Jatuh hati

1988 Words
Sepulangnya Billy dari kantor nya, ia langsung mencari keberadaan Erina, Billy pun menemukan Erina yang tengah menyiapkan makan malam, pesona Erina benar benar terlihat seperti seorang istri, Billy pun menatap Erina dari kejauhan dengan waktu yang cukup lama, Ia bersandar di dinding sembari terus menatap Erina yang sedang sibuk memasak untuknya. Tiba tiba Billy tergerak untuk menghampiri Erina, ia pun memeluk Erina dari belakang dan menyandarkan dagunya di bahu Erina. Erina merasa cukup terkejut melihat perlakuan Billy, Erina pun berbalik dan menatap ke arah Billy, Senyuman Erina pun terpancar, ia mengelus wajah Billy lembut, dan mengalungkan kedua tangannya di leher Billy, Lalu Billy pun mendekatkan wajahnya ke wajah Erina, terlihat Erina yang memejamkan kedua bola matanya dan…. "Tukk!" Billy pun tersadar dari lamunannya ketika Erina memukul kepalanya dengan spatula, "Apa yang sedang Tuan pikirkan? Jangan melamun disini! Tuan menghalangi jalan! Dasar, melamun di sembarang tempat, membuat orang lain kesulitan untuk lewat!" Umpat Erina. Billy pun menggaruk belakang kepalanya, ia baru menyadari jika itu semua hanya sebatas lamunannya saja. Erina pun menata makanan diatas meja makan, ketika sedang asyik menata makanan, Erina menatap sekilas ke arah Billy. "Sampai kapan Tuan akan berdiri disitu? Bukankah, akan jauh lebih baik jika Tuan segera membersihkan diri dan makan malam?" "Iya.. Iya.." Billy pun pergi dengan langkah yang malas. **** Keesokan harinya, Ryan mengajak Erina pergi untuk sekedar berjalan jalan, pada awalnya Billy tidak mengizinkan dengan alasan tidak ada yang akan mengirimkan makan siang untuknya, Namun Erina berhasil meyakinkan jika itu tidak akan mengganggu pekerjaannya mengantarkan makan siang untuk Billy, Billy sudah tidak mempunyai alasan untuk melarang Erina pergi bersama Ryan, Billy pun akhirnya mengizinkan mereka pergi. Erina yang sudah selesai memasak, meminta bantuan seorang supir untuk mengantarkan makanan ke perusahaan Billy, setelah itu Erina pun pergi bersama dengan Ryan. **** Billy sedang menunggu Erina mengantarkan makan siangnya, tak lama kemudian terdengar suara pintu diketuk dari luar, Billy bergegas membuka pintu, namun Billy sedikit kecewa karena ternyata bukan Erina yang mengantarkan makan siang untuknya, "Kenapa kau yang mengantarkan makan siang nya?" Tanya Billy sedikit terkejut. "M-maaf Tuan! Saya hanya menjalankan perintah nona saja," "Ya sudah," Billy pun mengambil kantong yang berisi makan siangnya tersebut. **** Di lain sisi, Ryan membawa Erina ke sebuah taman untuk mengobrol, Mereka membicarakan banyak hal, dan terkadang Erina dan Ryan tertawa bersama. Ryan menghela nafas panjang, "Rasanya, selalu menyenangkan setiap kali pergi dengan mu seperti ini!" Erina pun hanya melemparkan senyuman nya. "Kemarin kemarin, kita jarang bertemu karena kau sibuk bersekolah dan mengurus Billy," Erina hanya mengangguk pelan. "Apa rencanamu, setelah berpisah dengan Billy?" Ujar Ryan sambil menatap ke arah Erina. "Entah lah! Tapi, sepertinya Aku akan memulai kehidupan ku dari nol lagi, Mungkin." Jawab Erina tanpa menatap Ryan.  **** Sementara itu, Billy yang merasa gelisah di dalam ruangan kantor nya, hanya bisa berjalan bolak balik karena memikirkan tentang Erina, ia pun tidak fokus bekerja karena membayangkan kebersamaan Erina dengan Ryan. Makan siang yang Erina kirim pun belum tersentuh oleh Billy, **** Ryan dan Erina tengah duduk di sebuah bangku menikmati pemandangan danau yang indah dan menenangkan di hadapan mereka, dengan sepoi angin yang menyentuh lembut tubuh mereka, Suasana yang menurut Ryan mendukung untuk nya, Ryan yang selama ini menyukai Erina mencoba untuk mengungkapkannya, karena ia tahu diantara Erina dan Billy tidak ada hubungan apapun selain di atas surat perjanjian. Ryan yang sudah lama menyimpan ketertarikannya pada Erina, memutuskan untuk mengatakan nya pada Erina, "Erina?" Panggil Ryan "Hm?" "Aku ingin mengatakan sesuatu padamu yang sudah sejak lama ingin aku katakan padamu," "Emm, Apa itu?" Ryan pun menatap lekat Erina, meraih tangan kanan Erina dan meletakkannya di d**a setelah kiri Ryan, Erina sedikit merasa canggung atas perilaku Ryan. "Apa kau bisa merasakan nya?" Erina pun menatap heran ke arah Ryan, "Aku ingin mengatakan jika aku…." Ucapan Ryan terpotong oleh suara dering ponsel Erina. Erina menarik kembali tangannya dan  meraih ponselnya, terlihat nomor dari kantor Billy yang menghubungi nya, Erina terdiam sejenak dan pada Akhirnya menerima telepon itu. "Hallo, Ada apa?" "Maaf Nona, Tuan muda.." "Apa yang terjadi pada Tuan?" "Tuan pingsan nona!" Seketika Erina pun terkejut dan langsung berdiri dari duduknya mendengar penjelasan dari sekretaris Billy, Erina pun langsung berlari tanpa berpamitan pada Ryan, Sedangkan Ryan hanya bisa diam menatap kepergian Erina yang semakin jauh dan menghilang dari hadapannya, **** Sesampainya di kantor Billy, Erina dengan wajah panik langsung menerobos masuk, Billy terlihat sedang terbaring lemah diatas sofa, Erina pun mencoba untuk memeriksa kening Billy dengan tangannya. "Apa yang terjadi?" Tanya Erina pada sekretaris Billy. "S-saya tidak tau Nona, setau saya Tuan tadi mengeluh sakit di ulu hati." Erina pun menelpon dokter pribadi keluarga untuk memeriksa Billy, Erina pun memilih untuk menunggu di luar selama pemeriksaan berlangsung. Namun, dokter justru dikejutkan oleh Billy yang nyatanya tidak apa apa, Rupanya Billy hanya berpura pura agar Erina bisa lebih cepat untuk pulang, dan menggagalkan rencana Ryan untuk berkencan dengan Erina, Billy pun meminta kerja sama sang dokter agar memuluskan rencananya, Sang dokter pun hanya tersenyum melihat tingkah Billy yang seperti anak kecil meminta perhatian. Erina melihat dokter yang keluar dari ruangan Billy dengan tatapan sendu, "Bagaimana keadaan nya dok?" Dokter pun menghela nafas kasar, "Tolong, jaga pola makan nya! Karena ini bisa berbahaya untuk lambungnya!" "Baik dok!" Dokter pun berpamitan, Erina kemudian memutuskan untuk membawa Billy pulang ke rumah, setibanya di rumah ia membuatkan bubur dan sup untuk Billy, tak lama kemudian Billy pun sadar, Erina membawa semangkuk bubur, segelas air hangat, obat dan menyimpan nya di atas nakas. Erina membantu Billy untuk duduk, dan mulai menyuapi Billy . "Lambungmu sudah cukup parah, tapi kenapa kau masih saja tidak makan tepat waktu?" "Maaf," "Tidak perlu minta maaf, yang diperlukan hanyalah disiplin, jika kau bisa pasti kau juga akan segera sembuh!" Billy pun hanya tersenyum mendengar perkataan Erina. 'Ternyata dia sangat peduli padaku,' Batin Billy. **** Erina tengah berbaring diatas sofa panjang sambil memainkan ponselnya, Billy pun datang menghampiri, Erina menatap heran ke arah Billy. "Ada apa?" Tanya Erina "Emm, T-tidak!" Billy pun hendak melangkah pergi namun ia kembali berbalik ke arah Erina. "A- aku ingin mengajakmu pergi, akhir pekan ini." "Dalam rangka apa?" "Emm, anggap saja sebelum berpisah, aku memberimu hadiah liburan," Erina pun terdiam sejenak.. "Bagaimana?" "Baiklah!" Billy pun terlihat bahagia, ia segera menyiapkan segala sesuatu nya untuk membuat Erina terkesan. 'Aku berjanji, akan membuatmu jatuh hati padaku.' Batin nya. **** Akhir pekan yang Billy tunggu tunggu pun tiba, Billy dan Erina pergi bersama sejak pagi, Billy membawa Erina ke sebuah pantai dengan pemandangan yang sangat cantik, Air laut yang jernih, pasir putih, langit yang biru tidak tertutup oleh awan, dan udara yang berhembus benar benar menenangkan, Erina terlihat sangat senang dan menikmati nya. "Kau menyukai nya?" Tanya Billy Erina pun tersenyum mengangguk. Billy pun menarik lembut tangan Erina, "Eh, kita mau kemana?" "Sudah ikut saja!" Billy membawa Erina ke sebuah tempat, Tidak lama kemudian mereka tiba di sebuah bukit di dekat pantai, dengan hamparan rumput hijau dan bunga yang berwarna warni, "Wah, ini benar benar sangat indah!" Erina terlihat sangat bersemangat, ia pun berlarian kesana kemari layaknya anak kecil, dengan senyuman yang terus terkembang di wajahnya. Billy pun memetik setangkai bunga rose berwarna putih, dan ia menyelipkannya di telinga Erina, "Kau terlihat sangat cantik seperti bunga ini,"  Erina pun tersenyum malu mendengar Billy memujinya. "Emm, A-aku punya permintaan untuk mu!" Ungkap Billy "Apa itu?" Erina pun menatap Billy yang terlihat sedikit canggung. "Bolehkah aku menjadi kekasihmu?" "Apa?" "Oh, Emm.. maksudku, kau tau kan, Aku sudah pernah bercerita padamu tentang hubungan ku dengan Lisa? Maksudku, setidaknya untuk hari ini saja, Aku ingin merasakan benar benar menjadi seorang kekasih," Erina pun terdiam sejenak.. "Baiklah, Ayo kita lakukan!" Billy terlihat sangat bahagia dan langsung memeluk Erina erat. Mereka pun menikmati harinya, bercanda tawa bersama layaknya sepasang kekasih pada umumnya.  **** Hari pun tak terasa berganti malam, Erina tengah didandani oleh penata rias profesional di bidangnya, ia mengenakan dress berwarna pastel dengan make up yang tidak terlalu tebal, heels berwarna putih dan rambut panjang terurai, Erina terlihat sangat cantik dan segar. Selesai didandani, Erina pun melangkah pergi menghampiri Billy yang sudah menunggunya di sebuah meja di pinggir pantai, dengan berhiaskan lampu lampu di sekitarnya, terasa suasana sederhana nan romantis disini. Billy yang melihat sosok gadis cantik menghampirinya pun tersenyum hangat, ia langsung berdiri dengan pandangannya terus tertuju pada gadis itu, Ketika Erina akan duduk, Billy membantunya, "Terima kasih!"  Billy pun mengangguk, Erina memperhatikan sekitarnya, yang terlihat romantis malam ini, "Apa Tuan yang menyiapkan semuanya?" "Iya, Apa kau suka?" Erina pun mengangguk, Mereka pun mulai menikmati hidangan malam ini, selesai makan malam Billy tiba tiba mengulurkan tangannya pada Erina, Erina pun menyambutnya, mereka pun berdansa romantis bersama, Erina belum pernah sedekat ini dengan Billy, **** Keesokan harinya, Mereka pun kembali ke rumah, setibanya di rumah mereka dikejutkan dengan sebuah pesta penyambutan untuk mereka. Rupanya Diana sang ibu mengetahui jika Billy dan Erina pergi bersama di akhir pekan, Diana merasa sangat bahagia mendengarnya, "Bagaimana liburan nya?" Tanya Diana "Menyenangkan!" Jawab kompak Erina dan Billy. "Bagus lah! Ibu sangat senang mendengarnya, itu artinya tidak lama lagi, ibu akan memiliki seorang cucu!" "H-hah?" Billy dan Erina terkejut mendengar perkataan dari sang ibu Diana. "Emm, Bu? Aku dan Erina hanya liburan biasa saja." Diana pun terlihat kecewa dengan jawaban Billy. "Lalu, sampai kapan ibu harus menunggu? Kalian sudah hampir dua tahun menikah, tapi masih belum memberi ibu seorang cucu, sedangkan anak dari teman teman ibu yang baru menikah sudah hamil," Erina pun terlihat canggung dan salah tingkah, Billy pun tiba tiba merangkul bahu Erina, "Ibu jangan bersedih, Kami akan lebih sering berjuang untuk ibu," Ujar Billy. Erina yang merasa malu pun mencubit perut Billy, "Aw," Ringis Billy "Tuan jangan macam macam ya!" Ucap pelan Erina. Raut wajah diana pun terlihat bahagia mendengar jawaban dari Billy, "Baiklah, kalau begitu! Agar perjuangan kalian tidak ada yang mengganggu, Ibu akan aturkan bulan madu untuk kalian dengan waktu yang lebih lama!" "APA?!" Erina dan Billy sama sama terkejut mendengarnya. "Kenapa? Bukankah itu bagus?" Erina dan Billy pun terlihat salah tingkah. Diana menatap heran mereka, "Ya sudah, pokoknya kalian harus bulan madu! Ibu tidak mau tau itu!" Ucap Diana sambil melangkah pergi. Erina dan Billy pun hanya menghela nafas kasar. "Bagaimana ini?" Gumam Erina. **** Billy dan Erina tengah bersiap untuk pergi ke tempat bulan madu mereka di pulau jeju Korea selatan, Diana yang sudah mengatur semuanya untuk mereka, dan mereka pun tidak bisa menolak. "Bersenang senang lah disana! Ingat, pulang nanti bawakan kabar baik untuk ibu!"  Billy pun mengangguk, Setibanya di penginapan pulau Jeju, Erina dan Billy pun terlihat canggung satu sama lain. Erina memutuskan untuk membersihkan diri ke kamar mandi, saat ia akan mengganti pakaian nya, Erina dikejutkan dengan sebuah paper bag yang berisi pakaian tidur yang terbuka dan transparan pemberian Diana saat menikah dengan Billy, "Kenapa ini bisa ada disini? Ini, pasti ulah ibu! Ya ampun!!" Erina terlihat sedikit kesal, **** Billy yang sedari tadi menunggu di sofa, memutuskan untuk masuk ke dalam kamar untuk mengganti pakaian nya. Tanpa Billy sadari jika Erina berada di dalam, Billy yang baru saja membuka pintu nya, berdiri mematung saat melihat Erina dengan rambut basah nya dan handuk yang terlilit di d**a nya, Erina yang tidak menyadari kedatangan Billy, hanya tetap fokus mengeringkan rambut nya. Billy pun menghampiri Erina, dan memeluk Erina dari belakang, Erina yang terkejut berusaha untuk mendorong Billy, "Apa yang kau lakukan Tuan!" Erina berusaha memberontak, Billy seolah terhipnotis dan tidak mendengar perkataan Erina, Ia terus menggiring Erina menuju tempat tidur, dan mengunci pergerakan Erina, Billy pun membisikkan sesuatu ke telinga Erina. "Kau milik ku! Aku memiliki hak atasmu, karena aku adalah suamimu." 'Degh' Erina terdiam mendengar perkataan Billy, Walau bagaimanapun Billy memang lah suami sah Erina, dan Billy memiliki hak atas dirinya, Namun Erina juga Tidak ingin menanggung akibat yang fatal jika perjanjian ini berakhir begitu saja. Erina terlihat kebingungan, disisi lain Erina teringat dengan pesan Arvin yang menginginkannya untuk menjadi seorang istri yang baik, namun disisi lain perjanjian itu membuat Erina ragu untuk menjalankan perannya sebagai seorang istri sepenuhnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD