"Sudahlah, Sayang. Jangan sedih terus. Aku pun juga tidak menyangka kalau Meisya itu ternyata saudaramu," ucap Bagus sambil terus mengemudikan mobilnya. Rumaisa masih diam. Pikiran bergelayut ke mana-mana. Satu sisi ia sudah jatuh cinta pada pria itu. Namun, ia berniat menyudahi semuanya tiba-tiba karena merasa dirinya menjadi penyebab keruwetan suasana. "Sayang, kok, diem aja. Kamu enggak apa-apa?" tanya Bagus lagi. Ia tak mau istrinya itu tetap diam karena ia sudah belajar tentang diamnya seorang istri. "Aku ... aku baru sadar sebenarnya akulah yang menjadi penyebab kekacauan ini semua." Gadis berwajah sendu itu mengusap air matanya yang kembali terjatuh di pipi. Ia menarik sesuatu dalam hidungnya. Panas rasanya mata itu karena menangis tiada henti sejak tadi. Bagus pun langsung

