Part 2

1233 Words
Beberapa bulan kemudian, Erina hampir setiap hari melakukan pekerjaan rumah tangga, menggantikan para pembantu di rumah besar itu. Seperti pagi ini, gadis itu tengah mempersiapkan sarapan untuk kedua saudaranya sebelum ia berangkat ke sekolah. Saat tengah asyik menata makanan diatas meja makan, perhatiannya pun teralihkan oleh suara bel pintu yang terdengar beberapa kali. Erina pun membukanya. "Maaf, permisi Nona, ada surat untuk Tuan Kevin." "Ah iya. Baik, terima kasih." Erina pun menerima surat tersebut. Karena merasa penasaran, ia diam-diam membukanya. 'Apa artinya ini?' batin Erina yang mencoba mencerna apa yang ia baca. Tiba tiba seseorang mengambil surat tersebut dari tangannya. "Itu maksudnya apa kak?" tanya Erina "Kau tidak perlu tau!" jawab sinis Theo. **** Selama di kelas, Erina terlihat melamun dan tidak berkonsentrasi karena terus memikirkan arti dari surat yang ia baca tadi pagi. "Erina?" panggil Arvin yang sedari tadi memperhatikan Erina. Gadis itu mengerjap karena terkejut. "Ya?" jawab singkat Erina. "Apa kau baik baik saja?"  "Ya, tentu! Aku tidak apa apa." Arvin menggamit lengannya. "Kita ke kantin yuk. Jam istirahat sudah tiba." "Eh!" Erina tidak bisa menolak, ia mengikuti langkah lelaki itu. Arvin memang sedari tadi mengkhawatirkan Erina. Dan berinisiatif mentraktirnya makan siang. "Kau mau pesan apa?" "Apa saja," jawab Erina pendek. Arvin pun memesankan beberapa jenis makanan. "Makanlah!" Erina pun dengan senyum sumringah ia mulai memakan makanannya, Arvin hanya tersenyum melihat Erina yang makan begitu lahap seolah belum makan beberapa hari. "Apa enak?"  "Hmm!" Arvin pun berbicara perlahan dan menanyakan tentang kondisi Erina sekarang bersama kedua kakaknya. "Erina, Apa kedua kakakmu menyiksamu lagi?" Seketika Erina pun berhenti mengunyah. Ia merasa heran, dari mana Arvin mengetahui hal itu. "Kok kamu diam?" tanya Arvin. "Kedua kakakku tidak pernah menyiksaku, mereka sangat menyayangiku," jawab Erina berusaha tersenyum yang dipaksakan. Arvin pun meraih tangan Erina dan menatapnya dalam-dalam. "Aku tau, kamu selalu menjadi sasaran kemarahan kedua kakakmu. Aku pernah melihatmu diperlakukan kasar dan melihat luka lebam di tangan dan kakimu," jelas Arvin. Mata Erina membola. "A-apa? Kau jangan mengada-ada, itu tidak benar!" bantah Erina. "Dengar. Jika mereka benar benar memperlakukanmu seperti itu, lebih baik laporkan kepada pihak yang berwajib." "Kau ini bicara apa? Sudahlah! A-aku sudah kenyang, aku duluan ya!" Erina pun memilih menghindari Arvin. Ia melangkah cepat sambil menggeleng kuat. 'Bagaimana mungkin dia tau jika kedua kakakku selalu bersikap kasar terhadap ku?" gumam Erina. **** Sepulang sekolah, Erina dikejutkan dengan suara pertengkaran yang hebat di dalam rumah. "Ada apa? Kenapa ribut sekali?" Erina pun bergegas masuk ke dalam rumah, dan mendapati kedua kakaknya yang sedang dihajar habis habisan oleh beberapa orang. "Hentikan!!" Teriak Erina sambil berlari dan menghampiri kedua kakaknya yang tengah tergeletak lemah di lantai. "Apa yang kalian lakukan pada kakakku?" teriak Erina. "Ini hanya peringatan! Kalian harus segera membayar hutang-hutang! Jika tidak, aku tak akan segan menghabisi kalian dan mengambil organ tubuh kalian, untuk aku jual sebagai bayarannya!"  Mereka pun pergi begitu saja sambil mendecih. Erina berjongkok membantu "Kakak, kalian tidak apa-apa?" tanya Erina. Erina pun membantu kedua kakaknya, dan mencoba memapah mereka untuk berbaring diatas sofa.  Dengan telaten, ia mengobati luka-luka lebam "Sstttt, sakit!" pekik Kevin. "Tahan sebentar ya Kak." Keduanya masih meringis, karena perih dari obat antiseptik yang di tempelkan oleh Erina. "Sebenarnya, mereka siapa kak?" tanya Erina kemudian. Namun, Kevin dan Theo hanya diam tanpa menjawab pertanyaan Erina. "Kak? Apa kalian memiliki masalah dengan mereka?" tanya Erina dengan penekanan. Karena desakan dari Erina, akhirnya Kevin pun memberitahu siapa orang orang tersebut. "Mereka adalah debt collector," jawab Kevin. "Apa? Tapi, kenapa kakak bisa memiliki masalah dengan mereka?" "Perusahaan mengalami krisis keuangan dan kami memutuskan untuk meminjam uang dari mereka, tidak kusangka ternyata mereka cukup pintar untuk menipu kami." "Lalu?" "Mereka datang untuk menagih pembayaran untuk pinjaman tersebut, tapi. Proyek itu gagal. Kami tidak memiliki lagi uang untuk membayar maupun untuk mempertahankan perusahaan," imbuh Kevin. "Itu semua gara gara kau kak!" ucap Theo tiba tiba. Ia menatap wajah Kevin dengan nyalang sambil memegang pipinya yang kebiruan. "Kenapa kau selalu menyalahkanku?! Memangnya kau tidak menikmati uang itu?" teriak Kevin. Mereka terus bertengkar, membuat sesak di hati Erina. Ia sungguh tidak menginginkan semua masalah pelik ini terus berlangsung, andai kedua orang tua angkatnya masih ada, tentu semua ini takkan terjadi. Sementara Erina merasa tidak berguna karena tidak melakukan hal banyak untuk membantu. **** Keesokkan harinya, sepulang sekolah Erina terlihat tidak memperhatikan langkah kakinya dan hampir tertabrak mobil yang dikendarai oleh Arvin. "Kau tidak apa apa?" tanya Arvin yang bergegas keluar dari mobil dan langsung menghampirinya. "Aku tidak apa apa." Erina pun dibantu Arvin untuk berdiri. "Aku akan mengantarmu pulang." "Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri." Erina pun melangkah pergi, namun baru beberapa langkah Arvin pun menghalangi langkahnya. "Kau mau kemana? Aku akan mengantarmu kemana pun." Karena paksaan Arvin, Erina pun akhirnya menerima tawaran Arvin. "Baiklah. Antarkan aku ke sebuah tempat." Arvin pun mengangguk setuju **** "Panti asuhan?" Kening Arvin berkerut merasa heran. "Iya, Aku berasal dari sini. Tempat di mana banyak anak-anak yang tidak mempunyai orang tua, entah itu karena ditinggal meninggal, atau tidak diinginkan orang tuanya ...." Mata Erina meredup. Erina pun turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam panti asuhan tersebut diikuti oleh Arvin di belakangnya. Suasana panti asuhan sangatlah sepi, tidak ada lagi suara anak-anak kecil bermain dan tertawa bersama, hingga tanpa terasa Erina pun kembali meneteskan air mata. "Kenapa disini sepi sekali?" tanya Arvin tiba-tiba dan membuat langkah Erina terhenti. Ia menghapus air matanya dengan kasar, karena tidak ingin Arvin mengetahuinya. "Emm, Panti asuhan ini sudah bangkrut. Ibu Ariana memindahkan anak-anak ke panti yang lain, karena kondisi yang tidak memungkinkan," jelas Erina. Arvin pun hanya menganggukkan kepalanya. Sampailah Erina didepan sebuah ruangan. Ia pun mengetuk pintu yang berada di hadapannya. Namun, tidak ada jawaban hingga seseorang muncul dari arah belakang mereka yang  membuat terkejut. "Permisi?" sapa seseorang Erina pun berpaling ke arah belakang "Ibu!" Erina langsung memeluk Ariana sosok seorang ibu yang telah merawatnya yang kini berada di hadapannya sekarang, Ariana pun memeluk Erina tak kalah erat. Arvin pun memberikan waktu kepada Erina untuk bisa bicara dengan Ariana. "Bagaimana kabarmu Nak?" "Emm, Aku baik. Ibu gimana?" Erina balik bertanya. "Ibu sudah mendapatkan kabar tentang meninggalnya kedua orang tua angkat mu, ibu turut berduka." Erina pun terlihat menundukkan pandangannya. Ariana yang menyadari itu dan menaikkan wajah Erina, seketika tangisan gadis itu pun pecah. Ariana pun kembali memeluk erat anak asuhannya tersebut. Setelah pertemuan yang singkat itu, Arvin kembali mengantarnya pulang. "Apa kau sudah merasa lebih baik?" tanya Arvin sambil menyetir mobil. Erina pun hanya mengangguk pelan. "Terima kasih atas bantuanmu."  Arvin pun hanya tersenyum mendengarnya. **** Sesampainya di rumah. Pandangan Erina langsung tertuju pada selembar kertas yang tertempel di depan pintu rumahnya, Erina begitu terkejut saat membacanya. "D-disegel? Apa maksudnya ini?" Erina pun bergegas masuk ke dalam rumah dan mencari keberadaan kedua saudaranya. "Kakak!!" teriak Erina. Erina pun masuk begitu saja ke kamar Kevin yang terlihat sedang membereskan pakaiannya. "Kak! Tadi aku melihat tanda segel di pintu, apa maksudnya itu?" "Bereskan barang-barangmu, kita hanya diberi waktu 6 jam untuk membereskan barang barang kita." "Apa? Apa yang terjadi kak? Katakan!" desak Erina. "Kau tidak perlu tau! Kau hanyalah anak pungut! Jika kau masih ingin ikut bersama kami, lekas bereskan barang barangmu! Tapi jika kau masih banyak bertanya, pergi saja dari hadapanku!"  Erina pun terdiam dan melangkah pergi menuju kamarnya. Erina pun duduk di birai kasurnya sambil menangis dan memeluk kedua lututnya. "Apa yang sebenarnya terjadi?" ucap pelan Erina. Setelah beberapa saat, Erina pun berangsur tenang dan bergegas membereskan barang barangnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD