Hari ini seperti biasa Erina berangkat ke sekolah menggunakan bus, Billy yang sudah berusaha membujuknya untuk mau diantar oleh nya pun sia sia, Erina tetap ingin berangkat sendirian menggunakan bus.
Namun, pagi ini terasa sangat berbeda, pandangan para siswa siswi terlihat aneh, mereka yang memandang ke arah Erina dan saling berbisik satu sama lain, seolah sedang membicarakan Sesuatu.
'Ada apa? Apa ada sesuatu di wajahku?' Batin Erina.
Erina pun memutuskan untuk pergi ke toilet siswi, Sesampainya di toilet Erina bergegas memandang dirinya melalui cermin, tapi ia tidak menemukan apapun, tanpa sengaja Erina mendengar Celetukan salah seorang murid yang berada di depan toilet.
"Apa kau sudah mendengar berita jika ternyata Erina memiliki hubungan dengan om om?"
"Ah, benarkah?"
"Tentu saja! Semua orang di sekolah sudah mengetahui masalah ini, Aku tidak menyangka ternyata dibalik penampilannya yang polos ternyata dia seperti itu."
"Degh"
Erina memundurkan langkahnya dan masuk ke dalam salah satu toilet, ia terduduk dengan pandangan yang tidak fokus membuatnya hampir terjatuh,
'Apa mereka sudah tahu tentang pernikahanku dan Tuan?' Pikir Erina
Siswi yang membicarakan nya pun masuk ke dalam Toilet, tanpa mengetahui jika Erina berada di salah satu Toilet.
"Kau tahu dari mana Erina adalah 'peliharaan' om om?" Tanya seorang siswi pertama
"Semua foto nya sudah tersebar ke seluruh sekolah, Aku tidak tahu siapa yang menyebarkannya, tapi rumor nya ku dengar seperti itu."
Tak lama kedua siswi itu pun keluar dari toilet, Sedangkan Erina masih terduduk kaku di dalam toilet tersebut.
****
Bel pelajaran pertama pun berbunyi, Dengan langkah ragu Erina masuk ke dalam kelas, semua mata pun tertuju padanya, sedangkan Erina tidak berani menatap balik mereka, Pandangan Erina hanya tertunduk.
Erina pun duduk di bangkunya dengan Arvin yang terus menatapnya dari samping.
Selesai pembelajaran, seorang siswi menghampiri Erina dengan raut wajah kesalnya.
"Erina!" Ucap sinis salah satu siswi.
Erina pun menatap ke arah siswi tersebut.
"Apa benar kau itu 'peliharaan' om om?" Tanya seorang siswi sambil memperlihatkan foto di ponselnya, Terlihat Billy yang sedang memegang tangan Erina, Erina menyadari jika foto itu diambil tadi pagi, saat Billy membujuknya agar ia mau diantar oleh Billy ke sekolah.
Erina pun berusaha menguatkan diri dan menjawab dengan tegas,
"Benar! Tapi dia bukan…." Ucap Erina terpotong
"Huh, Aku tau kau berbohong! Tidak mungkin seorang pencuri akan mengakui semua kesalahannya! Semua bukti sudah ada dan sudah tersebar, kau tidak bisa mengelak!"
Arvin yang baru melihat foto tersebut dan menyadari pria yang bersama Erina pun, merasa kesal dengan semua tuduhan yang mengarah pada Erina, ia pun mulai angkat suara
"Asal kalian tahu, pria yang bersamanya itu adalah pamannya! Aku tau itu, karena aku pernah berkunjung ke rumah nya, Berpikirlah sedikit lebih pintar, Erina datang bukan dari keluarga sederhana, ia tidak mungkin melakukan apa yang kalian tuduhkan! Lebih baik kalian urus urusan kalian masing masing Jadi, berhenti mengganggunya!" Ucap Arvin penuh penekanan.
Semua orang yang sedari tadi berbisik bisik pun langsung terdiam, Sedangkan Arvin langsung menarik lembut tangan Erina dan membawa Erina pergi.
Arvin membawa Erina ke sebuah taman, untuk menenangkan diri.
Tangisan Erina pun pecah, Arvin menatap sendu Erina dan memeluk nya untuk menenangkan Erina.
Erina tidak mengatakan apapun, karena ia memang tidak ingin Arvin mengetahui tentang pernikahannya dengan Billy.
Sedangkan Arvin tidak berani menanyakan apapun pada Erina, karena ia yakin semua itu hanyalah fitnahan keji terhadap Erina.
****
Saat makan malam Erina terlihat melamun dan memainkan makanannya tanpa menyentuh nya, Billy yang menyadari itu pun mencoba bertanya pada Erina
"Ada apa?" Tanya Billy
Erina pun mengerjap sedikit terkejut,
"Tidak apa apa!"
Billy memperhatikan Erina yang terus saja melamun dengan tatapan sendu.
"Apa sekolahmu berjalan lancar?"
Erina pun mengangguk pelan.
"Lantas, kenapa kau terlihat sedih?"
Erina hanya menggeleng pelan.
****
Hari pun berganti, Erina masih terlihat sendu meski beberapa hari telah berlalu, ketika Erina sedang menunggu bus, lamunannya pun buyar oleh suara klakson mobil mewah berwarna putih yang berhenti di hadapannya. Seseorang pun turun menghampirinya dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.
"Erina?"
Erina pun tersenyum menatap balik orang itu
"Kak Ryan!"
"Bagaimana kabar mu?"
"Emm, Baik! Kapan kakak kembali?"
"Beberapa hari yang lalu, tapi aku baru bisa menemuimu sekarang, Maaf!"
Erina pun tersenyum manis
"Tidak apa apa,"
Ryan pun mengajak Erina untuk masuk ke dalam mobil nya dan akan mengantar Erina ke sekolah, namun Erina menolaknya karena takut akan terjadi masalah jika banyak orang yang melihat nya diantar oleh Ryan.
Terlebih gosipnya dan Billy masih belum benar benar mereda.
Setibanya di kelas, Erina kembali di labrak oleh siswi yang tempo hari memakinya.
Ia menggebrak meja dan membuat Erina sangat terkejut.
"Kali ini, kau tidak bisa mengelak lagi! Aku tau tadi pagi kau berangkat bersama om om yang lain, benar kan?"
Ucap siswi sambil memperlihatkan foto hasil jepretannya, Terlihat Erina yang sedang mengobrol dekat dengan Ryan.
Erina berdiri dari duduknya, setelah berpikir sejenak.
"Kenapa kau membuntutiku? Apa kau berniat menjatuhkanku? Apa aku harus mengatakan dengan siapa saja aku bertemu pada kalian? Apa jika kau bertemu dengan tetangga atau keluarga jauh mu di jalan kau harus diam saja!" Bentak kesal Erina.
Arvin yang baru saja tiba, melihat Erina yang dikelilingi oleh teman temannya, Arvin pun segera menghampiri mereka.
"Apa kalian masih belum puas dengan fitnahan yang kalian berikan?!" Bentak Arvin.
Mereka pun terdiam, sedangkan siswi itu pun berdecak kesal dan melangkah pergi melihat Arvin yang terus membela Erina.
****
Erina yang merasa sangat kesal memutuskan untuk menghampiri Billy di kantor nya, ia berjalan cepat menuju ke ruangan nya, tanpa mengetuk pintu Erina merangsek masuk ke dalam ruangan.
"Tuan!" Panggil Erina.
Billy yang sedang menerima tamu pun langsung terdiam, dan meminta tamunya untuk menunggunya di ruang meeting.
"Ada apa? Bisakah kau mengetuk pintu dulu sebelum masuk?"
"M-maaf,"
"Ada apa?
" Aku hanya ingin mengakhiri perjanjian ini sekarang!"
"Huh, kenapa tiba tiba?"
"Tuan tidak perlu tahu alasan nya, Aku hanya ingin mengakhiri semua ini sekarang juga!"
Billy pun melangkah menuju kursi nya, diikuti oleh langkah Erina
"Sesuai perjanjian! Selama aku belum mendapatkan semua warisan perusahaan, kau akan tetap menjadi istriku!"
Mata Erina pun berkaca kaca dan menatap sendu Billy.
"Tuan tidak tahu apa yang aku rasakan, dan Tuan juga tidak mengerti bagaimana posisiku sekarang!"
Erina berdecak kesal dan menghentakan kakinya,lalu melangkah pergi.
Billy menatap heran ke arah punggung Erina.
"Ada apa sebenarnya?" Gumam Billy.
Billy pun hanya mengangkat bahunya, dan melanjutkan pekerjaan nya.
****
Erina terus melangkah dengan air mata yang membasahi pipinya.