Kehadiran Rumaisa di Kantor

1468 Words
Satu pekan sudah berlalu, Bagus mencari keberadaan Meisya yang menghilang bak ditelan bumi. Rupanya pertemuan di rumah itu seperti pertemuan terakhirnya dengan perempuan yang pertama kali memenangkan hatinya. Saat ini lelaki tampan dengan jas dark blue itu berjalan menuruni anak tangga. Ia siap untuk berangkat ke kantor. Akan tetapi, sampai di bawah ia malah dikejutkan dengan kedatangan Doni. Pria seusia Bagus itu berdiri menyebut atasannya. "Sejak kapan kamu datang?" Bagus menghela napas lalu duduk di sana. Sementara itu, Rumaisa memerhatikan mereka dari dapur sambil menyeduh kopi. "Barusan, Bos. Oh ya, aku sudah dapat alamat tempat tinggal Meisya. Tapi, pagi ini kita enggak bisa ke sana. Sudah tiga kali meeting diundur gara-gara dia. Hari ini meeting harus berjalan. Enggak enak sama klien lah, Bos." "Ya sudah. Kali ini aku juga enggak mau lagi menunda-nunda. Atau menunggu Meisya bersedia. Dia itu terlalu memikirkan keluargaku, enggak enak hati. Makanya kabur-kaburan terus. Aku enggak tega karena dia sebatang kara." "Kata siapa dia sebatang kara, Bos? Aku yakin dia enggak sendirian," pungkas Doni lagi. "Kenapa kamu yakin?" Bagus rasa, Doni hanya mengada-ada. "Kita buktikan saja nanti di sana. Sekarang, mending minum kopi dulu dari istrinya Bos." Doni tertawa saat Rumaisa sudah berada di dekat mereka. Lalu meletakkan dua cangkir kopi di atas meja. "Silakan, Mas." Gadis itu tersenyum tipis sambil menunduk sopan. Sedangkan Doni, ia tersenyum lebar karena bisa menatap istri atasannya itu dengan leluasa. Apalagi, aura gadis desa pada wajah Rumaisa membuat Doni terpana dalam hati. Sambil menikmati kopinya, Bagus sedikit merasa kesal dengan tindakan Doni. "Ngapain juga aku peduli dengan Rumaisa. Bisa besar kepala nanti dia. Lagian udah mulai pinter dia tebar pesona," batin Bagus. "Udah! Kita berangkat aja sekarang!" Bagus berdecak lalu berdiri dan berjalan mendahului Doni. "Duluan, yaaa." Doni tersenyum lagi. Sangat disayangkan ketika gadis itu harus bersuamikan pria kasar seperti Bagus, batin Doni. Rumaisa hanya mengangguk saja. Lalu mengikuti mereka hingga ke depan pintu utama. Gadis dengan gamis rumahan itu terkejut melihat kedatangan mertuanya yang tiba-tiba juga. Bagus tampak memeluk serta mencium kedua pipi mamanya. Entah apa yang mereka bicarakan saat ini, Rumaisa tak dapat mendengarnya. Dari ekspresi wajah Bagus, pria itu terlihat kesal. Apalagi sesaat memutar badan untuk menatapnya. "Buat apa sih, Mah? Dia bisa apa? Kacau nanti di kantor kalah ada dia," ungkap Bagus ketika mamanya baru saja selesai bicara dengan posisi masih berdiri. "Dia itu jago di bidangnya. Makanya Mama mau ajak dia kerja kantoran. Daripada di rumah, dia pasti bosan." Wanita tua itu tersenyum bangga. Sekilas ia melirik pada Rumaisa yang manis. "Terserah Mama, deh, kalau gitu. Bagus buru-buru. Kalau sekali dia melakukan kesalahan di kantor, Bagus udah enggak mau lagi liat dia di kantor. Bagus mau dia di rumah aja." "Terserah kamu, Sayang. Mama akan ajari dia sopan santun di kantor kamu. Bisa juga jadi asisten pribadi kamu. Biar enggak ada yang main mata sama kamu nanti. Lagian juga semua orang sudah tau kalau kamu sudah menikah." "Ya tapi, Maa ...." Bagus menghela napas berat. Bertambahlah beban hidupnya kini. "Sssstt!" Telunjuk wanita tua itu menempel pada bibirnya. "Kamu berangkat aja! Nanti Mama yang urus." Bagus kesal. Tak lama ia langsung masuk ke dalam mobil dan melaju ke tengah jalanan bersama Doni yang sejak tadi hanya bisa menahan tawa di sampingnya. *** Di lain tempat yang jauh, mertua dan menantu itu sedang menikmati jalanan yang tampak begitu panas. Siang itu Rumaisa dan mama mertuanya baru saja turun dari mobil setelah sampai di depan salon ternama. Dua wanita itu lantas masuk ke dalam. "Mah, kita ngapain di sini?" Rumaisa masih sibuk memerhatikan setiap sudut ruangan itu. Baru kali pertama ia masuk ke salon sebagus yang ada di hadapannya. "Kamu harus treatment, Mai. Kamu harus tampil cantik di depan Bagus. Karena kamu sebentar lagi bakal menjadi asistennya," terang wanita itu. Dua karyawati datang menyambut mereka lalu mengajak Rumaisa duduk untuk perawatan wajah. "Hah? Maksudnya apa, Ma? Mai bakal kerja di sana? Apa Mai bisa? Nanti kalau Mas Bagus marah bagaimana? Sejauh ini ... Mas Bagus belum bisa menerima saya." Wanita tua itu tersenyum. "Enggak apa-apa, Sayang. Lambat laun juga dia bakal cinta sama kamu. Dia harus melupakan wanita itu. Kami tidak suka dengan wanita yang selama ini ia dekati itu." Rumaisa mulai menjalani serangkaian perawatan di salon itu. Dengan ditemani mertuanya, gadis itu mengikuti semua kemauan Nafisah. Tak hanya itu, Rumaisa juga menikmati pijat dan lulur. Juga semua pelayanan yang ada di sana. Sampai terkantuk-kantuk saking nyaman dan nikmatnya, Rumaisa terlihat cantik begitu ia keluar dari balik tirai dengan pakaian kantor yang baru. Wanita tua itu tersenyum lalu berdiri menghampiri menantunya yang sudah tampak siap. "Kamu cantik sekali, Mai." "Mah, saya kurang pede. Apa Mas Bagus nanti enggak bakal marah?" "Udah, enggak usah pikirkan dia. Kamu sekarang ikut Mama ke kantor! Mama akan tunjukkan kerjaan kamu di sana nanti." Senyum manis di bibir tua itu membuat Rumaisa bertambah gugup. Mereka kembali masuk ke dalam mobil dan melaju ke kantor perusahaan milik keluarga Bagus. Sejak memiliki usaha di bidang pertambangan, Nafisah tak lagi mengabdi menjadi dokter. Ia memilih menekuni bidang tersebut bersama suaminya yang sampai saat ini juga masoh menjadi dokter. Hingga kini, Bagus yang memegang kendali di kantor itu. "Mai, kita sudah sampai," ucap wanita tua itu. Lalu mereka berdua pun turun. Sampai di sana, mereka berdua disambut hangat oleh karyawati bagian depan. "Siang, Nyonya." Wanita di bagian resepsionis itu tersenyum. "Siang juga. Em, apakah Bagus ada di ruangannya?" "Pak Bagus sedang meeting di luar, Nyonya. Sudah satu jam yang lalu beliau keluar," terang wanita cantik di sana. Beberapa karyawan yang lewat tampak gagal fokus menatap kecantikan Rumaisa. Mereka baru kali pertama melihat gadis itu masuk ke kantor itu. Setelah menimbang, Nafisah mengajak Rumaisa ke lantai atas. Di mana mereka akan melihat ruangan-ruangan di sana beserta fungsinya. Mereka berjalan ditemani seorang karyawan dan menjelaskan posisi Rumaisa nanti di kantor itu. Setelah dirasa selesai, mereka kembali turun dan Rumaisa diajak makan siang oleh mertuanya. "Kebetulan Mama mau ketemu teman Mama. Dia punya restoran yang baru saja diresmikan. Kita ke sana aja ya, daripada nungguin Bagus enggak datang-datang," terang wanita itu. Rumaisa tak menolak sama sekali. Mereka berdua memasuki mobil lagi dan pergi dari sana. Sambil bercerita tentang Bagus, mertua Rumaisa itu berkata, "Saya dan keluarga kamu itu sudah menjodohkan kalian sejak kalian masih kecil." "Rumaisa baru tau, Ma." Gadis cantik dengan blazer putih itu sedikit terkejut. Sampai rona merah pada pipinya tampak begitu nyata. Mereka berdua tertawa. Akan tetapi, saat baru saja mobil berhenti di bawah lampu merah, sang sopir berkata, "Itu ... seperti Mas Bagus, Bu." Spontan wanita tua itu menatap ke depan. "Apa? Bagus? Ngapain dia, Pak?" Sopir terus menunjuk ke depan. Memang benar terlihat Bagus sedang terlibat perseteruan dengan seorang wanita. Dua wanita di dalam mobil itu pun langsung turun. Mereka menatap sekeliling yang sudah penuh dengan mobil dan pesepeda motor menunggu lampu hijau menyala. "Baguuusss!" teriak wanita tua itu. "Mah, sabar, Mah." Rumaisa khawatir melihat mertuanya syok. Gadis itu segera mengajak mertuanya minggir ke trotoar sambil membantunya berjalan menghampiri Bagus. Bagus sendiri tak mendengarnya karena masih terlibat pertengkaran dengan seorang wanita. "Maafkan aku, Mas. Aku enggak bisa lagi sama kamu. Jangan cari aku lagi!" Sambil menangis, Meisya meminta Bagus menjauh. "Tapi kenapa, Mey? Harus ada alasannya. Kamu kenapa ingin sekali aku pergi? Aku sangat mencintaimu. Aku tidak mau kamu pergi. Aku janji, aku akan menikahimu." Semakin sesak d**a mertua Rumaisa mendengar putranya bicara seperti itu. Ia memegangi dadanya sambil menangis. Jarak tiga meteran menyaksikan putranya sudah dibuat buta oleh wanita bernama Meisya. "Udahlah, Mas! Enggak perlu kamu tanya-tanya lagi. Kamu sudah punya istri. Punya keluarga. Urus saja istrimu itu. Aku enggak bisa lihat kamu sama wanita lain." Tangis Meisya makin pecah. "Aku akan ceraikan dia," balas Bagus dengan yakin. Rumaisa dan mertuanya ternganga. Dari arah berlawanan, seorang pria bertopi hitam tampak berlari mendekati Bagus dan Meisya. "Gus, jika Meisya memintamu pergi, maka pergilah!" "Ardi!" Bagus terkejut. "Memangnya kamu siapa? Menyuruhku pergi." Di saat Meisya masih menangis, Ardi langsung menarik tangannya tanpa menjawab pertanyaan Bagus lagi. Hingga pada akhirnya, Bagus melemparkan tinjunya setelah ia menarik pundak Ardi. Satu hantaman berhasil mendarat di pipi pria bertopi hitam itu. Ardi tampak meringis, lalu meminta Meisya pergi bersama seorang wanita yang tiba-tiba muncul dari dalam mobil. Dua wanita muda itu langsung masuk ke dalam mobil di depan sana. Bagus yang tampak kacau pun awalnya hendak mengejar Meisya lagi, tetapi Ardi mencegahnya. "Sudah, Gus! Jangan kejar dia lagi! Dia itu hamil!" Ardi membentak keras. Bagus terkejut bukan main hingga ia tak bisa berkata-kata lagi. Bibirnya ternganga dan tubuhnya hampir terjatuh jika mamanya tak segara mendekat dan menahan tubuh kekar itu. "Bagus!" pekik wanita tua itu. Rumaisa pun tak bisa apa-apa selain membantu mertuanya menopang tubuh Bagus. Bagus pun tiba-tiba berdiri tegak lagi dan berteriak pada Ardi yang sudah menjauh. "Ardi! Apa yang kamu katakan itu! Apa benar dia hamil?" Tubuh Bagus sudah lemas dan rasanya ingin mati saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD