Erina mengikuti kedua saudaranya pindah ke sebuah rumah yang dibeli oleh kakak tertuanya, Kevin.
Jauh dari kesan mewah, bangunan itu sangat sederhana dan kecil jauh berbeda dengan rumah yang mereka tempati dahulu.
"Ini? Yang kau bilang rumah kak? Ini lebih baik disebut sebagai kandang dari pada sebuah rumah!" Theo berdecak kesal.
"Dengan uang yang tersisa, Kakak hanya bisa membeli rumah ini! Ini jauh lebih baik daripada kita harus tidur di jalanan, Sudahlah! Ayo masuk!"
Mereka pun masuk ke dalam rumah.
Erina terduduk lesu di samping ranjang mini, ia meremas rambutnya sambil menahan tangis, bayangan kedua orang tuanya kembali muncul di pelupuk matanya.
****
Keesokkan harinya, Seperti biasa Erina bersiap untuk berangkat sekolah.
"Kau mau kemana?" Tanya Kevin yang melihat Erina hendak melangkah keluar.
"Sekolah."
"Tidak perlu!"
"Ha? T-tapi kak?"
"Dengar! Kita tidak punya uang untuk membayar biaya sekolahmu! Lebih baik kamu mencari pekerjaan agar bisa menghasilkan banyak uang! Bukankah itu jauh lebih baik?"
Gadis itu tergugu, menatap wajah kakaknya dengan nanar. Ia hanya bisa mengatupkan rapat-rapat bibirnya, tanpa bisa membantah.
Ia pun kembali ke dalam kamarnya dengan perasaan kecewa dan sedih.
Brakk!
Theo menggebrak meja kecil di hadapannya.
"Kak! Sampai kapan kita akan hidup seperti ini? Ini bisa membuatku gila kak!" keluh Theo.
Sejak kecil hidup bahagia bergelimang harta, membuatnya kesulitan untuk beradaptasi dengan kehidupan barunya.
"Aku tidak ingin terus menerus menjadi orang miskin! Aku ingin kembali ke kehidupanku yang sebelumnya!" imbuhnya
Kevin pun menatap tajam sang adik karena merasa kesal dengan keluhan-keluhan yang dilontarkan nya pada kevin.
"Bisakah kau diam! Kau membuatku sangat kesal! Dasar manja! Terima saja kenyataan, kalau kita sekarang cuma anak miskin!"
Kevin pun melangkah pergi keluar untuk menghindari ocehan-ocehan dari Theo.
****
Kevin, hingga larut tak kunjung kembali pulang ke rumah. Ia memutuskan untuk pergi ke sebuah Club malam sekedar untuk mencari pelarian. Ia duduk di meja bar dengan sebotol minuman keras.
Saat tengah asyik menenggak minuman itu, tanpa sengaja ia mendengar percakapan dua orang pria yang duduk disampingnya.
"Aku merasa sangat kesal dengan persyaratan itu! Aku ini darah dagingnya, seharusnya mereka tidak membuat persyaratan yang tidak masuk akal seperti itu!" ucap lelaki bernama Billy dengan nada kesal.
"Lalu, apa yang akan kau lakukan?" tanya teman di sampingnya, yang diketahui bernama Ryan.
Kevin bisa menangkap, jika usia mereka sama dengannya.
Billy mengetuk dagunya, tampak berpikir.
"Emm, Aku ingin mencari seorang wanita yang bisa aku kendalikan! Dan akan menuruti semua keinginanku."
Ryan tergelak.
"Kalau begitu, kenapa kau tidak memilih salah satu jalang saja untuk bisa kau kendalikan!"
"Tidak! Itu terlalu beresiko, Aku tidak ingin dia jadi memanfaatkan keadaanku dan akhirnya membeberkan semuanya ke publik."
Puk!
Seseorang menepuk bahu Billy, membuat pemuda itu sontak menoleh.
"Aku sepertinya bisa membantumu, Tuan."
Rupanya Kevin yang memotong percakapan antara kedua pemuda itu.
Kevin pun duduk tepat di tengah-tengah mereka.
"Maksudmu?" tanya Billy.
"Aku memiliki seorang gadis yang kau inginkan. Ia lugu, polos dan bisa kau kendalikan."
Billy tertawa sambil bertepuk tangan.
"Wow. Kebetulan yang sangat menyenangkan. Baiklah, tunjukkan padaku!" tantang Billy.
"Aku akan menunjukkannya padamu, jika Anda mau membayarku," ucap Kevin to the point.
"Soal itu tidak jadi masalah untukku! Berapapun nominalnya, yang penting, gadis itu benar-benar memenuhi kriteria."
"Pasti, Tuan!"
Kevin dan Billy pun sepakat untuk melakukan pertemuan kembali keesokkan harinya di kediaman Billy.
****
"Erina. Bisakah kau ikut denganku?" Pinta Kevin.
"Kemana kak?"
"Ikut saja!"
Tanpa curiga sedikitpun, Erina mengangguk pelan dan mengikuti langkah Kevin.
Mereka menaiki sebuah taksi, dan sampailah Kevin dan Erina di depan sebuah rumah yang sangat besar melebihi dari rumah yang sebelumnya mereka miliki.
"Ini, istana siapa?" Tanya Erina heran.
Tanpa menjawab pertanyaan Erina, Kevin pun meraih tangan gadis itu, dan menariknya untuk masuk ke dalam rumah tersebut.
"Aww!" rintih Erina. Tangannya cukup kesakitan karena Kevin memegangnya terlalu erat.
Pintu rumah pun terbuka, seorang pelayan mengantarkan mereka ke sebuah ruang tamu yang luas, terlihat sosok seorang pria dengan setelan jas lengkap dan paras yang rupawan serta dingin, sedang membaca berita di sebuah I-pad miliknya.
"Tuan, tamu Anda sudah datang."
Billy pun menyimpan kembali I-pad miliknya dan mempersilahkan Kevin dan Erina untuk duduk.
"Tuan, ini gadis yang kemarin aku katakan," ujar Kevin.
Erina merasa kebingungan apa yang dimaksud dengan ucapan Kevin.
Billy menatap Erina dari atas hingga bawah, kemudian senyumnya tersungging.
"Good. Oke, sesuai kesepakatan, ini uang yang kamu minta." Billy menyodorkan sebuah koper berwarna hitam dan menyimpannya di atas meja.
Kevin pun meraihnya dengan raut wajah senang, sedangkan Erina terlihat masih mencerna apa yang sedang terjadi.
"Baiklah, aku pergi dulu Tuan! Dan selamat bersenang-senang," ucap Kevin yang hendak melangkah pergi namun tertahan oleh Erina.
"Kak, Tunggu Aku!" ujar Erina sambil memegang tangan Kevin.
Kevin pun melepas kasar pegangan tangan Erina.
"Kau tidak perlu ikut! Tetaplah disini! Dan layani Tuan muda itu dengan baik!"
"A-apa maksud kakak?"
"Ini adalah waktu yang tepat untukmu membalas semua kebaikan keluargaku!" ucap Kevin dengan senyuman kecilnya.
"Apa? Apa Kau menjualku padanya kak?" tanya Erina syok.
"Iya!" jawab singkat Kevin.
Pemuda itu pun melanjutkan langkahnya. Erina berusaha mengejarnya.
"Kak! Kakak!! Aku mohon jangan jual aku!!" Teriak Erina dan mencoba untuk mengikuti langkah Kevin.
Namun, Billy menyuruh anak buahnya untuk membawa Erina masuk ke dalam sebuah kamar yang sudah Billy siapkan sebelumnya.
Erina terus memberontak sambil berteriak dan menangis, memohon untuk dilepaskan.
"Lepaskan aku!! Aku mohon!!" teriak Erina sambil menangis.
Namun, Billy tidak menanggapinya dan lebih memilih untuk tetap mengurung Erina.
****
Malam harinya. Seorang pelayan mengantarkan makan malam untuk Erina.
"Permisi Nona, ini makan malam Anda," ucap pelayan dengan ramah.
Erina yang masih saja menangis di sudut ruangan pun bergegas menghampiri si pelayan.
"Aku mohon! Bantu aku untuk melarikan diri dari sini!" cetus gadis itu dengan ucapan bergetar.
"Maaf, tapi tidak bisa, saya hanya pelayan di sini, Nona "
Tiba tiba ....
"Aku sudah membayar sangat mahal untuk membelimu!" ujar Billy yang tiba tiba saja masuk.
Pelayan tersebut pun pergi meninggalkan Billy dan juga Erina.
Erina yang merasa ketakutan pun melangkah mundur saat Billy mencoba mendekat ke arahnya. Hingga Erina tersudutkan.
Billy pun mendekatkan wajahnya ke arah wajah Erina, namun Erina menutup matanya karena ketakutan, ia takut jika hal yang ia takutkan akan terjadi.
"Kau tidak usah berpikiran yang tidak-tidak! Karena aku membayarmu bukan untuk melakukan hal seperti yang kau pikirkan!"
Billy pun duduk di birai kasur.
"Aku ingin membuat sebuah kesepakatan denganmu," ungkap Billy.
"Kesepakatan?" Kening Erina berkerut.
"Iya! Jika kau bisa melakukannya dengan baik, aku akan melepaskan mu dan akan memberimu bonus!"
"Kesepakatan apa?"
"Kau hanya perlu berpura-pura menikah denganku, menjadi istri yang baik dan menjadi seorang menantu yang baik! Setidaknya untuk waktu 1 - 2 Tahun, setelah itu aku akan melepaskanmu dan kau akan mendapatkan kembali kebebasanmu!" terang Billy.
"Atas dasar apa aku harus mempercayaimu jika kau tidak akan melakukan hal buruk terhadapku?" tanya Erina.
"Huh! Setidaknya, Aku tidak akan melakukan hal keji seperti yang kakakmu lakukan padamu! Seandainya dia menjualmu ke Club, mungkin nasibmu tidak akan sebaik ini! Tapi, terserah jika kau memang tidak setuju aku hanya tinggal mengambil kembali uangku sedangkan kau, mungkin akan berakhir di Club menjadi wanita jalang!" desis Billy.
Deg!
Erina pun terdiam dan tampak berpikir.
"Selain itu, jika kau mencoba untuk kabur, aku tidak akan segan-segan menghancurkanmu dan juga kakakmu!"
Billy pun hendak melangkah pergi meninggalkan kamar. Erina menghela nafas panjang.
"Baiklah," ucap Erina menghentikan langkah lelaki itu.
"Aku setuju dengan kesepakatan ini!"
Billy pun tersenyum penuh kemenangan, dan ia pun pergi meninggalkan Erina.
Sementara gadis itu, terduduk lemas dan kembali menangis.
****
Pagi berikutnya, Billy meminta para pelayannya untuk mendandani Erina dan membawanya ke ruang makan.
Saat Billy akan memulai sarapannya, ia melihat Erina yang terlihat mempesona setelah didandani.
"Emm, Makanlah," ucap Billy merasa gugup.
Erina pun mengangguk.
Selesai sarapan, Billy dan Erina duduk di ruang tamu.
"Ini! Tandatangani!"
Erina pun meraih sebuah map berwarna biru tersebut, dan membaca isinya. Dan Erina pun langsung menandatangani surat tersebut.
"Persiapkan dirimu! Karena besok, kita akan menemui orang tuaku." Jelas Billy
Erina pun mengangguk paham, ia hanya bisa pasrah dan entah bagaimana hidupnya nanti.