Part 6

1779 Words
Sesampainya di kediaman Billy.. Erina dan Ryan disambut dengan wajah dingin Billy yang menatap tajam ke arah mereka sembari menyilangkan kedua tangannya. Billy pun berjalan mendekat ke arah mereka. "Dari mana saja kalian? Kenapa jam segini baru pulang?" Tanya sinis Billy. Ryan yang merasa tidak enak pada Billy pun mencoba untuk mengalihkan pembicaraan. "Emm, Kenapa tadi kau tidak ikut menyusul kami?"  "Aku sibuk!" Ryan mengangguk pelan mendengar alasan yang dilontarkan oleh Billy "Oh, Baiklah! Cincin pernikahan sudah kami beli jadi kau tinggal memakainya saja nanti, Kalau begitu aku pamit!" Ryan pun tersenyum hangat menatap Erina dan mengelus lembut kepala Erina. "Aku pulang! Beristirahatlah!" Erina pun mengangguk dan tersenyum. Ryan menyodorkan paper bag yang berisi cincin kepada Erina dan menghampiri Billy. "Ini, Kartu mu!" Ucap Ryan. Billy pun mengambil kartunya dan tersenyum sinis pada Ryan. Ryan pun melangkah pergi dan meninggalkan Erina bersama Billy. Billy menatap tajam ke arah Erina "Siapkan makan malam untukku!" Billy pun melangkah pergi, sedangkan Erina hanya bisa pasrah mengikuti perintah Billy. Ia kemudian melangkahkan kakinya menuju dapur untuk menyiapkan makan malam. Seorang pelayan yang tidak sengaja melihat Erina tengah mencari sesuatu di dalam lemari pendingin pun menghampirinya "Nona, apa nona akan memasak sesuatu?" Tanya si pelayan. "Ah Iya, Tapi aku tidak tau harus memasak apa." "Jika begitu, bagaimana jika saya membantu anda Nona?" "Emm, Tidak perlu, biar saya saja sendiri! Aku tidak ingin kau nanti mendapat masalah karena ini." Pelayan itu pun mengangguk paham "Baiklah kalau begitu Nona, permisi." Sang pelayan pun melangkah pergi meninggalkan Erina di dapur. Tidak butuh waktu yang lama untuk Erina memasak, beberapa menu telah selesai ia siapkan dengan porsi untuk satu orang saja, Erina pun menghampiri Billy yang tengah berada di kamarnya untuk memberitahu jika makanannya telah siap. 'Tok tok tok!' "Emmm… Maaf Tuan, makanannya sudah siap!" Teriak Erina dari luar. Beberapa kali Erina mencoba untuk memanggil kembali  Namun tidak terdengar jawaban dari dalam kamar Billy, Karena merasa penasaran Erina pun memberanikan diri untuk masuk ke dalam kamar Billy. "Tuan?" panggil erina. Erina pun melangkahkan kakinya dengan hati hati masuk ke dalam dan melihat ke arah sekitarnya. "Tidak ada siapa siapa, Mungkin Tuan Muda sedang pergi," Gumam Erina. Karena tidak mendapati Billy di kamarnya, Erina pun memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Namun, pada saat ia membalikkan tubuhnya Erina dikejutkan dengan sosok Billy yang tiba-tiba berada di hadapannya ditambah dengan penampilan Billy dengan rambut yang basah dan hanya memakai handuk kimono, menampakkan d**a bidang Billy dan perut sixpack nya. Melihat pemandangan yang seperti itu, membuat Erina tiba tiba berteriak karena terkejut "Aarggghhh!!" Teriak Erina sambil menutup kedua matanya. Billy yang ikut terkejut pun refleks langsung menutup mulut Erina dengan tangannya. "Jangan berteriak seperti itu!" Erina mengangguk cepat dengan kedua matanya terpejam. Billy pun melepas tangannya dan Erina langsung membalikkan tubuhnya ke arah lain sambil menutup matanya dengan kedua tangannya. "Kau sedang apa disini?" Tanya sinis Billy. "Emm I-itu, M-makanannya sudah siap Tuan!" Ujar Erina. "Keluar!" Ucap Billy penuh penekanan. Tanpa menjawab perkataan Billy, Erina pun berlari keluar dari kamar Billy dan meninggalkan Billy dengan raut wajah kesalnya. 'Ya ampun, hampir saja jantungku lepas dari tempatnya! Benar benar! Haa.. Kesialan macam apa ini?' Batin Erina Erina pun kembali ke dapur dan menata makanan di meja makan,  Sementara itu, Billy merasa sangat malu saat Erina melihat penampilannya seperti itu, ia pun menepuk nepuk dahinya kesal. "Dasar bodoh!! Kenapa tadi aku tidak langsung memakai pakaian, benar benar memalukan!" Gumamnya. tidak lama kemudian, Billy menghampiri Erina di ruang makan dan duduk di salah satu kursi. Erina bergegas menempatkan dirinya berdiri di samping meja makan layaknya seorang pelayan. Billy menatap sekilas Erina, tanpa berkata apapun, Billy mulai mencoba menyantap makanan yang sudah tersedia. Erina terlihat gugup karena ini kali pertama ia memasak untuk Billy, Apalagi ia mengetahui jika Billy adalah tipikal pria yang perfeksionis terutama tentang asupan gizi yang ia konsumsi. Baru saja satu suapan yang melewati kerongkongannya, Ia tiba tiba langsung berdiri dan menatap Erina lekat "Lain kali, perhatikan lagi kadar garam yang kau gunakan untuk memasak!" Billy pun melangkah pergi meninggalkan Erina. Erina pun terduduk lemas dengan ucapan Billy. "Nona tidak apa apa?" Tanya seorang pelayan. "Aku tidak apa apa." "Lebih baik, nona beristirahat dulu, nona pasti lelah setelah memasak biar semua ini saya yang merapikannya." "Terima kasih." Pelayan itu pun mengantar Erina kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Sementara itu… Billy nyatanya tidak benar benar kembali ke kamarnya, Billy bersembunyi dibalik pintu yang lain, dan memastikan jika Erina sudah pergi ke kamarnya, Ia kemudian kembali ke dapur dan menyantap makanan yang dibuat oleh Erina dengan lahapnya. "Ini benar benar enak!" Gumamnya. Billy sangat menikmati makanan tersebut, tanpa ia sadari pelayan yang tadi mengantar Erina sudah berada di hadapannya dan menatap heran Tuannya. "T-tuan?" Seketika Billy pun tersedak.. "Ohook.. Ohook.." Pelayan itu pun panik karena melihat Billy yang tiba tiba tersedak. "Anda tidak apa apa Tuan?" Billy pun segera meneguk segelas air yang berada di hadapannya. "Aku tidak apa apa! Ini tidak seperti yang kau pikirkan! Aku hanya sedang sangat lapar, dan aku lihat tidak ada lagi makanan yang lain! Karena itu aku memakan semua ini! Jadi, kau tidak perlu memberitahu tentang ini pada Erina!" "B-baik Tuan!" **** Hari demi hari berganti… Tanpa terasa pernikahan antara Billy dan Erina tinggal menghitung hari, Hubungan antara Erina dan Billy pun masih tetap datar dan dingin. Sedangkan Hubungan Ryan dan Erina semakin dekat karena Ryan sering mengunjungi Erina agar Erina tidak merasa kesepian. "Bagaimana persiapan pernikahanmu?" Tanya Ryan yang kini sedang bersama dengan Erina di sebuah taman. "Baik." "Kau sudah siap menjadi Nyonya Billy?" "Jangan meledekku, kau kan tau ini semua hanya pura pura." "Tapi tetap saja, secara hukum pernikahan kalian tetap sah." Erina pun tersenyum kecut karena ucapan Ryan tersebut. **** Erina terlihat melamun di halaman belakang rumah, ia memikirkan apa yang diucapkan oleh Ryan. 'Ada benarnya, meski semua ini sandiwara tapi di mata hukum pernikahan ini tetaplah sah, tapi sudahlah! Meski begitu ini hanya permainan dan akan berakhir sampai waktunya nanti' pikirnya. Erina pun menarik nafas panjang dan tiba tiba ia dikejutkan oleh seseorang yang menutup kedua matanya secara diam diam dari arah belakang "Siapa ini?" Teriak Erina ketakutan "Kenapa kau berteriak?" Tanya seseorang dan menarik kembali tangan yang menutup matanya. "I-ibu?" Rupanya orang tersebut adalah Diana, Diana pun melemparkan senyuman hangatnya pada Erina, sejak pertemuan pertama mereka, Erina memang belum pernah bertemu dengan Diana lagi, Diana pun berinisiatif untuk menemui Erina dan putranya. "Ada apa? Kenapa terkejut sekali?" Erina pun terlihat gugup dan panik. "I-ibu kenapa tidak memberitahu jika ibu akan datang?" Tanya Erina. Diana pun duduk disamping Erina. "Apakah seorang ibu harus selalu memberitahu terlebih dahulu jika ia ingin mengunjungi anaknya?" Tanya balik Diana. Erina pun terdiam canggung, ia merasa bingung harus bagaimana karena Billy pun tidak memberitahu apa yang harus ia lakukan jika berada di situasi seperti ini. "Hey, kenapa diam?" Ucapan diana membuyarkan lamunan Erina. "Oh, T-tidak apa apa bu!" Diana pun menatap lekat Erina "Apa ada yang sedang kau pikirkan?" "Tidak bu, Aku hanya merasa gugup saja." "Itu wajar, karena waktu pernikahan kalian sudah semakin dekat! Oh ya, Apa kalian sudah membeli cincin pernikahannya?" Erina pun mengangguk. "Apa aku boleh melihatnya?" Erina pun mengajak Diana ke dalam kamarnya dan menunjukkan sebuah kotak berukuran sedang berwarna merah. Senyum sumringah terukir di wajah Diana, saat melihat keindahan cincin tersebut. "Cincin ini indah sekali! Eh Tunggu, sepertinya…" Diana pun mengambil kedua cincin yang berada di dalam kotak tersebut, dan memperhatikannya dengan lebih teliti. "Cincin ini, jika disatukan akan menjadi bentuk sebuah hati yang utuh dengan ukiran nama pasangan masing masing di dalam cincin tersebut." Terang Erina. "Waaaa…. Ini manis sekali!! Kalian benar benar memilih cincin yang tepat! Terlihat sederhana tapi memiliki makna yang dalam." Jawab Diana. Erina pun hanya tersenyum. **** Malam hari Billy baru saja tiba di rumah nya,. Saat ia melangkah menuju kamarnya, ia dikejutkan dengan ucapan seseorang yang terdengar dari belakangnya. "Kenapa jam segini baru pulang?"  Billy yang merasa tidak asing dengan suara ini pun langsung membalikkan tubuhnya, matanya terbelalak saat melihat sang ibu yang berada di hadapannya kini. "I-ibu." Panggil Billy  Sang ibu pun tersenyum dan menghampiri sang putra "Lain kali, usahakanlah untuk pulang lebih awal, kasian calon istrimu menunggu sendirian di rumah!" Billy pun hanya tersenyum tipis mendengar perkataan sang ibu. "Apa kau sudah makan?" Tanya Diana Billy pun menggelengkan kepalanya. Kemudian Diana menggiring putranya menuju ke ruang makan. Terlihat makanan yang masih hangat dan sudah tersaji di atas meja makan, dengan berbagai menu. Billy menatap ke arah Erina, sedang Erina langsung tertunduk saat Billy menatap ke arahnya. "Ada apa? Ayo, kita makan bersama! Ini semua calon istri mu yang memasaknya!" Ucap senang Diana yang langsung duduk di kursi diikuti oleh Billy. Namun, Diana menatap heran Erina yang hanya berdiri di samping meja makan. "Erina? Duduklah! Kenapa hanya berdiri seperti itu?" Billy pun memberi kode dengan tatapannya untuk Erina menuruti perkataan Ibunya. Erina pun duduk di samping Diana. "Eh, kenapa kau duduk disini? Seharusnya seorang istri akan selalu duduk berdampingan dengan suaminya." Ucap Diana yang menuntun Erina untuk berpindah tempat duduk menjadi disamping Billy. Diana pun kembali ke tempat duduknya. "Oh ya Erina, gaun pernikahan kalian sudah selesai dibuat, Ibu harap kalian bisa pergi bersama besok untuk mencobanya sementara ibu akan melihat hotel tempat pernikahan kalian." Jelas Diana. "Ibu tidak perlu repot repot, aku sudah memutuskan untuk menggunakan Cafe outdoor milik Ryan untuk acara pernikahan." "Begitu ya? Baiklah, Ibu akan melihat tempatnya besok, kalau begitu ayo kita makan!" Erina terlihat gugup saat makan malam dimulai. 'Bagaimana ini? Aku takut masakanku tidak disukai ibu.' Batin Erina. "Emm, ini benar benar enak sekali! Menantuku, kau benar benar pintar sekali memasak!" Puji Diana. Erina pun tersenyum senang "Syukurlah, Jika ibu menyukainya! Karena kemarin Tuan muda justru tidak mau memakannya dan mengatakan sebaliknya." Celetuk Erina. Diana pun terkejut mendengarnya dan mengernyitkan dahinya heran "Apa? Tuan muda?" Billy yang menyadarinya pun langsung menimpa perkataan Erina "Ah, E-Erina memiliki panggilan kesayangannya padaku bu. Dia memang sering menggodaku dengan sebutan seperti itu! Dia selalu memanggilku Tuan Muda saat dia ingin bermanja." Ucap Billy dengan senyum yang dipaksakan sambil menatap tajam Ke arah Erina. Diana pun tertawa mendengar penjelasan dari Billy. "Kalian benar benar manis sekali!! Ibu dan Ayah dulu tidak pernah memiliki panggilan kesayangan seperti itu! Eh, Tapi apa benar yang barusan dikatakan oleh Erina? Kau tidak memakan masakannya?" Ucap Diana yang menyadari perkataan Erina. Billy pun terlihat gugup dan panik saat sang ibu bertanya seperti itu. "I-itu karena.." Ucap Billy terpotong "Dengar! Apapun yang disiapkan oleh istrimu nanti, makanlah! Hargailah apa yang telah ia buat! Apalagi masakan Erina sangatlah lezat!" Diana pun menasehati Billy, dan Billy hanya pasrah mendengar celotehan sang ibu. "Mulai besok dan seterusnya, Erina akan ke kantor untuk mengantarkan makan siang!" "Apa?"  Billy dan Erina pun terkejut mendengar ucapan dari sang ibu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD