Part 5

1320 Words
Hari berganti… Kedua orang tua Billy tengah sibuk mempersiapkan perlengkapan pernikahan Billy dan Erina. Mereka terlihat sangat antusias dengan pernikahan putra semata wayang mereka. "Aku ingin seorang perancang gaun pengantin yang terbaik, aku tidak peduli berapapun harganya, yang paling penting menantuku harus terlihat seperti seorang ratu di pernikahan nya nanti." Ujar Diana. "Baik Nyonya." Jawab Sekretaris Diana yang kemudian melangkah pergi. Diana pun menghela nafas panjang dan tersenyum memandang ke arah langit langit. "Ha.. Aku benar benar sudah tidak sabar menantikan acara pernikahan ini." Ucap pelan Diana. **** Dilain sisi… Terlihat wajah serius seseorang yang menatap lekat layar laptop di hadapannya, dan tumpukan berkas yang berada di atas meja kerjanya. Billy tengah sibuk berkutat dengan pekerjaan yang tiada habisnya, hingga ia tidak menyadari kedatangan seseorang yang kini berada tepat di hadapannya. "Seharusnya, Kau sudah mengambil cuti untuk pernikahan mu," Ucap seseorang. Billy pun mengalihkan pandangannya ke asal suara. "Kau rupanya! Membuatku kaget saja, sejak kapan kau disitu Ryan?" Tanya heran Billy. Ryan pun menyunggingkan senyuman. "Huh, Kau itu jika sudah tenggelam pada pekerjaan siapapun yang berada di hadapanmu tidak bisa kau lihat dengan jelas!" Kesal Ryan. Billy pun tersenyum seraya menggelengkan kepalanya. "Ok Sorry! Ada apa kau kemari?" "Aku kesini karena ibumu yang memintaku untuk melihatmu." "Melihat ku? Untuk apa?" "Kau itu benar benar hilang ingatan atau apa? Apa kau lupa kau akan menikah 3 minggu lagi?" "Lalu?" Ryan pun berdecak kesal dengan reaksi Billy. "Ckk.. Ibumu memintaku untuk mengingatkanmu membeli cincin pernikahan, karena kau sulit untuk dihubungi!" "Oh." Jawab singkat Billy yang kembali mengalihkan perhatiannya ke arah laptopnya. "Oh? Hanya itu? kau sepertinya benar benar tidak berniat untuk menikah?" Billy pun kembali menatap ke arah Ryan. "Bukankah kau tau sendiri, jika semua ini hanya berpura pura?" "Iya aku tau itu, tapi setidaknya lakukan apa yang membuat kedua orang tuamu bahagia! Tidak ada ruginya bukan?" Billy pun hanya terdiam mendengar perkataan dari sahabatnya itu. Melihat Billy yang hanya terdiam membuat Ryan sedikit kesal dan memutuskan untuk pergi. "Ya sudah, Aku pergi!" Pamit Ryan. Namun baru beberapa langkah, Billy pun angkat suara "Ryan, Tunggu!" Ryan pun membalikkan tubuhnya dan menatap ke arah Billy. "Bisakah kau saja yang pergi membeli cincin itu?" Pinta Billy "Apa?" Kaget Ryan "Aku masih banyak sekali pekerjaan yang belum aku selesaikan, Kau tidak perlu khawatir aku akan menyusul kalian jika pekerjaanku sudah selesai, aku juga akan berikan black cardku pada Erina, suruh dia memilih cincin apapun yang dia suka!" Ryan pun memutar bola matanya karena merasa malas dengan sikap Billy, Namun Ryan tetap menuruti permintaan sahabat nya itu. "Baiklah!" Ryan pun berangkat menuju ke kediaman Billy, Dengan membawa black card milik Billy. Setibanya di kediaman Billy… Ryan pun meminta salah seorang pelayan untuk memanggil Erina yang berada di kamarnya, Dan Ryan menunggu di ruang tamu milik Billy. Tak lama kemudian terlihat sosok seorang gadis berambut panjang sedikit bergelombang dengan menggunakan dress dan sepatu kets yang cocok sekali digunakan oleh gadis tersebut dengan pandangan tertunduk gadis itu pun menghampiri Ryan. Ryan ternganga melihat penampilan Erina yang sederhana namun membuat kecantikan Erina terpancar dan pandangan Ryan tidak berkedip menatap Erina. "Permisi Tuan, Ini Nona Erina." Ujar seorang pelayan. "A-ah I-iya!" Ryan terlihat gugup saat melihat Erina, Ini adalah kali pertama Ryan bertemu dengan Erina. 'Gadis yang cantik.' Batin Ryan. Ryan memperhatikan wajah Erina, Terlihat raut wajah sedih dan pucat Erina yang Erina berusaha sembunyikan. "Emm, Apa kau baik baik saja?" Tanya Ryan. Erina pun hanya mengangguk pelan tanpa berani menatap Ryan. "Apa Billy menyiksamu?" Erina pun menggelengkan kepalanya Ryan yang semakin penasaran terhadap Erina, mencoba untuk bertanya kembali. "Apa kau tidak bisa bicara?" Erina pun mengangkat wajah nya dan menatap ke arah Ryan, seolah memberi tanda jika itu tidak benar. Ryan pun mengukir senyuman melihat reaksi Erina, ia menyilangkan kedua tangannya dan sedikit mendekat ke arah Erina. Erina yang merasa ketakutan pun melangkah mundur perlahan. "Kau tidak perlu takut, Aku bukan seorang penjahat!" Ucap Ryan sambil tersenyum ramah. Erina pun hanya terdiam.. Melihat reaksi Erina, Ryan pun berinisiatif untuk kembali mengajak bicara Erina. "Billy, dia memang seorang pria yang dingin dan Terkadang tidak peduli dengan apa yang dirasakan oleh orang lain, tapi dia adalah orang yang cukup hangat dan perhatian jika kau sudah lama mengenalnya! Saranku, Ikuti saja apa yang menjadi permainannya!" Erina tetap terdiam mendengar perkataan Ryan, Melihat reaksi Erina, Ryan pun tiba tiba langsung menarik lembut tangan Erina menuju ke dalam mobil sport miliknya yang terparkir di luar. "Eh, mau kemana?" Erina melepas paksa tangan ryan yang sedari tadi menariknya. Ryan pun tersenyum dan mendekat ke arah Erina, ia sedikit membungkukkan badan nya. "Kita akan pergi membeli cincin pernikahanmu," Kemudian, Ryan kembali menarik lembut tangan Erina. Tak butuh waktu yang lama mereka pun sampai di salah satu pusat perbelanjaan. Ryan melangkah sedikit lebih cepat sehingga Erina tertinggal di belakangnya. Melihat langkah Erina yang sedikit lambat, Ryan pun kembali menarik lembut tangan Erina dan menggandengnya. Sedangkan Erina hanya pasrah mengikuti langkah Ryan. Setibanya di sebuah Toko perhiasan.. "Silahkan Tuan! Apa ada yang bisa kami bantu?" Tanya seorang pelayan. Ryan pun melemparkan senyuman ramahnya. "Tolong tunjukkan model cincin terbaru untuknya." Ujar Ryan sekilas melihat ke arah Erina. "Baik Tuan." Pelayan Toko perhiasan itu pun membawa beberapa contoh cincin model terbaru yang berlapiskan berlian. Ryan pun memperhatikan detail satu persatu cincin tersebut, Hingga Ryan mengambil salah satu Cincin dan menunjukkannya pada Erina. "Bagaimana menurutmu?" Tanya Ryan tanpa menatap Erina. "Bagus," Jawab singkat Erina. Ketika tatapan Ryan beralih pada Erina, Ryan baru menyadari jika Erina sedari tadi hanya memperhatikan Sebuah cincin yang berada di dalam sebuah etalase, Sepasang Cincin yang menarik perhatian Erina Tersebut terlihat sederhana namun elegan masing masing cincin itu memiliki bentuk setengah hati. "Kau menyukainya?" Tanya Ryan. Erina pun tersenyum mengangguk. "Bolehkah aku melihat cincin itu?" Pinta Ryan pada pelayan. Pelayan itu pun mengambilkan cincin yang dimaksud dan memberikannya pada Ryan. "Cincin ini adalah cincin berpasangan, jika cincin si pria dan si wanita ini disatukan akan membuat sebuah bentuk hati yang utuh, dan terdapat ukiran nama di dalam cincin masing masing pasangan," Jelas pelayan. Ryan pun tersenyum.. "Menarik, Bagaimana jika kita pilih cincin ini?" Tanya Ryan menatap Erina Erina pun mengangguk cepat seraya  tersenyum senang mendengar perkataan Ryan. "Cincin ini, sangat cocok sekali untuk pasangan muda seperti kalian." Bujuk pelayan. "Emm I-itu dia bukan....." Ucap Erina terpotong oleh perkataan Ryan. "Baiklah, kami pilih ini." Ucap Ryan tersenyum sambil menatap sekilas ke arah Erina. Erina hanya menatap heran pada Ryan yang tidak mencoba menjelaskan kepada pelayan tersebut tentang mereka. Selesai memilih Cincin, Ryan pun mengajak Erina untuk pergi ke sebuah Cafe, mereka pun duduk berhadapan dan memesan beberapa camilan. "Emm, Ngomong ngomong berapa usiamu?" "Aku, 17 Tahun." Seketika Ryan pun tersedak oleh makanan yang sedang ia makan, Erina pun bergegas memberi Ryan minum dan memukul lembut punggung Ryan. "Kau tidak apa apa?" Ryan pun menggelengkan kepalanya. "Ada apa?" Tanya Erina panik "Tidak apa apa, Aku hanya sedikit terkejut mendengar usiamu." Jawab Ryan. "Kau masih muda, Tapi kenapa kau mau menikah dengan Billy?" Erina pun terdiam dan kembali duduk di kursinya, terlihat wajah sendu Erina yang menahan tangis.. Ryan pun tersenyum lembut melihat reaksi Erina. "Tidak apa apa, kau tidak perlu menjawabnya!" Ucap Ryan. Tiba tiba.. "Sebenarnya, semua ini bukan keinginanku! Tapi, kakakku menjualku pada Tuan muda, dan sebagai gantinya aku harus menuruti semua permintaan Tuan, termasuk menikah dengan nya! Aku tidak pernah menginginkan ini, tapi Tuan berjanji pada ku jika aku mau menuruti permainannya maka aku akan bisa lepas dari nya, setidaknya selama dua tahun ini saja." Jelas panjang lebar Erina. Ryan pun tersenyum lembut.. "Begitu ya? Jika begitu, Ikuti saja perkataan billy! Kau tidak usah khawatir, jika Billy berbuat kasar padamu aku yang akan meninjunya seperti ini..." Ujar Ryan meninju ninju ke arah angin. Erina pun tertawa melihat perilaku Ryan. Suasana pun mulai mencair ketika Erina dan Ryan mulai saling mengobrol dan membicarakan banyak hal. Erina belum pernah bercerita sebanyak itu selama ia bersama dengan Billy. **** Malam pun tiba.. Ryan mengantar Erina pulang kembali ke kediaman Billy.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD