Tifa POV Arda berhasil membuatku terkejut tidak hanya satu kali, tapi berkali-kali. Setelah tiba-tiba muncul di depan rumah dan membuat pengakuan soal ciumanku waktu itu, lalu aku melihatnya di dalam dapur. Dan ternyata dia yang menjadi alasan emakku teriak-teriak di pagi hari, saat matahari pun masih belum terbangun. Belum selesai rasa terkejutku, setelah membuat masalah dengan memotong pisang kepok yang mau dikukus si emak, lalu sekarang dia menarikku keluar rumah. “Ayo, naik.” Arda sudah berada di atas motor butut papih. Pria itu menatapku. Menggerakkan kepala memintaku untuk naik ke boncengan. “Ayo cepetan, Tif. Entar mamih keburu sadar anaknya gue culik.” “Apa?” Aku belum sempat mengomel, Arda sudah menarik tangan kananku. “Ayo, naik.” Mesin motor sudah menyala. Akhirnya aku na

