Air mata mengalir membasahi pipi putih Rumaisa. Gadis itu sibuk mengusapnya sejak tadi. Tatapan menembus dinding kaca sebuah kereta api malam. Hawa dingin mengusik ketenangannya di dalam kendaraan itu. Tujuannya sudah dekat, sekitar dua jam lagi ia akan sampai di kota wisata, tempatnya lahir 20 tahun lalu. Rumaisa menggosok lengannya karena tak tahan dingin di dalam kereta itu. Ia selalu menolak ketika petugas kereta menawarkan makanan atau minuman padanya. Ponsel yang sejak tadi bergetar tak pernah ia angkat. Malam itu, tepatnya pukul 22.16 ia sampai di stasiun Malang. Gadis itu turun dan harus memesan ojek online karena tak mungkin ia pulang menunggu angkutan umum yang sudah jelas tak akan ada. Begitu ia berdiri tak lama di luar bangunan ramai itu, sebuah ojek dengan pria berjaket

