Menghilangnya Erina

1147 Words
Erina sedang berjalan menuju ke dalam gedung sekolah, tiba tiba beberapa orang siswi membungkam mulut Erina dan menyeretnya ke sebuah bekas gudang yang terletak di belakang sekolah, Erina yang jatuh pingsan pun di kunci di dalamnya, dan ditinggalkan begitu saja oleh mereka. Suara tawa puas mereka terdengar samar samar di telinga Erina yang semakin menjauh. Erina pun tersadar dan berusaha untuk berteriak meminta tolong, meski suara nya terdengar lemah karena ia belum sepenuhnya sadar. "Tolong! Aku mohon, tolong aku!!" Teriak Erina dari dalam gudang, namun tidak ada seorangpun yang mendengar teriakannya, karena letak gudang yang terpisah dari gedung sekolah. **** Jam pelajaran pun dimulai, Arvin merasa heran karena Erina yang tidak masuk sekolah tanpa mengabari nya, saat jam istirahat Arvin mencoba menghubungi nya, namun ponselnya tidak bisa dihubungi, Arvin pun mulai mengkhawatirkan keadaan Erina. Arvin memutuskan untuk mendatangi rumah Erina selepas pelajaran selesai. Di lain sisi. . . Erina menangis ketakutan di dalam gudang, karena hari yang sudah menjelang sore dan tidak ada yang melintas di depan gudang tersebut. Erina pun terduduk disalah satu sudut ruangan dengan memeluk dirinya sendiri. **** Arvin yang telah tiba di depan rumah Erina, mencoba menanyakan keberadaan Erina pada asisten nya. Namun, belum sempat menjawab pertanyaannya, Billy pun tiba, ia keluar dari mobilnya dan menghampiri Arvin. "Ada apa?" Tanya Billy menatap sinis Arvin. "Aku kesini hanya ingin menanyakan, Apa Erina baik baik saja?" Billy pun mengerutkan keningnya, menatap heran ke arah Arvin. "Kenapa kau menanyakan itu?" "Karena, hari ini Erina tidak masuk ke sekolah." Mendengar Ucapan Arvin, mata Billy terbelalak, Ia terkejut dan menggeleng pelan kepalanya. "Tidak mungkin! Erina tadi berpamitan seperti biasa untuk berangkat ke sekolah!" Terang Billy. "Tapi, dia tidak masuk hari ini," Billy yang panik pun langsung kembali masuk ke dalam mobil mewah miliknya dan mengelilingi kota untuk mencari keberadaan Erina, begitupun dengan Arvin yang ikut bersama dengannya untuk membantunya. Billy pun menghubungi Ryan dan meminta bantuan Ryan juga menyuruh beberapa orang suruhannya untuk mencari Erina. **** Di tengah perjalanan, Arvin yang sesekali memperhatikan raut wajah khawatir Billy, merasa jika Billy sama sekali tidak terlihat seperti paman Erina, namun Arvin tidak mau memikirkan terlalu jauh, ia pun membuka suara, "Aku akan mencoba menghubungi teman teman, siapa tau ada yang melihat nya." Billy pun mengangguk, Selama beberapa jam mereka mencari Erina, Hingga hari pun berganti malam, namun tidak ada hasil apapun. Billy, Ryan dan Arvin pun semakin khawatir terhadap Erina. Semalaman mereka berpencar mencari keberadaan Erina, namun hingga mata hari menunjukkan sinarnya, Erina masih belum ditemukan. **** Erina yang tertidur karena kelelahan pun terbangun oleh sinar matahari yang menembus sudut matanya, Ia mencoba untuk memfokuskan pandangannya, tubuhnya yang kehilangan banyak tenaga sudah tidak sanggup lagi untuk berteriak. "To.. long," Ucap pelan Erina. Erina memperhatikan sekitarnya, dan mencoba untuk mencari sesuatu yang bisa digunakan, Erina pun mengambil sebuah ranting pohon yang berada tidak jauh dari kakinya, ia pun mengambil nya  dan memukul mukulkannya ke arah jendela, berharap ada yang menyadarinya. Dengan sisa tenaga yang ada, Erina terus memukul kan ranting tersebut ke arah kaca jendela gudang. Hingga seorang penjaga sekolah yang memang selalu mengecek gedung sekolah setiap pagi nya, mendengar suara. "Sepertinya, Aku mendengar sesuatu?" Gumamnya. Penjaga sekolah itu pun memberanikan dirinya untuk mendekat ke arah bekas gudang tersebut. Ia mencoba melihat Di balik celah-celah jendela untuk memastikan, tempat itu memang terlihat tertutup dari luar. Karena jendela gudang tertutupi oleh tumpukan tumpukan barang bekas. Matanya pun terbelalak, tatkala matanya menangkap sosok seorang gadis yang terduduk lemas bersandar di dinding, dengan tangan yang memegang sebuah ranting berukuran sedang. Penjaga sekolah pun langsung menghubungi kepala sekolah, karena kunci gudang tersebut hanya kepala sekolah yang memegang nya, Kepala sekolah dan beberapa staf guru pria berlarian menuju gudang. Setibanya di gudang, mereka pun mengenali sosok yang sudah kembali tak sadarkan diri lagi. "Erina?" Ungkap kepala sekolah. Kepala sekolah pun langsung menghubungi Billy yang baru saja menepikan mobilnya karena semalaman mencari Erina. "Hallo? Apa!!" Billy begitu syok saat mendengar berita tentang Erina. Tanpa membuang waktu, Billy langsung meluncur menuju ke sekolah dengan kecepatan tinggi. Berita tentang Erina dengan cepat menyebar, Arvin yang mengetahui tentang Erina dari teman sekelasnya pun langsung berlari menuju gudang. Begitupun dengan Billy yang langsung berlari tergesa gesa menuju gudang tersebut, hingga ia tanpa sengaja menabrak beberapa murid yang berada di hadapannya. Billy dan Arvin tiba di waktu yang sama, Erina terlihat dikelilingi oleh banyak orang, Billy pun merangsek masuk dan menggendong Erina, Ia membawa Erina langsung ke rumah sakit. Arvin hanya terdiam melihat bagaimana panik nya Billy saat Billy langsung membawanya pergi begitu saja. **** Erina mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit, akibat syok dan dehidrasi karena terkurung selama sehari semalaman, Billy yang merasa kesal dengan pihak sekolah pun berniat untuk menuntut pihak sekolah atas kelalaian mereka. Ryan yang baru mengetahui jika Erina sudah ditemukan dan dibawa ke rumah sakit oleh Billy, langsung menyusulnya. Setibanya Ryan di rumah sakit, "Aku titip Erina! Aku ada urusan sebentar!" Ryan pun mengangguk pelan. Billy melangkah cepat dengan raut wajah kesal menuju ke sekolah Erina. Setibanya di sekolah, Billy langsung berbicara pada Kepala sekolah. "Aku akan menuntut sekolah ini! Karena telah membuat nyawa istriku terancam!" Teriak Billy. "Maaf Tuan, Kami benar benar tidak mengetahui akan ada insiden seperti ini menimpa Istri Tuan muda," Ujar kepala sekolah. "Aku sudah mengatakan padamu, untuk menjaga istriku! Tapi lihat? Apa yang dialami sekarang itu karena kelalaian kalian!" Bentak Billy. Kepala sekolah pun tertunduk, Billy merupakan salah satu investor untuk sekolah yang Erina tempati, tanpa Erina tahu. "Aku akan menghentikan semua bantuanku untuk sekolah ini!" "Tuan, saya mohon jangan menarik semua bantuan itu, saya berjanji akan mencari tahu siapa yang sudah melakukan semua ini pada istri Anda, dan saya pasti akan mengeluarkannya dari sekolah ini!" Bujuk Kepala sekolah. "Baik! Aku akan memberimu kesempatan, usut kasus ini atau aku akan menghancurkan sekolah ini!"  "Baik Tuan!" Billy pun melangkah pergi. **** Seseorang terlihat menyunggingkan senyuman di sudut bibirnya "Istri? Jadi benar, dia seorang simpanan om om!" **** Erina membuka matanya perlahan, dan melihat ke sekeliling, ia merasa berada di tempat asing. Erina pun mencoba untuk bangun dan duduk, Ryan yang berada di sampingnya pun membantunya. "Hati hati," "Terima kasih." Ryan pun membuka percakapan, "Bagaimana keadaanmu?" "Sudah lebih baik," "Emm, Bagaimana ceritanya kamu bisa terkurung di dalam gudang itu?" Pertanyaan Ryan, membuka kembali ingatan Erina yang saat itu hendak masuk ke dalam gedung sekolah, namun tiba tiba dari arah belakang ada yang membekapnya dengan sebuah kain yang sudah dibasahi dengan obat tidur, dan dalam keadaan setengah sadar ia diseret ke dalam gudang tersebut. Kejadian itu pun membuat Erina kembali syok dan menangis lagi karena ketakutan. Ryan yang melihat Erina seperti itu pun langsung memeluknya erat dan berusaha untuk menenangkannya. "Tidak apa apa, semuanya sudah berlalu!" Tanpa sengaja Billy yang hendak masuk ke dalam kamar rawat Erina menghentikan langkahnya karena melihat mereka yang tengah berpelukan, langkahnya terasa berat, pandangan nya pun langsung dialihkan ke arah yang lain. Billy pun melangkah mundur, dan meninggalkan mereka berdua.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD