"Aku enggak mau kalau sampai Bagus tau, bahwa aku hamil."
Seorang wanita duduk di dalam sebuah kafe bernuansa klasik. Ia mengaduk minumannya dengan sedotan hitam. Sesekali menyibak rambutnya yang panjang itu karena menghalangi penglihatannya.
"Mau sampai kapan kamu menyembunyikan kebenaran ini, Mei. Aku rasa Bagus juga sudah waktunya tahu," balas seorang perempuan lain yang menemaninya sejak 15 menit lalu.
"Aku enggak tau, Lin." Meisya menunduk. Menyembunyikan perasaan bersalahnya.
"Lo yang sabar ya, Mei. Gue selalu dukung lo, kok. Jangan sedih, kalau ada apa-apa, langsung aja kabarin gue."
"Cuman elu, Lin, yang bisa menjadi tempat curhat gue. Gue enggak enak sama Ardi. Dia udah seperti pahlawan sekaligus menjadi ...." Meisya terisak tiba-tiba. Ia tak menyangka jalan hidupnya akan menjadi serumit itu.
Tak berapa lama, seorang pria masuk ke kafe itu lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan. Setelah ia mendapati dua wanita yang ia kenali duduk di pojok kafe, ia segera menghampiri.
"Hai, udah lama?" tanya Ardi pada mereka.
Pria dengan topi hitam dan Hoodie putih itu langsung duduk dan menatap Meisya. "Kamu kenapa, Mei?"
Tangan Ardi menyentuh kepala Meisya lalu mengusapnya dengan lembut. Pria itu menarik kepala Meisya lalu beralih pada Lina yang ada di hadapannya. "Lin, Meisya kenapa?"
"Dia ...." Lina terlihat menimbang.
"Kenapa, Lin? Apakah ada yang menyakitinya?" tanya Ardi lagi.
Meisya mengusap wajahnya lalu, menarik kepalanya dari d**a Ardi. "Kenapa kemarin kamu bilang sama Bagus kalau aku hamil?"
"Aku rasa dia pantas tau, Mei. Memangnya kamu mau sampai kapan menyembunyikan kebenaran ini?" Ardi lama-lama kesal dengan Meisya yang seperti menyembunyikan kenyataan itu.
"Biarkan aja dia enggak tau. Aku tidak mau dia kecewa." Meisya terdiam setelah itu.
"Dia bakal ngejar kamu terus kalau begini jadinya, Mei. Sementara kamu ... memang sengaja membuatnya begitu," ujar Ardi lagi.
Meisya menatap lelaki itu dengan garis wajahnya yang sendu. Matanya berkaca-kaca, tak sanggup mengungkapkan kesedihannya.
Meisya semakin terisak dan akhirnya, Ardi menarik tubuh Meisya setelah itu memeluknya. "Sabar, Mei. Aku akan selalu ada untuk kamu. Lupakan Bagus, meski kamu sangat mencintainya."
Dalam tangisnya, Meisya menggeleng kepala. Ia menutup wajahnya pada dekapan Ardi yang terasa nyaman itu. Namun, adegan itu tak sengaja terlihat oleh Rumaisa yang baru kali pertama ke tempat itu bersama salah seorang rekan kerja.
Rumaisa menghentikan langkahnya seketika karena ia sangat mengenali postur tubuh Meisya. Gadis itu memang terlihat seksi setiap kali memakai pakaian. Dengan rambutnya yang panjang itu, ia terlihat menawan dan menimbulkan sensasi tersendiri di mata setiap lelaki yang memandang.
"Buk, kenapa berhenti?" tanya rekan kerja yang tadi datang ke kafe itu bersama Rumaisa.
"Iin, kamu pesankan minuman buat Pak Bagus, ya! Aku ... tungguin aja." Dengan gemetar, Rumaisa mengatakannya.
"Oke, Buk." Wanita itu segera menjalankan apa yang dikatakan Rumaisa barusan.
Rumaisa sendiri segera menutup wajahnya dengan ujung jilbab karena tak ingin mereka melihatnya. Begitu dapat apa yang Bagus minta padanya tadi, dua wanita itu segera keluar dari kafe itu.
Ketika dua langkah ke luar pintu, Rumaisa terkejut karena dirinya menabrak tubuh Bagus yang tiba-tiba ada di hadapannya.
"Jalan tuh diliat, bukannya melamun terus. Disuruh beli aja lama bener. Ngapain aja sih?"
"Maaf, Mas. Soalnya tadi ...." Rumaisa menghentikan ucapannya karena Bagus sepertinya tak ingin lagi mendengarnya.
Bagus berdecak saat Rumaisa berusaha menjelaskan. Moodnya hancur hari ini. "Udah, itu buat kamu aja. Aku mau ke dalam. Pusing aku satu kantor sama kamu."
"Kenapa dia yang pusing? Harusnya aku yang pusing karena harus mondar-mandir mengikuti semua kemauannya. Dari datang sampai sekarang belum duduk sama sekali."
Gadis itu membiarkan Bagus masuk ke dalam. Meskipun ia tahu, di dalam ada Meisya dan ia rasa, Bagus memang akan menemui mereka.
"Iin, kita kembali ke kantor aja!" ucap Rumaisa pada rekannya tadi.
"Iya, Buk."
Mereka pun langsung kembali ke kantor yang berada di seberang jalan.
***
Dengan santainya, Bagus berjalan masuk. Ia langsung berhenti di depan meja pesan. Lalu memesan apa yang ingin ia nikmati siang itu. Namun, saat menoleh, ia melihat tiga orang yang dilihat oleh Rumaisa tadi.
"Meisya," gumam Bagus sendiri.
Lelaki itu segera menghampiri mereka dengan rasa marah yang sudah tak terbendung lagi. Karena melihat Meisya berpelukan dengan Ardi, Bagus langsung menarik kerah baju pria itu begitu sampai di dekat mereka.
"Berani-beraninya kamu memeluk dia!" Satu layangan tinju akhirnya tepat mengenai wajah Ardi.
Ardi meringis kesakitan karena sudut bibirnya mengalir darah segar. "Apa-apaan kamu, Gus!"
"Ngapain kalian, hah!" Bagus terengah-engah. Ia menatap Meisya kali ini lalu menggeleng kepala. "Apa karena ini kamu meninggalkan aku, Mei?"
Meisya masih menangis. Tak bisa menjawab pertanyaan Bagus.
"Jawab, Mei!" bentak Bagus.
Kejadian itu membuat orang-orang di dalam kafe berdiri dan terkejut. Mereka saling membisik lalu datang karyawan kafe untuk melerai keduanya.
"Sudah, Mas!" kata salah seorang pria dengan celemek kafe tersebut.
"Jangan ribut di sini! Kalau mau ribut, di luar saja!"
Bagus masih berusaha melepas tangan-tangan yang tengah mencekalnya dengan kuat. Ia sangat marah melihat Meisya bungkam, seolah dia sudah dipermainkan.
"Lepaskan aku!" Bagus masih saja meronta. "Biarkan aku mendengar dari lisan dia sendiri, anak siapa yang dia kandung!"
Akhirnya, karyawan tadi melepaskan Bagus dan mereka semua kini menunggu jawaban dari gadis itu.
"Katakan, Mei!"
"Cukup, Mas! Aku akan bilang," teriak Meisya seraya mengusap wajahnya dengan cepat. "Kamu mau dengar, anak siap yang aku kandung, bukan? Tapi kumohon setelah ini lepaskan aku. Biarkan aku pergi."
"Mei ... sabar! Pelan-pelan aja!" kata Lina. Lina berusaha menenangkan sambil mengusap pundak sahabatnya itu.
"Mas, aku mengandung anakmu."
Bagus ternganga mendengar ucapan Meisya yang lirih itu. Seperti badai diserta petir menyambar siang itu. Bagus tak dapat lagi mengendalikan dirinya. Sehingga tubuh kekar itu hampir saja terjatuh. Untung saja tangannya segera menekan meja untuk berpegangan.
Terlihat semua orang di sana kaget bercampur dengan bisikan-bisikan tak jelas. Bagus hanya diam sambil mengingat peristiwa itu. Peristiwa yang terjadi malam itu. Paginya ia hanya merasa pusing dan ketika sudah benar-benar sadar, ia berada di dalam kamar rumah Meisya.
"Katakan, Mei, apakah malam itu aku benar-benar menyentuhmu? Kenapa aku sama sekali tidak bisa mengingatnya?" ujar Bagus dengan mata berair.
"Sudahlah, Mas! Tidak usah diungkit lagi! Aku malu, aku mau pergi. Jangan halangi aku lagi! Biarkan aku hidup bahagia tanpamu."
"Tapi, kenapa saat aku ingin menikahimu, kamu malah pergi? Jika benar itu anakku, biarkan aku tanggung jawab!" Bagus masih tak habis pikir.
"Kamu enggak perlu tau alasannya, Mas. Sudah puas kan kamu, Mas?" Meisya menyerobot pergi. Ia berlari melewati pintu kafe lalu diikuti Ardi dan Lina, sahabatnya.
"Mei!" panggil Bagus lagi. Ia masih ingin bicara dengan Meisya.
Hingga mereka semua sampai di parkiran mobil, Bagus tetap mengejar. "Mei!"
Meisya langsung menghempas tangan Bagus. "Lepaskan aku! Biarkan aku pergi! Aku enggak mau sama kamu lagi, Mas!"
"Biarkan aku tanggung jawab, Mei. Kalau benar itu anakku, aku harus tanggung jawab. Aku tidak mau berdosa seumur hidupku."
"Udahlah, Gus! Jangan paksa dia terus. Dia bisa stres dan malah membahayakan kandungannya," kata Ardi sambil memisahkan Bagus dengan Meisya. Ia tak mau dan tak rela Bagus menyentuh gadis itu.
Di ujung pagar kafe itu, seorang gadis berdiri sambil menahan air matanya. Bibirnya ia gigit karena tak tahan dengan debaran jantung yang begitu kuat karena mendengar pembicaraan beberapa orang di depan sana.
Rumaisa sampai tak bisa berdiri tegak. Gemetar seluruh tubuhnya mengetahui kalau Bagus adalah ayah dari anak yang dikandung wanita itu.
Saat sedang bicara, Bagus pun tak sengaja melihat Rumaisa menyaksikan itu semua. Lalu gadis itu memutar badan dan pergi dari sana.
Rumaisa berjalan dengan cepat lalu masuk ke dalam lobi dan berakhir di dalam ruangannya sendiri. Ia masih berusaha meredam debaran jantungnya yang begitu kencang itu. sakit, sangat sakit sekali ketika ia tahu sebuah rahasia sudah terbongkar.