Aku mencintaimu

1273 Words
Billy mencoba untuk menjelaskan pada Erina mengenai perkataan Lisa, Namun Erina seperti tidak peduli dengan penjelasan Billy. Erina berpikir, jika itu bukan kapasitasnya, dan ia tidak memiliki hak apapun untuk mendengar penjelasan dari Billy, Erina selalu menjawab jika hubungan mereka tidak lebih hanya di atas selembar kertas. "Erina, Dengarkan aku!" Billy yang mendahului langkah Erina kembali mencoba berbicara padanya. "Aku sama sekali benar benar tidak menyadari itu! Lagipula, kita kemari juga karena ibu yang menyiapkan semuanya, bukan atas kemauanku!" "Kamu tidak perlu menjelaskan apapun, dan aku tidak punya hak untuk mendengar penjelasan apapun darimu! Kita tidak memiliki hubungan apapun, jadi tidak perlu sepanik itu." Erina pun melangkah pergi, meninggalkan Billy yang terpaku. **** Erina pun memutuskan untuk pergi berjalan jalan sendirian tanpa Billy, Ia menyusuri pantai dan duduk diatas pasir, sedikit melamun, memikirkan semua hal yang sudah ia lewati bersama Billy, Erina pun menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak! Aku tidak boleh memikirkan Billy lagi! Karena semua ini, tidak lebih hanya sebuah perjanjian!" Gumam Erina. Erina memutuskan untuk berjalan jalan menyusuri kota, untuk mencari makanan. **** Tanpa terasa hari pun menjelang malam, Erina yang terlalu asyik pergi sendiri tiba tiba merasa kebingungan saat ia sadar, ia sudah terlalu jauh berjalan dari penginapan, Erina pun tersesat. 'Bagaimana ini? Aku tidak tahu arah untuk kembali ke penginapan!' Batin Erina. Erina pun mencoba untuk berjalan kembali mengikuti naluri nya, namun nyatanya Erina justru semakin jauh berjalan. Hari semakin gelap, Erina mulai ketakutan karena ia justru berjalan ke tempat yang sepi, tidak ada seorangpun yang bisa ia tanyai, hingga ia merasakan ada seseorang yang mengikutinya. Erina membalikkan tubuhnya dan melihat ke arah sekitar, namun tidak terlihat siapapun, ia kemudian berlari, namun saat berlari tanpa sengaja ia tersandung dan terjatuh, seseorang lalu menghampirinya dan menariknya untuk membantunya berdiri, Erina yang ketakutan hanya memejamkan mata dan mencoba untuk memberontak, namun orang tersebut tetap menarik tubuh Erina. Erina seketika berteriak, "Tolong aku! Aku tidak memiliki apapun! Aku mohon lepaskan aku! Aku sudah bersuami, aku bukan lajang! Suamiku akan kesini dan menghajarmu jika kau tidak melepaskan ku!" Tiba tiba terdengar suara tawa yang cukup keras "Pftt.. Ha ha ha ha!" 'Suara itu?' Batin Erina Erina pun membuka kedua matanya, dan mendapati sosok seorang pria yang tidak asing lagi baginya dengan wajah tersenyum dan mengangkat kedua alisnya. "K-kau?" Erina pun menghempaskan kasar tangan Billy yang sedari tadi memegang bahu nya. "Ternyata, wajahmu sangat lucu sekali jika ketakutan seperti itu!" Ucap Billy dengan tawa meledek. "Jangan bicara sembarangan! Apa yang kau lakukan disini? Kenapa kau bisa tau aku berada disini? Apa kau menguntit?" "Aku tidak pernah menguntit mu! Tadi pagi aku melihatmu berjalan sendiri, karena aku khawatir jadi aku ikut bersamamu! Ternyata memang benar dugaanku, kau tidak ingat jalan pulang!" "Ishh, A-aku tahu jalan pulang! Sudah pergi sana!" Namun, Billy tersenyum menatap ke arah Erina, lalu tiba tiba Billy menarik tangan Erina. "Eh, Apa yang kau lakukan?" "Sudahlah, berhentilah bersikap seperti itu! Aku ini suami mu! Meski hanya di selembar kertas, kau tetap istriku!" Erina pun terdiam mendengar perkataan Billy, dan mengikuti langkah Billy. "Aku minta maaf dengan yang terjadi kemarin, tapi aku benar benar tidak menyadari itu, dan aku tidak pernah memikirkan tentang Lisa lagi, yang aku pikirkan sekarang, hanyalah istriku!" Erina pun tersipu malu mendengar pengakuan Billy. **** Keesokan harinya,  Billy dan Erina melakukan olahraga bersama, mereka berlari pagi menyusuri pantai, sambil menikmati pemandangan di sekitar mereka, hal sederhana namun menyenangkan untuk mereka, karena disertai dengan canda tawa. Tiba tiba seorang pria menghampiri mereka dan meminta pertolongan pada mereka, "Tolong kami!" "Ada apa?" "Aku tidak bisa berenang! Kekasihku tenggelam!" Billy dan Erina pun menghampiri seseorang yang sudah hampir tenggelam di pantai, terlihat kedua tangannya yang terus melambai meminta pertolongan, tanpa pikir panjang Billy langsung berenang menghampiri orang tersebut, lalu membawanya ke tepi pantai. Setelah tiba di tepi pantai, Billy baru menyadari jika yang ia tolong adalah Lisa, untuk sesaat Billy hanya menatap Lisa, "Aku mohon, tolong kekasihku!" Billy pun mencoba sedikit menekan d*d* sebelah kiri lisa dengan kedua tangannya agar Lisa bisa bernafas, namun rupanya ini tidak berjalan baik, Billy pun memberikan nafas buatan pada Lisa, pemandangan ini membuat Erina sangat sakit, meski niat Billy hanya untuk menolong Lisa, tapi entah kenapa melihat Billy menyentuh gadis lain membuatnya sangat sakit. Erina pun berlari pergi tanpa Billy sadari, karena Billy yang fokus memberikan nafas buatan pada Lisa. Hingga Lisa akhirnya memuntahkan semua air yang ia telan, Lisa pun mulai tersadar dan melihat wajah Billy, ia langsung memeluk erat Billy. Billy hanya terdiam, saat ia mengalihkan pandangannya ia baru menyadari jika Erina sudah tidak berada disitu, Billy pun melepas kasar pelukan Lisa dan langsung berlari mencari Erina, sedangkan Lisa terlihat hanya menyunggingkan senyuman di sudut bibirnya. "Aktingmu lumayan bagus!" Puji Lisa pada pria yang mengaku kekasihnya "Terima kasih nona!" Jawabnya **** Billy berlari kembali ke penginapannya, dan mencari Erina, dan ia menemukan Erina sedang menangis di teras. Erina yang menyadari Billy menghampirinya pun langsung menghapus air matanya kasar. "Ada apa?" Tanya Erina tanpa menatap ke arah Billy. "Apa kau menangis?" "Tidak! Untuk apa aku menangis?!" Jawab sinis Erina. Billy pun duduk disamping Erina, "Apa kau cemburu melihatku tadi?" Tanya Billy "Tidak! Aku tidak memiliki hak untuk cemburu!" Billy pun memalingkan wajah Erina dengan tangannya agar menatap ke arahnya. "Kau punya hak untuk itu! Karena kau adalah istriku!" Erina pun menghempaskan tangan Billy dan kembali menatap ke arah lain. "Aku mungkin memang istrimu, tapi yang memenuhi hatimu bukan aku!" Billy pun tersenyum, "Jadi, kali ini kau ingin membahas isi hati? Baiklah, aku rasa kau perlu tahu, Kalau hatiku sudah menjadi milikmu!" Seketika Erina langsung menatap ke arah Billy yang masih tersenyum. "Apa aku perlu mengatakannya lebih jelas? Kalau aku mencin….." Ucapan Billy terpotong karena Erina yang tiba tiba menutup mulutnya dengan tangannya. Erina yang merasa malu karena tatapan dalam Billy pun melepaskan kembali tangannya, pandangannya pun tertunduk. Billy yang merasa gemas melihat sikap Erina pun, mengangkat dagu Erina, mereka pun saling menatap dalam, wajah Billy pun semakin dekat dengan wajah Erina, Erina pun memejamkan kedua bola matanya dan.. "Cupp" Satu sentuhan manis itu pun mereka rasakan, Erina yang merasa malu lalu pergi berlari masuk ke dalam penginapan. Sedangkan Billy, tersenyum melihat Erina yang menahan malu. **** Sepulangnya dari pulau jeju, Benih benih cinta pun mulai tumbuh diantara mereka, Billy mulai menunjukkan rasa cintanya pada Erina, berbeda dengan Erina yang masih merasa malu untuk mengakuinya. **** Erina dalam perjalanan menuju ke kantor Billy untuk mengantarkan makan siang, ia terlihat terus saja memperhatikan penampilannya, sesampainya di kantor, Erina pun mengetuk pintu dan terdengar suara dari dalam ruangan yang meminta untuk masuk. Erina pun masuk ke dalam ruangan Billy, namun ia tidak melihat Billy dimanapun, hingga ia dikejutkan dengan seseorang yang tiba tiba memeluknya dari belakang. "Issh, kau mengagetkanku saja!" Billy tersenyum, "Kenapa kau lama sekali? Aku merindukanmu!" Ucap manja Billy sambil terus memeluk Erina. Erina pun berbalik menghadap Billy, dan mengalungkan kedua tangannya di leher Billy, "Sayangnya, Aku sama sekali tidak merindukanmu!" Goda Erina "Apa?" Billy pun langsung menggendong Erina dan membaringkannya di sofa panjang, ia lalu mengunci pergerakan Erina, "Katakan sekali lagi?" Erina hanya tertawa melihat wajah Billy yang menurutnya sangat lucu, "Lepaskan aku,!" Ucap Erina. Tiba tiba seseorang datang menerobos masuk, dan melihat Billy yang berada di atas Erina. Billy pun langsung membenarkan posisi berdirinya, begitupun dengan Erina. "Emm, Maaf! Ibu sudah mengganggu kalian! Erina, kau salah membawa tas makanan, yang itu tidak ada isinya, jadi ibu bawakan tas makanan yang benar, kalau begitu, Lanjutkan saja!" Diana yang tidak sengaja memergoki mereka pun menahan malu, dan segera keluar dari ruangan Billy. Namun Diana kembali masuk dan berkata, "Jangan lupa kunci pintunya, ya?!" Ucap Diana sambil tersenyum. Erina dan Billy pun jadi merasa canggung dan malu. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD