Part 7

1437 Words
Diana membulatkan matanya sempurna saat melihat reaksi Billy dan Erina yang menjawab secara serentak. "Kenapa kalian sekaget itu?" Billy dan Erina saling menatap, terlihat raut wajah canggung diantara keduanya, Diana yang melihat raut wajah mereka yang terlihat aneh itu pun bertanya "Kelihatannya, Kalian tidak senang mendengarnya?" Sontak Billy dan Erina kembali menjawab secara bersamaan "A-ah, Tidak Ibu!" Diana pun menunjukkan senyuman hangatnya saat melihat putra dan calon menantunya itu kompak. "Kalian tidak perlu secanggung itu pada ibu, lagipula sebentar lagi kalian akan menikah, jadi sampai pernikahan nanti ibu akan menginap disini sementara ayah menyelesaikan pekerjaannya sebelum hari pernikahan tiba." Terang Diana. Billy dan Erina hanya terdiam bingung mendengar yang diucapkan oleh Diana. Selesai makan malam, Erina pun merapikan meja makan dan membersihkan peralatan makan yang telah selesai digunakan. Sedang asyik membersihkan peralatan makan di dapur tiba tiba ia dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang berada disampingnya. "Erina, kita harus bicara!" Ucap Billy yang terlihat sedang memperhatikan keadaan sekitar. "Bicara Apa?" Tanya Erina "Ini tentang Ibu yang akan menginap disini." Ujar Billy tanpa menatap ke arah Erina. "Baik, Bicaralah!" "Tidak disini, Besok kita bicarakan di kantorku! Aku tidak ingin ibu mendengar apa yang kita bicarakan." "B-baik." Billy pun melangkah pergi setelah mendengar persetujuan dari Erina. **** Hari menjelang siang, terlihat Erina yang tengah sibuk memasak di dapur dibantu oleh Diana sang calon mertua, menyiapkan makan siang untuk Billy. Dengan senyuman hangatnya Diana terlihat sangat bahagia karena impiannya memiliki seorang menantu akhirnya akan segera tercapai. "Ada apa bu? Kenapa sejak tadi ibu tersenyum seperti itu?" Tanya Erina menatap heran Diana. "Tidak apa apa, Ibu hanya merasa senang karena ibu tidak akan sendirian lagi, akan ada kau di keluarga ini, Ibu sempat khawatir jika Billy tidak akan mau untuk menjalin hubungan serius lagi dengan seorang gadis tapi ternyata ibu salah." Jawab Diana sambil tersenyum. Erina pun hanya tersenyum tipis dan melanjutkan kembali pekerjaannya. 'Maaf, sudah membohongi ibu.' Batin Erina. Di tengah kegiatan memasak mereka, Diana pun kembali mengangkat suara "Nak, Apa ibu boleh tau berapa usiamu?" Tanya Diana tiba tiba Erina pun menatap ke arah Diana "Usiaku sebentar lagi menginjak 18 Tahun bu," Terang Erina. Diana cukup terkejut mendengar pengakuan dari Erina, Hingga tangan Diana terhenti sesaat saat sedang mengaduk masakannya. "D-delapan belas tahun?" Diana tergagap Diana terlihat sedikit melamun setelah mendengar pengakuan Erina mengenai usianya. Namun, lamunannya pun buyar saat Erina menepuk lembut bahu Diana. "Ada apa bu?" Tanya Erina. Diana pun hanya tersenyum palsu sambil menggeleng pelan. **** Tepat di jam makan siang Erina pergi menemui Billy di kantornya, Erina melangkah ragu masuk ke dalam gedung tersebut karena memang tidak ada yang mengenalnya, terlebih Erina memang belum pernah datang ke kantor Billy. Erina terlihat kebingungan harus kemana ia pergi, ia kemudian memutuskan untuk bertanya pada seorang resepsionis yang sedang berdiri sendiri di dekat meja sambil memainkan ponselnya. "Maaf permisi, Dimana ruangan Tuan Billy?" Tanya Erina. Resepsionis itu pun memandangi Erina dari atas hingga ujung kakinya dan memperhatikannya dengan tatapan sinis. "Siapa kau? Apa kau sudah memiliki janji sebelumnya dengan Tuan Billy?" "Maaf, saya kesini untuk mengantarkan makan siang Tuan." Resepsionis itu pun tersenyum sinis mendengar ucapan Erina. "Huh, Rupanya hanya seorang kurir makanan! Kau tidak perlu repot repot menemui Tuan Billy, simpan saja makanannya disini nanti saya yang akan mengantarnya!" "T-tapi…." "Kenapa? Apa kau berniat untuk mencari perhatian Tuan CEO?" Erina pun terdiam.. "Jangan pernah berpikir dengan penampilanmu yang seperti ini bisa menarik perhatian orang orang elite di gedung ini, Apalagi Tuan CEO!" Mendengar hinaan dari resepsionis tersebut Erina hanya diam menahan amarahnya, mengetapkan bibirnya, ia hanya bisa meremas ujung baju yang ia kenakan. Tiba tiba seseorang merangkul bahu Erina lembut dan berkata pada resepsionis tersebut dengan lantang "Apa kau merasa lebih hebat dari orang lain dengan hanya jabatanmu yang sebagai resepsionis?" Pandangan resepsionis itu pun membulat sempurna karena terkejut dengan kedatangan Billy. "T-tuan?" Ucap gugup Resepsionis itu. "Asal kau tau! Seorang manusia akan dihargai karena attitude nya, bukan karena jabatannya! Dan karena kau belum bisa menghargai orang lain, aku akan meminta manajer untuk memindahkan mu ke posisi office Girl!" Tegas Billy. Resepsionis itu pun menggeleng cepat, bertekuk lutut memohon pada Billy dengan mata berkaca kaca "Tidak Tuan! Maafkan saya! Saya salah, saya mohon maaf!" Resepsionis itu terus menerus membungkuk untuk meminta maaf. Namun, Billy tidak mengindahkannya. Erina pun menarik lembut jas yang dikenakan Billy, Billy menatap Erina yang menggeleng pelan. "Tidak! Ini sudah menjadi keputusanku!" Ujar Billy. Billy pun menggandeng Erina menuju ke kantornya, namun baru beberapa langkah ia pun kembali menatap resepsionis tersebut dan berkata dengan suara yang sedikit keras. "Satu hal lagi! Gadis yang bersamaku ini bukanlah kurir makanan! Dia adalah Calon istriku!" Terang Billy yang kemudian melanjutkan langkahnya bersama Erina menuju ruangannya. Beberapa orang yang berada disana terkejut mendengar pengakuan Billy yang mengatakan jika Erina adalah calon istrinya. **** Gosip pun semakin menyebar tentang Billy dan Erina, Hingga sampai ke telinga seseorang yang saat ini berada di luar negeri.  Ia begitu kesal dan marah saat mengetahui jika Billy telah memiliki calon istri, seseorang yang akan menggantikannya. "Kurang ajar!!" Teriak Lisa membanting kan barang barang yang berada di sekitarnya. Lisa sangat murka mendengar berita tersebut, hingga ia menghancurkan semua barang yang berada di sekitarnya, ia pun menangis sesenggukan sambil memanggil nama Billy. "Billy! Kenapa kau lebih memilih gadis sialan itu daripada aku cintamu? Arrrggghhhhh!!!" Teriak Lisa. Lilian, Ibu lisa yang mendengar suara putrinya berteriak pun merasa khawatir dan bergegas menghampiri putrinya itu. Ia syok saat melihat kondisi kamar putrinya yang berantakan dengan pecahan beling dimana mana. "Ada apa ini?" Tanya Lilian. Lisa pun memeluk sang ibu, "Billy, Dia akan menikah dengan gadis lain bu!" Lilian tak kalah terkejutnya saat mendengar penjelasan dari lisa, ia tahu betul jika Lisa sangat terobsesi pada Billy setelah kejadian yang menimpanya 6 bulan yang lalu. #Flashback Lisa dan Billy adalah sepasang kekasih pada umumnya, mereka terlihat sangat bahagia selama hampir 3 tahun berhubungan tidak pernah ada suatu masalah yang berarti yang membuat hubungan mereka renggang, namun beberapa bulan terakhir, kesibukan Billy membuat Lisa kesepian hingga Lisa menjalin hubungan dengan pria lain yang selalu ada disisinya, Saat Billy melamar Lisa, Lisa menolak Billy karena Lisa merasa belum siap dan ia merasa Billy adalah orang yang membosankan, Lisa meminta Billy untuk berubah terlebih dahulu sebelum Lisa mau menerima nya. Billy pun menyetujui persyaratan dari Lisa, ditengah usaha Billy untuk berubah, Billy dihadapkan dengan kenyataan jika Lisa lebih memilih pria lain. Hingga akhirnya Lisa menyesali keputusannya karena nyatanya pria yang bersamanya telah berselingkuh, saat Lisa mencoba untuk kembali pada Billy, Billy selalu menolak. **** Lisa sangat terpukul mendengar berita tentang rencana pernikahan Billy, begitu pun dengan Lilian "A-apa?" "Dia jahat bu! Dia tidak mau memaafkanku dan malah memilih gadis sialan itu!!" Teriak Lisa "Darimana kau tau?" Tanya Lilian. "Temanku yang bekerja disana yang memberitahuku bu.." Lilian pun terdiam, ia hanya membeli lembut punggung putrinya untuk menguatkannya. **** Dilain sisi… Erina dan Billy tengah berada di ruangan Billy, mereka duduk berhadapan dengan raut wajah serius Billy, "Aku ingin membicarakan tentang ibu!" Billy mulai angkat bicara dan menatap lekat ke arah Erina. "Aku sudah memikirkannya, Aku putuskan selama ibu menginap di rumah, Aku ingin kita bersikap tidak seperti biasanya, maksudku kita harus terlihat seperti pasangan pada umumnya." Jelas panjang lebar Billy. Erina pun mengangguk paham. "Baik Tuan." "Tapi, Jika kita tidak sedang di hadapan ibu bersikaplah seperti biasanya," Erina kembali menganggukkan kepalanya. Billy pun berdiri dari duduknya dan berpindah ke kursi tempat kerjanya. "Hanya itu yang ingin aku katakan, kau bisa kembali ke rumah!" Ujar Billy. Erina pun hendak melangkah pergi, Namun langkahnya terhenti karena ucapan Billy. "Nanti sore, aku akan menjemputmu untuk mencoba gaun pernikahan itu! Ibu memaksaku untuk itu," Erina pun hanya mengangguk dan melanjutkan langkahnya. Saat Erina sedang melangkahkan kakinya menuju ke luar gedung perusahaan, ia berpapasan dengan Ryan yang akan menemui Billy. "Lho? Erina? Kau kesini?" Tanya Ryan. "Oh iya, Aku kesini untuk mengantarkan makan siang Tuan." Jawab Erina diiringi senyuman. Ryan pun mengangguk pelan. "Begitu ya, ngomong ngomong Apa kau sudah makan?" Erina pun menggeleng pelan.. "Ayo, Kita makan!" Ajak Ryan. "Tapi aku…" Ucap Erina terpotong karena Ryan yang tiba tiba menarik tangannya. Ryan pun membawa Erina berjalan jalan di sekitar taman terlebih dahulu sebelum pergi makan. "Kenapa kita kemari?"  "Tidak apa apa, lebih baik kita menyegarkan diri kita dulu disini, itu akan jauh lebih baik bukan?" Erina pun mengangguk pelan, **** Sementara itu… Billy sedang mengerjakan berkas berkas yang menumpuk di atas mejanya, perhatiannya pun teralihkan saat ia melihat sekilas makanan yang tadi dibawa oleh Erina dan telah ditata rapi diatas meja oleh Erina. Billy pun meletakkan berkas yang ada di tangannya dan mengambil satu suapan makanan tersebut dan perlahan mengunyahnya, setelah itu ia pun dengan lahap menghabiskan makanan tersebut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD