Part 4

1330 Words
Billy dan Erina berangkat menuju ke kediaman kedua orang tua Billy dengan mengendarai sebuah mobil sport mewah berwarna hitam mengkilat. Di tengah perjalanan menuju kediaman orang tua Billy, Billy pun angkat suara.. "Kau sudah mengerti kan apa yang harus kau lakukan?" Tanya Billy  menatap sekilas ke arah Erina. "I-iya." Jawab Erina gugup "Ingat! Kau tidak perlu mengatakan apapun, hanya cukup mengiyakan apa yang aku katakan."  Erina pun mengangguk paham. Setelah hampir 2 jam menempuh perjalanan tanpa ada pembicaraan apapun, mereka pun tiba di kediaman kedua orang tua Billy. Billy keluar dari mobil mewahnya tersebut dan menatap ke arah Erina. "Turunlah," Erina pun menuruti perintah Billy dan turun dari mobil mewah tersebut, Erina kembali dibuat takjub oleh sebuah bangunan yang kini berada di hadapannya, bangunan yang tak kalah mewah dan megah dari milik Billy. Billy pun melangkah lebih dulu diikuti  oleh langkah Erina. Tepat didepan pintu masuk utama rumah besar dan mewah tersebut, Billy pun menarik tangan Erina dan menggandengnya. Seketika Erina langsung menatap ke arah Billy, ia terlihat gugup dan ketakutan melihat Billy yang tiba tiba menggandeng tangannya. "Kau tidak perlu berpikir yang tidak tidak, Aku hanya tidak ingin kedua orang tuaku tau jika ini hanya sandiwara! Jadi, belajarlah untuk tidak kaku seperti itu!" Ujar Billy dengan raut wajah dingin sembari menatap ke arah Erina. Erina pun kembali menganggukkan kepalanya pelan. Billy menekan bel rumah beberapa kali, hingga pintu rumah pun terbuka, Nampak seorang pelayan dengan seragamnya dan senyum ramahnya menyapa mereka berdua. "Selamat datang Tuan muda dan Nona, Silahkan.. Nyonya dan Tuan besar sudah menunggu di ruang tamu." Ucap ramah pelayan itu. Billy pun tersenyum dan mengangguk "Ayo, Sayang." Ajak Billy diiringi senyuman yang dipaksakan. Erina pun membalasnya dengan anggukan dan senyuman tipis. Billy dan Erina kemudian melangkah masuk ke dalam rumah menuju ruang tamu. Dengan perasaan takut, canggung dan gugup Erina terus mengikuti langkah Billy menuju ke ruang tamu. Setibanya di ruang tamu yang luas dan mewah,  Terlihat sepasang suami istri yang langsung berdiri melihat kedatangan Billy dan Erina dengan diiringi senyuman hangat. Seorang wanita paruh baya yang merupakan ibu kandung Billy bernama Diana menghampiri mereka dan langsung memeluk Billy dengan erat. "Bagaimana kabarmu nak? Ibu sangat merindukanmu," Ungkap Diana. Billy pun membalas pelukan ibunya. "Aku baik bu, bagaimana kabar kalian?" Tanya Billy. Diana pun melepaskan pelukannya dan menatap dalam sang putra. "Kabar kami baik, tapi kami benar benar merindukanmu," Jawab Diana dengan mata berkaca kaca. Perhatian sang ibu pun teralihkan oleh sosok seorang gadis muda yang kini berada disamping Billy. "Pasti gadis cantik ini calon istrimu kan?" Tanya Diana penasaran. Erina pun melemparkan senyumannya. "Emm, Perkenalkan nama saya Erina." Jawab Erina gugup. "Bu, Biarkanlah mereka duduk terlebih dahulu." Ujar seorang pria paruh baya bernama William Ayah kandung Billy yang sedari tadi memperhatikan sang istri dan putranya itu. "Ha, Iya aku lupa.. Maaf, karena aku terlalu bersemangat, Duduklah nak! Dan kau juga gadis cantik, duduklah!" Ucap ramah Diana mempersilahkan Erina dan Billy untuk duduk. Mereka pun duduk berhadapan. "Ibu sangat senang sekali, pada saat kau menghubungi kami dan mengatakan akan segera menikah dengan kekasihmu!" Ucap sang Ibu Antusias. Billy pun tersenyum melihat reaksi sang Ibu. Berbeda dengan sang ayah yang justru terlihat sedikit dingin. "Nak, Aku ingin bertanya beberapa hal padamu, apa boleh?" Tutur sang Ayah menatap Erina lekat. "I-iya, Tuan." Sang ayah pun tersenyum. "Kau tidak perlu memanggilku Tuan! Panggil saja aku Ayah." Ujar William. Erina pun mengangguk paham. "Sudah berapa lama kalian berhubungan?" Tanya William. "Baru setahun ini Ayah." Celetuk Billy  Sang ayah pun menatap Billy sekilas dan kembali menatap Erina. "Bagaimana kalian bisa bertemu?" William kembali bertanya. "Kami tidak sengaja bertemu saat di luar negri Ayah." Pungkas Billy. Sang ayah pun menatap tajam ke arah Billy. "Kenapa sejak tadi, kau terus yang menjawab pertanyaan ayah? Biarkan gadis ini yang menjawabnya!" Decak kesal sang Ayah. Billy pun terdiam dan tertunduk… "Nak, Siapa kedua orang tuamu?" Tanya William. "Degh" Pertanyaan ini langsung mengubah raut wajah Erina menjadi sendu dan membuat pandangan Erina pun menjadi tertunduk. Erina pun tanpa sadar meremas ujung dress yang ia kenakan untuk menahan kesedihannya. "Kedua orang tuaku sudah meninggal." Ucap sendu Erina. Terlihat raut wajah sedih erina dengan air mata yang memenuhi kedua mata Erina, saat William menanyakan perihal kedua orang tuanya. Diana yang menyadari itu pun langsung berkata "Kau tidak perlu bersedih nak, karena mulai sekarang kami berdua adalah orang tuamu juga, yang akan menyayangimu." Ujar Diana. Erina pun menatap Diana dan William, seketika buliran bening itu pun mengalir begitu saja, Erina pun menghapus kasar air matanya itu. Suasana pun berubah menjadi haru.. "Emm, bagaimana jika kita bersantai di taman belakang rumah.. Kebetulan Ibu memiliki resep kue baru yang ingin ibu coba, Dan kita bisa menikmatinya sambil bersantai di Taman." Kata Ibu mengalihkan pembicaraan. "Erina, Apa kau bisa membantu Ibu?" Pinta Diana. "Baik." Jawab Singkat Erina. Billy dan William pun pergi ke taman yang berada di belakang rumah, sedangkan Erina mengikuti langkah Diana menuju ke dapur. Saat Di taman… Billy dan William melakukan percakapan layaknya seorang Ayah kepada Anaknya, memberi banyak nasehat dan beberapa masukan pada Billy jika ia sudah menikah nanti. "Billy, Gadis itu adalah gadis yang baik.. Jadi jagalah dia dengan Baik." Cakap William. Billy pun menatap heran sang Ayah "Kenapa Ayah bisa langsung menyimpulkan jika Erina adalah gadis yang baik? Padahal Ayah baru pertama kali bertemu dengan Erina,"  William pun tersenyum menatap sang putra. "Ayah bisa melihat dari sorot matanya, dia adalah gadis yang baik, yang akan memberikanmu sebuah keluarga yang hangat!" "Huh, seperti seorang cenayang saja ayah bisa langsung menilai seperti itu." Sang ayah pun tersenyum dan melihat ke arah depan sambil berkata "Kali ini, Kau tidak salah memilih pasangan, Ayah mendukung keputusanmu memilihnya menjadi seorang istri yang akan mendampingimu hingga tua nanti." Ungkap William. Billy pun terdiam mendengar perkataan dari sang Ayah.. Dilain Sisi… Erina tengah membantu Diana membuat Kue, Diana memperhatikan gerakan Erina yang tidak terlihat kaku saat mengaduk adonan Kue. "Sepertinya, Kau sudah terbiasa memasak?" Tanya Diana. "Iya, Sejak kecil saya sudah belajar memasak."  "Wah, Benarkah? Kalau begitu, Aku tidak perlu khawatir lagi dengan Billy. anak itu susah sekali untuk makan di rumah, Karena itu, Ia memiliki penyakit lambung, ia hanya akan makan dengan lahap jika ibunya sendiri yang memasak, Tapi jarak kita terlalu jauh jadi ibu tidak bisa memasakkan untuknya setiap hari," Terang sang Ibu. "Begitu ya.." Ucap Erina dengan senyum tipis. "Iya begitu, Haa.. Ibu benar benar tidak percaya, kenapa dia menjalani hubungan diam diam bersamamu selama setahun, jika bukan karena kami yang memaksa entah sampai kapan, dia akan menyembunyikan hubungan kalian! Ihh, Dasar anak nakal!" Gerutu sang Ibu. Erina pun menatap sendu Diana karena merasa bersalah telah membohongi Diana. 'Maaf..' Batin Erina. Sang Ibu yang melihat Erina sedikit melamun, tiba tiba menggenggam tangan Erina dan menatapnya lekat. "Tolong jaga dia dengan baik." Pinta sang Ibu. Erina pun hanya tersenyum tanpa berkata apapun. Acara keluarga pun berlangsung hangat **** Hari berganti malam.. Billy dan Erina pun berpamitan untuk pulang setelah seharian menghabiskan waktu bersama kedua orang tua Billy. Mereka pun sepakat untuk mempercepat pernikahan Billy dan Erina atas permintaan kedua orang tua Billy. Dan Billy pun menyetujui keinginan kedua orang tuanya, karena dengan begitu ia juga akan lebih cepat mengakhiri kesepakatannya bersama Erina pikirnya. "Apakah tidak bisa menginap semalam saja?" Ucap sang Ibu. "Maaf bu, tapi besok Billy harus bekerja."  Sang Ibu pun terlihat sedih karena harus berpisah dengan Billy dan Erina. Sang Ayah pun merangkul bahu ibu "Sudahlah bu! Lain kali, mereka akan menginap disini, jadi biarkanlah untuk sekarang mereka pulang terlebih dahulu." Diana pun mengangguk pelan dengan wajah sedih. Billy dan Erina pun berpamitan. **** Sesampainya di rumah Billy… Billy merebahkan tubuhnya diatas sofa panjang. "Haa.. Lelah sekali." Gumam Billy. Billy menatap Erina yang sedari tadi hanya berdiri dengan pandangan tertunduk. "Aku tidak tau, kenapa kedua orang tuaku bisa langsung menyukaimu! Tapi, good job!" Ucap Billy dengan senyuman tipis. Billy pun melangkah pergi ke kamarnya, namun baru beberapa langkah ia pun berbalik.. "Pergilah ke kamarmu! Dan beristirahatlah!" Titah Billy yang kembali melanjutkan langkahnya. Setelah Billy pergi, Erina pun pergi ke kamarnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD