Kedekatan dengan Arvin

719 Words
Erina dan Billy saling mendiamkan setelah pertengkaran mereka kemarin, Erina memutuskan untuk pergi lebih awal dan menaiki bus untuk berangkat ke sekolah. Erina menunggu beberapa menit di halte, Bus pun datang dan Erina duduk di kursi bagian belakang bus. Erina memutuskan untuk mendengarkan musik melalui earphone nya dan menatap ke arah luar jendela, tak lama kemudian seseorang duduk di samping Erina dan menyapanya "Hai?" Erina yang sedikit melamun pun tidak mendengar suara sapaan orang tersebut, hingga ia tersadar setelah sebelah earphone nya di ambil dari telinganya. "K-kau? Arvin?" Erina terkejut melihat Arvin yang tiba tiba duduk di sampingnya "Kenapa kau ada disini?" "Ini adalah tempat umum, Apa aku tidak boleh duduk disini?" "Emm, Itu.. Maksudku bukan seperti itu," Erina pun menundukkan pandangannya, Sedangkan Arvin terlihat mengukir senyuman menatap Erina. "Kenapa kau tidak diantar pamanmu?" Tanya Arvin tiba tiba Erina kembali menatap Arvin, "Itu, pamanku sedang ada urusan jadi dia tidak sempat mengantarku." Arvin pun mengangguk pelan. **** Billy tiba di kantor dengan raut wajah masam, terlihat sekali ia tidak bersemangat hari ini, pertengkarannya dengan Erina terus membayanginya. Alhasil, Billy hanya memainkan pena nya dengan pandangan tertunduk dan melamun. "Sampai kapan kau akan melamun terus seperti itu?" Billy pun mengalihkan pandangannya ke arah suara, "Rupanya kau, kapan kau kembali dari luar kota?" "Semalam, bagaimana keadaan Erina?" Beberapa hari yang lalu, setelah kecelakaan yang menimpa Erina, Ryan berpamitan untuk pergi ke luar kota mengurus pekerjaan nya. "Baik, mungkin.." "Mungkin? Apa kalian bertengkar lagi?" Tanya Ryan menatap heran Billy. Billy pun terdiam.. Ryan menghela nafas kasar "Kalian benar benar seperti kucing dan tikus yang selaku bertengkar." **** Di lain sisi… Lilian sedang memperhatikan putrinya Lisa yang selalu melamun seperti seseorang yang sedang depresi, Lilian merasa sangat mengkhawatirkan putri semata Sayangnya itu, sejak Billy menikah dan menolak nya tingkah Lisa semakin menjadi, Lisa sering mengamuk tidak jelas di dalam kamarnya dan berteriak Teriak seperti sudah kehilangan akal. Lilian pun menghampiri sang putri "Lisa, Ayo kita makan?" Lisa pun hanya menggeleng kepalanya tanpa mengeluarkan suara. Sudah beberapa hari ini Lisa memang sulit untuk makan, tubuhnya yang semakin kurus, ditambah wajahnya yang semakin pucat membuat Lilian bertambah khawatir. Tanpa sepengetahuan Lisa, Lilian pun mendatangi Billy di kantor nya, dan mencoba untuk bicara dengan Billy. "Tuan, Saya mohon! Berilah kesempatan kedua untuk Lisa, dia sangat terpukul dan hampir gila." "Sampai kapanpun, Aku tidak akan pernah kembali pada Lisa! Saya sudah memiliki seorang istri! Jadi, berhentilah memohon!" Lilian pun menangis tak berdaya mendengar jawaban dari Billy. Bagi seorang ibu, kebahagian anak nya adalah harta yang tak ternilai harganya, melihat Lisa yang sedemikian rupa membuat Lilian merasa tidak berdaya. **** Sementara itu, Erina didesak oleh Arvin untuk mau menyetujui keinginan teman temannya, "Ayolah, Lagipula, tempat mu lebih dekat bukan?" Bujuk Arvin. Erina dan kelompoknya diberi tugas oleh guru nya, dan mereka berpikir jika tempat Erina adalah yang paling tepat untuk mengerjakan tugas kelompok ini, karena letaknya yang strategis, dan mereka juga ingin berkunjung ke rumah Erina. Erina pun tidak bisa menolaknya. Sepulang sekolah, Erina meminta tolong pada asisten rumah tangannya untuk menyembunyikan semua foto pernikahan yang terpampang di rumah, tanpa sepengetahuan Billy. Tak lama kemudian, teman temannya pun datang, terdapat empat orang dalam kelompok Erina termasuk Arvin. Mereka pun mulai belajar bersama untuk mengerjakan tugas nya. Ditengah pembelajaran, Erina pun mencoba untuk menghubungi Ryan. "Hallo, Erina?" "Emm, Kak?" "Ada apa?" "Bisakah kau menahan Tuan muda untuk tidak pulang dulu? Sebentar saja!" "Memangnya ada apa?" Tanya Ryan heran "Nanti aku akan menceritakan nya, pokoknya aku mohon bantu aku!" Ryan pun menyetujuinya, **** Ryan bergegas menuju kantor Billy, Ryan melihat Billy yang sedang membereskan barang barangnya, Ryan pun berpikir sejenak mencari cara untuk menahan Billy. Sedangkan Billy menatap heran Ryan yang sedari tadi terlihat gelisah di dekat pintu. "Kau kenapa?" Tanya Billy menghampirinya. "O-oh, Tidak.. Tidak ada! Emm, kau sudah mau pulang?" Billy pun mengangguk, dan melangkah pergi. "Eh, Billy Tunggu!" Ryan pun mendahului langkah Billy. "Ada apa?" "Emm, Bagaimana jika kita pergi ke tempat ku dulu? Sudah lama sekali kan kita tidak nongkrong?" Billy pun menatap heran ke arah Ryan. "Tumben sekali, Apa kau sedang menyembunyikan sesuatu?" Ryan pun menggeleng cepat. "Anggap saja, ini seperti pesta penyambutan untuk ku yang baru kembali dari luar kota?" Billy pun terdiam sejenak.. "Baiklah." Billy pun melanjutkan langkahnya, dan Ryan pun bernafas lega setelah berhasil membujuknya. Mereka kemudian pergi ke restoran milik Ryan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD