Insiden

1156 Words
"Erina, Apa kau tidak berniat untuk melanjutkan pendidikanmu?" Tanya Ryan "Sebenarnya, Aku ingin sekali menyelesaikan sekolahku, Ya.. Minimal sampai tingkat SMU, Tapi.. Aku rasa aku harus membuang keinginan itu jauh jauh! Walau bagaimanapun sekarang aku akan menjadi seorang istri." Terang Erina dengan mata berkaca kaca. Ryan yang menatap sendu Erina pun mencoba untuk menghiburnya. "Ya sudah! Tidak perlu dipikirkan lagi, Yang paling penting sekarang selesaikan saja kontrak mu dengan Billy, setelah itu kau bisa membuka lembaran baru dan mengejar cita citamu." Jelas Ryan. Erina pun hanya tersenyum miris mengingat nasibnya, Erina pun membayangkan seandainya kedua orang tua angkatnya masih ada mungkin kisahnya akan berbeda, batin Erina, tidak ada yang bisa ia lakukan untuk saat ini selain mengikuti permainan Billy. Jika ia mencoba lari pun, ia tidak tahu harus pergi kemana. **** Sore hari, Billy menjemput Erina untuk pergi ke butik tempat gaun pernikahan mereka dibuat, selama di perjalanan tidak ada obrolan apapun, Billy hanya beberapa kali menatap sekilas Erina melalui kaca spion mobil dan yang terlihat hanyalah wajah sendu Erina. Sesampainya di butik, Billy yang pertama mencoba jas pernikahannya, Billy langsung merasa puas dengan setelan jas hitam dan dasi panjang berwarna hitam pilihan Diana sang Ibu. Giliran Erina yang mencoba gaun pernikahannya, Diana memilihkan sebuah gaun pernikahan yang sederhana dan elegan, yang terlihat sangat cocok dipakai oleh Erina. Saat erina keluar untuk memperlihatkan gaun yang ia kenakan pada Billy, Billy pun seperti biasa hanya menunjukkan wajah datar dan dinginnya. "Apa gaun itu nyaman untukmu?" Erina pun mengangguk pelan. **** Hari berganti malam.. Billy pun memutuskan untuk langsung pulang karena Diana yang sudah menunggu di rumah. Setibanya di rumah.. Billy dan Erina yang belum sempat duduk pun dicecar pertanyaan oleh Diana. "Bagaimana fitting nya? Apa ada kekurangan dengan baju nya?" Tanya diana bertubi tubi Billy dan Erina pun tersenyum "Tidak bu, semuanya sempurna!" Jawab singkat Billy. Billy pun berpamitan untuk membersihkan dirinya dan mengganti pakaiannya, begitu pula dengan Erina. Namun, saat di kamar Billy justru hanya terduduk di birai kasur sedikit melamun, penampilan Erina yang memakai gaun pernikahan terus saja muncul di pikiran Billy. "Siall!! Ayo, lupakanlah!!" Ucap Billy sambil menggelengkan kepalanya cepat. Billy pun berdiri dan masuk ke kamar mandi, Setelah selesai mandi Billy baru menyadari jika ia melupakan handuknya yang tertinggal diatas kasur. "Ya ampun!! Aku lupa handuknya!" Gumam Billy. Billy yang tidak memiliki cara lain pun, akhirnya memilih untuk berteriak berharap sang ibu mendengarnya. "IBU!!!" Teriak Billy. Beberapa kali Billy berteriak, Sehingga akhirnya sang Ibu pun mendengar teriakan putranya begitupun dengan Erina. Diana yang tengah menata makanan diatas meja makan yang dibantu oleh Erina pun berkata sambil sedikit tertawa "Dia pasti melupakan handuknya, dasar anak itu! Sudah mau memiliki istri tapi Tetap saja penyakit lupanya itu tidak hilang!" Erina pun hanya tersenyum mendengar celotehan sang ibu mertua. Diana menatap ke arah Erina "Erina, bisakah kau berikan handuk itu pada Billy?" Erina pun sedikit terkejut mendengar permintaan diana. "A-aku?" "Kenapa? Beberapa hari lagi kalian akan resmi menjadi suami istri, jadi tidak apa kan?" Erina pun tergugu "Tidak apa apa, sudah sana!" Ucap Diana sedikit mendorong tubuh Erina. Erina pun melangkah ragu menuju ke kamar Billy. Setibanya di kamar Billy, Erina pun mengambil handuk berwarna Krem tersebut dan hendak memberikannya pada Billy. Namun, pada saat langkahnya semakin dekat ke arah depan pintu kamar mandi tiba tiba pintu kamar mandi itu pun terbuka menampakkan Billy yang hendak melangkah keluar dan hanya menggunakan handuk kecil untuk menutupi bagian tertentu. Billy dan Erina pun sama sama terkejut dan berteriak "Arrgghh!!!" Erina langsung refleks melemparkan handuk yang berada di tangannya ke arah wajah Billy dan berlari pergi. Dengan wajah panik dan nafas terengah engah Erina menghampiri diana yang baru saja selesai menata makanan, Diana mengerutkan dahinya saat melihat Erina yang datang dengan berlari dan wajahnya yang panik. "Ada apa?" Tanya Diana heran Sambil mengatur nafasnya, Erina mencoba untuk menjawab pertanyaan Diana "A-aku tidak apa apa," Gugup Erina Diana pun meminta Erina untuk duduk dan memberikan Erina segelas air. Tak lama kemudian, Billy pun menghampiri mereka dan membuat Erina sedikit syok melihat kedatangan Billy karena kejadian barusan yang ia alami, Hingga Erina tanpa sengaja menyemburkan air yang sedang ia minum ke baju Billy. Erina panik dan mencoba untuk mengelapnya. "M-maafkan aku Tuan, A-aku tidak sengaja," Billy pun menahan tangan Erina dan menatapnya lekat "Sayang, Aku tidak apa apa! Kau tidak perlu khawatir seperti itu," Ucap Billy diiringi senyum hangat. Diana yang menyaksikan pun ikut tersenyum melihat kemesraan Billy dan Erina. Billy pun mengelus kepala Erina lembut "Ayo, Kita makan!" Ajak Billy. "B-baik." Billy menuntun Erina untuk duduk disampingnya. **** Makan malam pun selesai.. Erina sedang membersihkan piring piring bekas makan malam, sedangkan Diana sedang berada di teras belakang bersama Billy. "Nak?" Panggil Diana Billy pun menatap sang Ibu "Ibu pikir, Usia Erina masih terlalu muda untuk menjalani sebuah ikatan pernikahan." "Maksud Ibu?" Diana pun menarik nafas panjang "Bagaimana jika Erina menyelesaikan pendidikannya terlebih dahulu, sebelum memiliki keturunan?" Ungkap Diana Billy pun mengernyitkan dahinya heran, mendengar ucapan sang ibu. "Maksud ibu, pernikahan kalian akan tetap dilaksanakan tapi, untuk momongan ibu harap kalian menundanya dulu setidaknya sampai Erina menyelesaikan pendidikannya." Jelas Diana. Billy pun mengangguk pelan, memahami maksud dari perkataan sang ibu, Billy langsung setuju dengan permintaan dari sang ibu, setidaknya itu bisa dijadikan alasan untuk tidak tinggal dalam satu kamar bersama Erina pikirnya. Diana pun memanggil Erina untuk membicarakan tentang keputusannya itu, Keputusan Diana membuat Erina merasa sangat bahagia kenapa tidak? Keinginannya untuk menyelesaikan sekolah akhirnya akan menjadi kenyataan. Erina pun langsung memeluk Diana sambil meloncat loncat karena bahagia. "Terima kasih bu!!" Ucap senang Erina. Diana pun ikut bahagia melihat reaksi Erina, Ia tidak menyangka jika Erina akan sebahagia itu. **** Pukul 01.00 dini hari, Billy terbangun dari tidurnya ia merasakan kering tenggorokannya, saat ia akan minum gelas yang berada disampingnya telah kosong, akhirnya ia terpaksa untuk turun ke bawah menuju dapur. Namun, sebelum tiba di dapur ia melihat kamar Erina dengan pintu yang sedikit terbuka dan lampu yang masih menyala, Billy pun tidak memperdulikannya dan memilih melanjutkan langkahnya menuju dapur. Alangkah terkejutnya ia saat melihat Erina yang sedang mengambil air minum dengan pakaian tidur yang sedikit terbuka, dan transparan, Billy pun mengalihkan pandangannya ke arah lain berpura pura tidak melihat nya. Ketika Erina berbalik, Erina sedikit terkejut melihat Billy yang sudah berada di belakang nya, "T-tuan?" Ucap Erina yang langsung merapikan pakaiannya,. "Kau sudah selesai?" Tanya Billy tanpa menatap ke arah Erina. "I-iya Tuan." Erina pun berpamitan dan melewati Billy tanpa menatap ke arah Billy. Billy pun menghela nafas kasar "Ya Ampun! Bisa bisanya dia berpakaian seperti itu di malam hari seperti ini! Apa dia sudah kehilangan akalnya? Dasar bocah ingusan!" Gerutu Billy. Billy pun mengambil minumannya dan kembali ke kamarnya. Sesampainya di kamar, Billy justru menjadi gelisah dan tidak bisa tidur. Ia pun menatap langit langit kamarnya, sepintas bayangan Erina saat memakai pakaian pengantin dan baju tidur yang barusan dilihat terus saja menghantui pikiran Billy. Billy pun bangun dan duduk.. "Aku ini kenapa? Ya ampun!" Billy menampar nampar pelan pipinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD