Sekali lagi, Bagus bertanya dengan wajahnya yang merah menahan amarah. Seperti teko air panas yang tengah menguap mungkin jika digambarkan. Pria itu melangkah lebih dekat, lalu menarik lengan Meisya kemudian. "Katakan, Mei! Itu yang kamu kandung anak siapa!" bentak Bagus hingga Meisya pun gemetaran. "Aku memang tidak pernah merasa telah menidurimu! Benarkan ternyata firasatku." Sambil menggeleng, Bagus kembali berkata, "Tapi karena aku kasihan sama kamu, Mei. Makanya aku mau tanggung jawab. Meskipun aku mencintaimu, aku tidak akan pernah berbuat keji seperti yang kamu fitnahkan!" "Maafkan aku, Mas Bagus." Bibir bergetar, Meisya berusaha menjelaskan. Air matanya mengalir tanpa jeda dan ia sangat ketakutan. "Ak--aku terpaksa." Bagus tampak terengah-engah. Kepalanya mendadak berat karen

