Arda POV Kutatap layar ponsel yang masih menyala. Kurasakan jantungku bergerak begitu cepat di dalam sana. Seperti sedang berlarian. Di telingaku, masih kudengar suara Tifa yang mengatakan kalimat terakhir, sebelum ia memutuskan sambungan kami. “Aduh ... sorry, Ar. Gue nggak bisa. Gue lagi sibuk urus persiapan nikahan gue.” Kalimat itu kudengar berulang-ulang. Membuat degup jantungku semakin menggila. Otakku masih belum bisa merangkai kalimat yang tidak seberapa panjang itu dengan baik dan benar. Seperti isi kepalaku kosong saja. Layar ponsel yang semula terang, kini berubah gelap. Hitam. Kuremas ponsel itu kuat-kuat. Otakku mulai kembali menjalankan tugas yang seharusnya. Mencerna kalimat itu, dan berpikir. Kuremas lagi benda penghubung di tanganku. Ada yang salah. Ada hal yang terja

