Hari ini, Erina dalam perjalanan menuju sekolah lamanya, ia diantar oleh Diana untuk kembali mengikuti pembelajaran di sekolah, Erina meminta pada Diana agar ia bisa bersekolah di sekolah yang lama agar ia tidak perlu lagi beradaptasi dengan lingkungan baru, meski Erina tau jika itu akan membuatnya terkena masalah besar jika teman temannya mengetahui tentang hubungannya dengan Billy, tapi ia tidak ingin memikirkan hal itu, ia hanya ingin benar benar bersekolah dan lulus dengan nilai yang bagus.
Diana menjadi wali dari Erina, dan menjelaskan tentang alasan Erina cuti selama beberapa bulan ini, pihak sekolah pun merespon baik dan memperbolehkan Erina kembali melanjutkan pendidikannya di sekolah tersebut.
Erina pun akan mulai belajar Setelah pernikahannya selesai dilaksanakan.
"Terima kasih, Ibu."
Diana pun memeluk erat Erina diiringi senyuman hangat seorang ibu.
"Kau adalah putriku, anggap aku seperti ibumu! Jangan pernah sungkan untuk mengatakan segalanya pada ibu."
Tak terasa buliran bening itu pun tiba tiba mengalir membasahi pipi Erina, sejak orang tua angkatnya meninggal Erina belum pernah lagi merasakan hangatnya pelukan seorang ibu, terlebih sejak bayi Erina belum pernah merasakan pelukan seperti itu. Diana pun melepaskan pelukannya dan menghapus lembut air mata Erina.
Erina pun tersenyum memandang wajah Diana yang begitu tulus menyayanginya.
****
Persiapan pernikahan telah selesai, Hari pernikahan pun tiba, Billy terlihat sangat tampan dan mempesona dengan setelan jas hitam pernikahannya, begitupun dengan Erina yang sangat cantik dengan gaun pernikahannya yang berwarna putih dan dipenuhi dengan payet hingga terlihat berkilauan.
Pernikahan berjalan dengan lancar dan senyuman itu tidak pernah luntur dari wajah kedua orang tua Billy.
Pesta pernikahan yang diadakan di outdoor ini terlihat mewah dan meriah.
Billy dan Erina pun telah resmi menjadi sepasang suami istri.
"Selamat ya nak! Ibu ikut bahagia untuk kalian," Ucap Diana memeluk Erina
"Terima kasih bu." Jawab Erina diiringi senyuman manisnya
Diana pun memberikan Erina sebuah paper bag berukuran sedang, dan Erina menatap heran pada Diana.
"Ini, Apa bu?" Tanya Erina
Diana pun tersenyum
"Ini adalah hadiah kecil dari ibu, Ini seperti senjata para istri untuk suaminya."
"S-senjata?"
Diana pun mengangguk pelan seraya tersenyum penuh arti.
'Apa maksudnya?' Batin Erina.
Diana pun meraih kedua tangan Erina dan menyerahkan paper bag tersebut ke tangan Erina, Erina pun menerimanya dengan perasaan ragu.
Erina hanya tersenyum canggung saat menerima hadiah itu, tiba-tiba datanglah Ryan dengan senyuman manisnya menghampiri Erina.
Ia mengulurkan tangannya
"Selamat! Kalian sudah resmi menjadi suami istri!" Ucap Ryan.
Erina pun menyambut uluran tangannya dan hanya tersenyum tanpa mengeluarkan kata kata.
****
Semua orang berbahagia di pesta ini, namun raut wajah Erina menunjukkan sebaliknya, Erina hanya terduduk di kursinya dan menatap semua orang yang sedang berpesta dan tertawa.
Erina pun menarik nafas panjang,
"Ada apa?"
Pandangan Erina pun teralihkan oleh ucapan Billy yang tiba tiba berada di hadapannya.
"Tidak ada," Jawab singkat Erina.
Billy pun merangkul bahu Erina dan membuat Erina terkejut dengan sikapnya.
Erina merasa risih dan mencoba untuk melepaskan tangan Billy yang berada di bahu kanannya.
Billy yang menyadari itu pun menatap lebih dekat pada Erina
Pandangan mereka pun bertemu
"Jangan menunjukkan kesedihanmu seperti itu, sekarang aku adalah suamimu, setidaknya tersenyumlah jangan membuatku merasa bersalah! Atau kau ingin aku buat jatuh cinta padaku?"
'Degh'
Ucapan Billy membuat Erina merasa canggung dan Erina pun mengalihkan pembicaraan
"Em, A-aku pamit pergi ke toilet," Gugup Erina.
Ketika Erina hendak berdiri, ia tidak sengaja menginjak gaunnya sendiri hingga ia hampir saja terjatuh, namun Billy dengan sigap menangkap tubuh Erina yang hampir terjatuh. Refleks tangan Billy pun melingkar di pinggang ramping Erina, dengan pandangan mereka yang kembali bertemu, Sejenak mereka mematung.
Para tamu dan orang tua Billy yang melihat kejadian tersebut pun menyoraki mereka, Hingga mereka pun tersadar dan kembali berdiri dengan benar.
"Haa… mereka romantis sekali, aku jadi ingin kembali ke masa lalu saat aku menikah," Celetuk Diana
William pun menatap ke arah Diana
"Kau ingin menikah lagi?"
Raut wajah diana pun berubah kesal
"Kau ini! Sudahlah!"
Para tamu pun meminta Billy untuk berdansa dengan Erina, begitupun dengan kedua orang tua Billy yang memaksa mereka untuk berdansa romantis, namun mereka berdua menolaknya.
Tiba tiba Ryan pun menghampiri Erina dan berlutut mengajak Erina untuk berdansa, sontak semua perhatian pun tertuju pada Ryan dan Erina, terdengar suara bisik bisik para tamu yang melihat Ryan mengajak Erina untuk berdansa. Tanpa mendengar mereka, Erina pun menyambut uluran tangan Ryan dan mereka pun berdansa, seolah mereka adalah pasangan.
"Kau terlihat sangat cantik hari ini!" Ujar Ryan sambil terus berdansa
"Terima kasih."
"Tersenyumlah, Jangan biarkan wajah cantik itu berubah menjadi wajah yang kelam, aku tau kau adalah gadis yang kuat, Aku akan slalu ada untukmu kapanpun kau membutuhkanku."
Erina pun tersenyum mendengar perkataan Ryan.
Billy terlihat tidak menyukai pemandangan tersebut,
Tak lama kemudian, Ryan mengembalikan Erina pada Billy, Ryan membantu mengalungkan kedua tangan Erina ke leher Billy, dan kedua tangan Billy yang memegang pinggang ramping Erina.
"Maaf, sudah lebih dulu mengajaknya berdansa, semoga kau tidak keberatan."
Billy pun hanya tersenyum tipis, dan mulai berdansa dengan Erina.
Dengan alunan musik yang romantis, dan deru angin lembut membuat para tamu pun ikut berdansa dan tenggelam dalam suasana romantis.
****
Malam hari..
Setelah acara pernikahan selesai, mereka pun kembali ke rumah Billy.
Sedangkan kedua orang tua Billy memilih untuk kembali pulang ke rumah mereka.
"Lebih baik ayah dan ibu menginap di rumah saja, ini sudah malam,"
"Tidak apa apa nak, kami tidak ingin mengganggu malam pertama kalian," Ucap Diana menggoda Billy dan Erina.
Raut wajah Billy dan Erina pun seketika berubah menjadi memerah karena menahan malu.
Billy dan Erina pun saling menatap canggung.
****
Setibanya di rumah…
Billy dan Erina pun memasuki kamar masing masing, saat Erina selesai membersihkan dirinya pandangannya pun tertuju pada paper bag pemberian dari Diana yang terletak diatas kasur begitu saja.
Erina pun membuka paper bag tersebut, matanya berubah membulat sempurna saat ia melihat kado yang diberikan sang ibu mertua.
"A-apa ini?"
Rupanya Diana memberi kado sebuah baju tidur yang sangat pendek dan transparan untuk Erina.
Erina merasa merinding dan risih, Erina pun bergegas memasukkan baju tidur tersebut ke dalam paper bag lagi dan menyimpannya di dalam lemari.
"Apa apaan itu? Sudahlah! Lebih baik aku tidur!" Gerutu Erina.
Erina pun memutuskan untuk beristirahat.
Di lain sisi…
Billy sedang melamun menatap ke arah luar jendela, terbayang bagaimana wajah bahagia kedua orang tuanya yang melihatnya menikah dengan Erina, Ia juga melihat bagaimana kedua orang tuanya sangat menyayangi Erina,
Hujan pun perlahan turun dan membasahi jendela kamar Billy, Billy pun mengusap uap air yang tertempel di jendelanya.
"Maaf, sudah membohongi kalian." Ucap pelan Billy yang masih menatap ke arah luar jendela.
****
Keesokkan harinya…
Erina bangun pagi sekali untuk menyiapkan segala keperluan Billy untuk bekerja, setelah itu ia langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan.
Tak butuh waktu yang lama sarapan pun telah siap, Erina mencoba untuk memberitahu Billy dengan cara meneleponnya, karena ia tidak ingin insiden saat itu terulang lagi.
Beberapa kali Erina menelepon Billy, namun tidak ada jawaban dari Billy.
Hingga pada akhirnya Billy mengangkat teleponnya.
"Maaf Tuan, sarapan sudah siap!"
"Hmm!"
Telpon pun dimatikan sepihak, Erina yang merasa kesal dengan sikap Billy yang tiba tiba menutup telepon darinya pun menggerutu kesal
"Apa apaan dia itu? Tidak ada ucapan terima kasih atau apapun? Langsung dimatikan begitu saja!" Gumam Erina
Erina pun dikejutkan oleh suara seseorang yang tiba tiba berada di hadapannya.
"Selamat pagi!" Sapa Billy
Erina yang mengerjap karena terkejut pun menjadi salah tingkah karena Billy yang tiba tiba berada di hadapannya.
"S-selamat pagi T-tuan!"
Rupanya, Billy tengah berjalan menuju ruang makan saat Erina menghubunginya.
Erina pun melangkah terburu buru untuk mengambilkan makanan, hingga kakinya tersandung kaki meja dan..
"Brugghhh,"
Erina terjatuh cukup keras hingga lutut kakinya memerah dan mengeluarkan darah
"Aww.." Ringis Erina
Sedangkan Billy tidak menghiraukan Erina yang terjatuh dan hanya duduk memulai menikmati makanan yang tersaji.
Erina hanya menatap kesal ke arah Billy
'Dasar Kulkas! Apa dia tidak punya hati nurani? Melihat istrinya terjatuh bukannya dibantu malah dibiarkan seperti tidak melihat apapun! Menyebalkan!' Batin Erina.
Billy menyadari Erina yang tengah menggerutu pun menatap balik Erina.
"Kenapa? Kau ingin aku bantu untuk berdiri?" Tanya Billy dingin
Erina pun perlahan berdiri dan membersihkan pakaiannya
"Tidak perlu! Aku tidak butuh bantuan anda Tuan Muda!" Tegas Erina.
Billy pun kembali menikmati makanannya dengan santai, sedangkan Erina melangkah sedikit terpincang pincang menuju ke kamarnya.
Erina yang sedang mengobati lukanya tanpa ia sadari Billy sudah berada di muka pintu memperhatikannya.
"Aww.. Sakit sekali," Ringis Erina
Billy pun menghampirinya dan menarik pelan kaki kanan Erina,
Namun, Erina menarik kembali kakinya, dan Billy kembali menarik kaki kanan Erina ke pangkuannya, saat Erina akan menarik kakinya lagi, Billy menahannya dan menatap tajam Erina, Erina pun hanya tertunduk melihat tatapan tajam Billy, Billy pun membantu Erina mengobati lukanya, sedangkan Erina hanya menatap Billy.
Selesai mengobati luka, Billy yang hendak melangkah pergi pun tertahan sejenak oleh ucapan Erina.
"Terima kasih Tuan!"
Billy pun hanya terdiam dan melanjutkan langkahnya.
Erina pun menghela nafas panjang
"Untung saja aku sudah mulai terbiasa dengan sikap kulkasnya itu!" Ucap pelan Erina.
****
Billy terlihat sedang sibuk mengerjakan pekerjaannya yang sempat tertunda karena acara pernikahannya, dengan berkas berkas yang menumpuk di atas mejanya ia terlihat sangat serius, hingga konsentrasinya buyar karena ketukan pintu yang terdengar dari luar
"Masuk!"
Seorang pemuda pun masuk ke dalam ruangan milik Billy, dengan senyuman ramah nya ia menyapa Billy sambil menempatkan dirinya di kursi.
"Aku pikir, kau masih cuti! Bukankah kau baru saja menikah?" Tanya Ryan yang langsung duduk dihadapan Billy.
"Pekerjaanku masih banyak! Lagipula jangan menggodaku dengan mengatakan hal seperti itu! Bukankah kau tau jika semua itu hanya sandiwara!" Tukas Billy.
Ryan pun tersenyum dan menggeleng pelan, saat mendengar hal tersebut.
"Ada apa kau kesini?" Tanya Billy
Ryan pun terdiam untuk sejenak dengan nada ragu ia pun angkat suara
"Aku hanya ingin meminta izin, untuk membawa Erina berjalan jalan."
Seketika jari Billy yang sedang mengetik pun terhenti, ia merasa aneh karena permintaan Ryan, terlebih saat pesta pernikahannya kemarin, Ryan begitu berani mengajak Erina berdansa di hadapan semua orang, namun karena Billy tidak ingin Ryan berpikiran jika Billy cemburu padanya, Billy pun memberi izin Ryan untuk mengajak Erina pergi.
"Baiklah! Tapi saat aku pulang, dia sudah harus ada di rumah."
Ryan pun menyetujui permintaan Billy.
****
Ryan yang telah mengantongi izin dari Billy pun bergegas menuju rumah Billy, dengan wajahnya yang bersemangat dan senyuman yang terus berkembang.
Sesampainya di rumah Billy, Ryan pun mencari keberadaan Erina yang ternyata tengah berkebun di halaman belakang rumah.
Ryan menghampiri dan menutup kedua mata Erina dengan kedua tangannya
"Siapa?" Tanya Erina penasaran.
"Baru menikah sehari kau sudah melupakanku?" Goda Ryan dengan wajah cemberutnya yang menggemaskan.
Erina pun berbalik
"kak Ryan?"
Karena terlalu senang, refleks Erina langsung memeluk erat Ryan dan melompat kegirangan.
Ryan pun terlihat sedikit terkejut karena tingkah Erina, namun ia membalas pelukan Erina dan tersenyum senang melihat Erina.
Setelah beberapa saat Erina pun melepaskan pelukannya.
"Ada apa kemari?" Tanya Erina.
Ryan pun mencubit gemas hidung Erina seraya menjawab
"Aku ingin mengajakmu pergi,"
"Iih, sakit!"
Ryan pun hanya tertawa melihat reaksi manja Erina.
"Aku tidak bisa pergi sekarang, karena aku harus menyiapkan makan siang untuk Tuan!" Jelas Erina.
Raut wajah kecewa pun terlihat di wajah Ryan.
Erina yang menyadari itu pun langsung berkata
"Eh, tapi bagaimana jika pergi setelah aku mengantarkan makan siang untuk Tuan?"
Mendengar itu, Ryan pun mengangguk pelan.
"Aku akan membantumu memasak." Ucap Ryan.
Erina pun tersenyum melihat reaksi Ryan.
Mereka pun pergi ke supermarket bersama, karena bahan makanan di kulkas sudah tidak ada.
Beberapa bahan makanan Erina pilih dengan baik, beberapa jenis sayuran, daging dan beberapa bumbu yang telah habis pun ia beli untuk persediaan.
"Kau selalu berbelanja sendiri?" Tanya Ryan sambil mendorong troli belanjaan
"Emm, biasanya aku pergi bersama bibi."
"Bagaimana sekolahmu?"
"Aku akan mulai masuk minggu depan, tapi tentunya statusku sebagai istri Tuan muda harus disembunyikan sementara, tapi aku tidak masalah dengan hal itu, yang terpenting aku bisa kembali bersekolah dan lulus dengan nilai yang bagus, jadi jika aku sudah bercerai dengan Tuan muda nanti, aku bisa langsung mencari pekerjaan." Imbuh Erina
Mendengar jawaban Erina, Ryan pun menatap kagum sosok gadis berusia belasan yang kini berada di hadapannya.
****
Selesai berbelanja, Erina pun mulai memasak dibantu oleh Ryan.
Diselingi canda tawa, menyiapkan Makan siang menjadi sangat menyenangkan.