terbangun. "I-ibu?" Diana pun menatap tajam Billy, "Ibu akan menunggumu di bawah!" Diana pun melangkah pergi dan menunggu Billy di ruang keluarga. **** Setelah 20 menit menunggu, Billy pun datang dan duduk berhadapan dengan sang Ibu. "Sejak kapan? Kalian tidur terpisah?" Tanya Diana dengan raut wajah kesalnya. Billy pun terlihat gugup dan kebingungan bagaimana untuk menjawab pertanyaan ibunya. "Katakan!" Teriak sang Ibu. "Sejak, awal pernikahan kami." Jawab Billy. "A-apa?"  Diana sangat syok mendengar jawaban dari Billy. "Tapi Kenapa? Bukankah kalian saling mencintai? Lalu, Kenapa kalian tidur terpisah?" Tanya Diana bertubi tubi. Billy pun terdiam, dan mengusap wajahnya kasar. Mungkin inilah waktu yang tepat untuk jujur pikir Billy. "Sebenarnya, Pernikahan ini hanyalah pura pura bu! Karena persyaratan dari ayah dan ibu, agar Billy bisa memiliki perusahaan itu, Billy akhirnya memutuskan untuk membeli Erina." Mata Diana pun membulat sempurna saat mendengar pengakuan dari Billy. Hingga tiba tiba d**a Diana terasa sakit dan perih, diana pun kehilangan keseimbangan dan jatuh pingsan. Billy yang merasa panik luar biasa pun membawa Diana ke rumah sakit, "Bu, maaf!" Lirih Billy sambil menggenggam tangan Diana. Tiba tiba tangan diana pun lemas, dan detak jantungnya pun berhenti. "Bu! Ibu!!!" Teriak Billy. Billy langsung terperanjat bangun, dengan nafas terengah engah dan keringat yang banyak keluar, Billy baru menyadari jika semua itu hanyalah mimpi. Billy pun mengusap wajah nya kasar. Rasa takut itu pun menghantui Billy. Tiba tiba terdengar suara ketukan pintu dari arah luar "Tok tok tok" Billy pun membukakan pintu kamarnya, nampak Erina yang berdiri di hadapannya. "Ada apa? Aku mendengar suara teriakan, Apa kau tidak apa apa?" Tanya Erina khawatir  "Tidak apa apa! Aku hanya bermimpi buruk." Jawab Billy. "Begitu ya? Ya sudah, aku akan kembali ke kamarku." Erina pun hendak melangkah pergi, namun tangannya tertahan "Tunggu," Erina pun berpaling ke arah Billy. "Em, B-bisakah kau menemaniku? A-aku sedang ingin ditemani." Pinta Billy. Erina pun terdiam sejenak "Apa kau barusan bermimpi buruk, Tuan?" Billy pun mengangguk pelan. 'Sebenarnya, aku masih marah dengan kejadian tadi siang, tapi.. Tuan muda sepertinya sedang banyak masalah.' Batin Erina. Erina pun mengangguk pelan menyetujui permintaan Billy. Erina memilih tidur di atas sofa, sedangkan Billy diatas kasur. Karena kelelahan, Erina cepat tertidur. Melihat Erina yang tidak memakai selimut, Billy pun menyelimuti Erina dengan selimut miliknya. **** Keesokkan harinya, Di pagi hari yang tenang, tiba tiba Billy samar samar mendengar suara teriakan dari lantai bawah. "Billy putraku! Erina menantuku!" Teriak Diana tersenyum senang. Billy pun mematung sejenak. "Ibu?" Billy yang menyadari sang ibu benar benar datang, ia pun langsung memangku Erina yang masih tertidur di sofa ke atas kasurnya, tanpa sengaja kepala Billy terbentur dengan kepala Erina saat Billy akan membaringkan Erina di kasur, Sontak Erina pun terbangun dan terkejut mendapati Billy yang tiba tiba berada diatasnya. "Aww," "Apa yang sedang Tuan lakukan?" Billy langsung menutup mulut Erina dengan meletakkan jari telunjuknya di bibir Erina. "Ssttt,"  "Ibu baru saja datang, Aku tidak ingin dia melihat kita tidur terpisah! Bisa bisa sandiwara ini akan terbongkar! Jadi, diamlah, dan ikuti apa yang aku katakan," Erina pun mengangguk paham, dan Billy pun pura pura tertidur kembali dengan memeluk Erina erat, Sedangkan Erina merasa gugup karena ia belum pernah sedekat itu dengan Billy, Erina pun mencoba untuk membalas pelukan Billy dengan sedikit keraguan, Billy takut jika sandiwaranya terbongkar dan ketakutannya kehilangan Diana menjadi kenyataan. Kemudian Diana yang langsung datang ke kamar Billy, mendapati Billy yang masih tertidur bersama Erina, Diana pun tersenyum dan kembali menutup pintunya pelan. "Ah, kasihan mereka jika dibangunkan! Lebih baik aku siapkan sarapan untuk mereka, lagipula ini weekend jadi biarkan saja mereka tidur lebih lama." Gumam Diana. Diana pun melangkah menuju dapur..
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD