Kecewa

1303 Words
Termenung dengan tatapan kosong, hidup sudah seperti tak berarti lagi. Pulang pergi dengan pekerjaan yang sama, Bagus lebih banyak diam. Pria itu menatap ke luar jendela kamar atas. Pada pepohonan yang daunnya bergoyang diterpa angin sepoi-sepoi. Setiap kenangan yang terputar di ruang kepalanya, ia menyesali perpisahan itu. Ingin kembali bersama sang kekasih yang dikabarkan hamil. Bagus berdiri lagi dengan cepat setelah tangannya mengepal dan meremas kuat. Baru saja memutar badan berniat mencari Mesiya lagi, malah tubuhnya menabrak Rumaisa yang datang membawa segelas s**u hangat. "Ya Allah!" pekik gadis itu. Air s**u yang ia bawa tumpah mengenai pakaiannya. Semua terkejut, terutama Bagus. Bagaimanapun juga, ia teringat kebaikan Rumaisa selama tinggal bersamanya. "Mm--maaf," ucapnya. Kalimat pertama yang ia katakan pada Rumaisa itu terdengar kaku. "Kamu enggak apa-apa?" "Enggak sih, Mas. Cuman ... susunya tumpah. Belum juga diminum," balas Rumaisa. Masih menatap bekas tumpahan. "Biar aku buatkan kalau gitu." "Enggak usah, Mas. Ini kan sebenarnya buat Mas Bagus." "Maaf, aku juga lagi buru-buru. Aku pergi dulu." Bagus langsung pergi meninggalkan gadis muda itu. Rumaisa hanya bisa menatap punggung kekar itu memakai jaket hitam lalu keluar dari kamar. Sejurus kemudian, terdengar suara deru mobil di bawah sana. Rumaisa menatap dari balik jendela kamar dengan perasaan tak bisa digambarkan. Waktu berputar begitu cepat, Rumaisa di rumah hanya bersama pembantu paruh waktu. Hingga menjelang malam, Bagus gak kunjung pulang juga. Rumah itu begitu besar dan hampa, hanya dirinya seorang yang duduk menatap layar menyala di depannya. Sambil terus menatap jam bandul di sudut ruangan, Rumaisa merasa kantuk datang menyapa. Ia merebahkan dirinya di sofa malam itu. Satu jam kemudian, suara mobil masuk dengan klakson tak juga membangunkannya. Bagus datang dengan tangan hampa. Lelah saja yang ia dapat selama pergi bersama Doni mencari keberadaan Meisya. Pria itu melepas sepatunya, lalu berjalan hendak ke lantai atas. Namun, dalam temaram malam matanya masih jelas menatap ada seseorang yang terbujur di sofa sana. Bagus beralih mendekat lalu ia berhenti ketika tahu siapa yang tengah menunggunya di sana sejak tadi. Pria tampan itu hanya menatap Rumaisa tanpa berkata. Sesaat ia berpikir, dan tak lama ia pun mengangkat tubuh ringan Rumaisa dan membawanya ke kamar atas. Sampai di atas, Bagus meletakkan tubuh gadis itu di atas ranjang lalu menyelimutinya. Ketika Bagus tengah melepas jaketnya, tiba-tiba Rumaisa terbangun karena sorot lampu utama begitu mengganggu. "Loh, Mas Bagus. Sudah pulang?" Rumaisa hendak bangun, tetapi Bagus memintanya tidur saja. "Iya. Sudah, kamu tidur aja." "Tapi ... perasaan saya enggak tidur di sini." Gadis itu menatap sekeliling. Ia ingat betul tadi tidur di ruang tengah. Bagus melepas kemejanya, tercium aroma maskulin dari tubuh itu. Namun, Rumaisa langsung berpaling seraya menelan ludah. "Mas. Mas habis nyari wanita itu?" "Iya. Memangnya kenapa?" Bagus meraih kaus lalu memakainya. "Mas Bagus sudah ketemu dia?" "Belum," balas lelaki itu dengan datar. "Udah tau dia hamil dengan siapa?" Bagus yang tadinya ingin tidur karena lelah, langsung berdecak dan mengurungkan niatnya. "Apa untungnya kamu tanya begitu, hah? Aku capek, jangan ganggu aku dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu!" Tanpa mau mendengar apa pun lagi, Bagus akhirnya merebahkan tubuhnya di ranjang sebelah Rumaisa. Matanya terpejam dengan kedua tangan berada di belakang kepala, sebenarnya ia belum puas mencari Meisya. "Aku cuman tanya baik-baik, Mas. Enggak bermaksud apa-apa," lirih gadis itu. "Tidak bermaksud juga ingin menghancurkan hubungan kalian." "Ck, heem." Bagus langsung memunggunginya. "Jangan berisik! Ku sudah tau aku lelah? Ini sudah malam, Mai! Aku capek." "Maaf, Mas. Salah lagi saya. Eh, em. Maksud saya, saya yang salah." Tampak kegugupan di wajan Rumaisa lalu pergi duduk di kursi lain. *** Pagi itu, ketika Rumaisa tengah memasak air untuk menyeduh kopi, ia teringat ucapan salah seorang sahabatnya sebelum berangkat ke Jakarta bersama Bagus. Sambil menunggu air mendidih, Rumaisa berdiri sambil terngiang. "Kamu itu belum kenal sama dia. Masa sudah mau aja disuruh nikah." "Gimana nanti kalau dia itu ceweknya banyak." "Gimana kalau dia udah pernah melakukan hubungan suami istri sama ceweknya." "Rugi kamu, bakal dicerai diusia muda." "Lagian lulusan SMA belum apa-apa udah mau aja dinikahin, Mai-Mai." Karena pusing memikirkan ucapan itu, sampai tak sadar tangannya menyentuh pinggiran panci dan alhasil, Rumaisa berteriak kencang. Teriakannya itu terdengar hingga ke kamar atas, saat Bagus tengah memakai dasi dan rompi di depan cermin. Lelaki itu menghentikan gerakan tangannya sesaat. Sambil menajamkan lagi indera pendengarannya. Lelaki itu langsung berpikir kalau sudah terjadi sesuatu dengan istrinya. Ia pun segera turun dari kamar lantai atas itu menuju dapur. Ternyata benar saja, Rumaisa meringis sambil mengibas tangannya, lalu tangan satunya lagi menuangkan air panas itu pada secangkir kopi. "Ada apa?" tanya Bagus setelah masuk ke dalam ruangan dapur. Belum sempat dijawab, Bagus melihat bekas merah pada punggung tangan Rumaisa. "Makanya hati-hati! Masak air aja sampai begini. Gimana mau jadi yang bener." Gadis itu menunduk. "Maaf, Mas." Bagus menghela napas panjang. "Hem, lain kali hati-hati! Duduk sana!" Bagus masih menatap Rumaisa yang berjalan mendekati kursi makan lalu dengan mata penuh ketakutan, gadis itu duduk sambil meniup panas yang dirasa seperti menguliti tangannya. Bagus menarik laci bawah di dapur itu lalu mengeluarkan kotak obat. Ia mendekat pada Rumaisa setelah mendapatkannya. "Mana tanganmu!" pinta Bagus dengan wajah sepet seperti biasanya. Lalu Rumaisa pun memberikan tangannya. Bagus segera mengoles krim dingin pada bekas luka di tangan Rumaisa setelah itu menutupnya dengan kapas. "Udah! Jangan kena air dulu!" "Makasih, Mas. Tapi ... biasanya saya langsung siram dengan air dingin biar enggak bengkak." "Kamu memang susah dibilangin. Itu sudah dikasih krim, jangan dikenain air dulu!" "Iya-iya, paham. Enggak usah marah-marah juga kali, Mas." "Habisnya kamu ...." Suara langkah kaki masuk ke dalam rumah, membuat Bagus bungkam seketika. Mamanya datang dengan barang belanjaan yang banyak. "Mama ...." Bagus langsung berdiri. "Kalian tumben banget sedekat itu. Yah, Mama pasti ganggu." Mertua Rumaisa selalu ingin melihat dua anak manusia di depannya itu bersatu. Ia duduk setelah meletakkan berbagai buah-buahan dan juga s**u segar di atas meja. "Mah, Bagus berangkat ke kantor dulu." "Loh, Gus! Ajakin dong Rumaisa juga dong! Dia kan sekarang juga mau kerja di sana. Bukan kerja sih, tapi lebih tepatnya pendamping kamu di sana." Wanita itu tertawa. Lalu ia menoleh lengan menantunya. "Apaan sih, Maaa. Ngapain Mama suruh dia ke kantor juga? Nanti Bagus bukannya kerja malah repot. Itu aja tangannya lagi sakit, tuh!" Bagus menunjuk dengan dagunya. Sementara itu, Rumaisa hanya diam dan membenarkan apa kata suaminya. Jika ia ke kantor juga, pasti akan menggangu pandangan lelaki itu. "Benar apa kata Mas Bagus, Ma. Rumaisa hanya lulusan SMA. Yang ada malah bikin malu nanti kalau jalan beriringan sama Mas Bagus," tambah Rumaisa. "Enggak apa-apa, Sayang. Kamu kan dengar sendiri kemarin dari lisan Pak Cokro. Dia udah liat cara kerja kamu. Kamu bisa kok bantuin fotocopy atau ngetik. Tinggal dengerin aja apa perintah untukmu." Mendengar mamanya terus berbicara, akhirnya bagus menyerah. Pagi itu ia pergi ke kantor bersama dengan Rumaisa. Mereka berdua berada dalam satu mobil, tetapi gak ada satu kalimat pun yang keluar dari lisan mereka. Sesampainya di kantor, Bagus tak mengajak istrinya keluar dari mobil. Pria gagah itu langsung pergi dan mendahului Rumaisa masuk ke dalam gedung tinggi itu. Beberapa karyawan menyapa Bagus, tetapi lelaki itu seperti mendengar suara-suara lebih ramai dari belakangnya. Saat ia menoleh, Bagus terperangah melihat hampir semua karyawannya menyapa Rumaisa. "Selamat pagi, Ibu Muda." "Wah, cantik sekali hari ini, Buk." "Tenang aja, Buk, kalau Pak Bagus cuek dan jalan duluan, kita siap kok barengin." Laki-laki dan perempuan di sana terlihat sangat akrab dengan Rumaisa. Bisikan-bisikan kecil itu membuat Bagus naik pitam dan akhirnya ia memilih melanjutkan langkah kakinya. "Makasih ya, kalian semua baik banget sama saya." Selesai menjawab, Rumaisa langsung mengejar Bagus memasuki lift. Namun sayang, ia tertinggal karena pintu lift yang transparan itu sudah tertutup dan Bagus bisa melihat istrinya itu kecewa. Selang dua detik berikutnya, seorang pria berhenti mendekati Rumaisa lalu langsung mengajaknya bicara. Mereka terlihat akrab dan Rumaisa pun tampak bahagia dengan kedatangan pria itu. Kesal Bagus melihat mereka. "Dasar, murahan." Bagus enggan menatapnya lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD