Semakin hari Billy dan Erina semakin dekat, mereka sering menghabiskan waktu bersama, seperti hari ini mereka sedang bersepeda bersama di taman dekat rumah, menikmati cemilan dan bercanda tawa.
Waktu terasa cepat berlalu, hingga tanpa terasa perjanjian mereka pun akan segera berakhir dalam hitungan hari, Billy yang sedang memeluk Erina dari belakang sambil menatap pemandangan kota yang indah, dengan deretan bangunan yang berjajar dan pepohonan yang rimbun, terasa sejuk dan menenangkan, Billy pun angkat suara.
"Pemandangannya sangat indah bukan?"
Erina pun menganggukkan kepalanya, ia pun berbalik menghadap Billy.
"Perjanjian kita akan segera berakhir dalam tiga hari lagi, bagaimana cara menjelaskannya pada ibu?"
Billy pun memegang wajah Erina dengan kedua tangannya dan menatap matanya dalam.
"Aku tidak peduli dengan perjanjian itu! Aku akan membakar kertas itu, agar tidak ada yang tahu mengenai ini! Dan kau akan tetap menjadi istriku, dan ibu tidak akan pernah tahu tentang perjanjian itu!"
Erina pun memeluk erat Billy, Billy pun membalas pelukan Erina tak kalah erat.
****
Malam hari,
Mereka tiba di rumah, sambil bergandengan tangan dan senyuman yang tidak lepas dari bibir mereka, mereka disambut oleh Diana yang memasang raut wajah dingin.
"Selamat malam bu!" Sapa Erina dan Billy.
Diana langsung menatap tajam ke arah Billy, dan melemparkan sebuah map berwarna coklat ke wajah Billy.
"Apa ini?" Tanya Diana dengan nada tinggi.
Billy pun mengambil amplop itu dan mengeluarkan isi di dalamnya.
Mata Billy terbelalak saat mengetahui jika isi dalam amplop tersebut adalah surat perjanjian yang ia buat dulu.
Diana terlihat sangat marah dan kecewa pada Billy dan Erina,
"Tega sekali, kau putra kandungku sendiri telah menipuku!!!" Teriak Diana dengan air matanya yang mengalir.
Erina mencoba untuk menenangkan diana,
"Ibu, dengarkan aku! Kami bisa menjelaskan semuanya!" Ucap Erina sambil memegang lengan Diana.
Diana menatap tajam ke arah Erina, hingga Erina melepas pegangannya.
"Bu, aku mohon! Kami bisa menjelaskan semuanya!" Bujuk Erina.
"Aku tidak ingin mendengar apapun dari mulut w************n seperti dirimu!!" Bentak Diana
'Degh'
Hati erina begitu sangat sakit saat mendengar perkataan dari diana, dadanya terasa perih mendengar makian itu, hingga buliran bening itu pun mengalir lolos begitu saja.
Billy mencoba untuk menjelaskan semuanya pada sang ibu, Namun Diana tidak mau mendengarnya.
Suasana pun semakin tak karuan,
"Bu, Aku dan Erina benar benar saling mencintai!" Ungkap Billy
"Lalu itu apa? Apa kamu mau bilang jika itu palsu? Katakan!! Jika saling mencintai tidak akan ada surat perjanjian seperti itu!" Tegas Diana.
Erina pun hanya tergugu, sedari tadi ia hanya menundukkan pandangannya, dan mengetapkan bibirnya.
"Surat itu memang benar bu, tapi itu dulu, sekarang kami benar benar saling mencintai! Darimana ibu dapat semua ini?"
Tiba tiba, muncullah seorang pria dengan setelan jas berwarna hitam menghampiri mereka,
"Maaf Billy, aku terpaksa memberitahu orang tuamu tentang semua ini!"
Mata Billy dan Erina pun membulat sempurna saat mereka melihat Ryan yang berada dibalik semua ini, Billy terlihat sangat murka, hingga ia akan memukul Ryan dengan bogem mentahnya, namun ia dihalangi oleh Diana.
"Kau tidak boleh seperti ini! Ryan sudah melakukan hal yang benar dengan memberitahu ibu tentang perjanjian kalian!" Bentak Diana.
"Tapi bu, Ibu tidak mengetahui yang sebenarnya!"
"Cukup!!"
Ryan pun ikut angkat suara,
"Maaf, tapi aku tidak ingin Erina terluka lebih dalam lagi karena perjanjian itu!! Kau harusnya mengerti!! Bagaimana ia menjalani sekolahnya dengan kesepian dan sendirian, hanya karena perjanjian bodohmu itu!! Kau juga harus tau, bagaimana sulitnya Erina menjalani hari harinya yang terkekang karena ulahmu!"
Billy yang emosi pun langsung mendaratkan pukulannya ke arah wajah Ryan hingga Ryan pun jatuh tersungkur.
Billy menarik kerah baju Ryan,
"Dengarkan aku baik baik!! Kau itu benar benar laki laki sok tahu!!"
Billy pun kembali menghajarnya, Diana pun menyuruh para suruhannya untuk memisahkan Mereka.
"Dengar! Jika kau ingin warisan, aku akan memberi semua itu! Tapi dengan syarat wanita ini harus pergi dari rumah ini?!" Ucap Diana sambil menunjuk Erina.
"Tapi bu, Aku tidak mungkin mengusir Erina! Erina adalah istriku!!" Jawab Billy.
Diana pun mengangguk pelan,
"Baik, jika ini maumu! Aku akan memberimu pilihan, Kau mau memilih Kedua orang tuamu atau kau akan memilih gadis murahan yang kau beli ini?!"
Pilihan yang sulit untuk Billy, bukan ini yang ia inginkan, ia tidak ingin kehilangan Erina, tapi ia juga sangat menyayangi keluarganya.
Billy menatap Erina dan sang ibu bergantian,
'Apa yang harus ku lakukan? Siapa yang harus ku pilih?' Batin Billy.
****
Erina pun menatap Billy dalam, Namun Billy malah memalingkan wajahnya.
"Aku memilih ibu," Jawab Billy sambil menundukkan pandangannya.
Diana sang ibu pun memeluk erat Billy,
"Kau sudah melakukan hal yang benar! Ibu tidak akan memaksamu untuk menikah lagi! Ibu akan memberikan semua harta keluarga untuk mu tanpa persyaratan apapun! Ibu tidak ingin kau menjatuhkan harga dirimu lagi dengan membeli seorang b***k!"
Air Mata Erina benar benar mengalir deras, Erina merasa tidak berdaya mendengar keputusan Billy, rasanya baru saja Billy berjanji untuk tidak meninggalkannya, namun semuanya berbanding terbalik dengan yang terjadi, Erina pun ditarik keluar oleh para suruhan Ibu Billy, dan Ryan mengikuti langkah mereka.
Billy hanya menatap nanar Erina yang dipaksa keluar,
Erina didorong hingga ia tersungkur ke tanah, Ryan yang melihat perlakuan para suruhan Diana itu pun marah terhadap mereka, namun mereka tidak mengindahkannya.
Ryan membantu Erina untuk bangun,
"Bangun lah,"
Erina pun berdiri, dengan air mata yang masih membasahi nya.
"Kau tidak Apa apa?" Tanya Ryan.
Erina pun hanya mengangguk pelan, ia kemudian hendak melangkah
"Tunggu!"
Panggilan Ryan menahan langkah Erina, Ryan pun menatap Erina
"Maaf, kau harus mendapatkan perlakuan seperti ini, Aku tidak tau jika bu diana akan bertindak sekasar ini."
Erina tidak menjawab Ryan, ia pun kembali melangkahkan kakinya, namun Ryan kembali menghalangi langkahnya.
"Ini sudah malam, lebih baik kau menginap di rumah ku!"
"Tidak usah, Aku ingin sendiri,"
Erina pun kembali melanjutkan langkahnya, Entah harus kemana ia pergi, ia membiarkan kakinya terus berjalan tanpa tujuan.
****
Entah sudah berjalan sejauh mana kaki Erina melangkah, Hingga tiba tiba Erina pun jatuh pingsan di depan sebuah restoran karena kelelahan,
"Brukk"
Seorang pelayan yang akan menutup restoran tersebut, menemukan Erina yang tengah jatuh pingsan.
"Nona? Apa anda baik baik saja?"
Pelayan itu pun membopong Erina masuk ke dalam restoran dan membaringkannya di sebuah sofa.
Pemilik restoran itu pun menatap heran pelayan nya,
"Siapa dia?"
"Maaf bos, Saya menemukannya pingsan di depan restoran kita, jadi saya membawanya kesini."
"Ya sudah! Biarkan saja dia! Kau pulang lah! Biar aku yang disini, Aku akan menginap disini."
"Bos menginap lagi?"
"Ya, kenapa?"
"Tidak apa apa bos, hanya saja bos sudah hampir setahun ini sering sekali menginap disini,"
"Sudahlah! Pulang sana!"
"Baik, Permisi bos!"
Pelayan itu pun pergi, sedangkan pemilik restoran itu menyelimuti Erina dan kembali ke ruangannya, meninggalkan Erina yang terbaring di sofa.
****
Hari pun berganti,
Erina bangun dari pingsannya, ia melihat ke sekeliling dan membuatnya sangat terkejut karena mendapati dirinya berada di dalam sebuah restoran,
Erina pun melangkah ke pintu keluar, namun pintu tersebut masih terkunci, Erina pun mencoba untuk mencari jalan keluar lain, namun ia tidak menemukan nya, semua pintu dan jendela terkunci dengan rapat, tiba tiba perut nya terasa sangat lapar karena sejak kemarin malam ia tidak makan sama sekali, lalu ia pun mencoba mencari makanan.
Erina menemukan dapur restoran tersebut, ia mulai memakan makanan yang ia temukan di dapur tersebut.
Saat sedang asik mengunyah makanannya, ia dikagetkan dengan suara seseorang.
"Kau pastinya lapar,"
Erina pun berpaling ke arah suara, dan melihat seorang wanita yang lebih tua darinya berdiri di muka pintu.
"M-maaf! A-aku tidak tahu jika ada orang," Ucap Erina.
Gadis itu pun menghampiri Erina, dan mengulurkan tangannya
"Kenalkan Namaku Amanda!"
Erina pun menyambutnya,
"Erina,"
Amanda pun tersenyum, dan kembali bertanya
"Apa yang terjadi? Kenapa kau bisa pingsan di depan restoran ku?" Tanya Amanda.
"Itu, mungkin karena aku kelelahan saja." Ucap Erina terkekeh.
"Begitu ya, Baiklah, kalau begitu kau boleh pergi, Kasian orang tuamu pasti khawatir,"
Erina pun terdiam, dan meneteskan air mata, sedangkan si pemilik restoran menatap heran karena melihat Erina menangis.
"Kenapa kau menangis?"
Erina pun menghapus air mata nya kasar,
"Aku tidak apa apa! Emm, Apakah disini ada lowongan pekerjaan?"
"Lowongan kerja? Apa kau tidak sedang lari dari rumah?"
"Tidak! Aku tidak memiliki keluarga maupun rumah, Aku hanya sedang mencari uang untuk membiayai hidupku, "
Amanda pun mengangguk pelan,
"Begini saja, Aku akan memberimu masa percobaan selama satu bulan, kau bisa tinggal di gudang belakang, dan kau bisa makan 3 kali sehari disini, jika kinerjamu bagus, aku akan mengangkatmu menjadi karyawan tetap disini."
"Aku setuju,"
Erina pun menyetujui tawaran Amanda.
****
Erina membersihkan dan merapikan gudang yang berada di belakang restoran, semenjak itu ia tinggal di restoran tersebut, Amanda merasa senang karena Erina bekerja dengan baik dan selalu menemaninya saat ia menginap di restoran, Amanda merasa memiliki seorang adik saat bersama Erina.
****
Ryan menerobos masuk ke dalam ruangan Billy, Billy yang terlihat sangat sibuk terkejut dengan kedatangan Ryan,
"Ada apa kau kemari?" Tanya sinis Billy
"Apa kau tahu dimana Erina?"
Billy pun tidak menggubris Ryan dan hanya menatap layar komputernya.
"Billy!" Bentak Ryan
"Lebih baik kau keluar!"
"Apa kau masih marah terhadapku karena kejadian satu bulan yang lalu?"
Billy pun berdiri dari duduknya, dan membukakan pintu,
"Keluar!"
Ryan pun melangkah mendekat ke arah Billy,
"Erina menghilang sudah satu bulan ini, Aku mengkhawatirkan keadaannya, karena dia tidak membawa apapun saat itu, Aku sudah mencarinya kemana mana! Tapi aku tidak menemukannya, Aku tau semua ini adalah kesalahanku, Aku minta maaf! Tapi, kita harus segera menemukan Erina, Aku takut ia dalam bahaya,"
Ryan pun melangkah keluar, dan Billy membanting pintunya.
Billy pun mengusap wajahnya kasar, seketika kenangan bersama Erina pun terus berputar di otaknya, ia merasa bersalah karena Erina yang diusir oleh sang ibu.
"Maafkan aku,"
****
Jam makan siang adalah waktu tersibuk di restoran ini, Erina sedang sibuk mencuci piring di dapur, tangannya yang sudah menjadi kasar, memerah hingga sedikit mengelupas tetap ia paksakan untuk bekerja,
"Erina! Ini cuciannya!"
"Baik!"
Belum satu menit ia menyelesaikan cucian yang menumpuk, cucian itu pun kembali lagi memenuhi wastafel yang berukuran besar tersebut.
Hingga secara tidak sengaja, tangannya yang sudah bergemetaran karena kedinginan menjatuhkan sebuah piring
"Pranggg,"
Erina yang merasa syok langsung merapikannya,
"Ada apa ini?" Tanya Amanda yang mendengar sesuatu yang jatuh saat ia lewat.
Erina terlihat sedikit ketakutan,
"M-maaf bos! Aku tidak sengaja menjatuhkan piringnya!"
Amanda pun menyilangkan kedua tangannya di d*d*nya,
"Lain kali berhati hatilah!"
Erina pun mengangguk dan kembali bekerja.
****