Kepergian Arvin

1074 Words
"A-apa?" Arvin sangat syok mendengar pengakuan dari Billy, semua orang yang berada disitu pun mulai berbisik bisik, sedangkan Erina hanya menangis dalam diam. Seorang siswi bernama Carissa pun berdecih "Cih, Seorang anak SMU menikah diam diam dengan seseorang yang jauh lebih tua darinya, apalagi kalau bukan karena ada sesuatu di belakangnya," Billy pun menghampiri Carissa dengan tatapan tajam mengintimidasi, Billy dengan tegas berkata "Jaga mulutmu! Kami saling mencintai dan menikah, Apa itu salah?" Carissa pun terlihat sedikit ketakutan dengan sorot mata Billy terhadapnya. Namun, dengan percaya diri Carissa pun kembali berkata "B-Bisa saja, kalian hanya mengaku ngaku padahal kenyataannya Erina 'Kumpul Kebo' dengan Anda!" "Sepertinya, kau tidak diajarkan tata krama oleh orang tuamu, gadis kecil?" Ucap seorang wanita paruh baya. Diana yang sedari tadi memperhatikan pun ikut angkat suara setelah mendengar perkataan yang menyakitkan itu "Aku adalah ibu dari Suami Erina, dan aku bisa memastikan jika pernikahan mereka sah secara hukum maupun agama, Dan pernikahan mereka tidak ada unsur apapun kecuali karena mereka memang saling mencintai, Apa kau butuh dokumen-dokumen pernikahannya?" Tantang Diana. Carissa pun tertunduk malu mendengar penjelasan dari Diana. Diana pun meminta pihak sekolah memberi sebuah ruangan untuk mereka berkumpul bersama dengan para orang tua siswa, Diana memberi penjelasan kepada para orang tua siswa tentang keadaan yang sebenarnya, perlahan para orang tua siswa pun mulai memahami dan mulai menerima penjelasan Diana. **** Masalah itu mungkin memang sudah selesai, Namun kini Erina justru dijauhi oleh teman temannya termasuk Arvin, Kebanyakan mereka menjauhi Erina karena tidak ingin bermasalah dengan Billy, sedangkan Arvin memilih menjauhi Erina karena ia merasa dibohongi oleh Erina dan itu membuatnya sangat kecewa pada Erina. Erina yang sedang melakukan aktivitas olahraga berlari di lapangan, langkahnya pun terhenti ketika sebuah bola terhenti di hadapannya, Erina mengambil bola itu dan hendak mengembalikannya, namun tanpa disangka Arvin sudah berada di hadapannya dan langsung mengambil bola tersebut tanpa berkata apapun. **** Erina yang merasa kesepian dan sedih hanya bisa menangis di atap sekolah, tempat tersembunyi untuknya menenangkan diri. Saat Erina menangis tersedu sedu sambil memeluk dirinya, seseorang pun datang dan memberinya selembar tisu, Erina pun mendongakkan kepalanya. "Arvin?" Erina pun mengambil tisu tersebut dan menghapus air matanya. **** Mereka berdua pun duduk bersama, Namun masih belum ada kata yang keluar dari mulut mereka masing masing, hingga Erina mencoba memberanikan diri untuk membuka percakapan "Terima kasih untuk tisunya!" Arvin pun hanya mengangguk pelan, Arvin yang hendak berdiri tertahan oleh pegangan Erina "Tunggu! Kenapa kau menjauhiku?" "Aku, hanya tidak ingin terlalu dekat dengan seseorang yang sudah bersuami!" 'Degh' Pegangan tangan Erina pun terlepas, dan Arvin melangkah pergi meninggalkan Erina. **** Bulan bulan terakhir sekolah, Erina jalani sendirian dan kesepian, ia sudah tidak dirundung lagi namun dijauhi itu lebih menyakitkan bagi Erina, seolah ia telah berbuat dosa yang paling terbesar di dunia yang tidak bisa dimaafkan. **** Hari kelulusan pun tiba, Billy dan kedua orang tuanya pun datang untuk menemani Erina, namun pandangan Erina tertuju pada Arvin, disaat Erina memalingkan pandangannya, Arvin pun terlihat menatap sendu Erina dari arah lain. Setelah kelulusan, Arvin memutuskan untuk melanjutkan sekolahnya di Swiss, Erina yang mengetahui hal itu pun langsung menyusul Arvin menuju bandara, "Kenapa kamu pergi tanpa memberitahuku?" Gumam Erina diiringi tangisan. Setibanya di bandara, Erina langsung mencari Arvin, Setelah beberapa menit mencari, Erina akhirnya menemukan Arvin yang tengah duduk menunggu pesawatnya. Langkahnya pun terhenti, dengan perlahan Erina kembali melangkahkan kakinya menghampiri Arvin, Tanpa terasa buliran bening itu pun kembali mengalir lolos begitu saja, Arvin yang menyadari kehadiran Erina pun langsung berdiri dari duduknya. "Kenapa? Kenapa kamu pergi tanpa memberitahuku?" Bentak Erina Pandangan Arvin pun tertunduk menyembunyikan kesedihannya. "Vin! Jangan tinggalin aku dengan cara seperti ini!" Pinta Erina Arvin pun menarik Erina ke dalam pelukannya, dan tangisan itu pun pecah. "Seandainya saja, Tuhan memberiku satu kehidupan lagi, Aku akan meminta untuk bisa ditakdirkan hidup bersamamu!" Ujar Arvin dengan nada bergetar dan airmata yang mengalir deras. Erina yang ikut menangis pun mulai membalas pelukan Arvin, Seolah mereka saling mengerti sesuatu yang mereka rasakan tanpa harus dikatakan dengan jelas 'Aku mencintaimu.' Arvin pun melepas pelukannya, dan menghapus air matanya kasar, Arvin menatap dalam Erina dan menghapus air mata yang terus mengalir. "Jadilah seorang istri yang baik, Aku akan selalu berdoa untuk kebahagiaan kalian," Arvin pun melangkah pergi meninggalkan Erina, sedangkan Erina hanya menggelengkan kepalanya sambil terus menangis, hingga Erina pun terduduk lemah menatap kepergian Arvin. **** Beberapa minggu berlalu sejak kejadian itu, Erina hanya berfokus menjadi perannya sebagai seorang Istri, ia mulai mengantarkan makan siang lagi pada Billy setelah sebelumnya hampir satu tahun ia tidak melakukannya. Hubungan Erina dan Billy pun mulai terbuka, Billy mulai sering menceritakan kejadian apa saja yang ia alami selama seharian, begitupun jika ia mengalami masalah, Billy selalu menceritakannya pada Erina, dan Erina mendengarkannya dengan baik, ia juga terkadang memberi masukan pada Billy untuk setiap masalahnya, Erina terlihat lebih kuat dan dewasa sekarang, Dan Billy mulai terpesona pada Erina. Siang ini, Erina mengantar makan siang untuk Billy, setibanya di kantor ia bertemu dengan Ryan yang sedang duduk menunggu Billy, Erina pun duduk berhadapan dengan Ryan. "Erina, bagaimana kabar mu?" "Aku baik baik saja, bagaimana keadaan kakak?" "Aku baik, sepertinya hubungan kalian semakin dekat?" Erina pun hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Ryan. "Emm, Apa kamu tidak berniat untuk melanjutkan pendidikan mu ke universitas?" "Emm, tidak! Aku hanya ingin menjalani peran sebagai seorang istri dengan baik, itu saja!" Ryan pun mengangguk pelan, "Emm, mengenai perjanjian kalian, Bukankah itu akan segera berakhir?" Erina yang tengah menata makanan di meja pun langsung terhenti. "Iya, itu benar!" "Ya sudah, Aku permisi dulu, tolong sampai kan pada Tuan jika Aku langsung pulang," Ryan pun mengangguk, Erina terlihat ingin menghindari pertanyaan Ryan,  Tak lama setelah kepergian Erina, Billy pun masuk ke dalam ruangan nya dan melihat makan siang yang sudah tertata rapi diatas meja. "Dimana Erina?" Tanya Billy pada Ryan. "Dia langsung pergi setelah menata makanan ini," Billy pun mengernyitkan dahinya, karena tidak biasanya Erina langsung pulang, biasanya Erina akan menunggu Billy sampai Billy selesai makan. "Oh ya, Bagaimana dengan perjanjian kalian?" Tanya Ryan Billy yang masih belum mengerti, hanya fokus mengunyah makanannya. "Perjanjian yang mana?" "Tentu saja perjanjian mu bersama Erina?" 'Degh' Billy pun berhenti mengunyah dan menatap ke arah Ryan. "Kenapa kau menanyakan itu?" "Ya, Karena perjanjian itu akan segera berakhir bukan?" Billy pun baru menyadari jika perjanjian itu memang akan segera berakhir, Billy termenung beberapa saat memikirkan tentang nasib pernikahannya, beberapa hari setelah menerima peralihan harta, Perjanjian nya pun berakhir, dan bagaimana caranya menghadapi Diana sang ibu jika pernikahannya berakhir begitu saja. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD